This book explains the characteristics and the importance of public places in a city. he contents consist of a collection of writings on urban public spaces in Malaysia, as well as taking examples of Kuala Lumpur as a specific city to present the stories. The book tells story of urban places in Kuala Lumpur and users experiences that shape the public places as they are today. The objectives are to explain ideas about the characteristics of the public places and the ways users utilize the spaces and obtain meaningful experience,. The stories are weaved rom the experience, Interaction and transaction that city residents and visitors exchange in the public places. The interrelationship between users and spaces therefore shapes many characteristics of the places in the city. The chapters in the book capture the essence and experience of public places in Malaysia in general, and the city of Kuala Lumpur, in specific. They explain the attributes associated with the experience of the urban public space The contents are intended to highlight different types of public space in Kuala Lumpur and in Malaysian urban environment. The book focuses on several public spaces. namely green open space. recreational parks, padang. street markets and sidewalks. which become essential places in city residents.life and give memorable experience for visitors. In addition, the book also identifies pertinent issues that must be looked into for future planning, design and management of urban public places. All in all. this book will bring benefits to many individuals and that it will add to the knowledge pool on the built environment, particularly in the fields of landscape architecture, urban design and environmental studies
Kola adalah entitas yang kompleks dan multidimensi. Keberadaan kola pertama kali dapat ditelusuri hingga sekitar 4000 tahun sebelum Masehi dan bermula dari kota-kota kuno di Mesopotamia Lembah Indus, serta Yunani dan Romawi. Seiring berjalannya waktu, konsep perencanaan dan pembangunan kola terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman. Pada akhir abad ke-19. muncul konsep-konsep seperti City Beautiful Movement dan Garden City of Tomorrow, yang memberikan pengaruh besar dalam perencanaan kota. Saat ini, perkembangan pesat teknologi digital, Al, dan loT, serta dampak perubahan iklim yang semakin nyata dan pengalaman mengatasi COVID-19, menjadi faktor penting dalam perkembangan kota masa depan. Dalam buku ini, penulis menawarkan 'Pendekatan 5D' sebagai upaya mewujudkan kota layak huni, berkelanjutan, dan dicintai pasca-pandemi. Pendekatan 5D terdiri dari Design (Desain). Density (Kepadatan), Diversity (Keberagaman), Digitalization (Digitalisasi), dan Decarbonization (Dekarbonisasi). Pendekatan ini diharapkan dapat membantu para pemangku kepentingan untuk menelaah ulang kondisi lingkungan perkotaan saat ini, serta membangun strategi dan program untuk mewujudkan kota masa depan. Buku ini menjadi bacaan penting bagi siapa saja yang peduli pada kehidupan perkotaan, dengan harapan bahwa tulisan ini dapat berkontribusi pada diskusi tentang menjadikan kota yang tidak hanya layak huni dan berkelanjutan, tetapi juga dicintai
Pernahkah Anda berpikir, mengapa tidak sedikit proyek yang sudah berjalan mengalami hambatan atau bahkan tidak sampai diselesaikan alias mangkrak? Mengapa ada program yang tak kunjung menghadirkan manfaat? Lalu bagaimana menjawab semua persoalan tersebut? Buku ini menawarkan konsep Pendekatan Program Berbasis Spasial (PPBSp) sebagai dasar filosofis dan metode analisis dalam menyelenggarakan pembangunan yang berorientasi pada hasil dan manfaat program, dengan mengedepankan integrasi spasial. Tujuan utama dari pendekatan ini adalah guna mewujudkan sinergi pembangunan melalui pengelolaan pekerjaan secara efisien dan efektif. Muatan dalam buku ini telah banyak didiskusikan bersama para akademisi internasional dan dalam negeri, serta para kolega birokrat di berbagai instansi pemerintah, sebagai bagian dari riset penulis saat mengambil program doktoral di School of Architecture, Planning, and Landscape, Newcastle University di Inggris. Buku ini tidak hanya ditujukan bagi aparatur pemerintah, juga dapat bermanfaat bagi akademisi, mahasiswa, konsultan dan pemerhati pembangunan nasional dan daerah, dan masyarakat luas. Tujuannya tak lain agar kita dapat memahami proses pembangunan dan mampu menganalisis bagaimana semestinya pembangunan tersebut diselenggarakan.
"The Fifth Layer shows how Jakarta can be understood as a city of multiple layers of time; how to appreciate the complexities of each layer; and what it means when different layers interact, shape and displace each other. Jo Santoso traces the twists and the turns of the layers, and peels them, one by one, to see whether Jakarta is a sweet heart or a rotten core. Along the way, he picks up a variety of things, from ruins to hidden treasures to construct his analysis and manifesto in order to bring to light the challenge of the present. His delving into the city's multi layered body of knowledge will challenge a broad spectrum of readers, specially architects and planners, to think more critically, and more politically, about history, space and power." Abidin Kusno, Institute of Asian Research, University of British Columbia - Vancouver
This book reviews the concept of sustainable development and describes the extent to which sustainability principles are being incorporated into tourism concept, in general, and into the emerging idea of community-based rural tourism, in particular. Conceptual framework on sustainable community-based rural tourism (CBRT) is being discussed, including the identification of probable benefits and costs of CBRT, and local and stakeholders participation in planning and developing the sustainable CBRT. The discussion is concluded with reviews of.potential issues and challenges in sustainable CBRT projects. This book will be of interest to tourism researchers, rural planners as well as students from the field of regional and rural planning, and those who interested in sustainable rural development.
Natural disaster events have put many lives at risk, including those in the rural areas. It is estimated that 4.82 million people in Malaysia are affected annually by flooding events. Therefore, developing a community-based disaster preparedness becomes an important component for mainstreaming disaster risk reduction (DRR) agenda to increase the community's resilience to natural disasters through identification of community capitals, role of local knowledge for interventions, and/or responses to natural disasters. This book is written to explain the concept of a resilient community in relation to international agenda for DRR and highlighted the extent to which, the DRR elements have been practiced in a local context. Furthermore, the authors have assessed the state of community capitals for ORR that comprises of economic, social, and environmental components followed by formulation of a disaster resilience rural community (DRRC) framework for future reference by relevant agencies, researchers, local disaster managers and communities.
Buku ini mengaji tentang pulau-pulau kajian yang relatif terabaikan di Indonesia. Di pulau berlaku konsep belitan relasional: berbagai komponen ekosistem berinteraksi dan saling kait-mengait dalam ruang yang terbatas. Setiap pengubahan yang drastis dan masif pada satu komponen dengan segera memengaruhi komponen lainnya. Karenanya, di pulau pemikiran dan tindakan sektoral terbtas keberlakuannya. Di Kabupaten dan Pulau Sumbawa deforestasi berjalan pararel dengna penanaman tanaman semusim skala besar dan kegiatan pertambangan. Diperburuk perubahan iklim, pengubahan tersebut merusak infrastruktur ekologis dan meningkatkan insidensi bencana hidro-meteorologi. Institusi penopang kegiatan pertanian tradisional, juga etika lingkungan, melemah. Implikasi lain: ketidakhadiran antar-ruang dan antar-generasi terawetkan.
Buku ini membahas Gedung Volkstheater Sobokartti di Semarang Karya Thomas Karsten (1884-1945) ini telah memperoleh status sebagai bangunan cagar budaya sejak tahun 1992. Oleh karenanya tentu di dalam karya terkandung nilai-nilai signifikan yang berkontribusi pada ilmu pengetahuan. Lalu gambaran signifikansi arsitektural seperti apakah dari Gedung Volkstheater Sobokartti yang mash bisa diungkap lebihjauh? Dua penulis buku ini berupaya mengungkapnya, berdasar keterminatan dan kemampuan akademis masing-masing. Di awali bahasan tentang analogi karya ini dengan tradisi tektonika bangunan Jawa hingga berlanjut pada ekspolarasi sistem keteraturan atau proporsi. Dengan tiap bahasan yang terpisah menjadi salirg berkesinambungan dan memperlihatkan adanya integrasi penyelesaian arsitektural pada karya ini