Minyak dedak padi atau Rice Bran Oil merupakan minyak hasil ekstraksi dari dedak padi. Komponen utama dari minyak dedak padi yaitu triasilgliserol yang berjumlah sekitar 80% dari minyak kasar dedak padi. Minyak dedak padi juga merupakan minyak pangan sehat yang mengandung vitamin, antioksidan serta nutrisi yang diperlukan pada tubuh manusia dan banyak digunakan pada industri makanan maupun kosmetik. Berbagai kajian menunjukkan, konsumsi minyak dedak padi dapat menurunkan kolesterol dan bermanfaat untuk melawan radikal bebas dalam tubuh terutama sel kanker. Minyak dedak padi di Indonesia juga belum banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku suatu produk pangan. Maka dari itu untuk menggubah nilai ekonomis dari minyak dedak padi ini dapat dijadikan suatu produk pangan, salah satunya yaitu margarin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi optimum pada pembuatan margarin dari minyak dedak padi dan minyak inti sawit. Pengujian yang dilakukan pada penelitian ini yaitu uji kadar air, kadar lemak, dan uji stabilitas emulsi. Pada penelitian ini pembuatan margarin dilakukan dengan tiga variabel yaitu rasio minyak dedak padi dan palm kernel oil (70:30; 60:40), lama pengadukan (30 menit, 40 menit), dan lama penyimpanan margarin (5 hari, 10 hari) yang akan dirancang dengan metode Factorial Design untuk mendapatkan kondisi operasi optimum. Berdasarkan hasil yang diperoleh, formula optimal margarin dari minyak dedak padi dan minyak inti sawit yaitu pada variabel lama pengadukan 30 menit 30 detik, rasio minyak 80:20, dan lama waktu penyimpanannya 5 hari. Pada sampel optimum itu diperoleh nilai kadar lemak 82,94%, kadar air 14,08%, dan kestabilan emulsi 91,15%. Kata kunci: minyak dedak padi, margarin, palm kernel oil
Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan metodologi ekstraksi minyak biji pepaya (Carica papaya L.) menggunakan rancangan faktorial level 2. Biji pepaya merupakan komponen yang signifikan dalam buah pepaya, dengan kandungan sekitar 14.3% dari keseluruhan buah. Biji pepaya mengandung minyak nabati sekitar 25% dan sebagian besar terdiri dari asam lemak tak jenuh, yang memiliki potensi untuk diolah menjadi minyak konsumsi. Metode ekstraksi yang digunakan adalah soxhletasi dengan pelarut non-polar, nheksana. Ekstraksi soxhletasi memungkinkan kontak bahan secara langsung dan berkelanjutan, sehingga menghasilkan ekstrak yang lebih murni dan kuantitas minyak yang lebih tinggi, sambil memungkinkan penggunaan ulang pelarut. Rancangan faktorial level 2 digunakan untuk menentukan variabel proses yang paling berpengaruh. Variabel yang dipertimbangkan adalah rasio massa biji pepaya dan volume pelarut (1:7 dan 1:11), ukuran partikel (10 dan 30 mesh), dan waktu ekstraksi (170 dan 190 menit).Optimasi dilakukan dengan menggunakan metode perhitungan quicker method, di mana penentuan efek terbesar dan efek utama terbesar adalah faktor penentu. Hasil analisis menunjukkan bahwa rasio massa biji pepaya dan volume pelarut memiliki efek utama terbesar, dengan nilai efek sebesar 0.1217. Berdasarkan hasil ini, dilakukan optimasi tambahan dengan memvariasikan rasio tersebut menjadi 1:7, 1:8, 1:9, 1:10, dan 1:11. Dari analisis tersebut, didapatkan bahwa variabel rasio 1:7 menghasilkan minyak dengan kadar FFA (asam lemak bebas) terendah, yaitu 0.5076%, yang sesuai dengan standar SNI (0.36-0.82). Selanjutnya, dari variabel rasio 1:7 dilakukan analisis densitas, viskositas, dan kadar air. Hasil pengujian menunjukkan bahwa rasio 1:7 menghasilkan minyak dengan densitas 0.924 gr/mL, kadar air 0.07127%, dan kadar FFA 0.5076%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi rasio massa biji pepaya dan volume pelarut, kadar FFA cenderung meningkat. Namun, berdasarkan teori, peningkatan kadar FFA akan menurunkan kualitas minyak. Semakin tinggi rasio maka kadar air dan densitas juga akan semakin besar. Dapat disimpulkan bahwa minyak biji pepaya yang dihasilkan dalam penelitian ini sesuai dengan standar SNI (01-3555-1998) dengan kadar FFA (0.36-0.82), kadar air (maks 0.15) dan densitas (0.924-0.929). Kata kunci : Carica papaya L., minyak biji pepaya, ekstraksi soxhletasi, factorial design