RINGKASANrnHAMDANI AKBAR. 23010110110010. 2014. Hubungan Level Hormon Testosteron dan Ukuran Testis Rusa Timor (Rusa timorensis) Sebelum dan Sesudah Pemotongan Velvet (Correlation of Testosterone Levels and Testes Measure Timor Deer (Rusa Timorensis) Before and After Velvet Felling). (Pembimbing : DAUD SAMSUDEWA dan YON SOEPRI ONDHO)rnPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan level testosteron dan ukuran testis rusa Timor sebelum dan setelah pemotongan velvet, dan mengetahui efek pemotongan ranggah pada kondisi fisiologis rusa Timor. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 21 Desember 2013 sampai dengan 10 Februari 2014 di penangkaran rusa Timor milik Bapak H. Yusuf Wartono, Kudus. Materi yang digunakan adalah 3 ekor rusa Timor yang memiliki umur antara 2 – 4 tahun dan berat rata-rata 65 Kg.rnRusa Timor dibius menggunakan blowpipe kemudian diambil darahnya dan diukur testisnya. Darah dianalisis level hormon testosteronnya dan ukuran lingkar dan volume testis diukur. Analisis statistik yang digunakan adalah uji Kruskal-Wallis dan analisis Korelasi Peringkat Spearman. Parameter yang diambil datanya adalah level hormon testosteron, ukuran lingkar dan volume testis.rnHasil penelitian menunjukkan bahwa level hormon testosteron dan ukuran testis ( lingkar dan volume) rusa Timor tidak menunjukkan perbedaan nyata sebelum dan sesudah pemotongan (P>0,05). Rerata level hormon testosteron, ukuran lingkar dan volume testis sebelum dan sesudah berturut-turut adalah 5,67 ; 6,67 ng/ml, 15,90 ± 1.21 ; 15,97 ± 1,22 cm, 123,33 ± 58,59 ; 90,00 ± 26,46 ml. Nilai r dan r2 level testosteron dan ukuran testis (lingkar dan volume) sebelum dan sesudah berturut-turut adalah 0,625 ; 37,1 %, 0,125 ; 1,6 %, -0,625 ; 37,1 %, dan -0,625 ; 37,1 %. Nilai menunjukkan adanya hubungan kedua variabel.rnKesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada perbedaan nyata antara level hormon testosteron dan ukuran testis sebelum dan sesudah pemotongan velvet. Ada hubungan sedang antara level hormon testosteron dan ukuran testis (lingkar dan volume) rusa Timor.
RINGKASANrnJAAFAR RIFAI. 23010110120057. 2014. Evaluasi Cemaran Bakteri pada Susu Sapi Segar dalam Distribusi Susu di Kabupaten Banyumas (Evaluation of Bacterial Contamination in Fresh Milk on Distribution at Banyumas Regency) (Pembimbing : DIAN WAHYU HARJANTI dan NURWANTORO)rnSusu merupakan salah satu bahan pangan sumber protein hewani asal ternak yaitu ternak perah yang banyak dibutuhkan oleh manusia karena kandungan zat gizi susu yang dianggap baik. Susu yang ada tidak terlepas dari peran peternak sebagai produsen utama yang selanjutnya terdapat proses distribusi susu ke milk collection center (MCC) sebagai pengepul, koperasi dan Industri Pengolahan Susu (IPS). Penerimaan susu tidak hanya memperhatikan kualitas kimiawi susu akan tetapi melihat juga kualitas mikrobiologi susu tersebut. Kabupaten Banyumas merupakan salah satu daerah sentra ternak perah yang ada di Provinsi Jawa Tengah dengan kualitas susu yang diklaim memiliki kualitas mikrobiologi yang baik, akan tetapi terkadang kualitas mikrobiologi tersebut menjadi tidak baik karena hal yang tidak diketahui.rnPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat cemaran bakteri susu segar di Kabupaten Banyumas yang dilakukan dengan uji alkohol, uji reduktase, uji total asam dan uji total bakteri. Manfaat penelitian untuk memberikan informasi kepada masyarakat khususnya di Kabupaten Banyumas tentang kualitas susu yang berasal dari Kabupaten Banyumas dan menambah pengetahuan khususnya kepada para peternak tradisional dan pemerintah Kabupaten Banyumas tentang tata cara pengujian cemaran bakteri di lapangan.rnMateri yang digunakan dalam penelitian ini adalah susu sapi segar yang didapat dari peternak sapi perah, milk collection center (MCC) dan koperasi yang bergerak dalam bidang persusuan di Kabupaten Banyumas, alkohol 70%, methylen blue (MB), parafin cair, NaOH 0,1 N, larutan phenolphthalein (PP) 1%, dan aquades. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tabung reaksi, pipet, gelas ukur, buret, erlenmeyer, 3M petrifilm dan inkubator. Metode yang dilakukan ialah melakukan survey terlebih dahulu untuk mengetahui jumlah peternak dan pola distribusi susu yang dilakukan di Kabupaten Banyumas. Penelusuran susu dari peternak, MCC hingga koperasi. Pelaksanaan meliputi persiapan alat dan pembersihan alat. Pengujian sampel dengan uji alkohol menggunakan alkohol 70%, uji reduktase menggunakan methylen blue, uji total asam menggunakan teknik titrasi dan uji total bakteri menggunakan 3M petrifilm.rnHasil penelitian menunjukkan bahwa uji alkohol sampel susu peternak, MCC dan koperasi menunjukkan hasil yang negatif. Angka reduktase menunjukkan hasil waktu >8 jam. Terdapat perbedaan nyata (p
RINGKASANrnLILIS SUSANTHI. 23010110110113. Pengaruh Pemberian Tepung Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas blackie) dalam Ransum Terhadap Karkas dan Non Karkas Broiler periode Starter dan Finisher. (Pembimbing : UMIYATI ATMOMARSONO dan DWI SUNARTI ).rnPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ubi jalar ungu dalam ransum terhadap bobot hidup, bobot dan persentase dressed, bobot dan persentase karkas dan bobot dan persentase non karkas, serta mengetahui berapa level optimal penggunaannya dalam ransum broiler.rnMateri yang digunakan adalah 260 ekor DOC broiler unsex umur 1 hari, desinfektan, dan vaksin, terdapat 5 perlakuan dan 4 ulangan. Kandang yang digunakan berukuran 1m2, masing-masing berisi 13 ekor ayam. Ransum yang digunakan meliputi tepung ubi jalar ungu, jagung kuning, tepung ikan, Poultry Meat Meal (PMM), Meat Bone Meal (MBM), dan pollard. Ransum starter mengandung 23% PK dan 3.000 Kkl/kg energi metabolis (EM). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 ulangan dan 5 perlakuan yaitu T0 : Ransum tanpa tepung ubi jalar ungu, T1: Ransum dengan 8,21 % tepung ubi jalar ungu (setara 40 mg antosianin), T2 : Ransum dengan 16,43 % tepung ubi jalar ungu (setara 80 mg antosianin), T3 : Ransum dengan 24,64 % tepung ubi jalar ungu (setara 120 mg antosianin), T4 : Ransum dengan 32,86 % tepung ubi jalar ungu (setara 160 mg antosianin). Pemeliharaan dilakukan selama 35 hari. Parameter yang diamati adalah bobot hidup, bobot dressed, bobot karkas, persentase karkas dan persentase non karkas. Data yang diperoleh dianalisis ragam menggunakan uji F.rnHasil penelitian menunjukan bahwa periode starter pada perlakuan T0, T1, T2, T3, T4 memiliki nilai rata-rata bobot hidup 262, 266, 259, 226,75, 204, persentase dressed 94%, 93%, 96%, 94%, 93%, persentase karkas 56,25%; 58,5%; 58,5%; 55%; 53,75% dan persentase non karkas 43,75%; 41,5%; 41,5%; 45%; 46,5%. Periode finisher pada perlakuan T0, T1, T2, T3, T4 memiliki nilai rata-rata bobot hidup 1.049,25; 1.054,25; 985,75; 966; 976,75, persentase dressed 95%, 94%, 94%, 94%, 94%, persentase karkas 70,75%; 67,25%; 65%; 65,2%; 67,50% dan persentase non karkas 29,25%; 32,75%; 35%; 34,75%; 32,50%.rnKesimpulan yang diperoleh adalah pemberian tepung ubi jalar ungu dalam ransum untuk periode starter dapat digunakan sampai 16,43%, sedangkan untuk periode finisher hanya sampai 8,21% dari ransum. Pemberian lebih dari itu, perfoman karkas menurun. Hal itu disebabkan antosianin dalam ubi ungu berubah menjadi oksidan yang merusak jaringan tubuh.
RINGKASANrnANNISA NUR MAULIDA. 23010110130206. Evaluasi Post Thawing Motility (PTM) pada Semen Beku Sapi Simental Produksi BIB Ungaran (Pembimbing: YON SOEPRI ONDHO dan DAUD SAMSUDEWA).rnPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi Post Thawing Motility (PTM) dan persentase mati sperma, baik yang dilakukan menurut Standar Operasional Prosedur (SOP) maupun pelaksanaannya di lapangan, mengetahui handling straw sejak di Satuan Pelaksana Inseminasi Buatan (SPIB) sampai dengan straw tersebut sampai di pos IB, dan mengetahui alur pendistribusian semen beku yang dilakukan dari Balai Inseminasi Buatan (BIB), SPIB, Pos IB sampai ke akseptor IB. Manfaat penelitian ini adalah memberikan informasi kepada para peternak dan pihak-pihak terkait, yaitu BIB dan Direktorat Jendral Peternakan untuk lebih memperhatikan kebijakan operasional untuk meningkatkan kualitas semen beku. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 16 Desember 2013 sampai 15 April 2014 di SPIB, Pos IB dan Peternak di Kabupaten Wonosobo dan Purbalingga.rnMateri yang digunakan dalam penelitian ini adalah 128 mini straw. Alat yang digunakan adalah gelas, termos air, thermometer, pinset, tabung reaksi, mikroskop, object dan deck glass, bunsen, container, hand tally counter, penggaris kayu, gunting, formulir dan alat tulis. Bahan yang digunakan adalah eosin 2% dan 0,2% serta air bersuhu 37°C. Analisis yang digunakan adalah T-Test dengan 2 perlakuan, yaitu T0 sebagai perlakuan yang sesuai dengan SOP dan T1 sebagai perlakuan yang sesuai dengan pelaksanaan lapangan. Parameter yang diamati adalah Post Thawing Motility (PTM) dan persentase mati sperma.rnHasil pemeriksaan rata-rata terhadap PTM di SPIB, Pos IB, dan peternak yang mendapat perlakuan T0 dan T1 di Kabupaten Wonosobo berturut-turut adalah 65,00%, 69,16%, 63,12%, dan 62,5%, 57,91%, 42,22%, sedangkan di Purbalingga adalah 70%, 67,51%, 62,08% dan 70%, 64,16%, 54,68%. Rata-rata hasil pengamatan terhadap persentase sperma mati pada perlakuan T0 dan T1 di tiap titiknya di Kabupaten Wonosobo berturut-turut adalah 27,70%, 17,69%, 21,03% dan 33,69%, 29,48, 35,78% sedangkan di Purbalingga adalah 15,70%, 20,66%, 25,84% dan 20,73%, 24,36%, 31,17%. Handling straw di lapangan menggunakan suhu thawing yang kebanyakan menggunakan suhu dan durasi dibawah standar 37°C 30 detik. Tinggi container di kedua Kabupaten tidak memenuhi standar, kecuali pada Kecamatan Kutasari dengan perlakuan T1, yang memiliki tinggi container lebih dari 2/3 dari dasar container. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan nyata (p>0,1) antara perlakuan T0 dan T1 di Wonosobo dan Purbalingga.
RINGKASANrnAKBAR BISANTO. 23010110120096. Pengaruh Lama Periode Brooding dan Level Protein Ransum Periode Starter terhadap Nisbah Daging Tulang dan Massa Protein Daging Ayam kedu Hitam Umur 10 Minggu. (Pembimbing : EDJENG SUPRIJATNA dan RINA MURYANI).rnTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara lama periode brooding dan level protein ransum periode starter yang berbeda terhadap nisbah daging tulang dan massa protein daging ayam kedu hitam umur 10 minggu. Penelitian dilakukan pada hari Senin tanggal 22 Oktober 2013 hingga hari senin 31 Desember 2013 di Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang.rnMateri yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam kedu hitam unsex umur 1 hari sebanyak 108 ekor dengan bobot rata-rata 38,52 + 3,38 gram (CV= 4,70%). Pakan yang digunakan terdiri dari pakan starter dengan persentase PK (protein kasar) 18, 20 dan 22% dan finisher dengan persentase PK 16%. Energi metabolis (EM) pakan starter dan finisher sebesar 2800 kkal/kg. Bahan pakan yang digunakan dalam formulasi ransum adalah jagung, bekatul, bungkil kedelai dan tepung ikan. Brooding mengunakan pemanas dari lampu 100 watt, lampu diletakkan diatas litter dengan ketinggian ± 20 cm. Pengukuran suhu di lakukan 3 kali dalam sehari yaitu pada pukul 05.00 pagi, 13.00 siang dan 21.00 malam. Rancangan percobaan yang digunakan untuk lama periode brooding dan level protein ransum periode starter terhadap performans ayam kedu hitam dalam penelitian ini adalah menggunakan Split Plot. Lama brooding dijadikan sebagai petak utama yaitu yang terdiri dari B1: lama periode brooding 1 minggu, B2: lama periode brooding 2 minggu, B3: lama periode brooding 3 minggu. Anak petak pada rancangan ini adalah pemberian level protein (P) fase starter yang terdiri dari P1: pemberian ransum dengan kadar protein 18%, P2: pemberian ransum dengan kadar protein 20%, P3: pemberian ransum dengan kadar protein 22%. Rancangan dasar yang digunakan adalah RAL terdiri dari 3 ulangan dan tiap unit percobaan terdiri dari 4 ekor ayam. Parameter yang diamati meliputi bobot tulang, bobot daging, nisbah daging tulang, kandungan protein daging dan massa protein daging.rnHasil penelitian tidak terjadi interaksi antara faktor lama brooding dan level protein periode starter terhadap semua perameter. Faktor brooding tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter. Faktor level protein berpengaruh nyata terhadap bobot daging, nisbah daging tulang dan massa protein daging. Pemeliharaan di dataran rendah lama brooding cukup 1 minggu dengan level protein 22%.
RINGKASANrnANISA ESKA CAHYANTI. 23010110130156. 2014. Evaluasi Mikroskopis Kualitas Spermatozoa pada Penanganan Semen Beku Sapi Simmental Produksi BIB Ungaran di Titik Distribusi Kabupaten Wonosobo Dan Purbalingga (Microscopic Evaluation of Sperm Quality on Handling Frozen Semen of Simental Produced by CAI Ungaran of Frozen Semen Distribution Point at Wonosobo and Purbalingga Residences). (Pembimbing: ENNY TANTINI SETIATIN dan DAUD SAMSUDEWA).rnProduktivitas sapi potong terutama sapi Simental di Indonesia dapat ditingkatkan dengan teknologi bioreproduksi. Salah satunya adalah Inseminasi Buatan (IB) dengan menginseminasikan semen beku ke ternak betina. Semen beku didapat dari BIB kemudian didistribusikan ke SPIB II, Pos IB dan peternak. Distribusi yang panjang tersebut menyebabkan adanya kemungkinan penurunan kualitas spermatozoa dari semen beku akibat adanya kesalahan penanganan semen beku. Abnormalitas spermatozoa dan tudung akrosom utuh (TAU) merupakan evaluasi spermatozoa yang penting untuk menunjang keberhasilan perkawinan IB. Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada pengaruh dari proses distribusi dan penanganan semen beku terhadap keutuhan tudung akrosom dan abnormalitas spermatozoa pada semen beku produksi BIB Ungaran.rnTujuan penelitian yaitu mengetahui kualitas semen beku pada tiap titik distribusi serta mengevaluasi faktor-faktor yang berpotensi menurunkan kualitas semen beku baik dari Balai Inseminasi Buatan hingga ke akseptor di Kabupaten Wonosobo dan Purbalingga. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2013 hingga Maret 2014 di titik distribusi semen beku produksi BIB Ungaran di Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Purbalingga dan di Laboratorium Genetika, Pemuliaan dan Reproduksi, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.rnMateri yang digunakan dalam penelitian ini 128 straw sapi Simmental, larutan Williams, NaCl fisiologis 0,9%, air hangat 37oC, penggaris kayu, pinset, gelas ukur, termometer, stopwatch, tissue, gunting tabung reaksi, pipet tetes, mikroskop, object glass, deck glass¸ spuit, bunsen, hand tally, standing jar, box, dan alat tulis. Penelitian ini menggunakan rancangan paired sampel t-test. Perlakuan pada penelitian ini yaitu T0 = perlakuan sesuai SOP dan T1 = perlakuan sesuai keadaan di lapangan. Peremeter yang diamati adalah abnormalitas spermatozoa dan Tudung Akrosom Utuh (TAU).rnHasil penelitian yang diperoleh untuk abnormalitas spermatozoa dengan perlakuan sesuai SOP di setiap titik distribusi Kabupaten Wonosobo dan Purbalingga berturut-turut adalah 8,00%, 8,17% dan 9,52% kemudian 6,89%, 8,93% dan 10,24%. Nilai abnormalitas spermatozoa dengan perlakuan sesuai keadaan di lapangan di setiap titik distribusi Kabupaten Wonosobo dan Purbalingga berturut-turut adalah 9,2%, 10,83% dan 15,95% kemudian 7,81%, 10,34% dan 12,17%. Hasil penelitian untuk TAU dengan perlakuan sesuai SOP dirnvirnsetiap titik distribusi Kabupaten Wonosobo dan Purbalingga berturut-turut adalah 61,09%, 60,27% dan 57,40% kemudian 60,52%, 57,87%, dan 56,38%. Nilai TAU dengan perlakuan sesuai keadaan di lapangan di setiap titik distribusi Kabupaten Wonosobo dan Purbalingga berturut-turut adalah 55,74%, 54,19% dan 50,98% kemudian 58,93%, 56,95% dan 53,66%.rnSimpulan dari penelitian yaitu kualitas semen beku produksi BIB Ungaran di setiap titik distribusi Kabupaten Wonosobo dan Purbalingga dengan perlakuan sesuai SOP, mempunyai kualitas yang jauh lebih baik dari perlakuan sesuai keadaan di lapangan. Titik kritis penurunan kualitas semen beku terlihat pada titik distribusi terakhir yaitu peternak. Saran dari penelitian ini adalah perlunya penyeragaman alat dan handling semen beku sesuai SOP dalam kegiatan inseminasi buatan sehingga dapat mengurangi penurunan kualitas spermatozoa pada semen beku.
RINGKASANrnSRI LESTARI. 23010110120090. Income Over Feed Cost pada Pemeliharaan Ayam Lohman Unsexing yang Diberi Pakan Mengandung Gulma Air S. molesta (Income Over Feed Cost of Unsexed Lohman Rearing Fed with Duck Weed S. molesta Containing formula). (PEMBIMBING : AGUS SETIADI dan HERY SETIYAWAN).rnPermasalahan terbesar yang dihadapi oleh peternak salah satunya adalah mahalnya harga pakan, 60-70% biaya produksi merupakan biaya pakan. Cara untuk menekan biaya pakan yang merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi salah satunya adalah dengan mencari alternatif bahan pakan yang murah dan mudah didapatkan. Salah satu bahan alternatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah pemanfaatan gulma air S. molesta (kiambang).rnPenelitian ini dilaksanaka pada bulan 27 Agustus – 09 Oktober 2013 di kandang Itik dan Mentok (TikTok) Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang. Penelitian ini Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penambahan daun S. molesta pada ransum dapat meningkatkan Income Over Feed Cost dan dapat meningkatkan performa pada ayam Lohman unsexing.rnMateri yang digunakan adalah 100 ekor Day Old Chick (DOC) ayam Lohman Unsexing. Bahan penyusun ransum terdiri dari jagung kuning, bekatul, bungkil kedelai, tepung ikan, minyak, kapur, premix, methionin, lysin serta penambahan tepung S. molesta. Model rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dengan 5 ulangan, sehingga terdapat 20 unit percobaan, dan setiap unit percobaan terdiri dari 5 ekor ayam. Perlakuan terdiri dari T0 = ransum tanpa S. molesta, T1 = ransum dengan S. molesta 6%, T2 = ransum dengan S. molesta 12%, T3 = ransum dengan S. molesta 18%. Ransum hasil dari penyusunan diberikan pada saat periode starter dan finisher. Pengambilan data yaitu performa ayam, dan hasil penjualan.rnHasil penelitian menunjukan bahwa Income Over Feed Cost (IOFC) tertinggi terdapat pada ayam tanpa penambahan S. molesta namun pada pemberian S. molesta 6% tidak menurunkan nilai IOFC hasil IOFC mengalami penurunan pada level pemberian 12%, kandungan omega 3 paling tinggi pada pemberian S. molesta 6%. Kesimpulan penelitian Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa IOFC tidak berubah dengan adanya S. molesta hingga 6% dalam pakan, tetapi mulai turun pada level pemberian 12%. Namun demikian penjualan tidak menghargai kandungan omega 3 yang tinggi pada karkas.
RINGKASANrnPRIMASTA ADI PERMANA. 23010110110017. 2014. Pengaruh Taraf Protein dan Lisin Ransum Terhadap Performans Produksi Ayam Kampung (Effect of Dietary Protein and Lisin Level on the Performance Production of Native Chicken) (Pembimbing : UMIYATI ATMOMARSONO dan VITUS DWI YUNIANTO)rnPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji pemberian taraf protein dan lisin ransum yang sesuai terhadap performans ayam kampung, yang meliputi pertambahan bobot badan, konsumsi ransum dan konversi ransum, presentase karkas, dan meat bone ratio. Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah dapat menentukan dan memberikan informasi tentang taraf protein dan lisin ransum yang sesuai sehingga mampu menghasilkan ayam kampung yang produkstivitasnya optimal yang dipelihara secara intensif.rnMateri penelitian adalah anak ayam kampung sebanyak 240 ekor unsex mulai umur satu hari dengan bobot rata-rata 25,2 ± 1 g (CV 3,97 %). Bahan pakan yang digunakan adalah jagung kuning, bekatul, bungkil kedelai, minyak nabati, tepung ikan, premix, L-lisin HCL, metionin, CaCO3, vaksin dan vitamin. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial (2x3) dengan 4 ulangan, sehingga ada 24 unit percobaan masing-masing unit percobaan berisi 10 ekor ayam kampung dengan perlakuan P1L1 : Protein 17% + lisin 0,6 %, P1L2 : Protein 17% + lisin 0,7 %, P1L3: Protein 17% + lisin 0,8 %, P2L1 : Protein 14% + lisin 0,6 %, P2L2 : Protein 14% + lisin 0,7 %, P2L3 : Protein 14% + lisin 0,8 %. Data yang diperoleh selanjutnya diolah dengan analisis ragam uji F pada ketelitian 5% untuk mengetahui pengaruh perlakuan. Pengaruh nyata dari perlakuan dilanjutkan dengan perhitungan uji Duncan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dengan bantuan SPSS 16.rnHipotesis dari penelitian ini yaitu taraf protein rendah dan taraf penambahan lisin terkecil memberikan pengaruh terbaik terhadap pemanfaatan protein ayam kampung umur 12 minggu yang mencakup konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, dan kualitas karkas yang dihasilkan seperti presentase karkas dan meat bone ratio. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya pengaruh interaksi antara protein dan lisin ransum terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, presentase karkas, dan meat bone ratio. Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa penambahan lisin sintesis dalam ransum tidak dapat memberikan pengaruh yang berbeda dalam performans ayam kampung.
RINGKASANrnJESICA SIBARANI. 23010110110006. 2014. Persentase Karkas dan Non Karkas serta Lemak Abdominal Ayam Broiler yang Diberi Acidifier Asam Sitrat dalam Pakan Double Step Down (Percentage of Carcass and Non-Carcass and Abdominal Fat of Broiler Chickens were Given Acidifier Citric Acid in Feed Double Step Down) (Pembimbing : Luthfi Djauhari Mahfudz dan Vitus Dwi Yunianto. B. I.)rnAyam broiler memiliki potensi genetik yaitu daya produktivitas dan efisiensi pakan yang tinggi, hal ini dipengaruhi oleh pakan yang baik. Pakan yang baik pada ayam broiler sangatlah mahal, untuk menekan biaya produksi perlu dilakukan manajemen pemberian pakan, salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu menurunkan kadar protein pakan (step down). Step down dikahwatirkan mengakibatkan ayam broiler kekurangan asupan protein dan menghambat pertumbuhan pada ayam broiler, untuk mencegah hal tersebut perlu adanya penambahan feed aditif berupa asam organik (acidifier). Acidifier berupa asam sitrat mampu menurunkan pH dan meningkatkan BAL (bakteri asam laktat) dalam saluran pencernaan. Turunya pH dan meningkatnya BAL pada saluran pencernaan mengakibatkan meningkatnya pencernaan dan penyerapan nutrisi, sehingga ayam broiler mampu bertumbuh dengan baik, produktifitas karkas yang tinggi.rnPenelitian dilakukan pada bulan November – Desember 2013, bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan acidifier asam sitrat dalam pakan double step down (fase stater, dan finisher) terhadap bobot hidup, bobot dan presentasi karkas/ non karkas dan lemak abdominal. Manfaat penelitian ini diharapkan memberikan informasi mengenai penambahan acidifier berupa asam sitrat dalam pakan duoble step down terhadap presentasi karkas, non karkas dan lemak abdominal pada ayam broiler. Materi yang digunakan ayam broiler strain Lohmann MB 202 sebanyak 168 ekor terdiri 84 ekor jantan dan 84 ekor betina, umur 7 hari dengan bobot badan rata – rata 186,3 ± 0,68 gram (cv= 0,36). Pakan perlakuan yang terdiri dari jagung, bekatul, minyak nabati, bungkil kedelai, tepung ikan, CaCO3, dan tepung kulit kerang. Metode menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), dengan 7 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu: Pakan kontrol (tanpa double step down dan asam sitrat), pakan double step down tanpa asam sitrat, pakan double step down + jeruk nipis 0,8%, pakan double step down + asam sitrat sintetik 0,4; 0,8; 1,2; dan 1,6 %. Data yang diperoleh dianalisis ragam dengan uji F pada taraf 5% dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (P