Sensor suhu adalah sensor yang digunakan untuk mendeteksi gejala perubahan panas pada suatu dimensi ruang tertentu. Salah satu jenis sensor suhu yaitu termistor, yang dalam penelitian ini digunakan termistor jenis Negative Temperature Coefficient (NTC). Termistor NTC akan menunjukkan nilai hambatan yang berkurang seiring meningkatmya suhu. Sensor suhu NTC pada penelitian ini digunakan bahan semikonduktor Ag2S yang diperoleh dari sintesis limbah artificial perak klorida hasil titrasi argentometri direaksikan dengan tiourea dalam medium basa NaOH. Semikondukor Ag2S dipilih karena sifat stabilitas kimia yang baik dengan nilai celah pita langsung berkisar 0,9-1,05 eV yang sesuai dengan penggunaaan sebagai termistor. Sintesis ini dilakukan dengan metode pengendapan dalam waterbath dengan memvariasikan massa NaOH. Sintesis Ag2S dilakukan dengan variasi massa NaOH (m1 dan m2) tanpa annealing dan dengan annealing. Sampel hasil sintesis dikarakterisasi menggunakan XRD, DRS UV-Vis, TGA-DTA. Analisis XRD menunjukkan ukuran bulir kristal rata-rata pada Ag2S tanpa annealing (m1 dan m2) sebesar 36,93; 35,17 nm dan analisis DRS UV-Vis menunjukkan nilai band gap sebesar 1,04; 0,99 eV. Analisis TGA-DTA menunjukkan adanya perubahan Ag2S menjadi Ag sampai suhu 852⁰C. Kemudian data hambatan menunjukkan pelet Ag2S termasuk sebagai sensor NTC dengan nilai konstanta termistor sebesar 2488; 5413 K dan nilai persen sensitivitas berturut-turut sebesar 2,80; 6,11 %. Hasil analisis XRD variasi massa NaOH diperkuat dengan data annealing (m1 dan m2), menunjukkan ukuran bulir kristal ratarata sebesar 34,73; 35,42 nm dan hasil analisis DRS UV-Vis menunjukkan nilai band gap sebesar 1,01; 0,95 eV. Nilai konstanta termistor untuk Ag2S annealing (m1 dan m2) sebesar 2198; 4470 K dan nilai persen sensitivitas berturut-turut sebesar 2,47; 5,03%. Kata Kunci : Sensor suhu, NTC, Ag2S.
Hiptolida memiliki kerangka α,β lakton tak jenuh dengan rumus molekul C18H24O8. Senyawa α,β lakton tak jenuh sendiri memiliki aktivitas biologis seperti antikanker dan antitumor. Namun, senyawa yang tergolong dalam senyawa lakton atau cincin lakton mudah terhidrolisis, ketidakstabilan, dan ketidaklarutan di air membuat pelepasan di dalam tubuh berlangsung cepat, sehingga perlu dilakukan enkapsulasi untuk mengontrol pelepasan di dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh produk enkapsulasi hiptolida dengan tiga penyalut (kalsium-alginat, kitosan-tripolifosfat, dan kalsium-alginat/kitosan). Produk hasil enkapsulasi memberikan bentuk beads yang beragam. hip-alg berbentuk bulat, padat, kaku, dan memiliki warna hitam kecoklatan, hip-kit berupa padatan, bulat, dan memiliki warna kuning kecoklatan dan hip-alg/cts berupa padatan yang berbentuk bulat, padat, kaku, dan memiliki warna krem kecoklatan. Nilai efisiensi enkapsulasi dari produk enkapsulasi hip-alg/cts, hipalg, dan hip-cts berturut-turut sebesar 88,12%, 53,1% dan 43,7%, sedangkan nilai loading capacity 2,07%, 0,73% dan 0,23%. Nilai efisiensi enkapsulasi dan loading capacity terbesar ditunjukan oleh produk hip-alg/cts. Profil pelepasan hiptolida alginat-kitosan jauh lebih unggul dari hiptolida alginat dan hiptolida kitosan. Hal ini, produk hiptolida alginat-kitosan bisa jadi cara baik untuk mengontrol pelepasan hiptolida. Karakterisasi FTIR menunjukan adanya interaksi antara hiptolida dengan penyalut alginat, kitosan, alginat-kitosan yang ditunjukan dengan pergeseran serapan. Karakterisasi SEM menunjukan hiptolida alginat-kitosan memiliki morfologi yang lebih berkerut dan bergumpal dibandingan produk alginat dan kitosan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa produk enkapsulasi yang tepat adalah produk dengan penyalut alginat-kitosan. Kata kunci : Enkapsulasi, Hiptolida, Alginat, Kitosan, Ekstruksi
karotenoid dan vitamin A wortel. Wortel yang digunakan adalah wortel varietas
lokal di Desa Sidomukti Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang dan
penelitian dilaksanakan di laboratorium BSF Tumbuhan Jurusan Biologi FSM
Undip. Rancangan penelitian menggunakan RAL pola faktorial dengan dua faktor
yaitu jenis penutup (P) dan lama paparan (T). Analisis data menggunakan
ANOVA dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Parameter
penelitian meliputi bobot basah, performa, kandungan karotenoid dan vitamin A
wortel. Hasil ANOVA menunjukkan jenis penutup dan lama paparan sinar