PT. Semen Gresik Tbk. yang berlokasi di Desa Kajar, Kec, Gunem, Kab. Rembang, Jawa Tengah. Pabrik ini adalah perusahaan yang memproduksi semen jenis Ordinary Portland Cement (OPC), Pozzolan Portland Cement (PPC), dan Portland Composite Cement (PCC). PT. Semen Gresik Tbk. memiliki kapasitas produksi sebesar 3 juta ton/tahun. Salah satu alat utama pembuatan semen yaitu rotary kiln. Kiln memerlukan bahan bakar berupa batu bara yang telah dihaluskan, dikenal sebagai pulverized coal. Peggunaan batu bara pada pabrik semen akan menimbulkan emisi CO2 yang disebabkan pembakaran bahan bakar fosil (batu bara). Selain menyebabkan emisi yang tinggi Batu bara juga mempunyai kekurangan yaitu sifatnya yang tidak terbarukan sehingga keberadaannya suatu saat akan habis. Limbah biomassa merupakan alternatif yang bisa digunakan dalam blending batubara. Karena keberadaannya sebagai limbah masih kurang mendapatkan perhatian sehingga dapat menimbulkan masalah bagi lingkungan. Disamping itu penggunaan limbah biomassa dalam blending batubara dapat meningkatkan nilai ekonomis limbah dan mereduksi penggunaan bahan bakar batu bara. Setelah dilakukan trial bonggol jagung yang dilakukan di feed coal terdapat bonggol jagung yang tidak sempurna dalam proses grinding, ada beberapa bonggol jagung pada proses grinding menjadi gepeng dan tidak hancur dengan ukuran halus, akan tetapi hasil produk mix antara bonggol jagung dengan pulverized tidak menyebabkan terjadinya blocking di equipment injection system. Kualitas produk mix bonggol jagung juga tidak terdapat penurunan kualitas dan masih masuk standart dari QC. Kemudian jika dilihat dari perhitungan cost trial bonggol jagung jika diapilkasikan selama satu tahun mengalami keutungan sebesar Rp 1.423.271.207/ tahun. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa trial bonggol jagung dapat mensubsitusi penggunan bahan bakar batu bara dan mengurangi konsumsi biaya pabrik.
Dalam produksi pupuk Super Phosphate–36 hitam di PT. Petrokimia Gresik, bahan baku utama yang digunakan adalah batuan fosfat (phosphate rock), asam fosfat (H3PO4), dan asam sulfat (H2SO4). Batuan fosfat, yang diimpor dari berbagai negara seperti Peru, Yordania, dan Mesir, berfungsi sebagai sumber utama fosfor dalam produksi pupuk ini. Selain itu, pigmen hitam (carbon black) digunakan sebagai bahan tambahan untuk memberikan warna hitam pada produk. Upaya telah dilakukan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pigmen hitam ini dengan memodifikasi alat, seperti Screw Feeder. Proses produksi pupuk SP–36 hitam melibatkan beberapa tahapan, termasuk penghalusan batuan fosfat, pencampuran asam, proses reaksi, granulasi, serta pengantongan pupuk SP–36 hitam, semuanya mengikuti peraturan ketat untuk memastikan kualitas produk sesuai standar. Pabrik produksi pupuk SP–36 juga memberikan perhatian pada pengendalian polutan dan meminimalkan dampak lingkungan. Unit utilitas mendukung operasi produksi, dan laboratorium perusahaan menjalankan peran penting dalam menjaga kualitas produk serta memantau dampak lingkungan, dengan tiga laboratorium utama yang beroperasi sesuai standar ketat.
Virgin Coconut Oil (VCO) merupakan minyak kelapa murni yang diperoleh dari daging kelapa segar tanpa pemanasan tinggi atau bahan kimia, dan dikenal memiliki kandungan asam laurat serta senyawa bioaktif yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengulas berbagai metode produksi VCO, termasuk fermentasi, enzimatis, pemancingan minyak, pemanasan bertahap, dan metode tradisional, untuk menentukan teknik paling optimal berdasarkan rendemen, kadar air, asam lemak bebas (FFA), serta stabilitas mutu. Metode fermentasi dengan ragi tempe terbukti menghasilkan rendemen tertinggi (30,66%) dan kualitas terbaik, dengan kadar air dan FFA yang sangat rendah. Sementara metode enzimatis dan pemancingan menunjukkan efisiensi waktu namun memerlukan pengembangan lebih lanjut dalam pengendalian kadar air dan kestabilan. Hasil studi ini merekomendasikan metode fermentasi sebagai pendekatan terbaik untuk produksi VCO berkualitas tinggi, terutama dalam skala industri kecil dan menengah.
PT. Firmenich Aromatics Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perisa atau flavor yang didirikan pada tanggal 25 Oktober 2013 berlokasi di Karawang, Jawa Barat. PT Firmenich Aromatics Indonesia terdapat tiga unit yaitu unit Continuos Durarome Line 3 yang memproduksi perisa berupa Durarome® , lalu ada unit Pilot Plant yang memproduksi perisa berupa Flexarome® dan Spray Dry® , dan yang terakhir merupakan unit Meat Reaction yang memproduksi Meat Paste® . Perusahaan ini memproduksi perasa dengan teknologi flavor encapsulated untuk menghasilkan produk yang memiliki waktu simpan yang lebih lama. Proses produksi Durarome® menggunakan teknologi berupa Hot Melt Extrusion di mana hasilnya nanti akan berupa perasa yang sudah tersalut atau terenkapsulasi yang berbentuk butiran padat dan dapat digunakan hingga 2-4 tahun.
Unit RFCC pada PT Pertamina RU IV Cilacap memiliki peran penting dalam meningkatkan efisiensi dan kualitas produk yang dihasilkan oleh kilang, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan residu hidrokarbon yang sebelumnya kurang bernilai. Unit ini terdiri dari beberapa bagian utama yang saling mendukung dalam proses perengkahan dan pemurnian produk. Diantaranya adalah Unit RFCC (101) sebagai tempat utama proses perengkahan katalitik dan Unit Gas Concentration (102) untuk memisahkan dan mengkonsentrasikan gas hasil perengkahan. Main Air Blower FCC (101-K-501) dan Wet Gas Compressor (102-K-501) merupakan komponen penting pada unit 101 dan 102 RFCC. MAB berfungsi memasok udara dalam jumlah besar ke regenerator untuk membakar kokas yang menempel pada permukaan katalis dan WGC berfungsi untuk meningkatkan tekanan gas yang masuk. Efisiensi kompresor MAB dan WGC dianalisis dengan adanya data lapangan yang selama satu tahun yaitu dimulai tanggal 1 November 2023 sampai dengan 31 Oktober 2024. Data lapangan yang diketahui mencakup laju aliran suction dan discharge, pressure suction dan discharge, serta temperature suction dan discharge. Efisiensi kompresor akan dihitung secara politropik dan adiabatik. Hasil dari analisis ini akan memberikan wawasan bagi penulis dan PT. Pertamina RU IV dalam mengoptimalkan operasional kompresor MAB dan WGC, serta memastikan bahwa kompressor bekerja secara optimal dan dapat memperpanjang umur kompresor, mengurangi frekuensi perawatan, serta meningkatkan kestabilan operasional sistem secara keseluruhan.
Meningkatnya konsumsi pada semen akan membuat industri memaksimalkan produksi untuk memenuhi permintaan konsumen. Industri semen di Indonesia yang salah satunya adalah PT.Indocement Tunggal Prakarsa Tbk., dengan kapasitas produksi sebanyak 24.500.00 ton/tahun. Terdapat produk dari PT. ITP Tbk, diantaranya ada Ordinary Portland Cement (OPC) Tipe I, Ordinary Portland Cement (OPC) Tipe II “Medium Sulfate Resistance”, Ordinary Portland Cement (OPC) Tipe V “High Sulfate Resistance”, dan Portland Composite Cement (PCC). Proses produksi semen PT. ITP, Tbk yaitu kering dengan tahapan proses penyediaan bahan baku, pengeringan dan penggilingan bahan baku, homogenisasi, pembakaran tepung baku menjadi clinker, pendinginan clinker, penggilingan akhir serta pengepakan semen. Pada PT. ITP Tbk, bahan baku yang digunakan adalah limestone, sandyclay. Clay cprrective, dan irond sand. Terdapat bahan aditif berupa gypsum, trass, dan limestone additve. Dalam mencapai target produksi, PT. ITP Tbk perlu memperhatikan proses yang ada salah satunya pada pengolahan clinker pada alat rotary kiln. Perhitungan yang dilakukan untuk menghitug neraca panas pada rotary kiln dimana hasil perhitungan akan mendapatkan nilai effisiensi dari unit kiln 69% dan panas yang hilang terhitung sebesar 31%.
Minyak kemiri (Aleurites moluccana) merupakan minyak nabati yang kaya akan asam lemak tak jenuh, terutama omega-3 dan omega-6, yang memiliki berbagai manfaat. Namun, minyak ini sangat rentan terhadap oksidasi, menyebabkan perubahan sifat sensoris, ketengikan, serta penurunan nilai gizi dan fungsionalitasnya. Selain itu, minyak kemiri memiliki sifat hidrofobik dan volatilitas tinggi, yang menyulitkan penggunaannya dalam berbagai formulasi produk. Oleh karena itu, diperlukan teknologi enkapsulasi untuk meningkatkan stabilitas oksidatif, memperpanjang umur simpan, serta mempermudah aplikasi minyak kemiri dalam produk berbasis air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi maltodekstrin dan gum arab pada stabilitas minyak kemiri (aleurites moluccana) yang terenkapsulasi. Enkapsulasi minyak kemiri dilakukan dengan variasi kandungan padatan (solid content) sebesar 50% dan 60%. Analisis dilakukan terhadap droplet size emulsi, efisiensi enkapsulasi, kadar air, stabilitas oksidatif melalui bilangan peroksida, uji bilangan FFA serta karakteristik morfologi serbuk minyak kemiri menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM). Pengamatan stabilitas produk dilakukan pada hari ke-0, 5, 10, 20, dan 30 dengan penyimpanan pada suhu 25°C.