Kerupuk adalah salah satu jenis produk makanan ringan yang sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia dan disukai oleh semua kalangan umur. Namun jika dikonsumsi secara berlebihan, kerupuk memiliki dampak buruk bagi kesehatan, karena kandungan gizinya yang rendah. Dengan demikian, perlu adanya pengolahan lebih lanjut untuk menaikkan kandungan gizi kerupuk. Salah satu caranya yaitu dengan penambahan bahan baku kerupuk, berupa tulang ikan kakap dan kulit melinjo. Tulang ikan kakap memiliki kandungan kalsium yang tinggi. Sedangkan kulit melinjo mengandung antioksidan yang juga berperan sebagai pewarna alami. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung tulang ikan kakap dan tepung kulit melinjo pada pembuatan kerupuk. Penelitian ini juga bertujuan untuk membandingkan komposisi terbaik dari variabel perbandingan yang ada. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dan metode pengolahan data ANOVA 2 arah. Pemilihan metode tersebut dikarenakan metode ini lebih mudah untuk analisa dengan kelompok sampel yang berbeda dan mengetahui perbedaan ratarata antar variabel secara akurat. Analisis yang dilakukan pada penelitian ini yaitu kadar air, kadar kalsium, kadar antioksidan, serta organoleptik dari kerupuk. Kata Kunci : Kerupuk, Tulang Ikan Kakap, Kulit Melinjo
Tanaman nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) merupakan tanaman yang banyak tersebar di Indonesia, terutama di daerah pesisir pantai hingga ketinggian 200 dpl. Biji buah nyamplung memiliki kadar minyak yang cukup tinggi yaitu berkisar antara 40%-73% yang berpotensi dijadikan sebagai bahan baku biodiesel. Kandungan utama minyak biji nyamplung berupa asam oleat 37,57%, asam linoleat 26,33%, dan asam stearate 19,96%, dan memiliki kandungan asam miristat, asam palmitat, asam linolenat, asam arachidat, dan asam erukat. Minyak biji nyamplung memiliki kadar FFA yang tinggi yaitu berkisar antara 15%-30%, hal tersebut menjadi salah satu kekurangan dari minyak biji nyamplung karena semakin tinggi kadar FFA suatu minyak, maka akan semakin rendah hasil biodiesel yang akan diperoleh. Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu dilakukan penurunan kandungan kadar air yang ada dalam biji nyamplung. Proses pengambilan ekstrak minyak biji nyamplung dilakukan dengan metode soxhletasi karena dianggap paling efisien dan menggunakan pelarut n-heksana yang memiliki sifat non polar dan dapat meningkatkan hasil minyak (lebih dari 50%). Pada penelitian ini akan menggunakan metode factorial design level 2 untuk mengetahui variabel proses yang paling berpengaruh sehingga menghasilkan kondisi operasi optimum dalam pembuatan minyak biji nyamplung dengan kadar FFA paling rendah. Kata kunci: Calophyllum inophyllum L., minyak biji nyamplung, kadar air, Free Fatty Acid (FFA), ekstraksi soxhletas