dihasilkan Fuzzy Autoregressive lebih sempit dibandingkan dengan interval
ARIMA dengan tingkat signifikansi 95%.
Kata Kunci: Pasar Modal, Fuzzy Autoregressive, Peramalan Interval, Jakarta
Semikonduktor Ag2S dapat dibuat dengan memanfaatkan limbah AgCl hasil titrasi argentometri dan tiourea dalam medium basa. Salah satu parameter yang mempengaruhi sifat dan kualitas semikonduktor Ag2S adalah annealing. Semikonduktor Ag2S merupakan semikonduktor dengan stabilitas kimia sehingga banyak diaplikan pada berbagai bidang salah satunya sensor suhu atau termistor. Salah satu jenis sensor suhu adalah termistor yang merupakan jenis sensor suhu yang dibuat dalam penelitian ini dengan mengacu pada karakteristik termistor Negative Temperature Coefficient (NTC). Sensor suhu NTC memiliki karakteristik dimana nilai hambatan berbanding terbalik dengan temperatur. Sintesis Semikonduktor Ag2S dilakukan dengan memvariasikan suhu annealing. Tujuan dalam penelitian ini untuk membuat pelet sensor suhu Ag2S dari hasil sintesis limbah AgCl hasil titrasi argentometri dengan variasi suhu annealing dan diukur hambatan sensor suhu untuk melihat karakteristik listrik Ag2S sebagai sensor suhu NTC. Sintesis Ag2S dilakukan dengan variasi suhu annealing 100,200,dan 300°C selama 30 menit. Sampel hasil sintesis dikarakterisasi menggunakan XRD,DRS UV-Vis, dan TGA-DTA. Hasil karakterisasi difraksi sinar-X menunjukkan bahwa sampel hasil sintesis mengandung Ag2S dengan ukuran bulir rata-rata kristal tanpa annealing dan suhu annealing 100, 200, dan 300℃ masing- masing sebesar 35,43; 35,46; 34,74; dan 36,12 nm. Hasil karakterisasi DRS UV-Vis Ag2S tanpa annealing dan dengan suhu annealing 100, 200, dan 300℃ masing-masing sebesar yaitu 1,13; 1,11; 1,00 dan 0,93 eV. Hasil analisa TGA-DTA menunjukkan bahwa Ag2S hasil sintesis mengalami transformasi menjadi Ag dan S2 pada suhu .851°C dengan entalpi 0,37 J/g. Hasil pengukuran hambatan dalam minyak menunjukkan karakteristik termistor NTC. dan hasil optimum karakteristik listriknya menunjukkan pada pelet sensor suhu Ag2S suhu annealing 300°C dengan konstanta termistor sebesar 5707 K dan sensitivitas sebesar -6,43 %. Kata Kunci: Perak Sulfida, semikonduktor, dan termistor
Biodisel merupakan bahan bakar alternatif yang hingga tahun 2021 masih diberlakukannya perkembangan melalui proses transesterifikasi antara minyak nabati atau lemak hewani dengan alkohol menggunakan bantuan katalis. Dalam pembuatan biodisel, katalis heterogen dapat dilakukan untuk pengoptimalan pembuatan biodisel. Kitosan merupakan biopolimer yang mudah dibuat sebagai film tipis dan memiliki gugus reaktif yang mudah dimodifikasi, serta keberfungsian kitosan dapat dijadikan katalis heterogen yang mudah diseparasi, tidak mempengaruhi produk biodisel, dan ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini untuk membuat film tipis kitosan tertaut silang asam suksinat sebagai katalis heterogen (heterogeneous catalyst) dengan menggunakan metode inversi fasa presipitasi. Pembuatan senyawa kitosan tertaut silang dilakukan melalui pelarutan serbuk kitosan dengan 1% asam asetat (CH3COOH; t: 24 jam; T: 55oC) kemudian penambahan variasi mol asam suksinat (1:0; 1:0,5; 1:1; 1:2) serta pengeringan dan perendaman NaOH (immerse) untuk mendapatkan film tipis kitosan tertaut silang asam suskinat (CS-SA). Keberhasilan karakter film tipis diuji dengan berbagai parameter fisikokimia seperti; uji water uptake, uji porositas, uji swelling, uji hidrofilisitas, uji biodegrdable, uji chemical resistant, uji gugus fungsi dengan FTIR, morfologi dan crossection dengan SEM. Pengujian aplikasi katalis dengan sintesis biodisel. Hasil uji parameter fisiko kimia menunjukan bahwa senyawa film tipis kitosan tertaut silang asam suksinat dengan variasi 1:2 memiliki hasil yang terbaik. Berdasarkan analisa FTIR terlihat spektra gugus karboksil (-C=O) dan hidroksil (-OH) pada bilangan 1739 cm-1 dan 3366 cm-1 , menunjukan reaksi taut silang berhasil dibuat. Pengapilkasian CS-SA sebagai katalis heterogen produksi biodisel menujukan konversi biodisel terbaik terjadi pada waktu 100 menit, suhu maksimal (Tmaks) 65oC, membran sampel terbaik CS-SA 2%, dan rasio molar minyak:MeOH pada 9:1. Didapatkan hasil konversi biodisel mencapai 99,56%. Kata Kunci: Kitosan, Asam Suksinat, Katalis, Biodisel
tTeknologi membran telah banyak diaplikasikan pada berbagai bidang, salah satunya adalah membran dialisis yang berguna dalam bidang medis. Membran dialisis merupakan membran semipermeabel yang memungkinkan penghapusan selektif metabolit berberat molekul rendah sampai sedang seperti urea dan kreatinin melalui proses difusi. Polisulfon (PSf) merupakan polimer sintesis yang menarik sebagai bahan baku pembuatan membran karena aktivitas antioksidan, selektivitas, inert terhadap bahan kimia, stabilitas termal tinggi, dan kekuatan mekanik yang baik. Namun PSf memiliki kelemahan: bersifat hidrofob dan kurangnya sisi aktif yang bertugas untuk mengikat senyawa target. Strategi modifikasi membran dilakukan untuk mengurangi kelemahan membran PSf, seperti penambahan zat aditif untuk meningkatkan porositas, serta modifikasi gugus fungsi untuk meningkatkan hidrofilisitas. Tujuan penelitian ini adalah memodifikasi PSf melalui proses sulfonasi dan penambahan kitosan:asam sitrat serta menentukan karakter fisikokimianya. Diharapkan dengan modifikasi ini dapat dihasilkan membran PSf dengan karakter fisikokimia yang baik dan permeabilitas tinggi, sehingga dapat dijadikan sebagai membran pada proses dialisis urea dan kreatinin. Penelitian diawali dengan pembuatan membran lembaran datar melalui metode inversi fasa presipitasi imersi. Lima tipe membran dibuat yaitu: PSf, SPSf, SPSf/CS-CA (5:1), SPSf/CS-CA (5:1,5) dan SPSf/CS-CA (5:2). Selanjutnya semua membran akan dikarakterisasi meliputi uji: gugus fungsi dengan FT-IR, SEM, berat dan ketebalan, porositas, hidrofilisitas, daya serapan air, daya pengembangan, ketahanan terhadap pH, dan kemampuan dialisis terhadap kreatinin serta uji keterulangan membran. Hasil karakterisasi gugus fungsi yang dihasilkan menunjukkan bahwa reaksi modifikasi telah berhasil dilakukan terhadap membran PSf dan menghasilkan membran SPSf, SPSf/CS-CA (5:1), SPSf/CS-CA (5:1,5), dan SPSf/CS-CA (5:2). Karakterisasi SEM menunjukkan bahwa modifikasi meningkatkan pori membran. Selain itu, modifikasi meningkatkan berat, ketebalan, porositas, hidrofilisitas, daya serap air, daya pengembangan, dan ketahanan terhadap pH. Permeabilitas membran PSf termodifikasi meningkat dibandingkan dengan membran PSf murni. Nilai pembersihan terhadap urea dan kreatinin berturut turut pada membran PSf sebesar 8,67 mg/dL dan 0,24 mg/dL. Membran modifikasi dengan nilai pembersihan tertinggi dengan media yang sama terjadi pada membran M3 (SPSf/CS-CA (5:2)) secara berturut turut adalah 16,17 mg/dL dan 0,4 mg/dL.
Pemanfaatan AgCl dari hasil limbah titrasi argentometri dapat dilakukan dengan mengkonversi AgCl menjadi semikonduktor perak sulfida (Ag2S). Variasi suhu annealing pada sintesis Ag2S mempengaruhi sifat dan kualitas dari semikonduktor Ag2S. Semikonduktor perak sulfida dapat diaplikasikan sebagai sensor suhu termistor NTC (Negative Temperature Coefficient). Termistor NTC menunjukkan penurunan resistansi dengan meningkatnya temperatur. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan sintesis Ag2S dari limbah titrasi argentometri dengan konsentrasi NaOH berlebih dan variasi suhu annealing sebagai sensor suhu termistor NTC. Ag2S disintesis dengan menggunakan pereaksi tiourea dalam medium basa NaOH. Perak sulfida hasil sintesis kemudian diberi annealing pada variasi suhu 100, 200 dan 300°C selama 30 menit. Ag2S kemudian dikarakterisasi menggunakan Thermo Gravimetrical Analysis (TGA), X-Ray Diffraction (XRD) dan UV-Vis Diffuse Reflectance Spectroscopy (UV-Vis DRS). Hasil analisa TGA menunjukkan bahwa Ag2S pada suhu 836°C telah terdekomposisi menjadi Ag dan S2. Dari hasil karakterisasi XRD memperlihatkan kehadiran Ag2S pada puncak-puncak 2 theta 22, 28, 31, 38, dan 41°. Ukuran kristal Ag2S semakin besar dengan naiknya suhu annealing yaitu masing-masing sebesar 37,04; 39,55 dan 41,68 nm. Hasil karakterisasi UV-Vis DRS menunjukkan bahwa nilai band gap Ag2S menurun dengan meningkatnya suhu annealing yaitu masing-masing sebesar 0,96; 0,94; dan 0,92 eV. Hasil pengukuran hambatan dalam oil bath menunjukkan semikondukor Ag2S pada suhu annealing 300°C merupakan termistor NTC dengan kualitas listik yang baik, memiliki sensitivitas 6,85% dan konstanta termistor 6087 K. Kata Kunci: Perak Sulfida, annealing, dan NTC