PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk., merupakan salah satu perusahaan semen terbesar di Indonesia dengan merk dagang “Tiga Roda”. Memiliki 14 pabrik yang terletak di Citeureup-Bogor, Tarjun-Kalimantan Selatan dan Palimanan-Cirebon. Dengan jumlah pabrik tersebut, Indocement memiliki kapasitas produksi semen mencapai 26,6 juta ton/tahun. PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk., memproduksi 6 jenis semen Portland Cement (OPC), Oil Well Cement (OWC), White Cement, Portland Composite Cement (PCC), dan TR30 White Mortar. Produk semen dipasarkan dengan menggunakan karung sak atau menggunakan tangka truk semen. Secara umum, proses pembuatan semen di PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk., menggunakan proses kering dengan 5 tahap pengolahan yaitu penambangan dan penyediaan bahan baku (Mining Unit), tahap pengeringan dan penggilingan bahan baku (Raw Mill Unit), tahap pembakaran tepung baku dan pendinginan klinker (Burning Unit), tahap penggilingan akhir (Finish Mill Unit) dan tahap pengantongan semen (Packing Unit). Pada proses kering biaya operasi yang dikeluarkan jauh lebih kecil dibandingkan proses lainnya. Peralatan utama dalam proses produksi diantaranya Suspension Preheater dan Rotary Kiln. Peralatan produksi yang digunakan mulai dari proses penggilingan awal hingga penggilingan akhir.
Kacang merah (Vigna angularis) merupakan tanaman yang mudah untuk dijumpai di Indonesia. Biji kacang merah memiliki kandungan pati dan serat yang cukup tinggi untuk dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan plastik biodegradable. Pemanfaatan biji kacang merah ini dapat menjadi salah satu solusi dalam mengurangi limbah plastik yang sulit terurai atau membutuhkan waktu ratusan tahun untuk dapat terurai. Pada penelitian ini akan dikaji pembuatan plastik biodegradable dari biji kacang merah degan penggunaan variasi yaitu konsentrasi pati dari kacang merah, volume sorbitol, dan suhu pengeringan. Kemudian akan dianalisa dengan pengujian ketahanan air, ketahanan panas, ketebalan plastik, dan kemampuan biodegradasi.
PT Lotte Chemical Titan Nusantara merupakan bagian dari Lotte Group Korea Selatan. Perusahaan ini memproduksi polyethylene, khususnya jenis LLDPE (Linear Low Density Polyethylene) dan HDPE (High Density Polyethylene). Laporan ini menunjukkan bahwa Train 2, yang memproduksi HDPE, memiliki kapasitas produksi sebesar 125.000 ton per tahun. Proses produksi polyethylene di PT Lotte Chemical Titan Nusantara menggunakan katalis Chromium. Proses ini meliputi polimerisasi dalam alat utama pabrik yakni Fluidized Bed Reactor, dimana terjadi reaksi antara Ethylene, hydrogen, katalis Chromium, ko-katalis TnOA (Tri- normal Octyl Aluminium), dan co-monomer (hexene), menjadi polyethylene melalui proses polimerisasi dengan teknik fluidisasi dan proses ekstrusi yang mengubah polyethylene powder menjadi pelet melalui proses pemanasan. Utilitas untuk menunjang produksi di PT Lotte Chemical Titan Nusantara meliputi penyediaan air, penyediaan energi listrik, penyediaan steam, penyediaan udara tekan, dan penyediaan bahan bakar. Produk yang dihasilkan, dilakukan pemantauan dan pengujian terhadap analisa Ethylene, analisa hydrogen, analisa nitrogen, analisa melt index, analisa densitas, analisa aditif dan residu katalis, analisa keburaman plastik oleh bagian laboratorium PT Lotte Chemical Titan Nusantara. Berdasarkan perhitungan tugas khusus yakni efisiensi Primary Cooler (2- E-400) yang didapatkan sebesar 86,053%; 85,714%; dan 85,755%. Sedangkan efisiensi Final Cooler (2-E-401) yang terhitung yaitu, 79,126%; 78,924%; dan 77,519%. Efisiensi yang diperoleh sudah maksimal pada 2-E-400 sedangkan pada 2-E-401 belum maksimal, hal ini disebabkan adanya fouling atau plug. Rata – rata Rd pada 2-E-400 adalah 0,0098 hr.ft2 .F/Btu dan nilai Rd 2-E-401 adalah 0,00167, sedangkan Rd desain adalah 0,0001 hr.ft2 .F/Bt. Nilai Rd akibat fouling yang berasal dari fines yang terbawa dalam gas keluaran dari Fluidized Bed Reactor (2-R-400).
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan dan mengoptimasi formulasi liptint berbahan dasar alami dari buah bit (Beta vulgaris L.) dan daun waru (Hibiscus tiliaceus L.) dengan tambahan minyak biji alpukat sebagai fase minyak. Formulasi liptint terdiri atas dua fase, yaitu fase minyak yang meliputi minyak biji alpukat, cetyl alcohol, lesitin kedelai, dan ZnO (pada variabel tertentu), serta fase air yang terdiri dari aquadest, ekstrak bit, ekstrak daun waru, dan tween 80. Proses homogenisasi dilakukan dengan variasi lama pengadukan, kecepatan pengadukan, dan rasio ekstrak, yang dioptimasi menggunakan metode Response Surface Methodology (RSM) dalam 16 run. Produk liptint yang dihasilkan kemudian diuji karakteristik fisik dan kimianya meliputi densitas, viskositas, pH, kadar betasianin, kadar antosianin, dan nilai sun protection factor (SPF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi terbaik diperoleh pada variabel ke-6 dengan rasio ekstrak 4:1, kecepatan pengadukan 5.000 rpm, dan waktu homogenisasi selama 10 menit. Pada kondisi ini, diperoleh kadar betasianin sebesar 0,0129%, kadar antosianin sebesar 0,0590%, dan nilai SPF sebesar 18,1 yang masuk dalam kategori proteksi ultra. Formulasi ini menunjukkan potensi besar dalam pengembangan liptint alami dengan manfaat fungsional sebagai antioksidan dan pelindung sinar UV.
Tanaman jahe (Zingiber officinale) merupakan tanaman tahunan dari famili Zingiberaceae yang banyak dibudidayakan di wilayah tropis Asia, terutama untuk diambil rimpangnya. Jahe (Zingiber officinale) dikenal sebagai bahan pengobatan tradisional, rempah-rempah, penyedap, dan suplemen kesehatan, karena kandungan senyawa bioaktifnya, terutama senyawa fenolik gingerol dan shogaol. Senyawa tersebut memiliki berbagai manfaat kesehatan seperti antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, dan antikanker. Keterkaitan antara gingerol dan shogaol dapat memberikan efek biologis sehingga pemisahan dan ekstraksi kedua senyawa tersebut dari jahe bisa dimanfaatkan untuk aplikasi industri terutama dibidang kesehatan. Metode pemisahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode ekstraksi air subkritis dengan pretreatment UV-C. Dari data hasil ekstraksi senyawa gingerol dan shogaol pada jahe (Zingiber officinale var. Amarum) akan dianalisis menggunakan parameter nilai R2 adjusted. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pemisahan senyawa gingerol dan shogaol pada jahe (Zingiber officinale var. Amarum) menggunakan ekstraksi air subkritis dengan pretreatment UV-C dan menentukan pemodelan kinetik hasil ekstraksi air subkritis untuk senyawa gingerol dan shogaol pada jahe (Zingiber officinale var. Amarum) dengan metode kinetic model. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan efisiensi ekstraksi senyawa bioaktif dari jahe di bidang kesehatan. Peningkatan daya UV-C dan waktu ekstraksi mempercepat degradasi 6- Gingerol dan 6-Shogaol, dengan penurunan lebih besar pada 6-Gingerol. Model kinetika orde 2 paling sesuai menggambarkan laju degradasi, terutama untuk 6- Shogaol, dengan R2 lebih tinggi dari orde 1.
PT Kilang Pertamina Internasional RU IV Cilacap adalah salah satu kilang minyak terbesar di Indonesia, yang berlokasi di Cilacap, Jawa Tengah. Kilang ini memainkan peran vital dalam memenuhi kebutuhan energi nasional dengan kapasitas pengolahan yang mencapai sekitar 348.000 barel per hari, menjadikannya kilang terbesar dalam jaringan Refinery Unit (RU) Pertamina. Kilang Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) di Pertamina RU IV Cilacap merupakan unit yang dirancang untuk meningkatkan nilai ekonomi residu minyak dengan mengonversinya menjadi produk bernilai tinggi seperti bensin, LPG, dan olefin. Unit RFCC di Cilacap memiliki kapasitas produksi yang signifikan dan dilengkapi dengan teknologi canggih yang memungkinkan proses pemecahan molekul besar residu minyak menjadi produk yang lebih ringan dan bernilai komersial. Pada Kerja Praktik ini, kami difokuskan pada studi dan analisis desain serta kinerja Heat exchanger 101-E-523 A/B, yang memiliki kapasitas tube sebesar 60.000 kg/jam dan beroperasi di Unit 101 Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) di Kilang Pertamina RU IV Cilacap. Heat exchanger ini memiliki peran penting dalam proses pada kilang RFCC, yang bertujuan mengonversi residu minyak menjadi produk bernilai tinggi, seperti bensin dan olefin. Dalam rangka meningkatkan efisiensi dan kinerja operasi, kerja praktik ini akan mengeksplorasi aspek-aspek teknis dari heat exchanger, termasuk distribusi panas, pengendalian fouling, dan optimisasi proses. Hasil dari kerja praktik ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya peningkatan operasional dan perawatan peralatan di kilang.