Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia (2006) menyatakan bahwa minuman isotonik ialah minuman ringan yang diformulasikan guna membantu dengan cepat memulihkan kadar air, mineral, elektrolit, dan karbohidrat dalam tubuh. Air kelapa ialah air steril alami yang tinggi klorin dan kaya akan kandungan khlor dan kalium. Kandungan mineral kalium pada air kelapa juga sangat tinggi yaitu 203,70 mg/100 g pada air kelapa muda dan 257,52 mg/100 g air kelapa tua. Untuk memenuhi standar minuman isotonik diperlukan pengaplikasian optimasi proses seperti pasteurisai dengan penambahan bahan pengawet yang mengandung asam sitrat serta akumulasi bahan pemberi rasa dengan rasa khas yang tajam seperti yang terdapat pada sari jeruk lemon dan buah sirsak. Pasteurisasi adalah praktik umum dalam industri susu dan terutama ditujukan untuk mengurangi jumlah bakteri patogen yang harus berada di bawah standar yang dapat diterima. Asam sitrat yang terkandung pada jeruk lemon sebesar 6% yang memberikan rasa asam, banyak akan nutrisi seperti karbohidrat, lemak, dan protein, serta merupakan sumber yang kaya vitamin C. Buah sirsak mengandung 11,7% gula, asam malat dan asam sitrat sehingga memberikan rasa yang unik dan menghasilkan rasa sirsak yang kaya akan nutrisi seperti natrium, kalium, klorida, lemak, protein dan karbohidrat. Asam sitrat ditambahkan ke dalam pengolahan makanan dan minuman berguna untuk beragam macam tujuan. Sebagai salah satu pemanfaatan asam sitrat yaitu sebagai pengawetan dengan pengasaman. Metode yang diaplikasikan dalam pengujian ini yaitu digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor tanpa replikasi yang dapat membandingkan dua atau lebih perlakuan untuk menghasilkan produk minuman isotonik yang memiliki jangka waktu layak konsumsi yang panjang serta memperbaiki cita rasa pada minuman isotonik dengan hasil produk yang sesuai dengan SNI 01-4452-1998. Berdasarkan hasil uji karakteristik kimia dan organoleptik minuman isotonik berbahan baku air kelapa dengan penambahan sari buah sirsak dan ekstrak jeruk lemon diperoleh skor penilaian terhadap aroma dengan rerata 3,54, rasa 3,45, dan warna 2,9. Minuman isotonik memiliki rata-rata pH 3,57, natrium 36,18 mg/kg, kalium 1.680,3 mg/kg, total asam 0,756%, dan total gula 7,3%. Kata kunci : Air kelapa, sirsak, jeruk lemon, pasteurisas
PS Madukismo didirikan di Desa Padokan, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Produk utama yang dihasilkan adalah spiritus dan alkohol yang bahan bakunya berasal dari tetes. Bahan baku tetes diperoleh dari limbah yang dihasilkan oleh Pabrik Gula (PG Madukismo). Kapasitas produksi PS Madukismo sekitar 25.000 liter alkohol/hari, yang terdiri dari 22.500 liter alkohol prima dan sekitar 2.500 liter alkohol teknis. Hasil produksi lain adalah alkohol prima, alkohol teknis, spiritusdan hasil samping berupa minyak fusel, pupuk cair pucamadu, handsanitizer. Tetes dan yeast/ragi merupakan bahan baku utama pembuatan alkohol dan sprirtus, sedangkan bahan pendukung lainnya terdiri dari urea (CO2(NH2)2), NPK (Single Super Fosfat), Asam Sulfat (H2SO4), Superflok dan TRO (Turker Red Oil). Proses meribuatan alkolhol dilakukan melalui 4 tahap proses yaitu pemasakan, pembibitan, farmentasi, dam penyulingan. Pada proses pemasakan dilakukan pengenceran, pengaturan pH, penambahan asam dan zat-zat yang dibutuhkan yeast. Proses premibibitan meliputi 2 proses yaitu pembuatan starter dilaboratorium dan pembibitan dalam tangki. Sedangkan pada proses fermentasi, bibit-bibit dari proses pembibitan akan difermentasi hingga menghasilkan beslag. Beslag ini kemudian akan disuling pada unit distilasi. Untuk pembuatan spiritus, alkohol yang dihasilkan akan diproses pada unit metilasi. Pada proses ini alkohol akan ditambah dengan methylen blue, minyak tanah dan metanol. Limbah yang berasal dari proses produksi di PS Madukismo ada 3 macam meliputi: limbah gas, limbah cair dan limbah padat. Limbah gas berupa CO2 yang berasal dam unit peragian dipompa kemudian dicuci dengan air untuk mengambil alkohol yang terikut didalamnya dan CO2 yang sudah dicuci dibuang keudara. Limbah cair berupa vinase dan luther wasser diolah dalam unit pengolahan limbah cair waste water treatment atau sawage treatment plant. Limbah padat berupa endapan lumpur sisa peragian. Endapan lumpur ini hanya sebesar 10% dari berat bahan sehingga terhanyut bersama air pada saat pencucian tangki.
Jahe memiliki beberapa kandungan fenolik salah satunya ialah gingerol. Gingerol memiliki berbagai efek farmakologis seperti anti kanker, anti oksidan, anti karsiogenik dan anti osteoporosis. Gingerol dapat diperoleh menggunakan metode ekstraksi, pada penelitian ini jahe bubuk di ekstraksi menggunakan metode subcritical water extraction. Ekstrak gingerol yang dihasilkan dapat dioptimalkan daya simpannya menggunakan spray drying, selain itu spray drying dapat mempertahankan produk dengan mengurangi aktivitas air ke tingkat yang rendah sehingga menghentikan degradasi bakteri. Proses utama pada pengeringan semprot meliputi proses penentuan konsentrasi, atomisasi, kontak droplet dan udara, pengeringan droplet dan separasi atau pemisahan. Pada penelitian ini ekstrak gingerol akan di keringkan dengan alat spray drying. dilakukan dengan berbagai variabel antara lain: suhu pengeringan (120oC, 130oC dan 140oC) dan laju alir umpan (10, 15 dan 20 ml/menit). Dalam penelitian ini kandungan senyawa bioaktif gingerol akakn dianalisa kadar gingerol dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada saat sebelum dan sesudah di lakukan pengeringan, kadar air menggunakan moisture analyzer dan yield. Penentuan variabel yang berpengaruh menggunakan Response Surface Methodology (RSM) dan analisa respon variabel menggunakan Minitab. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan bahan baku jahe bubuk. Kata kunci: jahe, gingerol, subcritical water extraction, spray drying, RSM.
Sabun merupakan produk industri kosmetik dan farmasi yang digunakan untuk membersihkan bakteri/mikroba, kotoran yang menempel pada kulit tubuh manusia. Bahan utama pembuatan sabun yaitu minyak, alkali, dan air. Minyak kelapa mempunyai kadar air dan kadar asam lemak bebas rendah, sehingga baik untuk digunakan dalam pembuatan sabun. Sabun padat transparan memiliki penampakan tembus cahaya dan bening dibanding sabun lain. Penambahan komposisi bahan seperti gula dan gliserin berpengaruh pada ketransparan sabun. Tetapi seberapa banyak bahan tersebut ditambahkan dalam produk sabun harus benar-benar diperhatikan dan harus memenuhi kualitas dari produk sabun. Oleh sebab itu diperlukan kajian formulasi sabun mandi padat transparan dari minyak kelapa murni dengan variasi jumlah gula dan gliserin yang ditambahkan. Pada penelitian ini sabun mandi padat transparan dibuat melalui proses saponifikasi dengan variasi gula, gliserin, dan waktu pengadukkan. Diperoleh hasil penelitian konversi minyak kelapa murni menjadi sabun pada sampel 3 dengan hasil terbaik yaitu sebesar 73%. Pada analisa kadar air, asam lemak bebas, pH, alkali bebas, dan bahan tidak larut etanol sampel 1 s/d 8 sudah sesuai dengan SNI 3532-2021, sedangkan untuk analisa lemak tidak tersabunkan hasil belum sesuai dengan SNI 3532-2021. Kata kunci : sabun, minyak kelapa murni, saponifikasi, gula, gliserin
Penelitian ini berfokus pada pemanfaatan daun jambu biji sebagai pewarna alami tekstil. Daun jambu biji hijau (Psidium guajava L) berpotensi sebagai pewarna alami karena daun jambu biji Australia mengandung senyawa tanin berwarna coklat. Setelah penelitian terapan ini diharapkan dapat menghasilkan warna kain yang natural dan meningkatkan harga dan kualitas kain ikat serta berinovasi pada kain ikat modern. Dalam penelitian alat yang digunakan antara lain neraca analitik, statif, pendingin bola, soxhlet, labu didih, pemanas listrik, klem, kertas saring, laundrymeter, crockmeter, gray scale, stainning scale, desikator, dan rotary evaporator. Bahan yang digunakan yaitu daun jambu biji, etanol 96%, soda abu (Na2CO3), tawas (Al2(SO4)3), kapur (CaCO3), tunjung, teepol, dan kain katun. Variabel bebas yaitu massa tawas, kapur, dan tunjung. Pengujian yang akan dilakukan yaitu uji ketahanan luntur warna terhadap pencucian, dan uji panjang gelombang zat warna cair (Abs%). Kata Kunci : Daun Jambu Biji, Kapur, Tawas, Tunjung
Upaya untuk menurunkan hipertensi melalui pengembangan senyawa citrulline yang dilakukan dengan ekstraksi gelombang mikro. Ekstraksi citrulline dari kulit semangka dengan menggunakan gelombang mikro diprediksi mampu mereduksi waktu ekstraksi sehingga dapat meningkatkan yield. Untuk itu, tujuan penelitian ini sebagai penentu kondisi proses yang optimum dalam ekstraksi senyawa citrulline. Data hasil analisa diinterpretasikan dengan menggunakan Response Surface Methodology (RSM) dengan variabel bebas yang digunakan meliputi, rasio umpan : pelarut (1:15, 1:20, dan 1:25), suhu (40, 45, dan 50oC), dan waktu ekstraksi (10, 12, dan 16 menit). Hasil berupa ekstrak yang telah dipisahkan dengan rafinatnya dianalisa kadar citrullinenya dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 490 nm dan kandungan antioksidannya dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 517 nm. Kondisi optimal terhadap kadar citrulline yang dihasilkan yaitu pada rasio umpan : pelarut 1 : 15 , suhu ekstraksi 50 oC dan waktu ekstraksi selama 16 menit yang menghasilkan r 2 sebesar 0,75487 dan didapatkan konsentrasi antioksidan tertinggi sebesar 81,250%. Kata Kunci: kulit semangka, citrulline, Microwave Assisted Extraction, Respon Surface Methodology
Teh merupakan salah satu minuman yang sudah ada sejak zaman dahulu. Berbagai macam manfaat teh membuat teh sering digunakan sebagai produk kesehatan atau obat-obatan. Teh hitam memiliki kadar antioksidan yang cukup tinggi diantaranya adalah polifenol, katekin, dan flavenoid. Proses fermentasi teh akan menyebabkan epimerisasi epikatekin dan epigalokatekin yang akan teroksidasi membentuk o-quinon, o-quinon akan membentuk senyawa kompleks berupa theaflavin. Theaflavin dapat diperoleh menggunakan metode ekstraksi, pada penelitian ini teh hitam di ekstraksi menggunakan metode Microwave Asssisted Extraction (MAE) dengan pelarut air. Theaflavin yang dihasilkan dapat dioptimalkan daya simpannya menggunakan nanoteknologi, selain itu nanoteknologi meningkatkan kemampuan senyawa aktif mencapai target aksi dan menembus ruang-ruang antar sel yang hanya dapat ditembus oleh ukuran partikel koloidal. Pada penelitian ini ekstrak theaflavin nantinya akan di nanoemulsi dengan alat homogenizer berkecepatan tinggi. Pada proses homogenisasi ini ekstrak theaflavin akan di homogenkan dengan fase minyak virgin coconut oil, surfaktan Tween 80, kosurfaktan PEG 400 dan aquadest sebagai fase air. Rancangan penelitian ini menggunakan Response Surface Methodology (RSM) yang diterapkan menggunakan aplikasi statistika untuk mengetahui level optimum dari variabel berupa waktu pengadukan, kecepatan pengadukan, dan konsentrasi emulsifying agent. Hasil dari penelitian ini akan dilakukan analisa berupa ukuran partikel, zeta potensial, dan kadar theaflavin. Kata kunci : Microwave Assisted Extraction (MAE), nanoemulsi, nanoteknologi, teh hitam, theaflavin
Ketidakseimbangan jumlah antioksidan dan radikal bebas dalam tubuh bisa menimbulkan stress oksidatif dan memicu berbagai penyakit degeneratif (WHO, 2016). Salah satu cara mencegah radikal bebas tidak masuk kedalam tubuh adalah dengan mandi menggunakan sabun. Ekstrak beras hitam dapat digunakan sebagai zat anti oksidan dalam sabun karena didalamnya terdapat pigmen antosianin, dan mempunyai senyawa bioaktif tinggi (Chakuton et al., 2012). Pemilihan Virgin Coconut Oil (VCO) sebagai bahan baku sabun karena mempunyai kandungan asam laurat tinggi dan berguna untuk melembabkan dan menghaluskan kulit (Afrozi et al., 2021). Tujuan penelitian ini untuk menganalisa kualitas sabun cair dari hasil hidrolisis Virgin Coconut Olil (VCO) dan pengaruh penggunaan basa KOH, NH4OH, serta ekstrak beras hitam yang disertai perlakuan konsentrasi basa, waktu dan suhu yang bervariasi. Variabel bebas untuk optimasi proses yang dilakukan adalah konsentrasi KOH:NH4OH (30:70, 50:50, 70:30)%, waktu pengadukan (65, 85, 105) menit, dan suhu operasi (60, 75, 90) °C. Berdasarkan hasil yang diperoleh, kadar FFA yang optimum (menghasilkan kadar FFA yang kecil) diperoleh dengan kondisi variabel minimasenya yaitu menggunakan konsentrasi KOH 16,4%, suhu operasi 49,7 °C, waktu pengadukan 51,4 menit, dan didapat nilai composite desirability sebesar 0,895897. Kata Kunci: Sabun Cair, Minyak Kelapa Murni (VCO), Beras Hitam, Asam Lemak Bebas (FFA), KOH, NH
Plastik merupakan suatu bahan polimer yang digunakan sebagai kemasan karena sifatnya yang ringan, kuat, transparan, tahan air, dan ekonomis. Sampah plastik merupakan permasalahan lingkungan yang ditimbulkan oleh banyaknya penggunaan plastik dan kurangnya kesadaran masyakarat dalam membuang sampah. Komposisi plastik dominan bersumber dari bahan kimia sehingga meyebabkan plastik sulit terurai secara alami oleh mikroorganisme dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Maka dari itu diperlukan pengembangan dalam pembuatan bioplastik yang ramah lingkungan serta tetap memiliki kualitas bioplastik sesuai SNI yang terbuat dari bahan sabut siwalan dan pati biji nangka. Penelitian ini bertujuan untuk membuat bioplastik dari sabut siwalan dan pati biji nangka dengan variasi penambahan kitosan sebagai pengisi serta sorbitol sebagai plasticizer. Dalam penelitian ini dikaji dengan tiga variabel bebas antara lain, rasio pati biji nangka-sabut siwalan (4:1, 7:1, dan 10:1), sorbitol (30%, 40%, 50%), dan kitosan (3%, 5%, 7,%). Variabel penelitian dirancang dengan Response Methodology Surface (RSM) untuk mendapatkan kondisi optimum. Bioplastik dengan nilai biodegradasi dan kuat tarik terbaik dilakukan pengujian elongasi, elastisitas, ketahanan air, dan FT-IR. Kata kunci : bioplastik, kitosan, pati biji nangka, sabut siwalan, sorbitol