Pembahasan pada buku ini terbagi atas, 3 unit. Unit 1, membahas dasar-dasar penilaia kesehatan. Terdiri atas 3 bab pembahasa. Bab pertama membahas, gambaran umum mengenai anamnesis dan pemeriksaan fisik , bab dua, logika klinis, penilaian serta pencatatan temuan anda. Pada bab terakhir membahas, anamnesis dan riwayat kesehatan. Unit 2 membahas pemeriksaan regional pembahasan dari bab4 sampai bab 17. Unit 3 dibahas mengenai, populasi khusus adapun pembahasan pada bab 18 memeriksa anak, bayi dan remaja. Bab 19 membahas wanita hamil. Pada bab 20 dibahas mengenai pasien usia lanjut. 16 april 2018
Buku ini sebagai buku pendamping klinis, topk ysng dibahas dalam buku ini adalah: gangguan kardiovaskular, gangguan irama jantung, gangguan jantung, dan penyakit pembuluh darah. Dibahas dalam 6 bagian.
Buku ini menjelaskan konsephistologi dasar dengan menggunakan panduan tata letak yang berwarna dan ilustrasi untuk semua truktur histologi, dengan tujuan struktur histologi dan fungsi utamanya dapat dipelajari sexcara efiaien. Pembahsan bab baru tentang biologi sel yang dilengkapi dengan gambar dan foto. Isi buku dirangkai dalam empat bagian, mulai dari metode, mikroskopi hingga jaringan dan sistem. 19 April 2018
Buku ini merupakan penuntun yang didaktis, bertujuan menciptakan atlas belajar yang membantu mahasiswa menguasai mata kuliah ana tomi. Prometheus diharapkan menjadi sebuah petunjuk yang kontruktif dan edukatif. Adapun materi yang dibahas adalah: rongga tubuh, sistem peredaran darah, sistem pernapasan, sistem pencernaan, sistem urin, sistem kelamin, sistem getah bening, sistem endokrin, sistem saraf vegetatif
Latar Belakang: Pada penyakit infeksi HIV, trombositopenia merupakan gangguan hematologi yang sering terjadi dan bahkan dapat muncul sebagai tanda awal pada pasien yang terinfeksi HIV. Trombositopenia sendiri merupakan salah satu faktor penting untuk keberhasilan pengobatan pasien HIV. Patofisiologi yang mendasari terjadinya trombositopenia pada penderita HIV antara lain terjadinya percepatan penghancuran trombosit di perifer dan penurunan produksi trombosit. Penyebab sekunder umumnya merupakan akibat infeksi oportunistik, hipersplenisme, infiltrasi sumsum tulang akibat infeksi atau keganasan, kondisi komorbiditas (misalnya, sirosis pada penyakit hati), dan mielosupresi akibat obat-obatan. Tujuan: Membuktikan pengaruh beberapa faktor dengan kejadian trombositopenia pada pasien HIV/AIDS Metode: Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif/kasus-kontrol. Dilakukan pengambilan data yang termasuk dalam kriteria inklusi yang berasal dari catatan medik pasien rawat inap dan rawat jalan di RSUP dr. Kariadi Semarang. Data sampel pasien HIV/AIDS dengan trombositopenia selanjutnya dilakukan analisis menggunakan chi-square terhadap variabel bebas yaitu nilai CD4, status terapi ARV, faktor resiko tertular HIV, Stadium klinis HIV, status infeksi hepatitis B, status hepatitis C, status koinfeksi tuberkulosis, dan status komorbid keganasan. Hasil: Pada penelitian ini selama periode tahun 2015-2017 dari 1.147 pasien HIV/AIDS didapatkan 77 (6,7%) pasien mengalami trombositopenia dengan median usia pasien 36,5 tahun dan frekuensi terbanyak terdiri dari jenis kelamin laki-laki 71,4%, faktor risiko terinfeksi HIV adalah heteroseksual 79%, jumlah nilai CD4 < 200 sebesar 79,2%, dan status dalam terapi HAART 76,6%. Pada analisis antara beberapa variabel yang diteliti didapatkan hasil bermakna pada variabel jumlah status nilai CD4 < 200 dengan p = 0,003 dan stadium klinis HIV-WHO 2 dan 3 dengan p = 0,001 dan p = 0,001. Kesimpulan: Di era penggunaan HAART kejadian trombositpenia meskipun jarang masih merupakan salah satu komplikasi dari infeksi HIV/AIDS yang perlu diperhatikan. Pada penelitian ini, beberapa faktor seperti nilai jumlah CD 4 rendah dan stadium klinis HIV tahap awal didapatkan hubungan bermakna terhadap kejadian trombositopenia. Perlunya tetap dilakukan pemantauan pemeriksaan hematologi pada pasien HIV/AIDS guna memberikan terapi lebih baik. Kata kunci: HIV, AIDS, trombositopenia, HAART, hepatitis B, hepatitis C, tuberkulosis, keganasan
Latar belakang. Pemeriksaan mikroskopis basil tahan asam pada sputum untuk menunjang diagnosis tuberkulosis paru kadang memberikan hasil negatif palsu. Penelitian-penelitian tentang manfaat biomarker lain seperti carbohydrate antigen -125 (CA-125), C-reactive protein (CRP) dan indeks trombosit sebagai piranti mendukung diagnosis tuberkulosis paru aktif masih diperdebatkan. Tujuan. Membuktikan adanya hubungan antara kadar CA-125, CRP dan plateletcrit dengan derajat positif BTA sputum menurut skala International United Against Tuberculosis (IUATLD) pada penderita tuberkulosis paru aktif. Metode. Penelitian belah lintang dilakukan dengan melibatkan 41 orang laki-laki yang didiagnosis tuberkulosis paru aktif berusia 18 – 60 tahun di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) wilayah Semarang. Diagnosis dan kategori skala IUATLD ditegakkan berdasarkan BTA sputum. Kadar CA-125, CRP dan plateletcrit dihitung menggunakan alat secara otomatis. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil. Enam belas dari 41 penderita tuberkulosis paru aktif (39%) menunjukan BTA 1+, 14 orang (34%) BTA 2+ dan 11 orang (27%) BTA 3+. Hasil uji korelasi antara kadar CA-125, CRP dan plateletcrit dengan derajat skala positif BTA sputum masing-masing menunjukkan hubungan dengan nilai r=0,836;p=0,000 untuk CA-125, r=0,472;p=0,002 untuk CRP dan r=0,358,p=0,022 untuk plateletcrit. Simpulan. Terdapat hubungan positif antara derajat skala positif BTA sputum dengan kadar CA-125, CRP dan plateletcrit. Kata kunci: Tuberkulosis paru aktif, skala IUATLD, CA-125, C-reactive protein, plateletcrit.
Latar belakang. Sepsis merupakan salah satu keadaan dengan angka kematian yang sangat tinggi meskipun protokol penanganan telah sedemikian berkembang. Berbagai penelitian menunjukkan patofisiologi yang sangat kompleks dari sepsis; meliputi inflamasi, koagulasi dan disfungsi organ. Pemeriksaan biomarker dari ketiga proses tersebut berpotensi memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap patogenesis sepsis, termasuk kemampuannya untuk memprediksi kematian pasien sepsis secara efektif dan efisien, dalam rangka pemberian intervensi yang lebih agresif. Tujuan. Membuktikan bahwa parameter nilai persen reticulated platelet (%rP), kadar procalcitonin (PCT) dan kadar laktat merupakan faktor risiko kematian pada pasien sepsis di Instalasi Rawat Intensif. Metode. Penelitian kohort terhadap pasien sepsis di Instalasi Rawat Intensif (IRIN) RSUP Dr. Kariadi periode Desember 2016-Maret 2017. Ketiga biomarker diperiksa dalam 24 jam pertama pasien dinyatakan sepsis di IRIN, kemudian dilakukan analisis bivariat (mann-whitney dan chi-square). Nilai cut-off optimal ditentukan menggunakan metode ROC. Hasil. Subyek penelitian sebanyak 84 dibagi menjadi kelompok meninggal (56%) dan bertahan hidup (44%). Nilai %rP, kadar PCT dan kadar laktat pada kelompok meninggal lebih tinggi dibandingkan kelompok bertahan hidup (p < 0,0001; masing-masing). Area under curve untuk kematian dalam 28 hari nilai %rP (0,916) ditemukan lebih tinggi dari kadar PCT (0,890) dan kadar laktat (0,891). Risiko relatif nilai %rP 14,559 (3,786-55,990 IK 95%; p < 0,0001), kadar PCT 4,286 (2,178-8,433 IK95%; p < 0,0001) dan kadar laktat 6,613 (2,909-15,031 IK95%; p < 0,0001) terhadap status kematian pasien sepsis. Simpulan. Nilai %rP, kadar PCT dan kadar laktat merupakan faktor risiko terhadap status kematian pasien sepsis di IRIN. Kata kunci: Sepsis, %rP, PCT, laktat, kematian, Instalasi Rawat Intensif.