Kebutuhan pangan semakin meningkat salah satunya tomat. Tomat merupakan bahan pangan yang produksinya selalu meningkat setiap tahunnya. Kandungan pada buah tomat, tergolong pada buah hortikultuea klimaterik yang mudah rusak pada pasca panen. Pektin ialah polisakarida dengan berat molekul tinggi. Buah Markisa memiliki limbah kulit yang berasal dari buah markisa yang dimanfaatkan bagi ekstraksi pektin. Daun cincau hijau kaya akan pektin. Menggunakan pektin dari kulit markisa dan pektin dari daun cincau sebagai bahan baku utama dari edible coating . Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh kombinasi pektik kulit markisa dan pektin daun cincau pada edible coating dan mengetahui karakteristik edible coating dari pektik kulit markisa dan pektin daun cincau. Rancangan percobaan dalam penelitian ini menggunakan factorial design Kata Kunci : Tomat, Edible Coating, Kulit Markisa, Daun Cincau.
Tomat (Solanum lycopersicum L.) merupakan buah yang kaya nutrisi. Akan tetapi, tomat memiliki kelemahan yaitu mudah membusuk. Untuk itu, diperlukan metode penyimpanan yang sesuai, salah satunya adalah edible coating. Edible coating adalah lapisan tipis dari bahan yang aman untuk dikonsumsi, salah satunya polisakarida seperti pati sagu yang dapat membentuk film yang cukup kuat. Untuk meningkatkan kekuatan coating maka ditambahkan plasticizer berupa gliserol. Selain itu, untuk meningkatkan karakteristik fungsional dari edible coating, dapat ditambahkan antibakteri yang dapat menghambat proses pembusukan, salah satunya adalah daun jeruk purut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan edible coating berbasis pati sagu dengan penambahan gliserol dan ekstrak daun jeruk purut terhadap kualitas buah tomat setelah melalui masa penyimpanan. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap faktorial, terdiri dari dua faktor yaitu konsentrasi gliserol (0%, 5%, 10%) dan konsentrasi ekstrak daun jeruk purut (0%, 2%, 4%). Buah tomat yang sudah dicoating akan diuji meliputi uji kadar air, uji susut bobot, uji kadar vitamin C, uji sensorik tingkat kerusakan, dan uji antibakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah hari ke-10, buah tomat tanpa coating secara signifikan mengalami penurunan kadar air, kadar vitamin C, dan mengalami kenaikan susut bobot. Tingkat kerusakan antara buah tomat tanpa coating dan di-coating juga berbeda nyata. Formulasi terbaik diperoleh dari sampel G3E2 (gliserol 10% dan ekstrak daun jeruk purut 2%). Uji antibakteri pada sampel kontrol dan sampel terbaik menunjukkan tidak adanya aktivitas bakteri karena pelaksanaan penelitian yang dilakukan secara steril. Buah tomat yang diberi perlakuan edible coating efektif dalam mempertahankan mutu tomat selama penyimpanan. Kata kunci: Buah Tomat, Edible Coating, Ekstrak Daun Jeruk Purut, Gliserol, Pati Sagu
Belalang merupakan serangga pemakan tumbuhan yang dapat dikonsumsi oleh manusia dan dalam hukum Islam ditetapkan sebagai hewan yang halal. Selama ini belalang dianggap sebagai hama bagi tumbuhan. Namun, kandungan gizi belalang yang kaya akan protein mencapai 40% berpotensi untuk dimanfaatkan menjadi gelatin sebagai pengganti gelatin non halal yang beredar dipasaran. Gelatin adalah produk turunan protein hasil pemecahan kolagen yang terkandung dalam suatu bahan. Ada 4 tahapan ekstraksi gelatin yaitu degreasing, demineralisasi, ekstraksi, dan pengeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan variasi jenis pelarut asam dan basa serta waktu perendaman pada proses demineralisasi terhadap karakteristik gelatin yang dihasilkan. Penelitian ini didesain mengunakan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan jenis pelarut pada proses demineralisasi: HCl 6%, asam sitrat 1%, asam asetat 3%, ekstrak nanas, NaOH dan perlakuan waktu perendaman: 24 jam, 36 jam, 48 jam. Hasil penelitian menunjukkan masing-masing perlakuan waktu perendaman dan jenis pelarut pada proses demineralisasi memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai rendemen gelatin yang dihasilkan (P