INTEGRATED LIBRARY

Universitas Diponegoro

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Masuk
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}

Ditapis dengan

  • Tahun Penerbitan
  • Lokasi
    Lihat Lebih Banyak
Ditemukan 10000 dari pencarian Anda melalui kata kunci: subject="KUANTUM, TEORI"
Hal. Awal Sebelumnya 326 327 328 329 330 Berikutnya Hal. Akhir
cover
Pengaruh ketamin intravena terhadap kadar interleukin-6 tikus wistar yang diberi lipopolisakarida
By Doso Sutiyoso ; Bayu Residewanto Putro
-- Semarang : FK Undip, 2016

Latar belakang : Peningkatan kadar sitokin IL-6 yang berhubungan dengan kematian mengangkat hipotesis menarik bahwa signaling IL-6 memainkan peran mekanistik pada sepsis. Paparan endotoksin akan menyebabkan peningkatan aktivasi sitokin proinflamasi, dan salah satunya adalah Interleukin 6 (IL-6). Ketamin suatu antagonis dari reseptor N-methyl-D-aspartat merupakan anestesi karena mempunyai efek sedasi dan analgesi kuat. Ketamin merupakan obat anestesi yang digunakan untuk penderita sepsis, diduga ketamin menghambat aktivasi NF-kB melalui penekanan degradasi IkB-Alpha dan translokasi NF-kB sehingga akan menghambat produksi sitokin proinflamasi (TNF-Alpha, IL-1, IL-6 dan IL-8) akibat paparan lipopolisakarida (LPS). Supresi ketamin pada produksi LPS induced IL-1, IL-6 dan IL-8 disebabkan efek inhibisi ketamin pada produksi LPS-induced TNF-Alpha. Tujuan : Membuktikan efek pemberian ketamin 0,6, 1,2 dan 2,5 mg intravena pada tikus wistar yang disuntik LPS intravena terhadap penurunan interleukin 6 intravena. Metode : Penelitian ini menggunakan desain Randomized Non Controlled Trial (RCT). Kelompok dibagi menjadi 4 (kontrol (K), Perlakuan 1 (P1), Perlakuan 2 (P2), Perlakuan 3 (P3). Injeksi lipopolisakarida 5 mg/kgBB diberikan kepada semua kelompok, 5 menit kemudian injeksi Nacl 0,9% untuk kelompok satu (K) dan ketamine untuk kelompok 2 (P1), kelompok 3 (P2) dan kelompok 4 (P3) secara intravena dengan dosis 0,6 mg/kgBB (P1), 1,2 mg/kgBB (P2) dan 2,5 mg/kgBB (P3) di vena lateralis ekor, 6 jam pasca injeksi dilakukan pengambilan sampel darah pada keempat kelompok guna membandingkan kadar interleukin tiap kelompok. Uji statistik menggunakan metode Shapiro Wilk, Pre, One way Annova dan Post hoc. Hasil : Pada uji one way annova didapatkan perbedaan bermakna pada kelompok K terhadap kelompok P1. P2 dan P3. Pada uji Post Hoc terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar interleukin 6 pada kelompok P1 dibandingkan kelompok P2 (p=0,022) dan kelompok P2 dibandingkan kelompok P3 (p=0,008). Kesimpulan : Pemberian ketamin dosis 0,6 mg, 1,2 mg dan 2,5 mg menunjukkan perbedaan bermakna pada kadar Interleukin 6 dibanding kontrol pada tikus wsitar yang diberi LPS. Pemberian ketamin dosis 1,2 mg intravena dosis yang efektif untuk menurunkan kadar interleukin 6pada wistar yang diberi LPS. Kata kunci : ketamine, lipopolisakarida, interleukin

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Etika dan Hukum Kesehatan dalam Perspektif Undang-Undang Kesehatan
By Sri Siswati
-- Jakarta : Rajawali Pers, 2015

Ketersediaan3
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Perbandingan Apache II, SAPS 3 dan Modified Sofa terhadap prediksi mortalitas pasien pasca bedah ditinjau dari validitas di ICU RSUP Dr. Kariadi
By Aria Dian P ; Jati Listiyanto Pujo ; Nof Eva Sari Tarigan
-- Semarang : FK Undip, 2016

Latar belakang : Penerapan sistem Jaminan Kesehatan Nasional (SJKN) dalam pelayanan ICU mendorong pelayanan ICU untuk lebih efektif dan efisien. Skor APACHE (Acute Physiologi And Chronic Health Evaluation) merupakan skor prediktor outcome, lama rawat, mortalitas dan keparahan penyakit yang digunakan secara luas di dunia. Saat ini, skor APACHE yang digunakan di RSUP dr. KAriadi adalah skor APACHE II yang berdasarkan penelitian sebelumnya memiliki kelemahan dalam memprediksi lama rawat pasien di ICU. Prediksi kematian pasien kritis yang baru masuk Intensive Care Unit (ICU) perlu diterapkan agar dapat mengetahui besar kecilnya peluang pasien memperoleh keuntungan dari perawatan yang dilakukan. Tujuan : Membandingkan validitas skoring masuk perawatan intensif pasien pasca bedah menggunakan skor APACHE II, SAPS 3, dan MSOFA, terhadap mortalitas pasien di perawatan intensif RSUP Dr. Kariadi Semarang sehingga didapatkan sistem skoring yang baik, mudah dan efisien untuk diterapkan dengan melakukan penilaian missing value, dan diskriminasi dari masing-masing sistem skoring. Metode : Penelitian ini melibatkan 137 pasien pasca bedah yang dirawat di ICU RSUP dr. Kariadi yang diambil secara retrospektif dari data tanggal 1 Januari 2015 sampai dengan 31 Desember 2015. Semua pasien dilakukan penilaian APACHE II, SAPS 3, dan MSOFA. Uji analisis regresi logistik dilakukan untuk menilai pengaruh masing-masing sub variabel terhadap mortalitas, dan selanjutnya mencari cut off point dari analisis kurva ROC untuk mendapatkan sensitifitas dan spesifisitas masing-masing. Skor validasi ditentukan menggunakan Hosmer-Lameshow goodness-of-fit tes yang ditampilkan menggunakan kurva (ROC) dimana analisis kurva digunakan untuk menentukan area di bawah kurva (AUC). Hasil : Didapatkan rentang usia rata-rata non survivor (47,89 + 14,19) secara signifikan lebih tua dari survivor (42,49 + 12,68), 41 kasus operasi darurat dan 96 operasi elektif dengan operasi bedah saraf merupakan kasus terbanyak (36 kasus) diikuti operasi digestive 30 kasus. HAsil rata-rata lama rawat di ICU adalah 6,04 hari (4,65) dimana kelompok non survivor memiliki lama rawat di ICU 6,81 hari (5,75) yang lebih panjang dibanding dengan kelompok survivor 5,55 hari (3,75). Area under Receiver Operating Characteristic (AuROC) pada APACHE II, SAPS 3, dan MSOFA berturut-turut didapatkan 0,754, 0,633 dan 0,740. Missing value terbanyak didapatkan berturut-turut pada SAPS 3 sebesar 79,6% dengan dominan sub variabel bilirubin. Kesimpulan : Skor MSOFA memiliki kekuatan diskriminatif yang sama baiknya dengan APACHE II dalam memprediksi kematian pasien pasca bedah di ICU RSUP dr. Kariadi dengan missing value yang lebih sedikit dibandingkan dengan sistem skoring SAPS3. Kata kunci : sistem skoring, APACHE II, SAPS 3, MSOFA, AuROC, missing value

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Perbedaan antara parasetamol dan ketorolak terhadap kadar substansi P serum tikus wistar sebagai analgesik preemptif
By M. Sofyan Harahap ; Yulia Wahyu Villyastuti ; Agus Purwo Hidayat
-- Semarang : FK Undip, 2016

Latar belakang : Analgesik preemptif merupakan intervensi analgesik yang dimulai sebelum stimulasi noksius muncul dalam hubungannya dengan blok perifer maupun nosisepsi sentral. Tujuannya untuk menurunkan nyeri akut pasca trauma jaringan, mencegah modulasi nyeri pada SSP dan mencegah terjadinya nyeri kronis. Elemen penting dalam proses persepsi nyeri adalah substansi P dimana fungsi sensoris substansi Pdiperkirakan berkaitan dengan transmisi informasi nyeri ke sistem saraf pusat. Parasetamol dan ketorolak sebagai obat anti inflamasi non steroid dengan efek antipiretik dan analgetik. Berperan dalam neghambat enzim sikloogsigenase. Hal ini diharapkan dapat mengetahui perbedaan kadar substansi P tikus wistar pada keduanya sebagai pilihan analgesik preemptif. Tujuan : Mengetahui perbedaan efektivitas antara parasetamol dan ketorolak yang dinilai dari kadar substansi P pada tikus wistar sebagai pilihan analgesik preemptif. Metode : Penelitian ini merupakan eksperimental laboratorik dengan desain Randomized Pre and Post test control group design. Sejumlah 21 ekor tikus, dibagi menjadi tiga kelompok yang dilakukan secara acak masing-masing terdiri dari 7 ekor tikus untuk kelompok kontrol (K), 7 ekor tikus untuk kelompok perlakuan parasetamol atau K(1), 7 ekor tikus untuk perlakuan ketorolak K(2). setelah adaptasi selama 7 hari, tikus-tikus dari kelompok perlakuan maupun kontrol dilakukan pembiusan dengan menggunakan ketamin. Satu jam sebelum pembiusan, kelompok K(1) diberi injeksi parasetamol 18 mg intravena dan kelompok K(2) diberi injeksi ketorlak 0,54 mg intravena. Sesudah terbius, bulu disekiat punggung dicukur bersih dan didesinfeksi menggunakan betadine. Selanjutnya dibuatkan irisan sepanjang 2 cm dan kedalaman sampai subkutan. Luka irisan dibersihkan dan dioles larutan betadine, kemudian luka ditutup dengan 5 jahitan tunggal sederhana menggunakan benang side. Selanjutnya jahitan dibersihkan, diolesi betadine dan dirawat. Pasca pembedahan juga diberikan penisilin oil 15 mg. Pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan kadar substansi P dilakukan pada kelompok K, K(1) dan K(2) 1 jam sebelum pemberian parasetamol dan ketorolak, dan pada jam ke-4 setelah insisi pada tikus wistar. Hasil : Dilakukan perlakuan pada tikus wistar, terdapat 2 ekor yang drop out, sehingga jumlah sampel yang dianalisa sebanyak 30 sampel. Pada uji Mann Whitney didapatkan kadar substansi P pada kelompok parasetamol dibandingkan dengan kelompok ketorolak berbeda bermakna (p=0,016; p

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Gynecologic and Obstetric pathology : High-Yield Pathology
By Christopher P. Crum ; Anna R. Laury ; Michelle S. Hirsch ; Charles Matthew Quick ; William A. Peters III
-- Philadelphia : Elsevier, 2016

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
The human body in health and Illness
By Barbara Herlihy
-- St.Louis Missouri : Elsevier, 2014

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Infertility Management made easy
By Sushma Deshmukh
-- New Delhi : Jaypee Brothers Medical Publishers, 2014

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
The molecular basis of cancer
By John Mendelsohn ; Joe W. Gray ; Peter M. Howley ; Mark A. Israel ; Craig B. Thompson
-- Philadelphia : Elsevier Saunders, 2015

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Hubungan kecepatan waktu kematian dan gambaran makroskopis serta mikroskopis organ dalam dengan pemberian brodifakum dalam berbagai pelarut
By Gatot Suharto ; Julia Ike Haryanto ; Saebani
-- Semarang : FK Undip, 2016

Pendahuluan : Obat pengencer darah sudah lama digunakan sebagai terapi anti pembekuan darah dan sudah digunakan di seluruh dunia. Selain memiliki khasiat terapi obat tersebut juga dikembangkan secara rodentisida. Salah satu contoh rodentisida yang saat ini banyak digunakan adalah brodifakum, yang merupakan obat generasi kedua dari anti koagulan warfarin dan biasa disebut dengan "super warfarin". Dewasa ini penggunaan rodentisida sering disalahgunakan untuk menghilangkan nyawa seseorang. Metode : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecepatan waktu kematian dengan menggunakan brodifakum dalam beberapa pelarut yaitu kopi, teh, susu, air kelapa yang diberikan secara oral pada tikus putih galur wistar, serta gambaran makroskopis dan mikroskopis dari organ dalam (paru, jantung, hati, ginjal). Jumlah tikus yang digunakan 25 ekor terbagi menjadi 5 kelompok yaitu 4 kelompok perlakuan (brodifakum dengan pelarut kopi, teh, susu, air kelapa) dan 1 kelompok kontrol yaitu brodifakum aquadest. Hasil : Didapatkan waktu kematian tercepat yaitu brodifakum dengan pelarut teh dengan rerata 4,4 hari. Nilai brodifakum LD100 25 mg/kgBB. Statistik analitik uji Kruskal-Wallis antara kecepatan waktu kematian dengan pemberian brodifakum dengan berbagai pelarut menunjukkan perbedaan bermakna (P=0,001). Analisa pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis pada organ dalam dilakukan dengan statistik deskriptif. Simpulan : Pemberian brodifakum dengan pelarut teh menyebabkan kematian tercepat dengan temuan kelainan organ paling banyak. Sedangkan kelainan paling sedikit dengan pelarut susu. Kata kunci : brodifakum, kecepatan kematian, gambaran makroskopis, gambaran mikroskopis, pelarut

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Pengaruh Vitamin C dosis tinggi terhadap peroksidasi lipid dan penyembuhan luka pasca tonsilektomi
By Suprihati ; Farokah ; Viika Miftakhul Umami
-- Semarang : FK Undip, 2016

Latar belakang : Tonsilitis kronik menyebabkan terbentuknya oksidan, salah satunya peroksidasi lipid. Vtamin C dosis tinggi pasca tonsilektomi sebagai antioksidan diduga menurunkan kadar peroksidasi lipid dan mempercepat penyembuhan luka. Tujuan : Membuktikan vitamin C dosis tinggi dapat menurunkan kadar peroksidasi lipid dan mempercepat penyembuhan luka pasca tonsilektomi. Metode : Penelitian randomized controlled trial (RCT). Empat puluh subjek yang memnuhi kriteria inklusi dan eksklusi di klinik THT-KL RSUP Soeselo Slawi Oktober-November 2015. Dibagi kelompok perlakuan mendapat vitamin C dosis tinggi intravena segera pasca tonsilektomi dan terapi standar (amoxicillin dan paracetamol), kelompok kontrol mendapat terapi standar. Kadar peroksidasi lipid dievaluasi sebelum dan 2 minggu pasca tonsilektomi. Derajat nyeri dengan visual analogue scale (VAS)/ wong baker faces pain rating scale (WBFPRS) dan derajat epitelisasi (Ozlugedik et al) dinilai pada hari ke-1, 4, 7 dan 14 pasca tonsilektomi. Penyembuhan luka secara klinis dibagi menjadi sembuh dan belum sembuh yang dinilai pada hari ke 7 dan 14 pasca tonsilektomi. Data dianalisis dengan uji t berpasangan, uji t tidak berpasangan, dan uji Mann-Whitney. Hasil : empat puluh subjek dapat diikuti sampai akhir penelitian. Vitamin C dosis tinggi mengurangi derajat nyeri sejak hari ke-4 pasca tonsilektomi (hari ke-1 p=0,053; hari ke-4 p=0,018; hari ke 7 p=0,022; hari ke-14 p=0,075), dan mempercepat derajat epitelisasi sejak hari ke-1 pasca tonsilektomi (hari ke-1 p=0,023; hari ke-4 p=0,000; hari ke-7 p=0,000; hari ke-14 p=0,002), serta lebih banyak sembuh pada hari ke-14 pasca tonsilektomi (p=0,002). Kadar peroksidasi lipid serum 2 minggu pasca tonsilektomi pada kelompok vitamin C dosis tinggi cenderung lebih banyak yang turun dibanding kelompok kontrol (p=0,057). Simpulan : Vitamin C dosis tinggi mempercepat penyembuhan luka dan menurunkan kadar peroksidasi lipid pasca tonsilektomi. Kata kunci : vitamin C, peroksidasi lipid, penyembuhan luka, pasca tonsilektomi.

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
Hal. Awal Sebelumnya 326 327 328 329 330 Berikutnya Hal. Akhir
INTEGRATED LIBRARY
Universitas Diponegoro
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?