ugus hidrofil dan hidrofob yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan air dan dapat digunakan sebagai molekul pengarah pada sintesis material berpori. Bahan dasar pembuatan material berpori adalah silika. Silika banyak terdapat di dalam abu sekam padi, yang merupakan limbah pertanian yang sangat melimpah. Kandungan silika di dalam abu sekam padi berkisar antara 92-97%. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi surfaktan hasil sublasi terhadap karakteristik material hasil sintesis.
Surfaktan yang digunakan sebagai molekul pengarah adalah surfaktan kationik hasil dari proses sublasi sampel pelembut pakaian, yaitu dengan mengalirkan gelembung gas N2 ke dalam sampel sehingga surfaktan kationik akan terbawa oleh gelembung dan pecah di fase etil asetat. Surfakatan kationik yang didapatkan ditentukan CMC (konsentrasi misel kritis) dengan menggunakan turbidimeter, kemudian dibuat variasi konsentrasi surfaktan sebagai molekul pengarah yaitu di bawah CMC (M1), pada CMC (M2) dan di atas CMC (M3). Pada pembuatan material berpori, sebagai sumber silika adalah abu sekam padi yang dilarutkan ke dalam larutan NaOH 1,5 M untuk membentuk larutan natrium silikat dan ditambahkan molekul pengarah hasil sublasi sehingga terbentuk gel. Gel yang terbentuk dilanjutkan proses pemanasan untuk pembentukan inti kristal dan proses kalsinasi untuk mendekomposisi molekul pengarah. Keberadaan molekul pengarah dianalisis dengan FTIR, kristalinitas dari material hasil diketahui dengan difraksi sinar-X, dan ukuran pori serta luas permukaan pori ditentukan dengan metode adsorpsi gas nitrogen melalui persamaan BET.
Hasil analisis dari hasil sublasi didapatkan surfaktan kationik dengan CMC sebesar 2,1 g/L. Variasi konsentrasi sebagai molekul pengarah dibuat pada 1 g/L (M1); 2,1 g/L (M2); dan 10,5 g/L (M3). Dari FTIR material pori hasil sintesis menunjukan bahwa molekul pengarah telah berkurang dan dari XRD menunjukkan bahwa material hasil sintesis merupakan padatan kristal. Hasil BET menunjukkan luas permukaan, volume pori total dan radius pori dari masing-masing material hasil sintesis berturut-turut adalah 7,1820 m2/g; 4,209.10-3 cm3/g; 11,721 Å untuk M1; 9,8119 m2/g; 5,663.10-3 cm3/g; 11,54 Å untuk M2 dan 9,0599 m2/g; 5,072.10-3 cm3/g; 11,196 Å untuk M3. Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa konsentrasi surfaktan kationik pada CMC (M2) menghasilkan material berpori dengan luas permukaan dan volume pori total paling besar dibandingkan M1 dan M3. Komposisi mineral materil hasil sintesis berupa campuran dari Sodium Silicate Hydrate, Aluminum Hydrogen Silicate, dan Sodium Hydrogen Silicate Hydrate. Material hasil sintesis merupakan material mesopori dengan kisaran radius pori 11Å (diameter = 22Å).
Konsep termoelektrik telah berhasil di aplikasikan pada sistem pengontrol suhu air otomatis, dengan menggunakan komponen peltier sebagai sumber utama pengendali suhu nya dan LM35 sebagai sensor suhu nya, dengan dilengkapi penampil LCD sebagai penampil nilai suhu secara langsung. Sistem yang terdiri dari perangkat keras dan perangkat lunak ini dioperasikan oleh mikrokontroler ATmega16.
Sistem kontrol pengendali suhu otomatis menggunakan sensor suhu LM35 yang memiliki karakteristik hasil keluaran teganganya yang linier dengan suhu yang terukur, mengadopsi sistem kendali on-off dengan relay sebagai saklar penggeraknya, relay berfungsi untuk saklar sumber tegangan dan penyearah sumber tegangan.
Kata kunci: Suhu, termoelektrik, peltier, relay, mikrokontroler ATmega16,