INTEGRATED LIBRARY

Universitas Diponegoro

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Masuk
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}

Ditapis dengan

  • Tahun Penerbitan
  • Lokasi
    Lihat Lebih Banyak
Ditemukan 10000 dari pencarian Anda melalui kata kunci: subject="nilai tahunan"
Hal. Awal Sebelumnya 306 307 308 309 310 Berikutnya Hal. Akhir
cover
Kadar matrix Metalloproteinase-8 dan Glutathione Peroxidase Maternal pada ketuban pecah dini
By M. Besari Adi Pramono ; Rizki Aditya Bachrudin
-- Semarang : FK Undip, 2017

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Efektifitas terapi radio frekuensi terhadap kerut lipatan nasolabial pada wanita
By Lewie Suryaatmadja ; Tarida Lidya TI Manik ; T.M Sri Redjeki
-- Semarang : FK Undip, 2017

Latar belakang : Kerut lipatan nasolabial merupakan salah satu manifestasi klinis penuaan yang terlihat pada wajah, yang berhubungan dengan perubahan jaringan ikat kolagen pada dermis. Radio Frekuesni (RF) memiliki efek thermal jaringan pada dermis yang menyebabkan denaturasi kolagen sehingga menghasilkan efek remodelling yaitu pembentukan kolagen baru. Tujuan : Mengetahui efektivitas penggunaan radio frekuensi sebagai terapi kerut lipatan nasolabial. Metode : Menggunakan rancangan Randomized control group pre test-post test design dengan design kontrol pararel. Terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan yang diterapi dengan radio frekusni dan kelompok kontrol yang tidak diterapi radio frekuensi. Seluruh subyek penelitian difoto baik sebelum dan setelah akhir terapi. Data fotografik dievaluasi oleh 3 penilai menggunakan Wrinkle Assessment Scale (WAS). Hasil : Subyek dalam penelitian ini berjumlah 28 orang dengan kerut lipatan nasolabial yang bervariasi. Empat belas subyek enelitian pada kelompok perlakuan diterapi radio frekuensi sebanyak 4 kali dengan interval 2 minggu. Empat belas subyek kontrol hanya diberikan tabir surya. terdapat perbedaan bermakna selisih skor WAS antara kelompok perlakuan RF dan kontrol tanpa terapi RF (p

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Perbandingan gambaran histopatologi pada saluran napas bawah fase intravital perimortem dan postmortem tikus wistar yang diberi paparan panas langsung dan tidak langsung
By Intarniati Nur Rohmah ; Agung Hadi Pramono ; Bianti Hastuti Machros
-- Semarang : FK Undip, 2017

Pendahuluan : Angka kasus luka bakar akibat paparan panas yang semakin meluas sering menimbulkan tantangan bagi investigator, ahli forensik penegak hukum. Hal tersebut untuk membedakan apakah luka bakar akibat paparan panas terjadi saat korban masih hidup (antemortem), sesaat setelah korban meninggal (perimortem), atau saat korban sudah meninggal (postmortem) untuk menutupi penyebab kematian yang sebenarnya. Tujuan : Mengetahui perbandingan histopatologi saluran napas bawah fase intravital, perimortem, dan postmortem tikus wistar yang diberi paparan panas secara langsung maupun tidak langsung. Material dan metode : Penelitian ini merupakan penelitian experimental laboratorik dengan desain yang dipakai adalah post test only with kontrol group design. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUP Dr. Kariadi Semarang dan Labaoratorium Patologi Anatomi Akurat Semarang sebagai tempat pembuatan preparat dan pemeriksaan mikroskopis dengan 35 sampel. Untuk mencari perbandingan dari tiap perlakuan, klasifikasi tersebut dianalisis dengan uji Mann-Whitney untuk melihat perbandingan antar kelompok. Hasil penelitian : Terdapat perbandingan yang signifikan L1 nilai p 0,003 jelaga dan radang. L2 nilai p 0,005 radang dan nilai p 0,003 jelaga. L3 nilai p 0,003 radang dan nilai p 0.005 jelaga. TL 1 nilai p 0,004 radang dan nilai p 0,003 jelaga. TL2 nilai p 0,003 radang dan nilai p 0,005 jelaga. TL3 nilai p 0,004 radang dan nilai p 0,317 pada jelaga tidak ada perbedaan yang bermakna. Berdasarkan hasil penelitian dan uji statistik, pada perdarahan tidak dapat diuji nilai statistik, karena didapatkan hasil yang sama tiap perlakuan terdapat perbedaan. Kesimpulan : Paparan panas secara langsung (L) dan tidak langsung (TL) dapat membandingkan gambaran histopatologi saluran napas bawah tikus wistar fase intravital, perimortem dan postmortem. Kata kunci : paparan panas, saluran napas bawah, histopatologi

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Perbandingan ketebalan lapisan serabut saraf retina paska laser fotokiagulasi durasi diperpanjang dan konvensional parameter pada retinopati diabetika proliferatif
By Afrisal Hari Kurniawan ; Arif Wildan ; Anggraini Utami
-- Semarang : FK Undip, 2017

Pendahuluan : Laser fotokoagulasi merupakan teknik standar penatalaksanaan retinopati diabetika proliferatif (PDR). Komplikasi yang dapat terjadi adalah defek lapang pandang karena penipisan lapisan serabut saraf retina (RNFL). Beberapa penelitian dilakukan untuk mendapatkan parameter laser dengan komplikasi yang lebih sedikit. Tujuan : Membandingkan ketebalan lapisan serabut saraf retina paska laser fotokoagulasi durasi diperpanjang dan konvensional parameter pada penderita retinopati diabetika proliferatif. Metode : Studi eksperimental dengan pre and post test group design dilakukan di RSUP Dr. Kariadi. Subyek penelitian adalah penderita PDR yang dipilih secara consecutive sampling. Ketebalan lapisan serabut saraf retina diukur sebelum dilakukan laser, 1 minggu dan 1 bulan setelah dilakukan laser. Hasil : Kelompok konvensional terdiri dari 24 mata dan kelompok modifikasi 24 mata. Kelompok konvensional ketebalan RNFL sebelum dilakukan leser 78,83+-32,81uM, 1 minggu setelah laser 83,04+-31,77uM, dan 1 bulan paska laser 70,29+-27,90uM. Pada 1 minggu setelah laser terjadi penebalan RNFL yang tidak bermakna sebesar 4,21uM. Pada 1 bulan paska laser terjadi penipisan RNFL yang bermakna sebesar 8,54uM. Kelompok modifikasi ketebalan RNFL sebelum dilakukan laser 71uM, 1 minggu setelah laser 83uM, dan 1 bulan paska laser 66,5uM. Pada 1 minggu paska laser terjadi penebalan RNFL yang bermakna sebesar 5,5uM. Pada 1 bulan paska laser terjadi penipisan RNFL yang bermakna sebesar 8uM. Ketebalan RNFL sebelum laser, 1 minggu dan 1 bulan paska laser antara kedua kelompok tidak berbeda bermakna. Simpulan : Tidak terdapat perbedaan bermakna ketebalan RNFL paska laser fotokoagulasi durasi diperpanjang dan konvensional parameter pada PDR. Kata kunci : retinopati diabetika proliferatif, laser fotokoagulasi, lapisan serabut saraf retina

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Perbedaan kadar malondialdehide humor akuos tikus wistar model glaukoma yang diberi N-Acetylcarnosine dan tidak diberi N-Acetylcarnosine
By Fifin L. Rahmi ; Maharani Cahyono ; Novi Endah Sulistyawati
-- Semarang : FK Undip, 2017

Pendahuluan : Glaukoma merupakan salah satu penyakit yang mengancam penglihatan dan bersifat ireversibel. Progresifitas neuropati optik yang terjadi seringkali disebabkan oleh peningkatan tekanan intraokular akibat resistensi aliran humor akuos melalui trabecular meshwork (TM) dan kanalis Schlemm. Perkembangan dan progresifitas glaukoma berhubungan dengan akumulasi kerusakan oksidatif pada TM. Stres oksidatif yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intraokular dapat memicu pemecahan O2 aerob sehingga menghasilkan Reactive Oxygen Spesies (ROS). Mekanisme kerusakan sel akibat serangan radikal bebas yang terbanyak diteliti adalah peroksidasi lipid. Salah satu hasil produk degradasi peroksidasi lipid adalah malondialdehide (MDA). N-acetylcarnosine (NAC) merupakan antioksidan topikal yang diharapkan dapat menghambat pembentukan lipid peroksidasi dan mengurangi pembentukan senyawa aldehide. Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian NAC terhadap kadar malondialdehide humor akuos tikus wistar model glaukoma. Metode : Penelitian ini merupakan true experimental post-test only controlled group design. Empat belas ekor tikus wistar dibuat model glaukoma dengan metode kanulasi, kemudian dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok kontrol (K) diberi tetes mata plasebo, kelompok perlakuan (P) diberi tetes mata N-acetylcarnosine, 2x sehari selama 4 minggu. Pemeriksaan kadar MDA dalam humor akuos dengan menggunakan Quantikine Rat Immunoassay Kit dan pembacaan hasil dengan spektrofotometer. Analisis statistik menggunakan uji t tidak berpasangan. Hasil : Rerata kadar MDA pada kelompok K=47; kelompok P=23. Kadar MDA kelompok perlakuan lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol (p=0,021). Hasil uji beda kadar MDA dengan uji t tidak berpasangan terdapat perbedaan bermakna kadar MDA pada kelompok kontrol dibandingkan kelompok perlakuan (p

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Korelasi antara kadar Superoxide Dismutase serum dengan derajat keparahan vitiligo dan beberapa faktor yang berpengaruh
By Asih Budiastuti ; Aria Hendra Kusuma ; Irma Binarso M.
-- Semarang : FK Undip, 2017

Latar belakang : Vitiligo adalah kelainan melanositopenik didapat yang ditandai dengan adanya bintik-bintik depigmentasi akibat hilangnya melanosit epidermal. Superoxide dismutase (SOD) adalah antioksidan enzimatik penting yang bertanggungjawab untuk menghilangkan radikal superoksida dan dianggap sebagai antioksidan utama dalam sel aerob. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan korelasi antara kadar SOD serum dengan derajat keparahan vitiligo menggunakan skor VASI. Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian analitik observasional belah lintang dengan variabel bebas kadar SOD serum dan variabel terikatnya adalah derajat keparahan vitiligo. Sampel diambil dari 33 pasien, dimana 11 pasien dengan vitiligo ringan, 11 pasien dengan vitiligo sedang dan 11 pasien dengan vitiligo berat. Hasil : Pada penelitian ini didapatkan adanya korelasi negatif derajat sangat baik yang bermakna antara kadar SOD serum dengan derajat keparahan vitiligo (r=-0,943; p

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Hubungan antara jumlah trombosit dan D-dimer dengan Asymmetric Dimethylarginine pada psien diabetes melitus tipe-2 dengan congestive heart failure
By Meita Hendrianingtyas ; Indranila Kustarini Samsuria ; Hari Oktavian
-- Semarang : FK Undip, 2017

Latar belakang : Sistem vaskuler (endotel), dan pembekuan darah serta proses fibrinolitik merupakan tiga sistem yang berperan dalam hemostasis. Kadar ADMA sebagai penanda disfungsi endotel, jumlah trombosit, kadar D-Dimer sebagai parameter aktivasi koagulasi dan fibrinolisis dapat memprediksi progesivitas pasien DMT2 dengan CHF. Deteksi dini gangguan aktivitas koagulasi, fibrinolisis dan gangguan fungsi endotel dapat mengurangi angka morbiditas dan mortalitas pada pasien DMT2 dengan CHF. Tujuan : Membuktikan hubungan jumlah trombosit, kadar D-Dimer dengan kadar ADMA pada pasien DMT2 dengan CHF. Metode : Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan belah lintang pada 34 pasien DMT2 dengan CHF yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah trombosit diukur dengan menggunakan metode flowcitometry, kadar D-Dimer diukur menggunakan metode turbidimetri, kadar ADMA diukur menggunakan ELISA kompetitif. Analisis menggunakan uji korelasi spearman. Hasil : Jumlah trombosit yang mengalami peningkatan didapatkan pada 1 subyek (2,9%), tidak mengalami peningkatan pada 33 subyek (97,1%). Kadar D-Dimer yang mengalami peningkatan sebanyak 30 (88%) subyek, tidak mengalami peningkatan 4 (11%) subyek. Kadar ADMA yang tidak mengalami peningkatan sebanyak 16 subyek (47%), terjadi peningkatan terdapat pada 18 subyek (52,9%). analisis hubungan jumlah trombosit dengan kadar ADMA tidak didapatkan hubungan bermakna antara kedua variabel (r=-0,100; p=0,574), terdapat hubungan bermakna antara kadar D-Dimer dengan ADMA (r=0,396; p=0,021). Simpulan : Terdapat hubungan positif lemah antara kadar D-Dimer dengan kadar ADMA pada pasien DMT2 dengan CHF. Kata kunci : DMT2, CHF, jumlah trombosit, D-Dimer, ADMA, DMT2, CHF

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Hubungan antara kadar CRP dan nilia RDW dengan IL-10 pada penderita stroke iskemik
By Meita Hendrianingtyas ; Imam Budiwiyono ; Aswandy Sarimuda Hutabarat
-- Semarang : FK Undip, 2017

Latar belakang : Stroke adalah salah satu penyebab kematian dan kecacatan terbesar di dunia, stroke terdiri dari iskemik dan non iskemik, stroke iskemik kasusnya 85-87%. Inflamasi berperan pada stroke iskemik, CRP merupakan petanda inflamasi yang banyak dipakai dan RDW adalah pengukuran dari ukuran sel darah merah, IL-10 berperan dalam mekanisme umpan balik protektif untuk membatasi produksi sitokin pro-inflamasi. Tujuan : Memebuktikan adanya hubungan antara kadar CRP dan nilai RDW dengan kadar IL-10 pada stroke iskemik. Metode : Desain observasional analitik dengan pendekatan belah lintang. Subyek 31 pasien diambil secara konsekutif di RSUP Dr. Kariadi Semarang. CRP diperiksa dengan metode sandwich ELISA, RDW dengan metode optik, IL-10 dengan metode ELISA. Analisa statistik menggunakan uji korelasi spearman. Hasil : Hasil median CRP didapatkan 2,97 (0,33-8,22 mg/dL, median RDW 12,9 (11,9-20,8%) median IL-10 1,56 (0,13-6,8) pg/mL. Terdapat hubungan antara kadar CRP dan kadar IL-10dengan nilai r=-0,547 dan p=0,001. Tidak didapatkan hubungan antara nilai RDW dan kadar IL-10 dengan nilai r=-0,1373 dan p=0,353. Simpulan : Terdapat hubungan negatif sedang antara kadar CRP dan kadar IL-10 dan tdak didapatkan hubungan nilai RDW dan kadar IL-10. Kata kunci : stroke iskemik, CRP, RDW, IL-10

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Kajian epidemiologi penderita dengan serologi sitomegalovirus (CMV) positif di sebuah klinik (Studi kasus di Kabupaten Pati Jawa Tengah)
By Muchlis Achsan Udji Sofro ; Mamang Bagiansah
-- Semarang : FK Undip, 2017

Latar belakang : Cytomegalovirus (CMV) merupakan salah satu patogen penyebab morbiditas dan mortalitas baik pada penderita imunokompromais maupun imunokompeten. Kenyataan bahwa gejala klinis infeksi CMV primer sebagian besar tidak khas (asimtomatik), menyebabkan hasil tes serologi di laboratorium menjadi satu-satunya jalan yang paling reliabel untuk memperkirakan prevalensi CMV pada suatu populasi. Kajian epidemiologi dan klinis penderita CMV seropositif diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai distribusi penderita CMV seropositif berdasarkan karakteristik demografi dan sosioekonomi, serta gejala dan tanda klinis yang dikeluhkan penderita dengan IgM CMV seropositif. Metode : Studi ini merupakan studi deskriptif analitik dengan data retrosepktif berdasarkan rekam medis penderita di sebuah klinik dokter spesialis penyakit dalam di Kabupaten Pati, Jawa Tengah selama Januari 2013 sampai dengan Desember 2015. Analisis kualitatif dilakukan terhadap penderita yang diperiksa status serologi anti-CMV dengan menggambarkan karakteristik demografi, sosioekonomi, dan karakteristik klinis. Hasil : 1439 penderita CMV seropositif dengan rentang usia 12 hingga 88 tahun (rerata usia 42 tahun), terbanyak berusia 26-45 tahun (n 571; 39.7%), perempuan (n 808; 56%) dan tinggal di daerah rural (n 890; 61.8%). Infeksi CMV akut (serologi IgM+/+) didapatkan 42 (2.9%) dan infeksi kronis (IgM-/IgG+) 1397 (97.1%). Tidak ada penderita dengan IgM+/IgG-. Proporsi CMV seropositif lebih banyak penderita berpendidikan >SMU (n 173;55.6%), berpenghasilan SMU, berpenghasilan

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Efek suplementasi vitamin D3 terhadap kadar 25-Hydroxyvitamin D serum pada subyek dengan hipovitaminosis D
By K. Heri Nugroho HS ; Karina
-- Semarang : FK Undip, 2017

Latar belakang : Vitamin D sering disebut "the sunshine vitamin" berperan penting untuk pertumbuhan dan perkembangan. Pembentukannya sangat bergantung pada sinar matahari dan asupan vitamin D dari makanan atau suplemen. Defisiensi vitamin D mengakibatkan berbagai macam gangguan penyakit. Penelitian di berbagai negara termasuk Indonesia menunjukkan tingginya angka defisiensi vitamin D. Suplementasi vitamin D efektif memperbaiki kondisi defisiensi vitamin D. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek suplementasi vitamin D3 terhadap kadar 25-hydroxyvitamin D (25(OH)D) serum pada subyek hipovitaminosis D. Metode : Rancangan ekperimental, double-blind, randomized controlled trial. Subyek penelitian 66 pegawai instansi di Semarang, sehat, berusia 18-60 tahun, tidak obese, dengan kadar 25(OH)D serum < 30 ng/ml. Subyek terbagi menjadi 2; kelompok perlakuan mendapat vitamin D3 1000 IU/hari dan kelompok kontrol mendapatkan plasebo. Waktu perlakuan 4 minggu. Evaluasi kadar 25(OH)D ulang pasca 4 minggu intervensi. Analisis statistik menggunakan uji T. Hasil : Terdapat tren peningkatan kadar 25(OH)D serum pasca intervensi pada kelompok vitamin D dibandingkan dengan kelompok plasebo, namun peningkatan tersebut tidak berbeda bermakna (p=0.295). Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada delta kadar 25(OH)D serum antara kedua kelompok (p=0.067). Faktor kepatuhan minum suplemen, kontak dengan sinar matahari langsung dan diet yang mengandung vitamin D tidak emiliki hubungan bermakna dengan kadar 25(OH)D serum akhir. Kesimpulan : Suplementasi vitamin D3 1000 IU/hari selama 4 minggu tidak meningkatkan kadar 25(OH)D serum secara bermakna. Kata kunci : Suplementasi vitamin D3, kadar 25(OH)D serum

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
Hal. Awal Sebelumnya 306 307 308 309 310 Berikutnya Hal. Akhir
INTEGRATED LIBRARY
Universitas Diponegoro
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?