Nanomaterial adalah material yang berukuran antara 1-100 nanometer. Material yang berskala nanometer memiliki sifat fisis yang berbeda dibandingkan material yang berskala lebih besar. Bidang pertanian merupakan salah satu yang mengaplikasikan nanomaterial melalui penggunaan FMWCNTs atau Functionalized Multi-walled Carbon Nanotubes untuk doping terhadap pupuk urea sebagai carrier agar meningkatkan penyerapan nitrogen oleh sel tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan sintesis material urea/ FMWCNTs menggunakan metode Plackat Burman Design, serta mengidentifikasi pengaruh perbedaan perbandingan konsentrasi urea/FMWCNTs terhadap struktur, morfologi, dan komposisi hasil sintesis. Variasi urea/FMWCNTs yang diteliti adalah 97:7, 95:5 dan 93:7. Karakterisasi dilakukan menggunakan XRD, FTIR dan SEM-EDX. Hasil karakterisasi dengan XRD, ketiga sampel memiliki bidang orientasi kristal yang sama dengan urea. Karakterisasi material dengan menggunakan FTIR memberikan hasil gugus fungsi material urea/FMWCNTs lebih mirip dengan gugus fungsi pada urea dengan terjadinya penurunan intensitas dan pergeseran beberapa puncak urea/FMWCNTs sedikit berbeda dengan gugus fungsi urea murni karena akibat pendopingan FMCNTs. Karakterisasi dengan SEM didapatkan hasil citra morfologi material di mana FMWCNTs terhubung dengan granular-granular urea dengan hasil terbaik diperoleh dari komposisi 95:5. Hasil EDX mendukung karakterisasi SEM yakni sintesis urea/FMWCNTs dengan komposisi 95:5 paling baik dibandingkan komposisi lainnya. Percobaan pada pertumbunhan benih sawi menunjukan pada komposisi urea/FMWCNTs 95:5 paling baik dibandingkan dengan komposisi lainnya. Kata kunci: Urea, FMWCNTs, sintesis, karakterisasi
tangan ini dibangun menggunakan Support Vector Machine (SVM) yang terbagi menjadi
Diagnostic Reference Level (DRL) merupakan suatu tindakan optimisasi dosis pasien salah satunya pada modalitas radiografi umum pemeriksaan lumbal Spine AnteriorPosterior (AP) dan Lateral (LAT). Penelitian ini bertujuan untuk mengolah hasil survei dosis pasien yang terhimpun dalam Si-INTAN pada tahun 2019 dan menentukan nilai DRL provinsi dan nasional yang bermanfaat sebagai referensi nilai DRL provinsi dan nasional pada pemeriksaan radiografi umum Lumbal Spine AP dan LAT. Menggunakan data sekunder Si-INTAN yang diawali dengan pengelompokan dan eliminasi nilai ESAK, penentuan acuan massa tubuh nasional, perhitungan nilai kuartil kedua (Q2) untuk DRL lokal dan kuartil ketiga (Q3) untuk DRL provinsi dan nasional serta melakukan perbandingan nilai DRL nasional yang diperoleh dengan DRL referensi pada penelitian sebelumnya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan nilai DRL beberapa provinsi di Indonesia pada pemeriksaan lumbal spine (AP dan LAT) radiografi umum, yaitu Banten 4,31 mGy dan 7,88 mGy, DKI Jakarta 6,13 mGy dan 5,40 mGy, Jambi 1,88 mGy, Jawa Barat 2,54 mGy dan 4,18 mGy, Jawa Tengah 3,25 mGy dan 5,81 mGy, Kepulauan Riau 4,19 mGy dan 6,78 mGy, Riau 4,31 mGy dan 5,90 mGy, Sulawesi Tengah 2,15 mGy dan 9,57 mGy, Sumatra Utara 1,04 mGy dan 2,90 mGy serta nasional 4,31 mGy dan 7,05 mGy. Hasil penelitian ini menunjukkan pengaruh praktek dari sumber daya manusia dan teknologi yang berbeda seperti penggunaan peralatan dan penggunaan parameter radiologi mempengaruhi nilai DRL. Meskipun DRL mendekati dengan level organisasi internasional, namun tetap diperlukan pembaharuan secara berkala guna mengimbangi praktis medis dan perkembangan teknologi pencitraan. Kata kunci: Diagnostic Reference Level (DRL), radiografi umum, lumbal spine AP dan LAT
Material Stainless steel 316L telah banyak digunakan sebagai implan ortopedi untuk menggantikan jaringan atau organ tubuh manusia, namun material tersebut mempunyai nilai kekerasan dan ketahanan aus yang kurang baik untuk golongan material medis. Sebuah lapisan tipis titanium dioksida yang mempunyai biokompabilitas tinggi dapat meningkatkan nilai kekerasan dan ketahanan aus stainless steel 316L. Deposisi lapisan titanium dioksida dilakukan menggunakan metode DC-Sputtering dengan variasi lama waktu deposisi 30, 60, 90, 120 dan 150 menit. Penelitian ini bertujuan untuk menumbuhkan lapisan TiO2 pada permukaan stainless steel 316L dengan variasi waktu tertentu untuk mengetahui karakterisasi mikrostruktur, kekerasan, dan sifat lapisan terhadap sudut kontak air. Struktur kristal titanium dioksida diidentifikasi menggunakan X-Ray Diffraction (XRD) yang berkaitan dengan bidang (133), (133), (220), (133) dan (133) yang diketahui mempunyai struktur TiO2-monoklinik, sementara ukuran kristalit secara berturut-turut adalah sebesar ~14,34318 nm, ~17,09422 nm, ~18,94568 nm, ~14,04389 nm, dan ~7,90887 nm. Sementara Nilai kekerasan diperoleh dari Uji Vickers Hardness, dari hasil penguji tersebut, lapisan TiO2 dapat meningkatkan nilai kekerasan dari kekerasan substrat Stainless steel 316L, dengan nilai kekerasan maksimum 170,105 VHN di lama waktu deposisi 90 menit. Dan hasil dari uji sudut kontak dapat diketahui bahwa lapisan TiO2 bersifat hidrofilik. Kata kunci : Titanium dioksida, DC-Sputtering, Stainless steel 316L.
Panel surya merupakan sebuah perangkat yang terdiri dari kumpulan sel surya yang berfungsi untuk mengkonversi energi surya menjadi energi listrik, panel surya juga menjadi sumber energi alternatif pengganti listrik konvensional yang ramah lingkungan, tidak menghasilkan polusi, dan energinya selalu tersedia di alam. Panel surya akan menghasilkan energi listrik maksimum ketika berada pada suhu normal, ketika suhu panel surya terlalu tinggi maka energi yang dihasilkan tidak maksimal. Untuk itu diperlukan adanya inovasi dalam pembuatan panel surya, bisa berupa perubahan bentuk panel surya atau memberi sudut kemiringan dalam pemasangan panel surya. Pada penelitian ini bertujuan untuk membuat panel surya berbentuk silinder dengan harapan dapat menurunkan suhu yang diterima panel surya sehingga panel surya akan bekerja secara maksimal dan lebih efisien, selain itu panel surya silinder memiliki beberapa kelebihan diantaranya lebih hemat tempat dan lebih tahan lama karena mengurangi paparan sinar matahari secara langsung. Metode yang digunakan yaitu dengan membandingkan hasil keluaran dari panel surya datar dengan panel surya silinder menggunakan empat parameter, meliputi suhu, intensitas cahaya, arus listrik, dan tegangan yang dihasilkan. Dari hasil pengujian yang dilakukan, panel surya silinder memiliki nilai error rata-rata cukup kecil dibandingkan panel surya datar, dengan nilai error rata-rata suhu sebesar 2,24 %, nilai error rata-rata intensitas cahaya sebesar 16,80 %, nilai error rata-rata tegangan sebesar 3,31 % dan nilai error rata-rata arus sebesar 3,60 %. Kata kunci : Panel surya, suhu, intensitas cahaya, arus, tegangan.
Daun pandan laut (Pandanus Tectorius) berpotensi menjadi tumbuhan obat karena diketahui mengandung senyawa fenolik seperti etil kafeat, etil sinamat dan larisiresinol yang memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker. Optimasi proses ekstraksi daun pandan laut seperti perbandingan rasio sampel:pelarut dan waktu ekstraksi perlu dilakukan untuk mengetahui nilai optimum dari rendemen ekstrak dan kadar total senyawa fenolik yang dihasilkan. Proses ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dan optimasi dirancang dengan program Design Expert 11.1.2.0 menggunakan Response Surface Methodology (RSM) Central Composite Design (CCD) dengan dua faktor perlakuan berupa rasio sampel:pelarut (X1, g/mL) dan waktu ekstraksi (X2, jam) sebagai variabel bebas. Rendemen ekstrak (%) dan kadar total senyawa fenolik (mgGAE/g) sebagai variabel respon. Data yang didapatkan dari RSM kemudian dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA). Pengujian aktivitas sitotoksik dilakukan terhadap sel kanker hati (HepG2) dengan menggunakan metode uji MTT. Hasil optimasi proses ekstraksi diperoleh pada perbandingan rasio sampel:pelarut 1:5,838 (b/v) selama 24 jam. Verifikasi terhadap hasil optimasi menghasilkan rendemen ekstrak sebesar 3,48% dengan tingkat kesesuaian 99,12% dan kadar total senyawa fenolik sebesar 6,67 mgGAE/g dengan tingkat kesesuaian 97,03%. Data hasil verifikasi menunjukkan nilai kesesuaian dengan prediksi model diatas 95%. Berdasarkan uji aktivitas sitotoksik, ekstrak etanol daun pandan laut dengan kadar total senyawa fenolik 9,88 dan 8,81 mgGAE/g berturut-turut memiliki nilai IC50 26,12 dan 26,22 µg/mL dan dikategorikan memiliki aktivitas sitotoksik sedang terhadap sel HepG2. Sedangkan ekstrak etanol daun pandan laut dengan kadar total senyawa fenolik 7,13; 5,11 dan 3,46 mgGAE/g berturut-turut memiliki nilai IC50 36,84; 58,48 dan 44,70 µg/mL dan dikategorikan memiliki aktivitas sitotoksik ringan terhadap sel HepG2. Penapisan fitokimia simplisia dan analisis kandungan kimia ekstrak dengan kromatografi lapis tipis (KLT) menunjukkan bahwa daun pandan laut mengandung metabolit sekunder golongan senyawa fenolik, tanin, terpenoid, flavonoid, saponin dan kuinon. Kata Kunci: Optimasi ekstraksi daun pandan laut, senyawa fenolik, Response Surface Methodology (RSM), aktivitas sitotoksik, sel HepG2
Pada computed tomography (CT), citra dari banyak slice terkadang ditampilkan secara tidak urut. Selain hal tersebut, beberapa seri pemindaian terkadang dilakukan dalam satu studi dan gambar disimpan secara tidak teratur dalam satu folder. Hal ini menyebabkan permasalahan ketika digunakan untuk melakukan diagnosis jaringan abnormal dalam tubuh atau untuk memperkirakan dosis organ. Oleh karena itu, perlu dilakukan sorting citra, terutama ketika citra diperoleh dari pemindaian multiple series. Selain hal tersebut, penting juga untuk mendeteksi jumlah seri pemindaian untuk pemindaian multiple series untuk mendapatkan estimasi dosis yang akurat. Penelitian ini mengembangkan algoritma sorting citra menggunakan parameter slice location dan acquisition time dari data DICOM, serta algoritma untuk menghitung estimasi dosis dari beberapa seri pemindaian pada CT. Penelitian ini menggunakan citra CT dari pemindaian multiple series dalam format DICOM, nilai CTDIvol diperoleh secara otomatis dari tag DICOM. Berdasarkan hasil sorting citra, diketahui sorting berdasarkan slice location dan acquisition time-to-slice location menghasilkan citra dengan urutan selang-seling antara slice dari seri satu dengan slice dari seri lainnya. Sedangkan sorting berdasarkan acquisition time dan slice location-to-acquisition time menghasilkan urutan slice citra perkelompok seri. Berdasarkan analisis parameter sorting pada penelitian ini disimpulkan bahwa penggabungan dua parameter sorting seperti acquisition time to slice location dan slice location to acquisition time memiliki hasil yang lebih tepat. Kata Kunci : sorting citra multiple series, CTDIvol multiple series, lokasi slice, waktu akuisisi
pelatihan, file citra dikategorikan ke dalam tiga kelas yaitu kelas miring kanan, miring kiri,
dan tegak, sedangkan pada tahap pengujian, file citra mengalami proses klasifikasi yang
melibatkan SVM sehingga didapatkan identifikasi kepribadian pengguna. Tahap pengujian