Latar Belakang: Kanker payudara adalah tumor ganas yang dimulai pada sel di payudara. Tumor ganas adalah sekelompok sel-sel kanker yang dapat berkembang ke jaringaan di sekitarnya atau menyebar (metastasis) menuju area yang jauh di badan. Metastasis jauh akan dapat terjadi dapat terjadi atau tanpa adanya kekambuhan lokal dipayudara. Onset waktu terjadinya metastasis seperti usia dan status menopause, keterlibatan kelenjarr getah bening, status hormonall, status derajat histopatologi, dan juga penyakit penyerta yang diderita. Tujuan: Menganalisis berbagaiifaktor yang berpengaruh terhadap kejadian metastasis pada pasian kanker payudara stadium lanjut di RS Ibnu Sina Kota Makassar. Metode: Penelitian observasional analitik menggunakan desain observasional dengan jumlah sampel 120 responden. Variabel bebas adalah usia melahirkan anak pertama, status menopause, stadium TNM, grade histopatologi, diabetes mellitus tipe 2, anemia dan hipertensi. Variabel terikat adalah kejadian metastasis. Hasil: Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian Metastasis adalah stadium TNM (T) (P = 0,007 RP = 5,049 95%CI 1,572-16,217), stadium TNM (N) (P = 0,018 RP= 3,726 CI 95% 1,254-11,073), grade histopatologi (P = 0,000 RP = 8,713 95%CI 2,877-26,387), diabetes mellitus tipe 2 (P = 0,000 RP = 8,713 95%CI 2,877-26,387), dan anemia ( P = 0,016 RP 4,584 95%CI 1,321-15,899). Faktor risiko yang tidak berpengaruh adalah usia melahirkan anak pertama, status menopause, dan hipertensi. Kesimpulan: Stadium TNM, grade histopatologi, diabetes mellitus tipe 2, dan anemia merupakannfaktor yang berpengaruh terhadap kejadian metastasis. Kata kunci : kanker payudara, metastasis, stadium lanjut.
Latar Belakang : Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan. Kabupaten Brebes memiliki kasus kematian ibu cukup tinggi, 70% diantaranya meninggal pada masa nifas, sehingga diperlukan studi untuk mengetahui faktor risiko yang mempengaruhi kematian ibu pada masa nifas di Kabupaten Brebes. Tujuan : Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor risiko host dan environment yang berpengaruh terhadap kematian ibu pada masa nifas. Metode : Penelitian observasional analitik menggunakan desain case control dengan jumlah sampel 68 terdiri dari 34 kasus dan 34 kontrol. Variabel bebas yaitu faktor host (umur, tingkat pendidikan, status gizi, pendidikan kesehatan, riwayat kesehatan, personal hygiene, paritas, cara persalinan dan komplikasi nifas) dan faktor environment (tempat persalinan, penolong persalinan, keterlambatan pengambilan keputusan keluarga). Variabel terikat adalah kematian ibu nifas. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan chi square test, multivariat dengan metode regresi logistik. Hasil : Faktor risiko yang berpengaruh yakni riwayat kesehatan ibu (p=0,048; OR=0,298; 95% CI=0,090-0,987), personal hygiene (p=0,019; OR= 0,126; 95% CI=0,022-0,710), cara persalinan (p=0,005, OR=0,037; 95% CI=0,004-0,365), komplikasi nifas (p=0,001; OR=0,006; 95% CI=0,000-0,115) dan keterlambatan pengambilan keputusan keluarga (p=0,014; OR=0,087; 95% CI=0,012-0,609). Faktor risiko yang tidak berpengaruh adalah umur, tingkat pendidikan, status gizi, pendidikan kesehatan, paritas, tempat persalinan, dan penolong persalinan. Kesimpulan : Faktor yang berpengaruh terhadap kematian ibu pada masa nifas adalah riwayat kesehatan, personal hygiene, cara persalinan, komplikasi nifas dan keterlambatan pengambilan keputusan keluarga. Kata kunci : Kematian ibu nifas, faktor host, faktor environment
Latar Belakang : Cakupan imunisasi dasar lengkap di Puskesmas Miroto Kota Semarang dalam lima tahun terakhir belum mencapai target yang ditentukan pemerintah Indonesia. Puskesmas sebagai pelaksanaoperasional imunisasi harus didukung dengan penerapan fungsi manajemen kesehatan yang baik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh dari faktor pemudah(predisposing factors)yang mempengaruhi ibu dalam melaksanakan pemberian imunisasi dasar pada anakdalam kaitannya dengan capaian UCI di Puskesmas Miroto, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang dikarenakan capaian UCI di wilayah UPTD Puskesmas Miroto hanya 62% sehingga tindak mencapai target yang ditetapkan yaitu sebesar 95%. Metode : Penelitian ini merupakan penelitianobservasional analitik denganrancangan penelitian cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita minimal berumur 1 tahunyang bertempat tinggal di Puskesmas Miroto pada tahun 2020. Sampel penelitian sebanyak 50 orang ibu dengan teknik simplerandom sampling. Pengolahan dan analisis data dengan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Chi Square. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwatingkat pendidikan ibu, pengetahuan ibu tentang kelengkapan imunisasi dasar pada bayi, status pekerjaan ibu, jumlah anak, dukungan keluarga, berpengaruh terhadap kelengkapan imunisasi. Sedangkan pendapatan keluarga tidak berpengaruh terhadap kelengkapan imunisasi. Simpulan :Variabel yang mempengaruhi ibu dalam melaksanakan imunisasi lengkap adalah tingkat pendidikan ibu, tingkat pengetahuan ibu, status pekerjaan ibu, jumlah anak, dukungan keluarga, dan yang tidak mempengaruhi adalah pendapatan keluarga. Kata kunci : ibu balita, pendidikan, pengetahuan, status pekerjaan, pendapatan, jumlah anak, dukungan keluarga, kelengkapan imunisasi.
Latar Belakang: Hipertensi primer termasuk penyakit kronis dengan prevalensi kasus global mencapai 1,3 miliar. Saat ini masih merupakan penyebab utama kematian dan memiliki potensi komplikasi yang sangat beragam serta membutuhkan biaya pengobatan yang sangat tinggi. Penanganan penyakit dititik beratkan pada tatalaksana farmakologi ditunjang perubahan lifestyle sebagai penatalaksanaan non farmakologi. Meskipun demikian dalam pelaksanaanya di masyarakat, perubahan lifestyle yang dapat menunjang peningkatan kualitas hidup pasien dengan penurunan tekanan darah dan peningkatan nitrit oksida belum mencapai hasil optimal karena membutuhkan waktu lama untuk dapat diadaptasi. Bekam basah merupakan salah satu komplementer hipertensi tetapi minim analisis klinis, alasan tersebut yang mendorong dilakukannya penelitian efek bekam basah terhadap kadar nitrit oksida, tekanan darah dan perubahan kualitas hidup penderita pada hipertensi primer yang mendapatkan terapi amlodipine 5 mg. Metode: Metode penelitian ini adalah quasi eksperimen, sampel terdiri dari penderita hipertensi primer grade I yang mengkonsumsi obat amlodipine 5 mg secara rutin, berusia 35-64 tahun dan tidak menderita penyakit kronis lain. Variabel yang diteliti yaitu tekanan darah diukur menggunakan spygomanometer, nitrit oksida diperiksa dengan reaksi griess serta pembacaan menggunakan spektofometri, skor kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner SF36. Analisis crosstab karateristik responden disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan uji t test, Wilcoxon dan Mann Whitney Hasil: Penurunan tekanan darah sistolik kelompok intervensi lebih besar dibandingkan kelompok kontrol yaitu 17,69 (SD ± 14,79), dan 5,87 (SD ± 12,94) dengan p value 0,010. Penurunan tekanan darah diastolik pada kelompok intervensi lebih besar dibandingkan kelompok kontrol yaitu 11,56 (SD ± 7,42), dan 0,73 (SD ± 8,79) dengan p value 0,001. Terjadi peningkatan kadar nitrit oksida serum yang pada kelompok intervensi sebesar 2,5 (SD ± 15.57), dan penurunan kadar nitrit oksida serum kelompok kontrol sebesar 0,48 (SD±17,38), dengan p value 0,539. Terjadi peningkatan skor kualitas hidup pada kelompok intervensi sebesar 14,40 (SD ± 19,16) dan penurunan skor kualitas hidup kelompok kontrol sebesar 0,465(SD ± 0,98) signifikansi selisih kedua kelompok adalah 0,007. Kesimpulan: Bekam basah efektif menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik, juga berpengaruh terhadap peningkatan skor kualitas hidup penderita hipertensi primer tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kadar nitrit oksida pasien. Kata kunci: Hipertensi Primer, Bekam Basah, Kualitas Hidup Pasien Bekam
Latar Belakang : Capaian kasus TB paru merupakan angka penemuan kasus yang merupakan prosentase jumlah pasien baru BTA (Bakteri Tahan Asam) positif yang ditemukan dan diobati dibandingkan dengan jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam suatu wilayah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan capaian kasus program TB paru oleh koordinator P2TB di wilayah kerja Puskesmas se-Kabupaten Kendal. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain penelitian cross sectional. Populasi penelitian ini adalah koordinator Program Pengendalian TB (P2TB) sebanyak 30 orang sehingga sampel yang digunakan adalah seluruh populasi atau populasi penelitian. Pengolahan dan analisis data menggunakan metode kuantitatif dengan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan pengetahuan dan motivasi terhadap capaian kasus TB. Di sisi lain pelatihan, tingkat pendidikan, masa kerja, penjaringan suspek TB, dan sikap tidak berhubungan capaian kasus TB. Kesimpulan : Variabel penelitian yang berhubungan dengan capaian kasus TB di wilayah kerja Puskesmas se Kabupaten Kendal adalah pengetahuan dan motivasi. Sedangkan yang tidak berhubungan adalah pelatihan, tingkat pendidikan, masa kerja, penjarungan suspek TB, dan sikap. Kata kunci : pengetahuan, pelatihan, tingkat pendidikan, masa kerja, penjaringan suspek TB, motivasi, sikap, capaian kasus TB
Latar Belakang : Malaria adalah penyakit akibat infeksi protozoa dari genus Plasmodium dengan spesies falciparum, ovale, malariae, dan vivax yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Penelitian tentang faktor yang berpengaruh terhadap keterlibatan masyarakat dalam pencegahan malaria. Tujuan : Membuktikan beberapa faktor yang berpengaruh terhadap keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan kejadian malaria Metode : Penelitian observasional analitik menggunakan desain Cross Sectional dengan jumlah sampel 96 sampel yang diambil secara simple random sampling . Variabel bebas adalah pengetahuan, sikap, sumber informasi, dan peran tokoh masyarakat.. Variabel terikat adalah keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan malaria. Analisa data menggunakan uji chi square. Hasil : Faktor risiko yang berpengaruh terhadap keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan malaria yaitu sumber informasi (OR = 1,423; 95% CI = 0,077– 26.283;). Faktor risiko yang tidak terbukti berpengaruh terhadap keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan malaria yaitu: Pengetahuan dan peran serta tokoh masyarakat. Kesimpulan : faktor risiko yang terbukti berpengaruh terhadap keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan malaria yaitu sumber informasi Kata Kunci : Malaria, Keterlibatan Masyarakat, Pengetahuan, Peran Tokoh Masyarakat