Pewarna alam merupakan semua zat warna yang dihasilkan dari sumber daya alam, baik berupa tanaman, mikroba, hewan, maupun mineral. Salah satu alternatif pewarna alam yaitu sabut kelapa (Cocos nucifera), yang mengandung pigmen warna golongan tanin, banyak ditemukan, tetapi pemakaiannya kurang optimal. Pewarna alam bersifat aman, ramah lingkungan, dan tidak toksik terhadap tubuh tetapi kurang praktis digunakan, kurang stabil karena berfasa cair, dan mudah berjamur. Penelitian ini bertujuan untuk memvalorisasi limbah sabut kelapa sebagai serbuk warna alam tekstil melalui variasi metode pengeringan-enkapsulasi dan jenis bahan penyalut serta mengetahui karakteristik produk serbuk warna alam yang dihasilkan dan karakteristik hasil pewarnaan sampel terhadap kain katun primisima. Berdasarkan hasil pengujian karakteristik serbuk warna alam melalui pengujian rendemen (%), kadar air (%), pH, waktu larut, dan nilai arah warna (L*, a, b), didapatkan urutan sampel yang lebih baik yaitu SD 1 > OD 2 > FD 1 > OD 1 > SD 2 > FD 2. Berdasarkan hasil pengujian karakteristik pewarnaan serbuk warna sabut kelapa terhadap kain katun primisima melalui uji nilai arah warna kain (L*, a, b) dan ketahanan luntur warna kain akan cucian, didapatkan urutan hasil pewarnaan yang lebih baik yaitu OD 2 > OD 1 > SD 1 > SD 2 > FD 1 > FD 2. Kata kunci: sabut kelapa (Cocos nucifera); valorisasi; serbuk warna alam; pengeringan; spray drying; foam-mat drying
Energi merupakan salah satu faktor penting dalam mencapai kemajuan suatu negara. Penggunaan sumber energi dalam kehidupan sudah mengalami beberapa kali perubahan, dari awalnya penggunaan biomassa seperti kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan energi, berubah menjadi fosil seperti batu bara, minyak dan gas bumi yang dipicunya revolusi industri pada tahun 1900-an. Penggunaan energi fosil yang semakin tinggi menyebabkan kenaikan emisi gas rumah kaca sehingga iklim menjadi tidak stabil serta meningkatnya suhu bumi dan permukaan air laut. Oleh karena itu diperlukan adanya penggunaan bahan baku yang dapat menghasilkan energi terbarukan serta bersifat ramah lingkungan. Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif untuk mesin diesel yang diproduksi dengan reaksi esterifikasi dan transesterifikasi minyak tumbuhan atau lemak hewan dengan alkohol rantai pendek seperti metanol. Biodiesel dapat diproduksi dari berbagai jenis bahan baku, seperti lemak dan minyak hewani, maupun tanaman pangan, seperti jarak, kelapa sawit, kedelai, kapas, dan lain sebagainya. Penggunaan tanaman kopi sebagai minyak nabati, memiliki nilai potensial tinggi untuk dijadikan bahan baku biodiesel, dimana bahan baku yang dapat digunakan berupa biji kopi. Minyak biji kopi jenis arabika yang menjadi limbah berupa ampas bubuk kopi cukup potensial untuk dijadikan bahan baku biodiesel. Di dalam minyak kopi terdapat kandungan komponen utama trigliserida sebesar 81,3%. Sebanyak 0,2% – 0,3% kadar lemak total pada kopi terdapat pada lapisan lilin pelindung biji kopi. Asam lemak pada lapisan lilin berbeda dari pada minyak kopi. Pada lapisan lilin terdapat asam lemak 5-hidroksitriptamida dari asam palmitat, arachidat, behenat dan lignoserat. Pada minyak kopi terdapat trigliserida dengan asam lemak linoleat (40-45%), asam palmitat (30-35%). Biodiesel dapat diperoleh melalui reaksi transesterifikasi trigliserida dan reaksi esterifikasi asam lemak bebas tergantung dari kualitas minyak nabati yang digunakan sebagai bahan baku. Bila bahan baku yang digunakan adalah minyak mentah yang mengandung kadar asam lemak bebas (free fatty acid) tinggi.
Obat merupakan salah satu unsur penting dalam pelayanan kesehatan yang harus selalu tersedia dan tidak tergantikan pada pelayanan kesehatan . saat ini , 90% kebutuhan obat Indonesia telah dipenuhi melalui produksi obat dalam negri. Namun demikian 90-96% bahan baku obat masih dipenuhi melalui imporKunyit (Curcuma Domestica Val) merupakan tanaman obat yang dikenal dengan banyak efek farmakologis seperti: anti kanker, anti diabetes, anti oksidan, penurun lipid, anti inflamasi, antibakteri, anti reproduksi, anti inflamasi,racun, antikoagulan, anti-HIV, perlindungan hati dan ginjal. Komponen bioaktif utama dari kunyit yang memperlihatkan sifat-sifat farmakologi tersebut adalah Kurkumonoid terdiri atas 94% curcumin (Kurkumin I), 6% monodexmethoxycurcumin (Kurkumin II), dan 1% bisdesmethoxycurcumin (Kurkumin III) ekstraksi air subkritis menghasilkan ekstrak kukuminoid dengan kadar yang lebih tinggi dan kemurnian yang lebih baik dibandingkan dengan metode ekstraksi tradisional menggunakan pelarut organik. Ekstrak air subkritis juga menunjukkan aktivitas antioksidan yang lebih kuat