Materi dalam buku ini disajikan berda arkan konsep dan kajian teoritis dari literatur internasional dan nasional tentang UMKM den UKM berbasis rumah/HBE. Pada buku ini juga terdapat praktek-praktek pembelajaran yang merupakan hasil penelitian dari penelitian penulis sendiri dan sumber tainnya. Secara eurn, bahan bacaan yang membahas mengenai UMKM sudah banyak diterbitkan, baik dnlaln bahasa asing maupun bahasa Indonesia. Namun buku ajar untuk mata kuliah UMKM ssih sangat terbatas. Harapannya buku ini dapat mempermudah pemahaman pembaca tdama mahasiswa dan dosen yang tertarik dalam bidang UMKM dan UMKM berbasis smeh/HBE. Selain itu juga dapat memperkaya bahan bacaan mengenai UMKM dalam Pembangunan Wilayah dan Kota, khususnya bagi mahasiswa dan dosen Perencanaan leyah dan Kota Undip maupun perguruan tinggi lainnya.
Terminologi ketahanan iklim mengemuka setidaknya dalam satu dasawarsa terakhir sebagai respon atas terjadinya gangguan-gangguan yang muncul di berbagai wilayah perkotaan dan perdesaan akibat perubahan iklim. Upaya untuk mengurangi risiko dan mengatasi dampak perubahan iklim berbasis masyarakat adalah pendekatan yang relevan untuk menciptakan kota dan desa yang tangguh/berketahanan (resilient) dan berkelanjutan (sustainable). Sejalan dengan pemikiran pentingnya peran masyarakat dalam meningkatkan ketahanan iklim di berbagai wilayah perkotaan maupun perdesaan, buku ini mengelaborasi teori/konsep ketahanan iklim beserta beberapa contoh implementasi program/kegiatan untuk meningkatkan ketahanan iklim melalui inisiatif dan pelibatan masyarakat.
Yang di ulas dalam buku ini adalah perkembangan permukiman dan perkotaan dari sejak hadirnya permukiman di wilayah yang sekarang di Indonesia. Melalui buku Kaca Benggala ini dicoba ditelaah bagaimana permukiman dengan batu besar hadir pada masa sebelum ada catatan sejarah dan masih bertahan sampai saat ini sampai pada kota yang didominasi bangunan menari di abad ke-21. Artinya suatu gambaran dengan jangkauan waktu lebih dari 2000 tahun. Tidak semua hal dapat digambarkan dalam Kaca Benggala ini dan karena itu buku ini harus dianggap hanya sebagai pengantar. Meskipun demikian diharapkan muatan pengetahuan yang dikandungya dapat memberi inspirasi bagi pembangunan pranata negara yang lebih utuh dan lebih kokoh untuk menata habitat Indonesia
Community Based Tourism (CBT) merupakan sebuah konsep pariwisata yang mampu membantu masyarakat untuk mendapatkan manfaat atas kemajuan pariwisata di wilayahnya. CBT adalah sebuah konsep pariwisata yang dimana pariwisata tersebut dikelola oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan menggunakan konsep pengembangan masyarakat. Pemberdayaan dan pengembangan masyarakat sangat ditekankan dalam konsep CBT, pemberdayaan dan pengembangan masyarakat merupakan pilar utama agar masyarakat mampu mandiri dan mampu mengelola potensi pariwisata di wilayahnya secara bersama-sama. Konsep CBT juga mengacu pada kearifan lokal setiap wilayah, dimana desa-desa wisata yang dibangun dengan menerapkan konsep CBT menawarkan pariwisata yang memang sudah menjadi budaya wilayah itu sendiri. Keberadaan desa wisata juga mampu mengangkat budaya lokal setiap wilayah di Indonesia. Sehingga, wisatawan baik nusantara maupun mancanegara mengetahui setiap budaya yang ada di wilayah pariwisata yang menjadi tujuannya. Hal tersebut dapat mengangkat keberagaman budaya Indonesia dan menunjukkan bahwa Indonesia merupaan Negara yang kaya dengan budaya
Indonesia mengkota merupakan suatu fenomena pembangunan yang kenarik untuk dipelajari. Tahun 2010, proporsi penduduk perkotaan sudah lebih besar dibandingkan yang tinggal perdesaan. Tahun 2015, menurut laporan the state of Indonesian Cities 2017 yang diterbitkan Kementerian PUPR, Indonesia memiliki 449 kawasan perkotaan dalam kabupaten dan 96 otonom. Bahkan Bappenas (2015) memperkirakan jumlah penduduk perkotaan di tahun 2035 akan sama dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini. Pertanyaannya kemudia, bagaimana dan kemanasaja penduduk perkotaan ke depan akan tersebar. Menjadi metropolitan adalah kecenderungan pengkotaan wilayah yang paling kentara saat ini. Tahun 2020, setidaknya ada kurang lebih 114 jut apenduduk perkotaan yang tinggal di wilayah metripolitan. sehingga menyelesaikan masalah metropolitan dapat diinterprestasikan dapat mengurangi sebagian masalah nasional. Oleh karena itu, buku yang kami beri judul Metropoitan Indonesia satatus terkini dan tantangan masa depan akan membahas bagaimana fenomena metropolitanisasi yang terjadi di Indonesia
Dalam rangka untuk mengurangi potensi risiko perubahan iklim khususnya pada sektor pangan, sumber daya air dan kehidupan (livelihoods). perlu disusun strategi adaptasi dalam rangka meningkatkan kapasitas adaptif dan memperkuat ketahanan iklim masyarakat (daya resiliensi) terhadap potensi dampak perubahan iklim. Laporan ini memberikan informasi rencana-rencana adaptasi perubahan iklim yang dapat dijadikan pertimbangan untuk penyusunan program adaptasi perubahan iklim provinsi NTT. Rencana adaptasi disusun berdasarkan kajian kerentanan dan risiko iklim tingkat desa untuk tiga kabupaten di provinsi NTT, yaitu: Kabupaten Sumba Timur, Sabu Raijua, dan Manggrai. Kegiatan survei rumah tangga untuk masing-masing kabupaten tersebut juga dilakukan pada akhir bulan April sampai Mei 2014 dengan melibatkan enumerator dari masing-masing kabupaten. Kegiatan survei rumah tangga ditujukan untuk menggali dampak perubahan iklum terhadap sektor pertanian, sumber daya air dan mata pencaharian (livelihoods), serta langkah-langkah adaptasi yang sudah di lakukan oleh masyarakat dalam merespon dampat tersebut.
Buku ini membahas kerangka kerja untuk konvergensi APT dan PRB di Indonesia. erangka kerja yang dimaksud diharapkan dapat mengarahkan berbagai pihak untuk gembangkan sinergi baik dari sisi kebijakan dan regulasi, kelembagaan dan pendanaan serta penggunaan sumber daya manusia dalam melaksanakan kajian dan pelaksanaan program pembangunan yang mengarah kepada terbentuknya masyarakat dan sistem pembangunan yang tangguh bencana dan tangguh iklim.
Perubahan iklim telah memberi tekanan terhadap pengelolaan kota, tidak terkecuali permukiman perkotaan. Banyak kota di Indonesia terbentuk dari kampung-kampung tidak terencana dan kemudian tumbuh menjadi permukiman padat. Kampung-kampung padat perkotaan menjadi rentan terhadap dampak maupun turut berkonstribusi dalam perubahan iklim karena keterbatasan infrastruktur, akses kesehatan, dan kondisi ekonomi. Perubahan iklim yang ditandai dengan perubahan curah hujan, pergeseran musim, perubahan suhu, longsor. Kampung-kampung ini juga berkonstribusi mengeluarkan gas rumah kaca melalui pembakaran bahan bakar fosil, pengelolaan sampah dan limbah yang belum memadai, dan penggunaan lahan-lahan hijau menjadi permukiman. Perubahan-perubahan inilah yang dapat menurunkan ketahanan dan keberlanjutan kampung.
Pemanasan global akibat naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer bumi telah menimbulkan dampak yang sangat besar pada sistem iklim global. Kejadian iklim ekstrim semakin sering terjadi dan intensitasnya juga cenderung meningkat, sehingga dampak dan kerugian ekonomi yang ditimbulkan cenderung semakin besar (IPCC, 2014). adanya upaya untuk meningkatkan ketangguhan sistem pembangunan terhadap terhadap perubahan iklim, dampak dari perubahan iklim akan menghambat keberlanjutan pembangunan. Ketangguhan desa terhadap dampak perubahan iklim ditentukan oleh tingkat kerentanan desa tersebut. Desa yang sangat rentan, tingkat ketangguhannya sangat rendah. Apabila desa yang sangat rentan terpapar terhadap perubahan iklim, dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim sangat besar dibanding dengan desa yang tidak rentan. oleh karena itu, upaya untuk mengurangi dampak dari perubahan iklim ialah dengan menurunkan tingkat kerentanan desa tersebut. Besar kecilnya tingkat kerentanan desa akan ditentukan oleh kondisi lingkungan sosial dan ekonominya.