Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan pembuatan bioplastik dari pati kolang kaling dengan penambahan variasi plasticizer, yaitu gliserol, CMC (Carboxymethyl Cellulose), dan beeswax. Bioplastik merupakan alternatif ramah lingkungan yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap plastik berbahan dasar petrochemical. Pati kolang kaling dipilih sebagai bahan dasar karena ketersediaannya yang melimpah dan kandungannya yang kaya akan polisakarida. Penelitian ini mengeksplorasi pengaruh variasi plasticizer terhadap sifat fisik dan mekanik bioplastik, seperti ketahanan terhadap kelembaban, kelenturan, kekuatan tarik, dan degradasi. Metode yang digunakan meliputi pencampuran pati kolang kaling dengan plasticizer dalam berbagai konsentrasi, diikuti dengan proses pemanasan dan pengeringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan plasticizer dapat meningkatkan kelenturan dan mengurangi kerapuhan bioplastik, dengan gliserol memberikan hasil terbaik dalam hal fleksibilitas dan kekuatan tarik. Sebaliknya, beeswax memberikan peningkatan ketahanan terhadap kelembaban, sedangkan CMC berfungsi memperbaiki daya tahan bioplastik terhadap deformasi. Optimasi parameter pembuatan bioplastik ini memberikan peluang untuk pengembangan produk bioplastik yang lebih efisien dan ramah lingkungan, yang dapat diterapkan dalam berbagai industri, seperti kemasan dan bahan baku produk ramah lingkungan lainnya.
Pisang (Musa acuminata Cavendish) merupakan buah klimakterik yang memiliki masa simpan pascapanen pendek akibat pematangan cepat dan infeksi jamur Colletotrichum musae. Penelitian ini bertujuan mengembangkan pelapis alami berbasis karagenan yang diperkaya dengan bubuk kulit lemon (LPP) untuk meningkatkan kualitas buah dan memperpanjang masa simpan. Eksperimen dilakukan menggunakan desain faktorial dengan kombinasi karagenan 1%, 1,5%, dan 2% serta LPP 1%, 2%, dan 3%, dibandingkan dengan kontrol tanpa pelapis. Parameter yang diamati selama 25 hari penyimpanan meliputi kehilangan berat, perubahan warna, kekerasan, total padatan terlarut (TSS), dan aktivitas antijamur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelapis secara signifikan mengurangi kehilangan berat, memperlambat perubahan warna, mempertahankan kekerasan, menunda peningkatan TSS, dan menghambat pertumbuhan jamur. Kombinasi karagenan 1,5% dan LPP 2 g menunjukkan kinerja terbaik dengan kehilangan berat terendah, kualitas tekstur dan warna lebih terjaga, serta efek antijamur tertinggi. Hal ini menegaskan bahwa pelapis karagenan–LPP efektif sebagai alternatif alami, aman, dan ramah lingkungan untuk pengelolaan pascapanen pisang.
PT Pupuk Kujang merupakan salah satu perusahan yang berada di bawah naungan PT. Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) yang memproduksi pupuk maupun non pupuk. Perusahaan ini didirikan pada tanggal 9 Juni 1975 yang berlokasi di Cikampek, Jawa Barat yang dilaksanakan oleh Kellog Overseas Corporation (USA) dan Toyo Engineering Corporation (Japan). Kapasitas produksi yang dihasilkan PT. Pupuk Kujang sebesar 570.000 MT/tahun urea dan 330.000 ton/tahun ammonia. Proses pembuatan ammonia terdiri dari delapan tahapan yakni proses feed treating proses steam reforming, proses shift conversion, proses CO2 removal, proses methanasi, proses synthesis ammonia, proses pemurnian dan refrigerasi ammonia , proses hydrogen recovery. Alat utama terdiri dari Cobalt Molyhidrotreater, ZnO Guard Chamber, Primary Reformer, Secondary Reformer, Shift Corverter, Absorber, Stripper, Methanator dan Ammonia Converter. Dari hasil perhitungan, bahan baku yang digunakan berjumlah 20.741,381 kg gas alam dan menghasilkan ammonia sebanyak 20.258,975 kg dengan efisiensi produk sebesar 97,674%. Jumlah panas yang masuk sebesar 290.084.182,615 kkal dan jumlah panas yang dilepas adalah 3.887.385,466 kkal. Lalu panas yang hilang yaitu sebesar 1,34%. Utilitas Departemen Produksi 1A PT. Pupuk Kujang menyediakan sarana penunjang operasional Pabrik Ammonia 1A yang meliputi unit penyediaan air, unit penyediaan uap, unit penyediaan listrik, unit penyediaan udara, dan unit pengolahan limbah. Jenis limbah pada PT. Pupuk Kujang adalah limbah gas, limbah padat, dan limbah cair. Untuk meningkatkan tingkat efisiensi dalam pengendalian dan pengawasan mutu di dalam suatu pabrik, PT. Pupuk Kujang memiliki laboratorium analisa untuk menganalisa bahan baku, bahan setengah jadi, dan bahan jadi agar produk yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi standar yang ditentukan diantaranya analisa CO2, CH4 dan H2S serta penetapan Ammonia, penetapan % ammonia, dan uji konsentrasi CO2.
Sotong (Sepia officinalis) merupakan moluska yang termasuk kelas Cephalopoda (kaki hewan terletak di kepala) yang terdiri dari bagian kepala, selimut atau mantel dan tulang sotong yang terletak di dalam mantel. Sotong merupakan salah satu komoditas ekspor perikanan Indonesia yang memiliki nilai ekspor tinggi. Meningkatnya nilai eskpor juga berbanding lurus dengan meningkatnya produksi, sehingga limbah yang dihasilkan juga mengalami peningkatan, karena pada umumnya hanya pada bagian daging atau mantel yang menjadi produk sedangkan tulang sotong hanya menjadi limbah. Tulang sotong memiliki kandungan 50% mineral, 30% Ca dan 11% kitin. Pemanfaatan tulang sotong saat ini masih tergolong minim dan belum diolah secara maksimal, untuk itu pengelolaan tulang sotong menjadi kitosan menarik untuk diteliti. Selain sebagai solusi pengurangan limbah, pengelolaan tulang sotong menjadi kitosan juga dapat meningkatkan nilai jual dari tulang sotong dan kemajuan IPTEK. Kitin merupakan senyawa karbohidrat yang termasuk dalam polisakarida. Untuk memproduksi kitin dapat dilakukan dalam 3 tahap meliputi proses demineralisasi, deproteinasi dan depigmentasi. Untuk mengubah kitin menjadi kitosan dapat dilakukan dengan proses deasetilasi. Proses deasetilasi yaitu proses pelepasan gugus asetil menjadi amina dengan mereaksikan kitin dengan alkali berkonsentrasi tinggi dengan waktu yang relatif lama dan suhu tinggi. Beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas kitosan antara lain: konsentrasi alkali, suhu dan lama waktu ekstraksi. Oleh karena itu, pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil kualitas kitosan dari tulang sotong menggunakan alkali KOH dengan variasi perbedaan suhu (90,100,110)°C dan konsentrasi KOH (50,60 dan 70)% menggunakan metode RSM (Response Surface Metodology) untuk mengetahui kondisi optimum proses sehingga menghasilkan kitosan yang berkualitas.
Clinker cooler merupakan salah satu alat yang berfungsi melakukan pendinginan secara cepat (quenching) dari suhu 1000-1250 C hingga temperature 100 - 1200 C pada clinker yang keluar dari section kiln. Proses penurunan suhu yang cepat merupakan aspek krusial dalam menjaga mutu semen. Jika proses ini berlangsung terlalu lambat, akan terjadi perubahan pada ukuran mineral dalam clinker dan tidak dapat mempertahankan amorf klinker. Studi dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi kinerja Fan Grate Cooler di Plant 11 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, menggunakan metode perbandingan antara nilai Actual Blowing Density dan Suggested Blowing Density dengan langkah menghimpun data primer berupa data operasi harian pada tanggal 7 Agustus 2024 dan data tambahan dari literatur. Analisis Blowing Density diterapkan untuk mengetahui kebutuhan udara total yang harus di supply untuk mendinginkan klinker agar sesuai dengan spesifikasi pada saat keluar dari proses pendinginan. Hasil analisis menunjukkan data actual blowing density diperoleh cooling fan yang memiliki blowing density lebih rendah dari data design adalah 2S2, 3L, 3S, 4L, 5L, 4S, 6L, 5S, 7R, 6S, 9L, Sedangkan, fan lainnya memiliki nilai blowing density lebih besar dari data design. Solusi atas optimasi kinerja cooling fan pada Grate Cooler adalah dengan melakukan penyesuaian pada bukaan damper, kecepatan putaran fan, atau modifikasi impeller sehingga efisiensi dan performa cooling fan dapat ditingkatkan secara signifikan. Kesimpulan menunjukkan bahwa kinerja proses pendinginan klinker pada grate cooler di Plant 11 masih belum optimal, hal ini didasarkan pada hasil perhitungan yang menunjukkan bahwa nilai actual blowing density tidak sesuai dengan nilai suggested blowing density, di mana terdapat perbedaan nilai yang lebih besar atau lebih kecil dari yang direkomendasikan.
Penggunaan bahan bakar alternatif (alternative fuel) menjadi salah satu strategi penting dalam menekan biaya produksi dan mengurangi dampak lingkungan di industri semen. Laporan ini bertujuan mengevaluasi optimalisasi penggunaan bahan bakar alternatif pada alat Calciner SLC yang terintegrasi dengan Hot Disk Reactor (HDR) di Plant 6-11 PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. Metode yang digunakan meliputi analisis data operasional, pengukuran parameter proses, serta evaluasi performa sistem dengan variasi komposisi bahan bakar alternatif. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa input bahan bakar alternatif dapat ditingkatkan hingga 40.000 kg/jam secara layak, dengan mempertimbangkan efisiensi perpindahan panas yang masih dalam rentang optimal (21,69%), kadar oksigen berlebih (O₂ excess) tetap aman (3,17%), suhu operasi sesuai kebutuhan proses (912,12°C), serta waktu tinggal (residence time) yang cukup untuk pembakaran efektif. Rekomendasi ini sesuai dengan best practice industri semen dan didukung oleh berbagai studi ilmiah. Implementasi secara bertahap dengan pemantauan ketat pada parameter-parameter kritis disarankan untuk menjamin stabilitas proses dan kualitas produk.