Hipertensi merupakan terjadinya peningkatan abnormal pada tekanan darah sistolik dan diastolik yang dinyatakan ketika memiliki tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengobati hipertensi adalah dengan cara non-farmakologis yang contohnya adalah mengkonsumsi ramuan herbal atau obat tradisonal. Daun sirsak sendiri mengandung antioksidan yang mampu melebarkan pembuluh darah, menangkal radikal bebas dan menurunkan tekanan darah. Senyawa lain yang terkandung di dalam daun sirsak adalah Monotetrahydrofuran acetogenin dan ion kalium. Ion kalium dalam perannya bekerja sebagai pelemah kontraksi miokardium, meningkatkan ekskresi natrium sehingga mampu menurunkan tekanan darah pada tubuh. Selain itu ion kalium ini mampu mengatur keseimbangan cairan tubuh bersama natrium dan menghambat pengeluaran natrium. Disamping daun sirsak, yoghurt merupakan salah satu jenis obat tradisional yang termasuk ke dalam jenis pengobatan non-farmakologis mampu mencairkan tekanan darah yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fortifikasi yoghurt dengan ekstrak daun sirsak menggunakan ekstraksi Ultrasonic Bath dengan pelarut akuades pada kondisi yang optimal. Kajian penelitain yang dilakukan dengan berbagai variabel antara lain: campuran susu UHT : ekstrak daun sirsak sebesar 5% (v/v), 8% (v/v), 11% (v/v) pada 200 ml susu UHT, penambahan bibit yoghurt sebesar 2%, 4%, 6%, dan lama waktu fermentasi yoghurt selama 6, 12, dan 18 jam. Hasil produk yoghurt ini akan dilakukan analisa total bakteri asam laktat (BAL), kandungan kalium, kadar antioksidan, kadar lemak, protein, kadar abu, keasaman, viskositas, organoleptik dan analisa kandungan acetogenin. Kata kunci: fortifikasi, hipertensi, kalium, Monotetrahidrofuran acetogenin, yoghurt
Fruitghurt merupakan yoghurt yang dalam proses pembuatannya dilakukan penambahan sari buah sebagai penambah cita rasa, warna dan aroma. Buah pisang mengandung glukosa yang dapat memberi tambahan nutrisi bakteri asam laktat selain laktosa yang hanya di peroleh dari susu. Foam-mat drying merupakan teknik pengeringan bahan berbentuk cair dan peka terhadap panas melalui teknik pembusaan dengan penambahan zat pembuih. Petai cina mengandung protein yang memungkinkan untuk diaplikasikan sebagai foaming agent. Penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi operasi yang optimal pada pembuatan instant fruitghurt. Pada pembuatan serbuk fruitghurt metode penelitian yang digunakan adalah Response Surface Methodology (RSM) dengan variabel perubahan suhu pengeringan, konsentrasi maltodekstrin sebagai bahan pengikat dan waktu pencampuran. Serbuk fruitghurt yang dihasilkan akan dianalisis rendemen, analisis kadar air, analisis total asam dan analisis pH. Data penelitian diolah dengan menggunakan software statistica. Hasil serbuk fruitghurt terbaik terdapat pada variabel ke-10 dengan kondisi optimum (konsentrasi maltodekstrin 1,84 gram, suhu pengeringan 70ºC dan waktu pengadukan 6 menit). Variabel fruitghurt 10 memiliki pH 4 setelah pengeringan yang sesuai dengan SNI 01-2981-2009, kadar air 0,631; nilai rendemen 36,85%; dan total asam 1,62% Kata kunci : fruitghurt, foam mat drying, foaming agent, Leucaena leucocephala
Pepaya (Carica Papaya L.) adalah tanaman buah yang telah tersebar merata di Indonesia. Pepaya merupakan tanaman dari famili Caricaceae. Salah satu bagian yang dapat dimanfaatkan dari pepaya adalah biji pepaya. Manfaat dari biji pepaya diantaranya sebagai sebagai penghitam rambut karena memiliki kandungan senyawa Glucoside carcirin dan dapat menjadi obat untuk menyembuhkan penyakit gangguan saluran pencernaan dan dapat mencegah penyakit gagal ginjal. Selain itu biji pepaya juga bisa menjadi sumber untuk mendapatkan minyak dengan kandungan asam-asam lemak tertentu. Salah satu cara untuk mendapatkan kandungan asam lemak dari biji pepaya yaitu dengan melalui proses ekstraksi. Metode ekstraksi yang dipakai pada penelitian ini adalah ekstraksi soxhletasi. Pada metode ini pelarut dapat kontak langsung dengan bahan dan berlangsung secara kontinyu dan pelarut yang sudah digunakan dalam proses ekstraksi dapat digunakan kembali. Dan pada metode ini membutuhkan lebih sedikit pelarut dibandingkan dengan metode maserasi.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui variabel proses yang paling berpengaruh terhadap ekstrak minyak biji pepaya. Matode penelitian yang digunakan adalah factorial desain level 2 dengan variabel waktu ekstraksi, ukuran partikel, dan rasio bahan dengan pelarut. Dari hasil yang diperoleh selanjutnya dilakukan optimasi, dan dianalisis yield, densitas, kadar FFA, dan kadar air. Hasil yang diperoleh dari penelitian yaitu variabel proses yang paling berpengaruh untuk proses optimasi ekstraksi minyak biji pepaya adalah variabel ukuran partikel (s) dengan jumlah atau nilai efek sebesar 11,928. Dari optimasi yang dilakukan pada variabel ukuran partikel diperoleh hasil optimum nilai yield sebesar 57,029% yaitu pada ukuran partikel sebesar 20 mesh, waktu ekstraksi selama 180 menit, dan rasio bahan dengan pelarut sebesar 1:9 (35 gram : 500 mL). Densitas yang dihasilkan yaitu 0,926 gr/mL yang sesuai SNI yaitu 0,924 - 0,929. Kadar FFA (Free Fatty Acid) yang dihasilkan yaitu 0,58% yang sesuai SNI yaitu 0,36% - 0,82%. Dan kadar air yang dihasilkan yaitu 0,077% yang sesuai SNI yaitu maksimal 0,15%. Pada penelitian dengan judul “Optimasi Ekstraksi Soxhletasi Minyak Biji Pepaya (Carica Papaya L.) dengan Pelarut Petroleum Eter” akan menggunakan metode rancangan percobaan factorial design level 23 yaitu dengan 8 kali running sehingga dapat mengetahui variabel proses yang paling berpengaruh, serta mendapatkan informasi mengenai interaksi antar variabel untuk mendapatkan hasil atau kondisi yang optimum.