Biskuit menjadi salah satu bentuk makanan ringan yang dapat dibawa dengan mudah karena ukurannya kecil dan masa kadaluarsanya cukup lama sehingga umum disukai oleh semua kalangan masyarakat. Namun, menurut data BPS penggunaan tepung terigu mengakibatkan peningkatan angka impor biji gandum dan meslin sebanyak 8,44 juta ton periode Januari – Agustus 2024. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh substitusi tepung kulit singkong (Manihot esculenta) dan penambahan pasta kurma terhadap aktivitas antioksidan serta mutu sensori biskuit. Limbah kulit singkong dipilih karena memiliki kandungan protein dan serat yang cukup sebagai tepung substitusi, sedangkan pasta kurma dipilih sebagai pemanis alami sekaligus sumber antioksidan. Penelitian dilakukan dengan variasi rasio tepung kulit singkong sebesar 1:3, 1:4, dan 1:9, kadar pasta kurma 20 g, 30 g, dan 40 g, serta suhu pemanggangan 100°C, 120°C, dan 130°C, berdasarkan rancangan Response Surface Methodology (RSM). Parameter yang diuji meliputi kadar air, abu, protein, serta uji aktivitas antioksidan metode DPPH, dan uji organoleptik (warna, aroma, rasa, dan tekstur). Hasil terbaik diperoleh pada formulasi dengan 1:4 tepung kulit singkong dan penambahan 40 g pasta kurma yang menunjukkan mutu sensori tertinggi berdasarkan penilaian panelis. Secara kimia, biskuit tersebut memiliki kadar air 2,52%, abu 1,86%, protein 5,37%, dan serat kasar 7,19%. Nilai IC50 dari aktivitas antioksidan sebesar 110,95 ppm, yang tergolong sangat kuat. Dengan hasil tersebut, produk ini memiliki potensi sebagai pangan fungsional rendah gluten dan ramah lingkungan.
Bioetanol merupakan salah satu bahan bakar nabati yang dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar minyak alternatif. Bioetanol memiliki prospek yang bagus karena memiliki bahan baku yang sangat melimpah di lingkungan salah satunya limbah kulit kakao. Hal ini dikarenakan limbah kulit kakao mengandung lignoselulosa yang merupakan bahan baku bioetanol generasi ke-2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi H2SO4 dan waktu fermentasi dari hasil pretreatment ozonolysis. Tahapan pertama pembuatan bioetanol yaitu pretreatment. Pretreatment yang dilakukan untuk menguraikan senyawa lignin yang mengikat selulosa adalah proses ozonolysis. Proses ini sangat efektif menguraikan lignin dan tidak menghasilkan residu beracun. Kemudian dilakukan proses hidrolisis menggunakan asam sulfat (H2SO4) untuk memecahkan polisakarida lignoselulosa yaitu selulosa menjadi glukosa dan dilakukan fermentasi dengan variasi waktu fermentasi yang optimal. Analisa pada penelitian ini meliputi Analisa kadar lignin, Analisa kada glukosa, Analisa densitas dan Analisa kadar etanol.
PT Indo Bharat Rayon Cikampek ialah salah satu industri kimia penghasil CS2. dimana bahan ini sangat dibutuhkan untuk dijadikan serat-serat rayon sebagai bahan baku industri pakaian. Pada proses pembuatannya terdapat unit purifikasi CS2 untuk menghasilkan CS2 dengan kemurnian tertinggi melalui alat distilasi. Proses distilasi inilah sebagai metode kunci dalam pemisahan campuran zat, terutama dalam industri kimia. Sehingga sebagai seorang engineer harus bisa mendesain alat distilasi agar dapat beroperasi dengan baik. Maka dari itu, pada laporan magang ini memiliki tugas khusus yang berfokus pada simulasi reflux ratio pada proses distilasi unit purifikasi karbon disulfida (CS2) di PT Indo Bharat Rayon CS2 Plant Cikampek menggunakan perangkat lunak Aspen HYSYS. Tujuan utama dari laporan magang ini adalah selain mengetahui semua proses produksi CS2 yang ada di PT Indo Bharat Rayon, diharapkan untuk bisa menganalisis pengaruh variasi reflux ratio terhadap efisiensi pemisahan dan kualitas produk akhir. Simulasi dilakukan dengan mendefinisikan kondisi operasi, karakteristik material, dan parameter desain kolom distilasi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa peningkatan reflux ratio meningkatkan kemurnian produk CS2, namun juga berimplikasi pada konsumsi energi dan waktu operasional. Analisis ini memberikan wawasan yang mendalam mengenai optimasi proses distilasi, sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi biaya operasional di industri. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan teknologi pemisahan di sektor kimia, khususnya dalam pengolahan CS2.
Penggunaan bahan bakar diesel fosil memberikan dampak buruk terhadap lingkungan, seperti perubahan iklim, gas rumah kaca, dan polusi udara. Tujuan dari adanya penelitian ini yakni untuk mengembangkan metode sintesis biodiesel dengan reaksi transesterifikasi menggunakan katalis heterogen berbahan kalsium oksida (CaO) dari cangkang kerang dara dan dilanjutkan dengan ozonolisis dalam berbagai variabel operasi yang diharapkan dengan menggunakan gabungan metode ini dapat menghasilkan produk biodiesel yang lebih optimal yang dapat menggantikan bahan bakar diesel fosil. Penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi laju alir, kecepatan pengadukan, dan waktu ozonolisis, serta mengkaji pengaruhnya terhadap produk biodiesel. Proses ozonolisis menghasilkan biodiesel dengan viskositas optimal (2,08-2,97 cP) yang terutama dipengaruhi oleh kecepatan pengadukan, serta titik nyala yang memenuhi standar (154-172°C) dengan waktu ozonolisis sebagai faktor penentu utama. Kadar air produk (0,0179- 0,0578%) berada dalam batas standar, namun terjadi peningkatan densitas (0,909- 0,927 g/mL) akibat pembentukan senyawa polar selama proses. Kendala utama terletak pada bilangan asam yang masih tinggi (3,59-4,15 mg KOH/g) karena pembentukan asam karboksilat. Analisis menunjukkan laju alir ozon merupakan parameter paling kritis yang mempengaruhi densitas dan kadar air, sementara waktu reaksi berperan penting dalam menentukan titik nyala. Temuan ini mengindikasikan perlunya optimasi lebih lanjut terhadap kondisi ozonolisis, khususnya dalam mengendalikan pembentukan senyawa asam untuk memperoleh biodiesel yang memenuhi seluruh persyaratan kualitas.