Buku ini mengulas sejarah alam Gunungsewu berdasarkan hasil penelitian dari Pusat Penelitian Biologi (P2B-LIPI) yang telah 12 tahun melakukan kegiatan inventarisasi keanekaragaman hayati karst dan gua di Gunungsewu. Selain membahas aspek geologi, geomorfologi, hidrologi, dan speleologi, buku ini juga mengulas aspek hayati, baik yang ada di atas maupun di bawah permukaan. Kemudian tinjauan tentang kehidupan masyarakat, budaya, dan sejarah kehidupan masa lalu juga diuraikan dalam buku ini. Pembahasan mengenai aspek-aspek tersebut disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami, didukung gambar-gambar yang menarik, mulai dari keindahan bentang alam karst, kehidupan masyarakat, hingga flora dan fauna gua yang ada di Gunungsewu.
Tidak dapat dimungkiri bahwa Gugusan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, memiliki ekosistem tropis wilayah pesisir yang lengkap, mulai dari mangrove, padang lamun, hingga terumbu karang dengan keanekaragaman jenis flora dan fauna laut yang tinggi. Ketiga ekosistem ini dapat memberikan barang (goods) dan jasa lingkungan (ecosystem services) penting di sektor perikanan, pariwisata, dan pendidikan yang dapat mendukung kehidupan masyarakat, baik yang tinggal di Pulau Pari maupun yang berada jauh di luar pulau. Namun, dengan kekayaan ekosistem tersebut, Gugusan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, tak lepas dari tekanan dan ancaman lingkungan berat, baik dari luar (outer factor) maupun dari dalam (inner factor). Oleh karena itu, buku ini berupaya menggambarkan berbagai persoalan bio-ekologi dan sumber daya hayati serta kondisi perairan Gugusan Pulau Pari. Selain itu, buku ini juga mengupas persoalan aspek sosial budaya masyarakat Pulau Pari, khususnya yang berkaitan dengan pemanfaatan dan konservasi sumber daya hayati di Gususan Pulau Pari. Buku ini ditulis secara komprehensif dan terstruktur oleh para penulis yang kompeten di bidangnya masing-masing. Karena itu, buku ini sangat layak menjadi referensi, khususnya dalam upaya peningkatan dan pengelolaan sumber daya hayati yang berkelanjutan di Gugusan Pulau Pari, Kepulauan Seribu.
Ekologi vegetasi dapat diartikan sebagai kajian tentang vegetasi (komunitas tumbuhan). Di Eropa daratan kajian tentang vegetasi dikenal dengan berbagai istilah, yang pada dasamya adalah sosiologi tumbuhan (fitososiologi) dengan tujuan akhir mengklasifikasi vegetasi menjadi berbagai satuan. Di Inggris dan Amerika Serikat (Anglo-Amerika), kajian tentang vegetasi terfokus pada hubungan antara vegetasi dan faktor lingkungannya, dan dikenal dengan istilah sinekologi. Integrasi antara konsep dan metode penelitian Eropa daratan dan AngloAmerika itu menghasilkan kajian ekologi vegetasi yang disajikan dalam buku ini. Dalam kajian ekologi vegetasi, kedua metode itu dapat diterapkan secara terpadu dan saling melengkapi. Ekologi vegetasi mencakup kajian tentang variasi vegetasi sehubungan dengan sebaran geografi dan kajian tentang perkembangan perubahan dan stabilitas vegetasi dalam konteks waktu. Penelitian ekologi vegetasi dapat mencakup kawasan berskala besar, misalnya bumi, hingga berskala sangat kecil, misalnya petak vegetasi berukuran 1 m2 Dengan demikian, kajian ekologi menghasilkan data tentang klasifikasi vegetasi dan faktor-faktor lingkungan penyebabnya secara terpadu. Data vegetasi dihimpun tidak hanya bagi keperluan ilmiah semata, tetapi juga untuk berbagai tujuan praktis, seperti pemanfaatan dan konservasi keanekaragaman hayati dan sumber daya alam lain. Bagi para mahasiswa, pengajar dan pakar, buku ini dapat menjadi inspirasi dan landasan untuk penelitian vegetasi.
Buku ini berusaha menyajikan pembahasan gunung berdasarkan konteks ketuhanan, sejarah, budaya, bentang alam, hingga hubungannya dengan ekologi. Melalui buku ini, penulis mengajak pembaca untuk tidak hanya sekadar mendaki ketinggian pengetahuan gunung, melainkan juga menyelami kedalaman kebijaksanaan gunung. Teologi Gunung Pada bagian “teologi gunung”, dalam buku ini dipaparkan pembahasan tentang gunung yang disebutkan sebanyak 60 kali dalam alquran, penyebutan tersebut mewakili keberadaan manusia sebelum diturunkan ke muka bumi, mewakili keberadaan manusia ketika hidup di muka bumi, dan mewakili akhir keberadaan manusia di muka bumi (kiamat). Pada bagian ini dipaparkan pula bahwa Nabi Muhammad SAW juga merupakan “pendaki gunung”, ia mendaki dalam konteks tahannuts; mendaki untuk merenungkan setiap persoalan dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ilahiah, ia kemudian mendapatkan pencerahan di Gunung Hira (642 Mdpl [?]), dan setelah itu ia kemudian “turun gunung” untuk mengamalkannya apa yang ditemukannya, ke tengah masyarakat. Catatan Peziarah & Pendaki Bagian ini menceritakan sejarah “backpacker”, “traveling” dan kisah-kisah yang identik dengan petualangan, khususnya terkait gunung. Dalam kultur Timur, salah satu catatan budaya bertualang bisa ditemukan pada naskah “bujangga manik" di sekitar abad ke XV, sedangkan catatan eropa yang dijadikan pembahasan merujuk pada buku “bergenweelde” yang ditulis C.W Wormser awal abad ke XX (1890-1900). Gunung Para Petapa Jika Rosul pergi ke gunung untuk melakukan tahannuts, di Timur peristiwa tersebut disebut tapabrata, jika Nabi kemudian mengamalkan temuannya di gunung pada masyarakat, di Timur beberapa sosok berakhir dengan moksa, ngahiang, “abadi” di gunung-gunung. Maka, gunung pada bagian ini dikenal juga sebagi tempat yang identik dengan para petapa. Bagian ini membahas gunung Bandung yang dijadikan pertapaan Bujangga Manik sebelum akhirnya ngahiang di tempat lain. Gunung yang sakral sebagai tempat bertapa tersebut kondisinya hari ini begitu sangat memperihatinkan, bahkan kerusakannya telah menyentuh bagian puncak. 700 Gunung Bandung Gunung dalam bahasa Sunda merupakan konsep tentang “unggul - unggulan”, dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti “khusus”, merujuk pada sesuatu hal yang “spesial”, “menonjol” dalam arti memiliki keunggulan atau kelebihan. Dalam bahasa populer “unggul - unggulan” disebut “prominen” asal kata dari “prominence”, dan dalam bahasa Sunda setiap “prominen” diklasifikasikan pada dua hal, yakni; “gunung” dan “pasir”, secara umum (dan pragmatis) tidak dikenal istilah “bukit”. Merujuk pada konsep prominen, di bandung melalui telaah yang dilakukan komunitas JGB ditemukan kemungkinan jumlah 700 dengan kecenderungan merujuk pada konsep “gunung”. Mandala Rakutak Gunung Rakutak merupakan gunung yang belakangan berhenti dikunjungi karena statusnya cagar alam. Berhenti mendaki gunung adalah hal mudah bagi siapa pun yang menyatakan dirinya “pencinta kelestarian alam”. Sebab jika berhenti mendaki merupakan bagian dari proses melestarikan alam, sungguh “berhenti” merupakan tindakan yang paling sederhana dari kata “berbuat banyak”. Gunung Rakutak spesial karena secara histori banyak kisah melekat pada dirinya, sebut saja misalnya peristiwa “pagar betis”, di mana seorang kawan Soekarno pada akhirnya memilih “menyerah” dalam pertarungan ideologi di masa awal kelahiran Negara bernama “Indonesia” ini. Mitos Aul Bagian ini membahas keberadaan manusia berkepala serigala di gunung bandung yang “pernah” menjadi penjaga kelestarian alam. Ia menjaga sumber-sumber mata air, menjaga keutuhan hutan di gunung-gunung, serta mendisiplinkan masyarakat yang hidup di sekitarnya untuk tidak merusak alam. Sosok manusia berkepala serigala ini banyak ditemukan di hampir setiap bagian arah mata angin gunung di bandung raya, khususnya bagian selatan, timur dan barat. Gunung Artefak Nusantara Jauh sebelum disebut “nusantara”, kepulauan Indonesia lampau dikenal dengan nama “nusakendeng”. Nusantara merujuk pada konsep kepulauan yang identik dengan laut, sedangkan Nusakendeng merujuk pada konsep daratan yang identik dengan gunung. Catatan Nusakendeng relatif sulit ditemukan, kecuali kode-kode dari kidung pantun Sunda dan catatan Eropa seperti; Raffles dan Jonathan Rigg pada awal abad XIX, serta pengetahuan masyarakat Nusantara yang terrekam dalam cara memperlakukan gunung-gunung. Bagian ini membahas sisi gunung sebagai pencatat sebuah peradaban, sebab melalui kajian tentang gunung, khususnya gunung kendeng, kita bisa menemukan peradaban lampau yang sudah mengenal jarigan gunung-gunung yang barangkali hari ini identik dengan konsep “ring of fire”.