Saat ini masih banyak pedagang kecil yang masih nakal dalam penggunaan pewarna tekstil di dalam jualan makanan maupun minumannya, hal tersebut sangat berbahaya bagi Kesehatan dikarenakan kandungan dalam pewarna tekstil tidak diperuntukan untuk tubuh. Umbi bit atau umbi bit merah dapat dijadikan solusi dari hal tersebut dikarenakan umbi bit adalah bahan pangan yang sangat bermanfaat. Banyak vitamin dan mineral yang terkandung dalam umbi bit, seperti Asam folat dan kalsium yang sangat bagus untuk ibu hamil, fosfor, zat besi, asam folat dan lain-lainnya. Selain itu umbi bit ini juga mengandung senyawa betalain yaitu sumber utama pewarna merah alami. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari variabel paling efisien pada proses ekstraksi umbi bit merah dengan metode Microwave Assisted Extraction (MAE) dalam ekstraksi asam folat, asam askorbat, betalain, dan betakarotene serta mengetahui kondisi ekstraksi yang paling optimal pada variasi pelarut dan daya microwave. Pengolahan data pada penelitian menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL). Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi kandungan asam folat, asam askorbat, betalain, dan betakaroten dari umbi bit merah (Beta vulgaris L.) menggunakan metode Microwave Assisted Extraction (MAE). Penggunaan MAE dipilih karena efisiensi energi, waktu, dan efektivitasnya dalam mengekstraksi senyawa aktif dibandingkan metode konvensional. Tiga jenis pelarut digunakan dalam variasi ekstraksi, yaitu aquades, etanol, dan kombinasi etanol dengan asam sitrat. Parameter yang divariasikan meliputi daya microwave (200, 400, dan 600 watt) dan jenis pelarut. Hasil ekstraksi dianalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis untuk menentukan kadar masing-masing senyawa. Hasil menunjukkan bahwa pelarut kombinasi etanol dan asam sitrat dengan daya microwave 600 watt memberikan hasil optimal untuk ekstraksi asam folat sebesar 1472,94 mg/100 g, sedangkan untuk asam askorbat hasil tertinggi tercapai pada daya 200 watt sebesar 175,09 mg/100 g. Penelitian ini menunjukkan bahwa metode MAE efektif untuk mengekstraksi senyawa bioaktif dari umbi bit merah dan berpotensi diaplikasikan sebagai sumber pewarna alami dan suplemen nutrisi.
PT Petrokimia Gresik merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dibidang produksi pupuk dan non pupuk. Pupuk yang diproduksi di PT Petrokimia Gresik antara lain Pupuk Urea, Pupuk ZA, Pupuk Fosfat (SP-36), Pupuk NPK, dan Petroganik. Sedangkan pada produksi non pupuk terdapat amoniak (NH3), Asam sulfat (H2SO4), Asam fosfat (H3PO4), Alumunium fluorida (AlF3), purified gypsum, dan gas hidrogen (H2).Departemen II A, Unit Phonska memproduksi Pupuk NPK atau yang biasa dikenal dengan Pupuk Phonska,Pupuk ini memiliki manfaat sebagai pemberi nutrisi pada tanah agar meningkatkan kualitas dan mempercepat pertumbuhan tanaman.Bahan baku yang digunakan untuk membuat pupuk phonska yakni ZA,urea, KCl, asam sulfat, asam fosfat, dan amoniak.Bahan pembantunya yakni coating oil dan pigmen warna.Proses pembuatan pupuk phonska terdiri dari lima tahapan, yaitu reaksi, granulasi, pengeringan, pengayakan, palapisan, dan scrubbing sistem. Pada plant phonska III telah dilengkapi instrumentasi dan pengendalian proses seperti pressure indikator control (PIC), temperature indicator control (TIC), flow indicator control (FIC), dan level indicator control (LIC) yang dapat diatur secara otomatis di dalam DCS Room (Distribute Control System). Start up dan Shut down pada pabrik phonska dibagi menjadi 2 yakni shut down terprogram (maintenance, cleaning) dan tidak terprogram (trouble). PT Petrokimia Gresik menggunakan sistem interlock dan logic untuk mengamankan alat agar tidak menimbulkan hal berbahaya yang tidak di inginkan. Pabrik Phonska III didukung oleh unit utilitas yang membantu dalam suppy bahan baku maupun listrik yakni terdapat Unit penyediaan air, Unit penyediaan steam, Unit penyediaan energi listrik, Unit penyediaan bahan bakar, dan Unit penyediaan instrument air dan plant air.
Tujuan dari pelaksanaan Magang di PG Madukismo adalah untuk mempelajari serta mengamati secara langsung seluruh kegiatan pabrik meliputi proses, laboratorium, penanganan limbah, peralatan, utilitas, serta manajemen pada PG Madukismo Yogyakarta. Pabrik gula yang didirikan pada awal tahun 1955, yang merupakan pabrik gula tertua di Jawa Tengah dan satu-satunya pabrik gula di Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu PT Madubaru pabrik gula Madukismo yang terletak 5 km Barat` Daya Yogyakarta tepatnya di Desa Padokan, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Pabrik gula Madukismo dari awal tahun berdiri hingga sekarang masih aktif memproduksi gula pasir rata-rata sebanyak 3000 ton per harinya, yang digunakan untuk kebutuhan gula dalam negeri dan kini telah dikelola oleh Rajawali Nusantara Indonesia. Proses pembuatan gula pada PG Madukismo dilakukan dalam lima stasiun, yaitu stasiun gilingan, stasiun pemurnian, stasiun penguapan, stasiun kristalisasi, stasiun pemutaran. Selain stasiun-stasiun tersebut juga terdapat sarana pendukung yaitu stasiun ketel, unit pengolahan limbah dan laboratorium analisa. Tahap prosesnya adalah sebagai berikut, tebu ditimbang terlebih dahulu kemudian diangkat ke stasiun gilingan. Pada stasiun pemurnian, nira mentah akan dipisahkan dari kotoran-kotoran yang terikut dalam nira dengan menggunakan proses sulfitasi, sedangkan nira jernih yang dihasilkan akan diuapkan pada stasiun penguapan sehingga akan dihasilkan nira kental. Nira kental masuk ke stasiun kristalisasi untuk menguapkan nira kental lebih lanjut sehingga didapatkan kristal-kristal gula, setelah itu masuk ke stasiun putaran untuk dipisahkan kristal dengan stroop yang kemudian kristal gula menuju ke stasiun penyelesaian dan penyimpanan.
Penggilingan clinker yang dilakukan pada unit finish mill merupakan tahap krusial dalam proses produksi semen karena mempengaruhi kehalusan dan kualitas akhir produk. Studi dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis efisiensi energi pada unit grinding mill pada finish mill di Plant 11 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, menggunakan metode neraca massa dan neraca panas dengan langkah menghimpun data primer berupa data operasi harian pada tanggal 21 Agustus 2024 dan data tambahan dari literatur. Analisis longitudinal diterapkan untuk memahami distribusi ukuran partikel sepanjang finish mill, menggunakan sampel yang diambil setiap meter di dua chamber pada kondisi operasi stabil. Hasil analisis menunjukkan total panas masuk sebesar 29.569.779,806 Kj/jam, dengan tingkat heat loss 14,77%, menghasilkan efisiensi panas sebesar 85,23%. Analisis longitudinal mengidentifikasi fluktuasi ukuran partikel di chamber kedua, yang disebabkan oleh variasi kondisi material dan kualitas bola penggiling. Rekomendasi peningkatan efisiensi meliputi optimalisasi kecepatan rotasi, pemilihan material liner dan steel ball yang tepat, serta inspeksi rutin. Kesimpulan menunjukkan bahwa unit finish mill memiliki efisiensi yang baik namun tetap perlu adanya peningkatan lebih lanjut pada kontrol parameter operasi dan kualitas bahan baku dapat meningkatkan stabilitas dan performa proses.
Grate cooler merupakan komponen vital dalam proses produksi semen yang berfungsi mendinginkan clinker dari suhu 1240°C hingga sekitar 100°C secara cepat untuk menjaga mutu dan efisiensi proses. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja cooling fan pada grate cooler Plant 8 PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. melalui perbandingan antara nilai actual blowing density dan suggested blowing density. Data aktual diperoleh melalui pengukuran langsung di lapangan menggunakan anemometer, sementara data desain diperoleh dari dokumen teknis pabrik. Hasil evaluasi menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara nilai aktual dan nilai desain, yang berdampak pada efisiensi pendinginan dan kualitas klinker. Beberapa fan memiliki debit udara lebih tinggi dari yang dibutuhkan, sementara yang lainnya lebih rendah, menyebabkan risiko overcooling atau undercooling. Solusi yang diusulkan meliputi penyesuaian bukaan damper, kecepatan putaran fan, hingga modifikasi impeller untuk mencapai efisiensi optimal. Penyesuaian ini bertujuan memastikan konsumsi energi yang efisien, menjaga kestabilan pendinginan, dan mempertahankan kualitas produk semen. Evaluasi berkala dan preventive maintenance disarankan sebagai bagian dari strategi peningkatan kinerja sistem secara keseluruhan.
Sterilisasi dengan ozon diterapkan untuk mempertahankan kesegaran berbagai buah dan sayuran karena tidak meninggalkan residu kimia, sehingga aman digunakan pada bahan pangan. Teknologi microbubble ozon ialah menggabungkan ozon dengan air, menghasilkan gelembung-gelembung kecil dengan ukuran 0,1-100 μm yang dapat meningkatkan efisiensi transfer ozon serta memperpanjang durasi kontak antara ozon dengan buah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas perlakuan microbubble ozon terhadap hasil pascapanen buah tomat beef (Solanum lycopersicum) guna memperpanjang umur simpan. Perlakuan microbubble ozon dilakukan dengan variasi konsentrasi ozon 0,05 ppm; 0,09; ppm dan 0,13 ppm dengan variasi waktu kontak selama 5 menit dan 10 menit. Pengamatan dilakukan selama 30 hari pengamatan, didapatkan hasil bahwa perlakuan pencucian dengan air ber-ozon mampu menjaga kesegaran dan mempertahankan kualitas umur simpan pada buah tomat terutama pada perlakuan 0,13 ppm selama 5 dan10 menit dengan penyimpanan pada suhu 15℃.
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Terletak di Citeureup Bogor, Jawa Barat. Pabrik ini bergerak di bidang produksi bahan bangunan, yaitu semen. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. memproduksi berbagai jenis semen, salah satunya adalah semen putih. Pada produksi semen putih Plant 5 terdapat unit raw mill dimana tahap ini merupakan proses pengeringan dan penggilingan bahan baku. Proses pengeringan bahan baku menggunakan alat rotary dryer. Pengeringan menggunakan gas panas bersuhu ± 400℃ berasal dari gas panas suspension preheater dan suhu outlet rotary dryer dijaga sekitar 180℃. Pada rotary dryer kadar air pada bahan berkurang dari 17% menjadi 1%. Dengan memperhatikan faktor tersebut, efisiensi penggunaan panas pada rotary dryer perlu diperhatikan dalam industri semen untuk mengetahui seberapa baik dan efisien alat digunakan. Hasil analisis menunjukkan total kebutuhan panas sebesar 5.883.787,82 kg/jam, dengan heat loss 8,69 %, menghasilkan efisiensi panas sebesar. 91,3 % Setelah dilakukan analisis diketahui bahwa desain alat rotary dryer terbuka pada bagian output yang terhubung secafra langsung dengfan belt conveyor. Hal tersebut menyebabkan panas pada rotary dryer dapat keluar ke lingkungan sehingga mempengaruhi proses pengeringan bahan baku. Solusi dari permasalahan tersebut adalah pemasangan rotor pada bagian output rotary dryer.