The Makioka Sisters (Sasameyuki) adalah novel tentang surutnya reputasi dan kemakmuran sebuah keluarga pengusaha di Jepang menjelang pecahnya Perang Dunia II. Secara konkret berkisah tentang empat perempuan bersaudara keluarga Makioka (Tsuruko, Sachiko, Yukiko, dan Taeko) serta masalah yang mereka hadapi di tengah kehidupan yang kian modern.Mendiang Tuan Makioka adalah usahawan Osaka yang berhasil, dikenal luas, penuh wibawa, namun meninggal dunia di tengah masa surutnya. Kini seluruh keluarga besar kesulitan untuk mempertahankan nama baik. Tsuruko dan Sachiko keduanya sudah berkeluarga, sementara Yukiko dan si bungsu Taeko belum menikah. Di antara mereka berempat ada sosok Teinosuke, istri Sachiko, yang dengan rasa tanggung jawabnya berusaha menjadi penengah sekaligus yang memecahkan segala masalah. Makioka adalah keluarga kelas menengah ke atas dari Osaka, Jepang. Pada masa kejayaan ayah mereka, mereka adalah salah satu keluarga terkaya di wilayah tersebut, tetapi selama generasi terakhir kekayaan mereka merosot. Cabang utama tinggal di Osaka, di rumah keluarga, dan terdiri dari kakak perempuan tertua, Tsuruko, suaminya, Tatsuo, yang mengambil nama Makioka, dan keenam anak mereka. Rumah cabang terletak di Ashiya , pinggiran kota yang makmur antara Osaka dan Kobe , dan terdiri dari kakak perempuan tertua kedua, Sachiko, suaminya, Teinosuke (juga Makioka angkat), dan putri kecil mereka, Etsuko. Tsuruko dan Sachiko memiliki dua adik perempuan, Yukiko dan Taeko, yang belum menikah dan pindah antara rumah utama dan rumah cabang.
Di sebuah gang kecil di Tokyo, ada kafe tua yang bisa membawa pengunjungnya menjelajahi waktu. Keajaiban kafe itu menarik seorang wanita yang ingin memutar waktu untuk berbaikan dengan kekasihnya, seorang perawat yang ingin membaca surat yang tak sempat diberikan suaminya yang sakit, seorang kakak yang ingin menemui adiknya untuk terakhir kali, dan seorang ibu yang ingin bertemu dengan anak yang mungkin takkan pernah dikenalnya. Namun ada banyak peraturan yang harus diingat. Satu, mereka harus tetap duduk di kursi yang telah ditentukan. Dua, apa pun yang mereka lakukan di masa yang didatangi takkan mengubah kenyataan di masa kini. Tiga, mereka harus menghabiskan kopi khusus yang disajikan sebelum kopi itu dingin. Rentetan peraturan lainnya tak menghentikan orang-orang itu untuk menjelajahi waktu. Akan tetapi, jika kepergian mereka tak mengubah satu hal pun di masa kini, layakkah semua itu dijalani?
Funiculi Funicula, sebuah kafe di gang sempit di Tokyo, masih kerap didatangi oleh orang-orang yang ingin menjelajah waktu. Peraturan-peraturan yang merepotkan masih berlaku, tetapi itu semua tidak menyurutkan harapan mereka untuk memutar waktu. Kali ini ada seorang pria yang ingin kembali ke masa lalu untuk menemui sahabat yang putrinya ia besarkan, seorang putra putus asa yang tidak menghadiri pemakaman ibunya, seorang pria sekarat yang ingin melompat kedua tahun kemudian untuk memastikan kekasihnya bahagia, dan seorang detektif yang ingin memberi istrinya hadiah ulang tahun untuk pertama sekaligus terakhir kalinya. Kenyataan memang akan tetap sama. Namun dalam singkatnya durasi sampai kopi mendingin, mungkin masih tersisa waktu bagi mereka untuk menghapus penyesalan, membebaskan diri dari rasa bersalah atau mungkin melihat terwujudnya harapan.
“Kenapa badanku yang seenaknya merasa lapar dan seenaknya menstruasi ada di sini? Aku merasa terkurung di dalam badan ini. Terus, cuma karena sudah lahir, aku harus hidup, makan terus, cari uang terus, hidup terus.” Di musim panas itu, Natsu memperoleh kunjungan dari kakaknya, Makiko. Ia datang bersama anak perempuannya, Midoriko. Sang kakak datang ke Tokyo untuk mencari layanan operasi implan payudara yang terjangkau. Sementara itu Midoriko sedang menjalani aksi bungkam, hanya bicara dengan tulisan, yang membuat kedua orang dewasa itu harus menghadapi ketakutan dan rasa frustrasinya. Di musim panas yang lain, beberapa tahun kemudian, pertanyaan-pertanyaan itu semakin bercecabang, ketika Natsu mulai memikirkan kemungkinan melahirkan anak. Bisakah memiliki anak tanpa pasangan? Apa makna ayah bagi seorang anak yang dilahirkan dari donor sperma anonim? Dan, tentu saja, kenapa harus memiliki anak?
Digul was an internment colony for political prisoners established in 1926, upriver in West Papua. It is the key to understanding Indonesia’s colonial rule between the failed communist rebellion of late 1926 and the fall of the Indies to the Japanese in 1942, a time when the Dutch regime attempted to impose “rust en orde”, peace and order, on the Indonesian people via the suppression of politics by the police. The political policing regime the Dutch Indies state created was both a success and a failure. The native terrain was never completely pacified. Activists linked up with each other in fluid networks that cut across spatial and ideational boundaries. How did the government deploy political policing to achieve its policy objectives? What were the consequences and challenges for Indonesian activists? How was the government able to fashion its policing apparatus as the most potent instrument to achieve peace and order when the Great Depression hit the Indies, nationalist and communist forces were gaining strength in other places of the world and war was coming both in Europe and Asia? This long-awaited sequel to the author's acclaimed An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912-1926, attempts to answer these questions. “A life-long project comes to its magnificent culmination with Shiraishi’s new book, a worthy sequel to his Age in Motion.” - Rudolf Mrázek, author of Engineers of Happy Land.