dengan vitamin C konfigurasi 1, selulosa dengan vitamin C konfigurasi 2, dan
kitosa dengan vitamin C konfigurasi 2. Dari hasil eksperimen diketahui bahwa
vitamin C lebih banyak teradsorpsi oleh matrik selulosa/kitosan sebesar 864 ppm
dari total larutan 2500 ppm dan profil pelepasannnya dari matrik tersebut
menunjukkan adanya proses pelepasan secara lambat.
Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steenis) adalah tanaman obat potensial yang dapat mengatasi berbagai jenis penyakit dan berguna sebagai antibakteri, antioksidan dan antiseptik. Kemampuan daun binahong untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit berkaitan erat dengan senyawa aktif yang terkandung di dalamnya, salah satunya adalah steroid. Kemampuan steroid dari daun binahong perlu diaplikasikan, terutama dalam pembuatan obat. Penelitian ini dilakukan untuk mengisolasi, mengidentifikasi dan menguji sitotoksik senyawa steroid ekstrak n-heksana daun binahong.
Senyawa steroid diisolasi dengan metode maserasi menggunakan pelarut n-heksana. Hasil maserasi dipekatkan dan diuji fitokimia untuk mengetahui golongan senyawanya. Pemisahan ekstrak n-heksana dilakukan dengan metode kromatografi kolom. Fraksi-fraksi yang diperoleh dari kromatografi kolom dilakukan uji steroid. Pemisahan untuk memurnikan dilakukan dengan menggunakan KLT preparatif, selanjutnya uji kemurnian dilakukan dengan metode KLT berbagai pelarut dan KLT 2 dimensi. Isolat yang murni dianalisis menggunakan spektrofotometer FT-IR dan LC-MS. Selanjutnya dilakukan uji sitotoksik dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT).
Isolat yang diperoleh berupa kristal berwarna putih yang memiliki rendemen sebesar 4 % dari ekstrak n-heksana dengan titik leleh sebesar 154,9-155,3oC. Analisis isolat menggunakan spektofotometer FT-IR menunjukkan adanya gugus -OH, -C-O, C=C, -CH3 dan -CH2. Sedangkan kromatogram LC-MS menunjukkan bahwa isolat memiliki berat molekul 351 g/mol. Berat molekul diduga dimiliki oleh senyawa stigmasterol (steroid alkohol) yang telah mengalami pemutusan ikatan pada rantai cabang. Hasil uji sitotoksik dengan metode BSLT menunjukkan bahwa hanya fraksi A bersifat toksik dengan harga LC50 sebesar 9,931 ppm sedangkan ekstrak n-heksana, fraksi B, C, dan D tidak bersifat toksik dengan harga LC50 berturut-turut 463,877 ppm, 1664,039 ppm, 1341,507 ppm dan 172,213 ppm.
Tumbuhan ketapang (Terminalia catappa Lin.) merupakan salah satu tumbuhan yang termasuk dalam famili Combretaceae. Ketapang telah banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk penyakit kulit, liver, pernafasan dan insomnia. Penelitian terhadap jenis senyawa dari T. catappa telah banyak dilakukan seperti tanin, kuersetin, oktadekana, alkaloid, flavonoid, kaemferol dan triterpenoid siklik. Namun, jenis senyawa alkaloid pada T. catappa belum pernah dilaporkan. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dilakukan isolasi dan identifikasi jenis senyawa alkaloid serta uji sitotoksik ekstrak etil asetat daun T. catappa. Isolasi alkaloid diawali dengan maserasi menggunakan pelarut n-heksana dan etanol, diikuti dengan hidrolisis ekstrak etanol, kemudian dilakukan ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut etil asetat. Analisis awal untuk senyawa alkaloid pada fraksi etil asetat dilakukan dengan metode KLT dan pemisahan dengan KLT preparatif. Isolat dianalisis menggunakan UV-Vis, FTIR dan LC-MS. Terhadap isolat alkaloid total dilakukan uji sitotoksik dengan metode BSLT. Isolat alkaloid dari daun T.catappa berupa serbuk berwarna putih. Berdasarkan analisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis diketahui isolat A1.1 dan A2.1 mempunyai ?max sebesar 220nm. Hasil analisis menggunakan spektrofotometer FTIR diketahui masing-masing isolat memiliki bilangan gelombang 3441,01; 3425,58 cm-1 (vibrasi ulur O-H), 2924,09 dan 2854,65 cm-1 (vibrasi ulur C-H asimetri dan simetri), 1627,92 cm-1 (vibrasi ulur C=O), 1103,28 cm-1 (vibrasi ulur C-O yang simetri dengan vibrasi ulur C-N). Hasil LC-MS isolat A1.1 muncul 2 puncak, puncak pertama mempunyai berat molekul sebesar 338,33 g/mol [M+H]+ dan puncak kedua mempunyai berat molekul 735,70 g/mol [M+H]+. Hasil LC-MS isolat A2.1 muncul 3 puncak, puncak pertama mempunyai berat molekul sebesar 273,24 g/mol [M+H]+, puncak kedua 338,34 g/mol [M+H]+ dan puncak ketiga 735,72 g/mol [M+H]+. Diduga kedua isolat mengandung senyawa alkaloid tropan dengan gugus ?, ? asam tak jenuh dengan berat molekul sebesar 337,33 g/mol dan 337,34 g/mol. Hasil uji sitotoksik menunjukkan bahwa isolat alkaloid total mempunyai harga LC50 sebesar 132,590 ppm yang berarti bahwa isolat alkaloid total bersifat tidak toksik. .