Kasus Diabetes Melitus di Indonesia sangat tinggi mencapai 10,9% dengan rata rata usia penderita 20-79 tahun. Diabetes Melitus tipe 2 merupakan penyakit gangguan metabolik kronis ditandai adanya kenaikan gula darah yang disebabkan oleh kelenjar pankreas dalam tubuh tidak dapat memproduksi insulin. Sediaan obat herbal dikembangkan karena berpotensi dapat terbebas dari efek samping penggunaan obat sintetis. In silico study docking molecular dikembangkan sebagai keterbaruan teknologi komputasi guna memprediksi interaksi senyawa obat berupa protein target. Sediaan obat herbal dalam bentuk nanoemulsi bertujuan supaya efektif dalam penghantaran senyawa obat ke daerah infeksi di dalam tubuh melalui oral. Kebanyakan dalam industri farmasi memakai etanol 96% sebagai ko-surfaktan. Namun etanol 96% tidak dianjurkan untuk penggunaan oral karena toksisitasnya. Oleh karena itu, diperlukan propilenglikol sebagai ko-surfaktan karena menghasilkan daerah nanoemulsi yang besar dengan perbandingan surfaktan dan ko-surfaktan terbaik yaitu tween 80 dan propilen glikol 1:9. Pada penelitian ini, tahap pembuatan nanoemulsi ini diawali dengan ekstraksi senyawa Proanthocyanidin kayu manis dan Thymoquinone biji jintan hitam dengan metode pemanasan, selanjutnya pembuatan nanoemulsi dengan penambahan surfaktan, ko-surfaktan, bahan penyalut dengan metode Pembentukan nanoemulsi homogenisasi metode homogenisasi dengan High Shear Stirring menggunakan alat rotor stator Ultra-Turrax. Setelah mendapatkan nanoemulsi obat diuji dengan parameter berupa warna transparan, lapisan stabil, droplet berukuran 1-100 nm, dan bau normal tidak asam. Penentuan variabel dalam penelitian ini menggunakan Response Surface Methodology (RSM). Nanoemulsi yang dihasilkan diuji karakteristiknya dengan uji densitas, viskositas, stabilitas fisik, pH, ukuran droplet, persen transmitan yang dijelaskan secara deskriptif dengan membandingkan hasil pada syarat mutu. Kata Kunci : High Shear Stirring, Nanoemulsi, Proanthocyanidin, RSM, Thymoquinone
PT Pupuk Kalimantan Timur adalah salah satu Badan Usaha Milik Negara yang merupakan anak perusahaan Pupuk Indonesia sebagai produsen pupuk urea dan NPK terbesar di Asia Tenggara. PT Pupuk Kalimantan Timur memiliki 13 pabrik diantaranya 5 pabrik Ammoniak. 5 pabrik urea, dan 3 pabrik NPK. Primary reformer (101-B) merupakan salah satu alat utama pada pabrik Ammonia untuk memproduksi gas proses (H2, CO, dan CO2) melalui reaksi methane steam reforming terhadap bahan baku yaitu gas alam dan steam (H2O). Primary terdiri dari dua section yaitu radiant section dan convection section. Kebutuhan energi untuk proses harus sesuai dengan sumber energi yang tersedia. Efisiensi energi berguna untuk mengurangi biaya energi, mengurangi resiko kekurangan suplai energi, mengurangi emisi gas karbon di lingkungan, dan meningkatkan keuntungan perusahaan. Reaksi reforming merupakan reaksi endothermis yang membutuhkan panas. Panas disuplai dari pembakaran fuel gas dan udara di radiant section. Panas sisa dimanfaatkan untuk pemanasan coil di convection section. Performance suatu pabrik akan mengalami penurunan sebanding dengan waktu pabrik beroperasi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, suatu pabrik akan melakukan Turn Around (TA) secara berkala agar performanya membaik kembali. Efisiensi Primary Reformer lebih baik pada saat setelah TA (20/1/2023) yaitu 95,865% dibandingkan sebelum TA (5/7/2022) yaitu 94,748%. Burner yang digunakan yaitu arch burner, tunnel burner, dan superheater burner. Panas total yang dilepaskan flue gas di convection section Primary Reformer Kaltim-5 sebelum TA yaitu 161,325 Gcal/hr dan sesudah TA yaitu 161,341% Panas total yang diserap coil Heat Exchanger di convection section yaitu 139,282 Gcal/hr dan 139,60 Gcal/hr. Sekitar 81-84% panas dimanfaatkan untuk pertukaran panas di 7 coil. Perlu dijaga kualitas bahan baku pada treatment awal penghilangan sulfur, menjaga suhu dan tekanan agar CH4 leak 29%, dan dapat dilakukan pembersihan pengotor kerak atau karat saat Turn Around. Kata Kunci: Burner, Coil, Convection, Primary Reformer, Turn Around
Proyek Pembangunan Jembatan CH Tajum Karangbawang Kabupaten Banyumas merupakan proyek pembuatan duplikasi jembatan CH (Callendar Hamilton) yang dibangun oleh PT. Bukaka Teknik Utama Tbk. Proyek ini dibangun untuk menghubungkan Jakarta ke Purwakarta dari sisi selatan. Proyek Pembangunan Jembatan ini memiliki panjang keseluruhan 130 m dengan jenis pondasi borepile. Peninjauan dilakukan pada struktur bawah Jembatan Tajum CH Tajum Karangbawang, Kabupaten Banyumas. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan laporan ini adalah dengan cara observasi langsung di lapangan, wawancara dengan pihak proyek, melihat dan memahami gambar kerja, data proyek, dan studi pustaka. Adapun tinjauan khusus dalam kerja praktik ini berfokus pada stuktural bawah bangunan jembatan yaitu pier dan metode borepile, dengan meninjau proses pekerjaan tiap-tiap objek tersebut. Dari hasil pengamatan didapatkan data-data proyek, metode pekerjaan struktural, dan permasalahanpermasalahan yang terjadi pada proyek tersebut. Dengan adanya kegiatan kerja praktik ini dapat disimpulkan bahwa sangat bermanfaat bagi mahasiswa untuk mendapatkan ilmu teori dan praktik dalam dunia konstruksi secara nyata. Kata Kunci : Jembatan, Borepile, Pier.
Beras pada dasarnya merupakan makanan pokok dan sumber karbohidrat utama bagi masyarakat Indonesia, sehingga menjadi masalah gizi yang berulang di Indonesia. Permasalahan beras terletak pada meningkatnya permintaan masyarakat yang tidak diimbangi dengan menurunnya produksi tahunan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan beras analog dengan peningkatan nilai gizi khususnya kandungan zat besi yang telah melalui beberapa pengujian antara lain uji kadar abu, kadar air, protein, karbohidrat, lemak, dan kadar besi. Desain penelitian menggunakan desain faktorial 2 tingkat dengan menggunakan tiga variabel independen dengan batas atas dan bawah, yaitu suhu ekstrusi: 35°C dan 45°C, rasio tepung sorgum terhadap tepung jagung: 40% dan 60%, dan penambahan tepung bayam. : 4% dan 8%. Proses pembuatan beras analog terdiri dari beberapa tahapan penelitian seperti produksi tepung komposit, pemasakan adonan tepung komposit, produksi beras analog, pengeringan beras analog, dan analisis hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu ekstruder berpengaruh nyata terhadap hasil kadar air beras analog. Sedangkan penambahan tepung daun bayam dapat meningkatkan kandungan zat besi pada beras analog dengan kandungan zat besi tertinggi pada penambahan tepung daun bayam 8%. Beras analog dari jagung putih dan tepung sorgum telah memenuhi standar Departemen Pertanian AS dalam uji kandungan proksimat (Karbohidrat, Protein, Lemak dan Abu). Hasil ini menunjukkan bahwa beras analog dari jagung putih dan sorgum dengan suhu ekstruder yang lebih tinggi dapat menghasilkan beras analog dengan kualitas yang baik dan sesuai standar, serta penambahan daun bayam dapat meningkatkan zat besi secara signifikan tanpa mengurangi kualitas beras analog yang dihasilkan. Kata Kunci: Beras Analog, Daun Bayam, Diversifikasi Pangan
Energi merupakan salah satu kebutuhan dasar manusisa namun cadangan bahan bakar konvensional yang tidak dapat diperbaharui semakin menipis dan biaya yang dibutuhkan semakin mahal karena sebagian besar energi yang digunakan berasal dari bahan bakar fosil. Perlu dilakukan suatu terobosan untuk menghasilkan energi alternative pengganti bahan bakar yang bersifat tepat guna, ekonomis dan efisien. Briket merupakan salah satu energi alternative pengganti bahan bakar yang terbuat dari aneka macam hayati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi optimal pada pembuatan briket dengan menggunakan kombinasi kulit kacang tanah dan kulit kacang pistachio dengan menggunakan perekat tepung tapioka. Penelitian ini menggunakan metode factorial design dengan 8 percobaan dengan variabel bebas yang digunakan adalah berat kombinasi kacang tanah & kacang pistachio serta jumlah perekat yang digunakan. Pada penelitian ini juga dilakukan pengujian terhadap briket yang dibuat berupa uji kadar air, uji kadar abu, uji lama nyala briket, perhitungan nilai densitas, serta perhitungan laju pembakaran. Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa sampel yang memiliki formulasi paling baik adalah sampel 5 demgan formulasi formulasi 32 gram kacang tanah, 32 gram kacang pistachio dan 5% perekat tepung tapioka. Dimana diperoleh nilai kadar air sebesar 4,9%, kadar abu sebesar 6,8%, nilai densitas 0,496 g/cm3 , lama nyala briket selama 35 menit, dan laju pembakaran sebesar 3,28 gram/menit. Dalam penelitian ini juga diketahui bahwa persentase perekat sangat berpengaruh terhadap kualitas briket yang dihasilkan. Kata kunci : briket, kulit kacang tanah, kulit kacang pistachio, tepung tapioka.
PT Pupuk Kujang merupakan salah satu perusahan yang berada di bawah naungan PT. Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) yang memproduksi pupuk maupun non pupuk. Perusahaan ini didirikan pada tanggal 9 Juni 1975 yang berlokasi di Cikampek, Jawa Barat yang dilaksanakan oleh Kellog Overseas Corporation (USA) dan Toyo Engineering Corporation (Japan). Kapasitas produksi yang dihasilkan PT. Pupuk Kujang sebesar 570.000 MT/tahun urea dan 330.000 ton/tahun ammonia. Proses pembuatan ammonia terdiri dari delapan tahapan yakni proses feed treating proses steam reforming, proses shift conversion, proses CO2 removal, proses methanasi, proses synthesis ammonia, proses pemurnian dan refrigerasi ammonia , proses hydrogen recovery. Alat utama terdiri dari Cobalt Molyhidrotreater, ZnO Guard Chamber, Primary Reformer, Secondary Reformer, Shift Corverter, Absorber, Stripper, Methanator dan Ammonia Converter. Dari hasil perhitungan, bahan baku yang digunakan berjumlah 20.741,381 kg gas alam dan menghasilkan ammonia sebanyak 20.258,975 kg dengan efisiensi produk sebesar 97,674%. Jumlah panas yang masuk sebesar 290.084.182,615 kkal dan jumlah panas yang dilepas adalah 3.887.385,466 kkal. Lalu panas yang hilang yaitu sebesar 1,34%. Utilitas Departemen Produksi 1A PT. Pupuk Kujang menyediakan sarana penunjang operasional Pabrik Ammonia 1A yang meliputi unit penyediaan air, unit penyediaan uap, unit penyediaan listrik, unit penyediaan udara, dan unit pengolahan limbah. Jenis limbah pada PT. Pupuk Kujang adalah limbah gas, limbah padat, dan limbah cair. Untuk meningkatkan tingkat efisiensi dalam pengendalian dan pengawasan mutu di dalam suatu pabrik, PT. Pupuk Kujang memiliki laboratorium analisa untuk menganalisa bahan baku, bahan setengah jadi, dan bahan jadi agar produk yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi standar yang ditentukan diantaranya analisa CO2, CH4 dan H2S serta penetapan Ammonia, penetapan % ammonia, dan uji konsentrasi CO2 Kata Kunci : PT. Pupuk Kujang, Ammonia, Kellog