INTEGRATED LIBRARY

Universitas Diponegoro

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Masuk
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}

Ditapis dengan

  • Tahun Penerbitan
  • Lokasi
    Lihat Lebih Banyak
Ditemukan 10000 dari pencarian Anda melalui kata kunci: subject="Pidato Wisuda"
Hal. Awal Sebelumnya 291 292 293 294 295 Berikutnya Hal. Akhir
cover
Pengaruh N-Acetylarnosine terhadap ekspresi caspase-3 dan caspase-7 trabecular meshwork tikus wistar model glaukoma
By Fifin L. Rahmi ; Maharani Cahyono ; Amalia Mayasari
-- Semarang : FK Undip, 2017

Pendahuluan Glaukoma merupakan penyebab kebutaan yang permanen. Progresifitas neuropati optik yang terjadi seringkali disebabkan oleh peningkatan tekanan intraocular akibat resistensi aliran humor akuos melalui trabecular meshwork (TM) dan kanalis Schlemm. Perkembangan dan progresifitas glaucoma berhubungan dengan akumulasi kerusakan oksidatif pada TM. Stres oksidatif yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intraocular dapat memicu perubahan karakteristik TM melalui kerusakan mitokondria, aktivasi Caspase-3 dan Caspase-7, hingga menyebabkan apoptosis. N-acetylcarnosine (NAC) merupakan antioksidan topikal yang diharapkan dapat mencegah apoptosis sel endotel trabecular meshwork. Tujuan Mengetahui pengaruh pemberian NAC terhadap ekspresi Caspase-3 dan Caspase-7 TM tikus Wistar model glaukoma Metoda Penelitian ini merupakan true experimental post-test only controlled group design. Empatbelas ekor tikus Wistar dibuat model glaucoma dengan metode kanulasi, kemudian dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok kontrol (K) diberi tetes mata plasebo, kelompok perlakuan (P) diberi tetes mata N-acetylcarnosine, 2x sehari selama 4 minggu. Ekspresi Caspase-3 dan Caspase-7 dinilai dengan imunohistokimia menggunakan Allred score. Analisis statistik menggunakan uji t tidak berpasangan dan Mann Whitney. Hasil Penelitian Rerata ekspresi Caspase-3 pada kelompok K=5,1; kelompok P=3,4. Ekspresi Caspase-3 kelompok perlakuan lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol (p=

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Perbedaan ekspresi caspase-3 dan caspase-7 pada apoptosis sel ganglion retina pasca pemberian asam folat dan deksametason pada model tikus intoksikasi metanol
By Riski Prihatiningtias ; Arif Wildan ; Christine Yuliana
-- Semarang : FK Undip, 2017

Pendahuluan Intoksikasi metanol dapat menyebabkan penurunan visus permanen. Asam format merupakan metabolit toksik metanol yang menyebabkan toksisitas hipoksia sehingga terjadi kerusakan mitokondria, mengaktivasi caspase-3 dan caspase-7 hingga akhirnya terjadi apoptosis. Deksametason dan asam folat telah digunakan sebagai terapi tambahan pada kasus intoksikasi metanol. Tujuan Untuk mengetahui perbedaan ekspresi caspase-3 dan caspase-7 pada apoptosis sel ganglion retina pasca pemberian asam folat dan deksametason pada tikus coba yang diinduksi metanol. Metode. Penelitian eksperimental ini dilakukan di Laboratorium Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang. Lima belas tikus wistar yang terintoksikasi metanol dibagi dalam tiga kelompok secara acak : kelompok kontrol (K), deksametason intraperitoneal 1 gram sebanyak 16,5cc/kgBB/hari selama 3 hari (P1), dan asam folat 1 mg/kgBB/hari selama 3 hari (P2). Intoksikasi metanol dilakukan dengan pemberian metanol 4 gram/kgBB pada hari pertama dan 2 gram/kgBB pada hari kedua dan ketiga. Ekspresi caspase-3 dan caspase-7 dinilai dengan pewarnaan imunohistokimia. Analisis statistik menggunakan uji Kruskal Wallis. Hasil penelitian Rerata ekspresi caspase-3 kelompok K=6,6 , kelompok P1=6,2 dan P2=6,4. Ekspresi caspase-3 pada kelompok perlakuan lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol (p=0,459). Rerata ekspresi caspase-7 kelompok K=6,2 , kelompok P1= 6,4 dan P2= 6,4. Ekspresi caspase-7 pada kelompok perlakuan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (p=0,459). Rerata caspase-3 dan caspase-7 pada kelompok P1 dan P2 masing-masing yaitu p=0,513 dan p=1,00. Kesimpulan Terdapat kecenderungan penurunan ekspresi caspase-3 pada kelompok perlakuan dibandingkan kontrol. Ekspresi caspase-7 pada kelompok perlakuan cenderung meningkat dibandingkan kontrol. Kata kunci intoksikasi metanol, caspase-3, caspase-7, deksametason, asam folat.

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Efektifitas DLBS 1425 topikal terhadap ekspresi COX-2 pada kornea tikus wistar pasca trauma basa
By Trilaksono Nugroho ; Sri Inakawati ; Sahilah Ermawati
-- Semarang : FK Undip, 2017

Latar Belakang: Inflamasi kornea dapat menyebabkan kekeruhan kornea derajat ringan sampai berat. Siklooksigenase – 2 (COX-2) merupakan mediator inflamasi dan penanda pada inflamasi kornea yang akut. Obat anti inflamasi steroid dapat menghambat phospholipase, sehingga memiliki efek anti inflamasi yang poten, namun memiliki banyak efek samping. Phaleria macrocarpa merupakan tanaman obat asli Indonesia yang memiliki efek anti inflamasi. DLBS1425 merupakan sediaan farmasi ekstrak Phaleria macrocarpa yang memiliki efek anti inflamasi dengan menghambat ekspresi mRNA COX-2 dan cPLA2 pada sel kanker payudara. Peneliti ingin mengetahui efektifitas anti inflamasi DLBS1425 di bidang mata, dinilai dari ekspresi COX-2 kornea tikus Wistar pasca trauma. Tujuan: Membuktikan efektifitas DLBS1425 topikal terhadap ekspresi COX-2 kornea tikus Wistar pasca trauma basa. Metoda: Merupakan penelitian true experimental post-test only design. 24 mata tikus Wistar mendapat paparan NaOH, dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok K1 diberi tetes Hyalub, sedangkan P diberi tetes DLBS1425 konsentrasi 1x101mg/ml. Setelah 7 hari, dinilai ekspresi COX-2 kornea secara imunohistokimia. Analisis statistik menggunakan uji One Way Annova dan Post Hoct Study Hasil: Rerata ekspresi cPLA2 kelompok K1= 2,577, P1= 1,9 dan K2 = 2,15. Ekspresi COX-2 kelompok perlakuan memiliki ekspresi COX-2 yang lebih rendah dan perbedaan yang signifikan secara statistik dibanding kelompok kontrol 1(p=0,048), dibandingkan K2 ekspresi COX-2 kelompok perlakuan lebih rendah akan tetapi tidak berbeda bermakna secara stastistik (p=0,306) Kesimpulan: DLBS1425 topikal efektif menekan ekspresi COX-2 kornea tikus Wistar pasca trauma basa. Kata kunci: Phaleria macrocarpa, DLBS1425, COX-2, inflamasi kornea

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Perbedaan ekspresi caspase-3 dan caspase-7 pada apoptosis sel ganglion retina pasca pemberian metilkobalamin, deksametason, dan kombinasinya pada model tikus intoksikasi metanol
By Arief Wildan ; Riski Prihatiningtias ; Iman Krisnugroho
-- Semarang : FK Undip, 2017

Latar Belakang: Asam format merupakan metabolik toksik pada intoksikasi metanol. Apoptosis pada intoksikasi metanol disebabkan oleh karena keterlibatan mitokondria (pelepasan sitokrom c dan caspase). Pemberian metilkobalamin dapat mengurangi kadar asam format dengan mengaktifkan tetrahidroksi folat untuk memetabolisme asam format didalam tubuh. Bila metabolisme asam format ditingkatkan, penumpukan asam format dikurangi, sehingga terjadi penurunan ekspresi caspase 3 dan 7 dan pada akhirnya apoptosis lebih rendah. Tujuan: Mengetahui perbedaan ekspresi caspase 3 dan 7 pada apoptosis sel ganglion retina pasca pemberian metilkobalamin, deksametason dan kombinasinya dibanding kelompok kontrol pada tikus yang mengalami intoksikasi metanol. Metode: Penelitian ini merupakan uji eksperimental laboratorium dengan rancangan post-test only randomized controlled group yang menggunakan model tikus intoksikasi metanol kemudian mendapatkan perlakuan deksametason, metilkobalamin dan kombinasinya. Analisis statistik menggunakan uji Kruskal Wallis dan Mann Whitney. Hasil: Didapatkan penurunan ekspresi caspase 3 pada deksametason dibandingkan kontrol ( p=0,221) dan ekspresi caspase 7 pada deksametason terdapat peningkatan dibanding kontrol (p=0,513). Didapatkan penurunan ekspresi caspase 3 pada metilkobalamin dibandingkan kontrol (p=0,549) dan ekspresi caspase 7 pada metilkobalamin terdapat peningkatan dibanding kontrol (p=0,015*). Didapatkan penurunan ekspresi caspase 3 pada kombinasi dibandingkan kontrol (p= 1,00) dan ekspresi caspase 7 pada metilkobalamin terdapat peningkatan dibanding kontrol (p=0,042*). Kesimpulan: Terdapat kecenderungan penurunan caspase 3 dan peningkatan ekspresi caspase 7 pada deksametason dibandingkan kontrol. Terdapat kecenderungan penurunan ekspresi caspase 3 dan peningkatan ekspresi caspase 7 pada metilkobalamin dibandingkan kelompok kontrol. Tidak terdapat penurunan ekspresi caspase 3 dan kecenderungan peningkatan ekspresi caspase 7 pada kombinasi dibandingkan kontrol. Kata kunci: Metilkobalamin, intoksikasi metanol, caspase 3 dan 7

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Perbandingan hasil water Drinking Test pada glaukoma sudut terbuka primer yang terkontrol dengan prostaglandin analogue dan dengan selective laser trabeculoplasty
By Fifin L. Rahmi ; Maharani Cahyono ; Sara Listyani Koentjoro
-- Semarang : FK Undip, 2017

Pendahuluan: Seringkali pasien glaukoma datang dengan tekanan intra okuler (TIO) yang mencapai target, tetapi tetap menunjukkan progresivitas glaukoma akibat adanya fluktuasi TIO. Water drinking test (WDT) dapat digunakan sebagai metode untuk memprediksi fluktuasi TIO. Tujuan: Membandingkan hasil WDT pada glaukoma primer sudut terbuka (GSTaP) yang terkontrol dengan prostaglandin analogue (PGA) dan dengan selective laser trabeculoplasty (SLT). Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik intervensional dengan desain cross-sectional yang dilaksanakan di RSUP Dr. Kariadi. Subyek penelitian adalah penderita GSTaP yang dipilih secara consecutive sampling. Tekanan intraokuler diukur sebelum dan sesudah WDT. Sesudah WDT, TIO diukur tiap 15 menit hingga 1 jam. Data TIO puncak dan fluktuasi TIO dikumpulkan dan dianalisis menggunakan t-test. Hasil: Sebanyak 42 mata dari 30 orang penderita GSTaP diperiksa dalam penelitian ini. Kelompok PGA terdiri dari 26 mata, sedangkan kelompok SLT 16 mata. Subyek penelitian sebagian besar laki-laki dan memiliki derajat glaukoma awal. Water drinking test meningkatkan TIO secara signifikan pada kedua kelompok. Mean TIO pre WDT kelompok PGA 14,58 ± 2,580 mmHg, sedangkan kelompok SLT 16,94 ± 2,645 mmHg. Mean TIO puncak sebesar kelompok PGA 22,73 ± 4,114 mmHg, sedangkan kelompok SLT 25,75 ± 5,859 mmHg. Fluktuasi TIO kelompok PGA 8,15 ± 4,202 mmHg, sedangkan kelompok SLT 8,81 ± 5,344 mmHg. Hasil uji beda TIO puncak dan fluktuasi TIO pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan hasil WDT pada pasien GSTaP yang terkontrol dengan PGA dan dengan SLT. Kedua jenis terapi memiliki kemampuan yang sama dalam mengendalikan fluktuasi TIO. Kata Kunci: Glaukoma sudut terbuka primer, prostaglandin analogue, selective laser trabeculoplasty, water drinking test.

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Perbedaan struktur fungsi ventrikel kanan taruna berdasarkan jenjang waktu pendidikan di Akademi Militer Magelang
By Suhartono ; Hari Indratno ; Yan Herry ; M. Arif Nugroho
-- Semarang : FK Undip, 2017

Latar belakang : Latihan fisik secara intensif atau jangka lama akan menyebabkan remodeling yang kompleks terhadap anatomi dan fisiologi jantung untuk memperkuat kinerja kardiovaskuler. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa latihan intensif dapat menimbulkan stres fisiologis yang tidak rpoporsional terhadap ventrikel kanan. Ekhokardiografi digunakan untuk analisis dalam membedakan antara remodeling adaptif dan maladaptif. Tujuan : Membuktikan perbedaan struktur dan fungsi ventrikel kanan Taruna Akmil berdasarkan jenjang waktu pendidikannya. Metode : Penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang pada 75 subyek Taruna Akmil (rerata usia 20,9+ 1,3 tahun) yang terdiri dari Taruna Tingkat I (n=25), Taruna Tingkat II (n=25), Taruna Tingkat III (n=25). Seluruh subyke menjalani pemeriksaan resting ekhokardiografi transtorakal dengan metode 2D, tissue Doppler imaging dan STE saat istirahat (resting echocardiographi). HAsil : Struktur VKa antar masing-masing kelompok Taruna tidak didapatkan perbedaan yang bermakna (RVD1, 37,1+2,7; 36,1+2,4; 37,2+2,3 mm, p=0,249; RVD2, 29,1+2,7; 27,7+2,9; 29,3+2,9 mm, p=0,158; RVD3 75,5+4,2; 74,9+3,7; 76,1+3,7 mm, p=0,554; diameter RVOT proximal, 28,8+3,1; 26,3+3,8; 27,4+2,9 mm, p=0,058; diameter RVOT distal, 21,2+1,8; 20,1+1,5; 20,5+1,7 mm, p=0,084). Parameter fungsi sistolik VKa juga tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antar masing-masing kelompok Taruna (RVFAC, 43,0+8,8; 43,5+7,2; 43,4+5,7%, p=0,135; TAPSE, 2,46+0,30; 2,34+0,28; 2,39+0,27 cm, p=0,071; S' 0,154+0,018; 0,153+0,017; 0,158+0,026 m/s; p=0,224; MPI, 0,30+0,07; 0,32+0,09; 0,31+0,07; p=0,445; free wall longitudinal strain, -26,7+3,2; -24,8+4,6; -26,6+3,8, p=0,167). Fungsi diastolik yang dinilai dari aliran transtrikuspid dan pencitraan jaringan Doppler antar kelompok Taruna Akmil tidak terdapat perbedaan yang bermakna. Kesimpulan : Tidak terdapat perbedaan struktur dan fungsi ventrikel kanan Taruna Akmil yang diamati berdasarkan jenjang waktu pendidikannya. Kata kunci : latihan fisik, ventrikel kanan, Taruna Akmil, ekhokardiografi

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Karakteristik penderita gagal jantung akut dekompensata yang mengalami kejadian rawat ulang : Studi kasus di RSUP Dr. Kariadi Semarang
By Suhartono ; Ilham Uddin ; Yan Herry ; Kelly Kuswidi Yanto
-- Semarang : FK Undip, 2017

Latar Belakang: Gagal jantung merupakan salah satu penyebab kejadian rawat inap dan rawat ulang paling sering di Rumah Sakit (RS). Data-data tentang karakteristik penderita gagal jantung kronis yang mengalami kejadian rawat ulang akibat eksaserbasi akut di RSUP Dr. Kariadi Semarang saat ini masih belum ada. Tujuan: Mengetahui gambaran karakteristik penderita gagal jantung akut dekompensata yang mengalami kejadian rawat ulang di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Metode: Penelitian ini adalah penelitian desktriptif dengan pendekatan belah lintang. Data rekam medis dikumpulkan secara retrospektif selama periode bulan Januari 2015 sampai dengan Desember 2015. Hasil: Total sampel penelitian adalah 151 orang. Rerata usia subyek adalah 57 tahun dengan proporsi pria sebesar 56,3%. Median lama rawat inap adalah 7 hari, dan angka kejadian rawat ulang dalam rentang 30 hari sesudah pulang dari RS sebesar 23,8%. Iskemik (33,8%) merupakan etiologi terbanyak, sedangkan kejadian infeksi (46,4%) merupakan faktor pencetus terbanyak dan hipertensi (60,3%) merupakan komorbiditas terbanyak. Angka penggunaan obat sebelum rawat ulang berupa angiotensin-converting enzyme inhibitor (ACEI) atau angiotensin-receptor blocker (ARB) sebesar 54,3%, mineralocorticoid receptor antagonist (MRA) sebesar 49,7%, diuretik loop sebesar 48,3%, dan penyekat beta sebesar 23,2%. Beberapa pasien mengalami kenaikan kadar blood urea nitrogen (BUN) (70,9%), anemia (50,3%), dan hiponatremia (26,5%) pada saat rawat ulang. Kebanyakan pasien (55,63%) dengan Left Ventricle Ejection Fraction (LVEF)

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Perbandingan kadar interleukin-6 pasca intervensi koroner perkutan antara penderita infark miokard akut yang dilakukan revaskularisasi komplet dan inkomplet : Studi kasus di RSUP Dr. Kariadi Semarang
By Noor Wijayahadi ; Novi Anggriyani ; Sodiqur Rifqi ; Putri Kusuma Dewi
-- Semarang : FK Undip, 2017

Pendahuluan Intervensi koroner perkutan (IKP) merupakan salah satu pilihan tindakan invasif untuk pasien dengan infark miokard akut (IMA) baik pada single vessel disease (SVD) maupun multivessel disease (MVD). IKP inkomplet pada MVD memiliki plak residual yang apabila tidak stabil maka prognosis lebih buruk dan berisiko terhadap major adverse cardiovascular events (MACE). IL-6 merupakan salah satu penanda inflamasi pada IMA yang dapat memperkirakan risiko kardiovaskular yang merugikan. Tujuan Membandingkan perubahan kadar IL-6 pasca-IKP antara penderita IMA yang dilakukan revaskularisasi komplet dan inkomplet. Material dan Metode Subyek penelitian adalah semua NSTEMI dan STEMI dengan onset < 1 minggu yang dilakukan IKP di RSUP Dr. Kariadi Semarang periode bulan Oktober sampai dengan bulan Desember 2016 yang memenuhi kriteria inklusi. Subyek dikelompokkan ke dalam revaskularisasi komplet dan inkomplet berdasarkan hasil IKP dan dilakukan pemeriksaan IL-6 dari darah perifer pada 24 jam pasca-IKP dan pemeriksaan IL-6 kedua dengan interval waktu 1-2 minggu pasca-IKP. Hasil Penelitian 40 pasien (usia rata-rata: 54,55 tahun) dibagi menjadi dua kelompok: 19 pasien (47,5%) dengan revaskularisasi komplet dan 21 pasien (52,5%) dengan revaskularisasi inkomplet. Kadar IL-6 pada kelompok revaskularisasi komplet dan inkomplet terjadi penurunan yang signifikan masing-masing dengan p

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Korelasi antara disinkroni intraventrikel kiri dengan fungsi atrium kiri pada penderita pasca pemasangan alat pacu jantung permanen bilik tunggal : Studi kasus di RSUP Dr. Kariadi
By Suhartono ; M. Arif Nugroho ; Yosman Freedy Soeroto ; Sugiri
-- Semarang : FK Undip, 2017

Latar Belakang : Peningkatan harapan hidup masyarakat dunia diikuti peningkatan penggunaan alat pacu jantung permanen. Penggunaan pacu jantung bilik tunggal masih luas digunakan saat ini. Pacu jantung bilik tunggal menyebabkan disinkroni di dalam ventrikel kiri. Disinkroni kronik memicu peningkatan kejadian atrial fibrilasi dan stroke di masa depan. Disinkroni intraventrikel kiri diduga menyebabkan gangguan fungsi atrium kiri. Tujuan : Untuk mengetahui korelasi antara disinkroni intraventrikel kiri terhadap fungsi atrium kiri pada penderita dengan pacu jantung bilik tunggal. Metode : Penelitian secara cross-sectional pada penderita dengan alat pacu jantung permanen (APJP) bilik tunggal di poliklinik RSUP Dr.Kariadi antara bulan Oktober dan Desember 2016. Penderita menjalani pemeriksaan tissue doppler imaging (TDI) untuk disinkroni intraventrikel kiri. Penilaian fungsi atrium kiri didefinisikan sebagai left atrial emptying fraction (LAEF). Hasil : Terdapat 31 pasien (rerata usia 64,5 tahun) dan pemakaian APJP rata – rata 30,3 bulan menjalani pemeriksaan ekokardiografi. Penurunan LAEF mencapai 30,9% dan dilatasi dari volume atrium kiri (45,5 mL). Analisis bivariat menggunakan Spearman’s rho, didapatkan korelasi lemah antara disinkroni intraventrikel kiri dengan LAEF (p= 0,045 r=-0,362). Setelah dilakukan penyesuaian, hasil analisis multivariat linear regresi menyisakan disinkroni interventrikel (p= 0,021 r= -0,352) dan fraksi ejeksi ventrikel kiri (p= 0,002 r= -0,500) sebagai faktor independen yang berkorelasi dengan LAEF. Disinkroni intraventrikel kiri tidak bermakna secara statistik terhadap LAEF(p= 0,233 r= -0,198). Simpulan : Disinkroni intraventrikel kiri tidak berkorelasi terhadap LAEF pada penderita dengan APJP bilik tunggal. Penelitian lebih lanjut dengan kohort prospektif diperlukan untuk menunjukkan korelasi yang bermakna. Kata kunci : Disinkroni ventrikel kiri, fungsi atrium kiri, pacu jantung bilik tunggal

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
POLIMORFISME GEN IL-10 REGIO PROMOTOR -1082 A/G DAN EKSPRESI IL-10 PADA KATUP MITRAL REMATIK.
By Hardian ; Sefri Noventi Sofia ; Tri Indah Winarni ; Jarot Widodo ; Susi Herminingsih
-- Semarang : FK Undip, 2017

Latar Belakang: Penyakit jantung rematik (PJR) merupakan suatu komplikasi kronis dari demam rematik akut berulang yang disebabkan oleh Streptokokus Grup A. Reaktivasi silang akibat protein M Streptokokus Grup A memicu respon imun akibat mimikri molekuler. Polimorfisme gen IL-10 pada regio promoter -1082 dihipotesiskan mengurangi produksi IL-10 dan mempengaruhi kerentanan individu terhadap terjadinya PJR. Tujuan: Mendeskripsikan distribusi Polimorfisme gen IL-10 pada regio promoter -1082 dan ekspresi IL-10 katup mitral pada pasien PJR Indonesia. Metode: DNA diekstraksi dari darah perifer pasien PJR yang menjalani bedah ganti katup mitral periode Desember 2014 – September 2016 di RSUP Dr. Kariadi. Polimorfisme gen IL-10 diperiksa menggunakan metode high resolution melting analysis di laboratorium Pusat Riset Biomedik, dan dikonfirmasi menggunakan sequencing. Ekspresi IL-10 katup mitral dihitung dengan sistem skor Allred. Hasil: Dua puluh enam pasien diikutkan dalam penelitian, terdiri dari 26,9% pria dan 73,1% wanita. Dua puluh dua (84,62%) subyek memiliki genotype AA (wild type), 3 (11,53%) AG, dan 1 (3.85%) GG. Rerata ekspresi IL-10 adalah 3,9±1,78. Ekspresi IL-10 rendah (skor≤6) didapatkan pada 84,6% pasien. Ekspresi IL-10 rendah lebih banyak didapatkan pada kelompok wildtype dibanding dengan kelompok polimorfik (90,1% vs 50%). Kesimpulan: Polimorfisme gen IL-10 -1082 A/G ditemukan pada 15,4% pasien PJR. Pada kelompok polimorfisme ekspresi IL-10 lebih tinggi dibanding kelompok wild type. Kata Kunci: Interleukin-10, penyakit jantung rematik, polimorfisme regio promotor -1082, high resolution melting.

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
Hal. Awal Sebelumnya 291 292 293 294 295 Berikutnya Hal. Akhir
INTEGRATED LIBRARY
Universitas Diponegoro
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?