Latar belakang : Rumah Sakit merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang mengalami perubahan orientasi nilai dan pemikiran. Pasien memiliki harapan agar semua kebutuhannya terpenuhi. Dengan terpenuhinya kebutuhan mereka maka akan menjadi mereka puas dan akan loyal dengan rumah sakit. Loyalitas pasien dapat mengakibatkan tumbuhnya keinginan untuk melakukan pembelian ulang atau penggunaan jasa ulang dan dengan sukarela akan merekomendasikan jasa rumah sakit tersebut kepada orang lain. Faktor dokter merupakan faktor penting yang memberikan pengaruh paling besar dalam menentukan kualitas pelayanan salah satunya kepada pasien rawat jalan. Tujuan : Mengetahui adanya hubungan antara persepsi tentang mutu pelayanan dokter dengan loyalitas pasien di poliklinik Kebidanan dan Kandungan RSUP Dr. Kariadi Semarang tahun 2014-2016. Metode : Penelitian observasional analitik dengan metode survei dengan pendekatan belah lintang. Sampel 110 responden diambil dari pasien poliklinik kebidanan dan kandungan RSUP Dr. KAriadi Semarang sesuai kriteria inklusi penelitian. Hasil : Dari analisis bivariat penelitian ini di ketahui bahwa mutu pelayanan sikap dokter, keterampilan teknis medis dokter, penyampaian informasi oleh dokter, ketersediaan waktu konsul dokter berhubungan secara bermakna dengan loyalitas pasien dengan loyalitas pasien di poliklinik kebidanan dan kandungan RSUP Dr. Kariadi Semarang. Analisis multivariat, terdapat hubungan bermakna antara mutu pelayanan penyampaian informasi oleh dokter dengan loyalitas pasien di Poliklinik kebidanan dan kandungan RSUP dr. Kariadi Semarang. Simpulan : Terdapat hubungan antara persepsi tentang mutu pelayanan dokter dengan loyalitas pasien di poliklinik kebidanan dan kandungan RSUP Dr. Kariadi Semarang. Kata kunci : persepsi pasien, mutu pelayanan dokter, loyalitas pasien
Latar belakang : Remaja memiliki kecenderungan untuk mengeksplor dan mencoba hal baru termasuk yang berhubungan dengan seksualitas. Namun, kecenderungan ini sering kali tidak diimbangi dengan pengetahuan yang benar tentang seksualitas dan risikonya. Adanya remaja risiko tinggi adalah remaja yang tinggal dan berdomisili dikomunitas risiko tinggi seperti daerah lokalisasi, dimana transaksi seks terjadi dengan bebasnya di daerah ini dan biasanya dibarengi dengan minum minuman beralkohol. Lingkungan tersebut memberikan paparan seksual sehingga remajanya mengalami kematangan seksual lebih dni dan mempunyai pengaruh sangat besar terhadap sikap remaja mengenai hubungan seks pranikah. Pada penelitian ini akan dilakukan penelitian tentang pengetahuan, sikap dan perilaku seksual remaja yang tinggal di lokalisasi khusunya di lokalisasi Sunan Kuning Semarang. Metode : Penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan belah lintang (cross sectional) pada seluruh remaja risiko tinggi usia 10-22 tahun yang menetap di Sunan Kuning minimal 1 tahun. Tujuan : Mendapatkan informasi tentang pengetahuan, sikap dan perilaku seksual remaja risiko tinggi yang tinggal di daerah Sunan Kuning Kota Semarang. Hasil : Data yang berhasil dikumpulkan selama penelitian adalah 93 sampel dengan eksklusi 28 sampel. Dari sampel yang terkumpul didapatkan data 67 remaja (73,1%) memiliki pengetahuan seksual yang tinggi, 87 sampel (93,5%) memiliki sikap seksual positif dan 83 remaja (89,2%) dengan perilaku seksual baik. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan pada status marital orang tua (p=0,03), tingkat pendapatan orang tua (p=0,017) dan sikap seksual pengetahuan, jenis kelamin, tingkat pendidikan, keberadaan sumber informasi reproduksi dengan perilaku seksual. Simpulan : Penelitian ini menggambarkan remaja risiko tinggi di Sunan Kuning sudah memiliki pengetahuan seksual yang tinggi, memiliki sikap seksual positif dan perilaku seksual baik. Status marital orang tua, tingkat pendapatan orang tua dan sikap seksual adalah faktor yang berpengaruh signifikan terhadap perilaku seksual remaja. Kata kunci : pengetahuan, sikap, perilaku seksual, remaja, remaja risiko tinggi, Sunan Kuning
Latar belakang : Kerut lipatan nasolabial merupakan salah satu manifestasi klinis penuaan yang terlihat pada wajah, yang berhubungan dengan perubahan jaringan ikat kolagen pada dermis. Radio Frekuesni (RF) memiliki efek thermal jaringan pada dermis yang menyebabkan denaturasi kolagen sehingga menghasilkan efek remodelling yaitu pembentukan kolagen baru. Tujuan : Mengetahui efektivitas penggunaan radio frekuensi sebagai terapi kerut lipatan nasolabial. Metode : Menggunakan rancangan Randomized control group pre test-post test design dengan design kontrol pararel. Terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan yang diterapi dengan radio frekusni dan kelompok kontrol yang tidak diterapi radio frekuensi. Seluruh subyek penelitian difoto baik sebelum dan setelah akhir terapi. Data fotografik dievaluasi oleh 3 penilai menggunakan Wrinkle Assessment Scale (WAS). Hasil : Subyek dalam penelitian ini berjumlah 28 orang dengan kerut lipatan nasolabial yang bervariasi. Empat belas subyek enelitian pada kelompok perlakuan diterapi radio frekuensi sebanyak 4 kali dengan interval 2 minggu. Empat belas subyek kontrol hanya diberikan tabir surya. terdapat perbedaan bermakna selisih skor WAS antara kelompok perlakuan RF dan kontrol tanpa terapi RF (p
Pendahuluan : Angka kasus luka bakar akibat paparan panas yang semakin meluas sering menimbulkan tantangan bagi investigator, ahli forensik penegak hukum. Hal tersebut untuk membedakan apakah luka bakar akibat paparan panas terjadi saat korban masih hidup (antemortem), sesaat setelah korban meninggal (perimortem), atau saat korban sudah meninggal (postmortem) untuk menutupi penyebab kematian yang sebenarnya. Tujuan : Mengetahui perbandingan histopatologi saluran napas bawah fase intravital, perimortem, dan postmortem tikus wistar yang diberi paparan panas secara langsung maupun tidak langsung. Material dan metode : Penelitian ini merupakan penelitian experimental laboratorik dengan desain yang dipakai adalah post test only with kontrol group design. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUP Dr. Kariadi Semarang dan Labaoratorium Patologi Anatomi Akurat Semarang sebagai tempat pembuatan preparat dan pemeriksaan mikroskopis dengan 35 sampel. Untuk mencari perbandingan dari tiap perlakuan, klasifikasi tersebut dianalisis dengan uji Mann-Whitney untuk melihat perbandingan antar kelompok. Hasil penelitian : Terdapat perbandingan yang signifikan L1 nilai p 0,003 jelaga dan radang. L2 nilai p 0,005 radang dan nilai p 0,003 jelaga. L3 nilai p 0,003 radang dan nilai p 0.005 jelaga. TL 1 nilai p 0,004 radang dan nilai p 0,003 jelaga. TL2 nilai p 0,003 radang dan nilai p 0,005 jelaga. TL3 nilai p 0,004 radang dan nilai p 0,317 pada jelaga tidak ada perbedaan yang bermakna. Berdasarkan hasil penelitian dan uji statistik, pada perdarahan tidak dapat diuji nilai statistik, karena didapatkan hasil yang sama tiap perlakuan terdapat perbedaan. Kesimpulan : Paparan panas secara langsung (L) dan tidak langsung (TL) dapat membandingkan gambaran histopatologi saluran napas bawah tikus wistar fase intravital, perimortem dan postmortem. Kata kunci : paparan panas, saluran napas bawah, histopatologi
Pendahuluan : Laser fotokoagulasi merupakan teknik standar penatalaksanaan retinopati diabetika proliferatif (PDR). Komplikasi yang dapat terjadi adalah defek lapang pandang karena penipisan lapisan serabut saraf retina (RNFL). Beberapa penelitian dilakukan untuk mendapatkan parameter laser dengan komplikasi yang lebih sedikit. Tujuan : Membandingkan ketebalan lapisan serabut saraf retina paska laser fotokoagulasi durasi diperpanjang dan konvensional parameter pada penderita retinopati diabetika proliferatif. Metode : Studi eksperimental dengan pre and post test group design dilakukan di RSUP Dr. Kariadi. Subyek penelitian adalah penderita PDR yang dipilih secara consecutive sampling. Ketebalan lapisan serabut saraf retina diukur sebelum dilakukan laser, 1 minggu dan 1 bulan setelah dilakukan laser. Hasil : Kelompok konvensional terdiri dari 24 mata dan kelompok modifikasi 24 mata. Kelompok konvensional ketebalan RNFL sebelum dilakukan leser 78,83+-32,81uM, 1 minggu setelah laser 83,04+-31,77uM, dan 1 bulan paska laser 70,29+-27,90uM. Pada 1 minggu setelah laser terjadi penebalan RNFL yang tidak bermakna sebesar 4,21uM. Pada 1 bulan paska laser terjadi penipisan RNFL yang bermakna sebesar 8,54uM. Kelompok modifikasi ketebalan RNFL sebelum dilakukan laser 71uM, 1 minggu setelah laser 83uM, dan 1 bulan paska laser 66,5uM. Pada 1 minggu paska laser terjadi penebalan RNFL yang bermakna sebesar 5,5uM. Pada 1 bulan paska laser terjadi penipisan RNFL yang bermakna sebesar 8uM. Ketebalan RNFL sebelum laser, 1 minggu dan 1 bulan paska laser antara kedua kelompok tidak berbeda bermakna. Simpulan : Tidak terdapat perbedaan bermakna ketebalan RNFL paska laser fotokoagulasi durasi diperpanjang dan konvensional parameter pada PDR. Kata kunci : retinopati diabetika proliferatif, laser fotokoagulasi, lapisan serabut saraf retina
Pendahuluan : Glaukoma merupakan salah satu penyakit yang mengancam penglihatan dan bersifat ireversibel. Progresifitas neuropati optik yang terjadi seringkali disebabkan oleh peningkatan tekanan intraokular akibat resistensi aliran humor akuos melalui trabecular meshwork (TM) dan kanalis Schlemm. Perkembangan dan progresifitas glaukoma berhubungan dengan akumulasi kerusakan oksidatif pada TM. Stres oksidatif yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intraokular dapat memicu pemecahan O2 aerob sehingga menghasilkan Reactive Oxygen Spesies (ROS). Mekanisme kerusakan sel akibat serangan radikal bebas yang terbanyak diteliti adalah peroksidasi lipid. Salah satu hasil produk degradasi peroksidasi lipid adalah malondialdehide (MDA). N-acetylcarnosine (NAC) merupakan antioksidan topikal yang diharapkan dapat menghambat pembentukan lipid peroksidasi dan mengurangi pembentukan senyawa aldehide. Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian NAC terhadap kadar malondialdehide humor akuos tikus wistar model glaukoma. Metode : Penelitian ini merupakan true experimental post-test only controlled group design. Empat belas ekor tikus wistar dibuat model glaukoma dengan metode kanulasi, kemudian dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok kontrol (K) diberi tetes mata plasebo, kelompok perlakuan (P) diberi tetes mata N-acetylcarnosine, 2x sehari selama 4 minggu. Pemeriksaan kadar MDA dalam humor akuos dengan menggunakan Quantikine Rat Immunoassay Kit dan pembacaan hasil dengan spektrofotometer. Analisis statistik menggunakan uji t tidak berpasangan. Hasil : Rerata kadar MDA pada kelompok K=47; kelompok P=23. Kadar MDA kelompok perlakuan lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol (p=0,021). Hasil uji beda kadar MDA dengan uji t tidak berpasangan terdapat perbedaan bermakna kadar MDA pada kelompok kontrol dibandingkan kelompok perlakuan (p
Latar belakang : Vitiligo adalah kelainan melanositopenik didapat yang ditandai dengan adanya bintik-bintik depigmentasi akibat hilangnya melanosit epidermal. Superoxide dismutase (SOD) adalah antioksidan enzimatik penting yang bertanggungjawab untuk menghilangkan radikal superoksida dan dianggap sebagai antioksidan utama dalam sel aerob. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan korelasi antara kadar SOD serum dengan derajat keparahan vitiligo menggunakan skor VASI. Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian analitik observasional belah lintang dengan variabel bebas kadar SOD serum dan variabel terikatnya adalah derajat keparahan vitiligo. Sampel diambil dari 33 pasien, dimana 11 pasien dengan vitiligo ringan, 11 pasien dengan vitiligo sedang dan 11 pasien dengan vitiligo berat. Hasil : Pada penelitian ini didapatkan adanya korelasi negatif derajat sangat baik yang bermakna antara kadar SOD serum dengan derajat keparahan vitiligo (r=-0,943; p
Latar belakang : Sistem vaskuler (endotel), dan pembekuan darah serta proses fibrinolitik merupakan tiga sistem yang berperan dalam hemostasis. Kadar ADMA sebagai penanda disfungsi endotel, jumlah trombosit, kadar D-Dimer sebagai parameter aktivasi koagulasi dan fibrinolisis dapat memprediksi progesivitas pasien DMT2 dengan CHF. Deteksi dini gangguan aktivitas koagulasi, fibrinolisis dan gangguan fungsi endotel dapat mengurangi angka morbiditas dan mortalitas pada pasien DMT2 dengan CHF. Tujuan : Membuktikan hubungan jumlah trombosit, kadar D-Dimer dengan kadar ADMA pada pasien DMT2 dengan CHF. Metode : Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan belah lintang pada 34 pasien DMT2 dengan CHF yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah trombosit diukur dengan menggunakan metode flowcitometry, kadar D-Dimer diukur menggunakan metode turbidimetri, kadar ADMA diukur menggunakan ELISA kompetitif. Analisis menggunakan uji korelasi spearman. Hasil : Jumlah trombosit yang mengalami peningkatan didapatkan pada 1 subyek (2,9%), tidak mengalami peningkatan pada 33 subyek (97,1%). Kadar D-Dimer yang mengalami peningkatan sebanyak 30 (88%) subyek, tidak mengalami peningkatan 4 (11%) subyek. Kadar ADMA yang tidak mengalami peningkatan sebanyak 16 subyek (47%), terjadi peningkatan terdapat pada 18 subyek (52,9%). analisis hubungan jumlah trombosit dengan kadar ADMA tidak didapatkan hubungan bermakna antara kedua variabel (r=-0,100; p=0,574), terdapat hubungan bermakna antara kadar D-Dimer dengan ADMA (r=0,396; p=0,021). Simpulan : Terdapat hubungan positif lemah antara kadar D-Dimer dengan kadar ADMA pada pasien DMT2 dengan CHF. Kata kunci : DMT2, CHF, jumlah trombosit, D-Dimer, ADMA, DMT2, CHF
Latar belakang : Stroke adalah salah satu penyebab kematian dan kecacatan terbesar di dunia, stroke terdiri dari iskemik dan non iskemik, stroke iskemik kasusnya 85-87%. Inflamasi berperan pada stroke iskemik, CRP merupakan petanda inflamasi yang banyak dipakai dan RDW adalah pengukuran dari ukuran sel darah merah, IL-10 berperan dalam mekanisme umpan balik protektif untuk membatasi produksi sitokin pro-inflamasi. Tujuan : Memebuktikan adanya hubungan antara kadar CRP dan nilai RDW dengan kadar IL-10 pada stroke iskemik. Metode : Desain observasional analitik dengan pendekatan belah lintang. Subyek 31 pasien diambil secara konsekutif di RSUP Dr. Kariadi Semarang. CRP diperiksa dengan metode sandwich ELISA, RDW dengan metode optik, IL-10 dengan metode ELISA. Analisa statistik menggunakan uji korelasi spearman. Hasil : Hasil median CRP didapatkan 2,97 (0,33-8,22 mg/dL, median RDW 12,9 (11,9-20,8%) median IL-10 1,56 (0,13-6,8) pg/mL. Terdapat hubungan antara kadar CRP dan kadar IL-10dengan nilai r=-0,547 dan p=0,001. Tidak didapatkan hubungan antara nilai RDW dan kadar IL-10 dengan nilai r=-0,1373 dan p=0,353. Simpulan : Terdapat hubungan negatif sedang antara kadar CRP dan kadar IL-10 dan tdak didapatkan hubungan nilai RDW dan kadar IL-10. Kata kunci : stroke iskemik, CRP, RDW, IL-10