Latar belakang. Obstructive sleep apanea (OSA) adalah keadaan terjadinya obstruksi jalan napas atas secara periodik selama tidur yang menyebabkan napas berhenti secara intermiten, baik komplit (apnea) atau parsial (hipopnea). Tension type headache (TTH) adalah nyeri kepala yang paling umum dan didefinisikan sebagai nyeri kepala primer pada klasifikasi ICHD 3. Pasien dengan OSA memiliki kemungkinan lebih tinggi menderita TTH dibandingkan pasien tanpa OSA. Tujuan. Menganalisa hubungan antara derajat keparahan OSA dengan frekuensi nyeri kepala tiap bulan pada tension type headache TTH. Menganalisa hubungan antara derajat keparahan OSA dengan intensitas nyeri kepala pada TTH. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain belah lintang. Subyek penelitian adalah pasien OSA yang menderita TTH di RSUP Dr. Kariadi, Semarang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian dilakukan mulai April sampai dengan Desember 2019. Data pasien diperoleh dengan pengisian kuesioner. Penilaian derajat keparahan OSA dilakukan pemeriksaan polisomnografi. Penilaian frekuensi TTH menggunkan kriteria ICHD 3 beta dan intensitas TTH menggunakan skor VAS. Analisa data dengan uji korelasi Spearman. Hasil dikatakan bermakna bila nilai p
Latar Belakang Kasus anemia yang paling sering terjadi pada anak-anak yaitu anemia defisiensi besi. Zat besi banyak dibutuhkan oleh otak berkaitan dengan proses oksidasi dan metabolisme saraf di otak. Pada anemia defisiensi besi yang harus diperhatikan yaitu kadar hemoglobin, dan kadar feritin. Anemia disini dapat mengakibatkan gangguan fungsi kognitif pada anak-anak. Tujuan Penelitian Mengetahui hubungan antara anemia defisiensi besi dengan fungsi kognitif. Mengetahui hubungan antara anemia defisiensi besi dan fungsi kognitif setelah dikendalikan dengan status gizi pada anak sekolah dasar usia 9-11 tahun. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain belah lintang. Subyek penelitian adalah siswa di SD Taqwiyatul Waton, Semarang dan SD Tanjung Mas, Semarang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian dilakukan mulai Maret sampai dengan Juni 2019. Pemeriksaan laboratorium untuk pemeriksaan kadar Hb dan kadar feritin dilaksanakan di Laboratorium Pramitha Semarang. Data pasien diperoleh dengan pengisian kuesioner oleh siswa dan orang tua. Penilaian fungsi kognitif dengan modified MMSE. Analisa data dengan uji korelasi bivariat Spearman’s dan korelasi parsial. Hasil dikatakan bermakna bila nilai p
Latar belakang : Stroke iskemik menjadi salah satu penyebab utama disabilitas jangka panjang. Stimulasi magnetic transkranial (TMS) adalah terapi rehabilitasi yang memudulasi korteks motorik dengan prinsip induksi elektromagnetik untuk mengaktivasi motor neuron kortikal, sehingga dapat membangkitkan potensi motorik pada pasien stroke iskemik. Tujuan : Untuk mengetahui perbedaan perubahan kekuatan motorik yang diukur menggunakan Fugl Meyer Assesment (FMA) dengan pemberian stimulasi magnetic transkranial berulang (rTMS) dibandingkan dengan kelompok control pada pasien stroke iskemik. Metode penelitian : Metod peneltian kohort prospektif. Penelitian melibatkan 42 subjek pasien stroke iskemik yang dibagi menjadi kelompok perlakuan dan kelompok control. Kelompok perlakuan dilakukan stimulasi magnetic transkranial berulang selama 5 hari. FMA dinilai pada hari ke 8 sebelum perlakuan dan hari ke 14 dan ke 45 setelah perlakuan. Hasil dan Pembahasan : Karakteristik kelompok control didapatkan 11 subyek laki-laki (52,4%) dan 10 subyek perempuan (47,6%). Gambaran karakteristik menurut umur menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna, rerata umur 57,07 ± 8,32 tahun. Analisis perbedaan perubahan kekuatan motorik pada pasien stroke iskemik berdasarkan pemeriksaan skor FMA didapatkan perbedaan yang bermakna pada hari ke 8 dan hari ke 14 (34,86 ± 8,73, p
Latar belakang : Serotonin merupakanneurotransmitter yang berperan pada perilaku, kognitif dan kontraksi otot polos. Reseptor serotonin ditemukan pada otak yang terlibat dalam proses kognitif. Tension type headache (TTH) adalah nyeri kepala yang paling umum. TTH disebabkan oleh ketegangan otot di bahu, leher dan kepala. Ketegangan bisa terjadi karena kelelahan, posisi tubuh yang tidak nyaman, atau stress emosional. Serotonin rendah dapat mengakibatkan gangguan fungsi kognitif. Tujuan : Hubungan kadar serotonin serum dengan fungsi kognitif pada chronic tension type headache (CTTH). Metode : Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional, dilaksanakan di rawat jalan RSUP dr. Kariadi Semarang bulan April-September 2019. Analisis statistic dengan uji X2(Chi square) dan multivariate dengan logistic regresi. Hasil dikatakan bermakna bila p
Latar Belakang : Infeksi pasca stroke tetap menjadi salah satu komplikasi utama pada stroke akut, dengan frekuensi antara 21 - 65%. Stroke menyebabkan perubahan pada sistim inflamasi sistemik,hal ini dapat dilihat pada konsentrasi Interleukin 10 (IL-10) serum. Penurunan IL-10 pada stroke dapat menjadi salah satu penanda kenaikan resiko infeksi pada pasien stroke akut Tujuan Penelitian : Mengetahui hubungan antara penanda faktor inflamasi yang diwakili oleh biomarker Interleukin-10 (IL-10) serum dengan kejadian infeksi pasien stroke iskemik akut. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain belah lintang. Subyek penelitian adalah pasien stroke infark di RSUP Dr. Kariadi, Semarang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian dilakukan mulai Desember 2019 sampai dengan Februari 2020. Data pasien diperoleh dengan pengisian kuesioner. Pengambilan darah sampel vena subyek dilakukan pada hari ke 1 dan hari ke 7, hasil sampel darah dilakuan analisa IL10 di Laboratorium GAKI. . Analisa data dengan mengunakan SPSS.25 dengan uji korelasi Spearman. Hasil dikatakan bermakna bila nilai p
Latar Belakang : Peningkatan angka harapan hidup di Indonesia mengakibatkan peningkatan jumlah lansia. Proses penuaan mengakibatkan berbagai konsekuensi kesehatan, salah satunya gangguan keseimbangan postural. Senam bugar lansia merupakan salah satu aktivitas untuk meningkatkan sistem keseimbangan dan memperbaiki kualitas hidup lansia. Tujuan : Mengetahui pengaruh intensitas senam bugar lansia terhadap keseimbangan postural. Metode : Desain penelitian non-randomized controlled pre- and post-experimental dengan kohort prospektif, di RSUP Dr Kariadi Semarang selama bulan Agustus-Oktober 2019. Subyek berusia 60-74 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Keseimbangan postural diukur menggunakan Berg Balance Scale (BBS). Korelasi antara intensitas senam bugar lansia dengan peningkatan skor BBS diuji menggunakan Mann Whitney. Analisis multivariat regresi linier untuk mengetahui variabel yang paling berhubungan terhadap peningkatan skor BBS ; Usia, Jenis kelamin, riwayat Diabetes Mellitus, Indeks Massa Tubuh, dan Osteoarthritis. Hasil Penelitian : 39 subjek penelitian, dibagi ke dalam dua kelompok senam bugar lansia: kelompok 1 dengan 1x/minggu dan kelompok 2 dengan 3x/minggu, durasi senam 30 menit. Subjek perempuan (89,7%), laki-laki (10,3%) dengan rerata usia tiap kelompok 63,7±5,0 dan 64,9±4,2 tahun. Perubahan skor Berg Balance Scale pada kelompok 1 sebesar (-2) dan kelompok 2 sebesar (-5). Didapatkan hubungan yang bermakna antara intensitas senam bugar lansia dengan peningkatan skor BBS (r=-1,879; p=0,000). Didapatkan hubungan yang bermakna antara intensitas senam bugar lansia dengan perubahan nilai WOMAC (p=0,018). Simpulan : Didapatkan pengaruh peningkatan intensitas senam bugar lansia terhadap perbaikan keseimbangan postural dan osteoarthritis pada lansia. Kata Kunci: berg balance scale, intensitas senam bugar lansia, keseimbangan postural, lansia, ostheoarthritis, womac
Pendahuluan : Nyeri merupakan keluhan pada pasien kanker payudara yang mendapat kemoterapi. Efek samping dari pemberian kemoterapi pada pasien kanker payudara dapat menyebabkan kerusakan neuron yang mengakibatkan nyeri neuropatik. Bertambahnya kasus nyeri neuropatik pada pasien kemoterapi sering mengakibatkan gangguan aktivitas pada pasien. Tujuan Penelitian : Mengetahui hubungan antara nyeri neuropatik dan gangguan aktivitas sebelum injeksi pertama dan setelah injeksi ketiga pada pasien kanker payudara yang mendapat kemoterapi. Material dan Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain kohort prospektif. Subyek penelitian adalah pasien kanker payudara pasca operasi yang mendapat kemoterapi di instalansi Kasuari RSUP Dr. Kariadi Semarang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian dilakukan mulai September 2019 sampai dengan Februari 2020. Pemeriksaan nyeri neuropatik dan skoring nyeri dilakukan dengan menggunakan kuesioner LANSS dan Brief Pain Inventory (BPI). Analisa data dengan uji korelasi bivariat Spearman’s. Hasil dikatakan bermakna bila nilai p
Latar belakang : Paparan bising yang dihadapi oleh pilot militer merupakan paparan bising yang ekstrem ditinjau dari frekuensi dan durasi paparan, sehingga dapat menyebabkan apoptosis dan atau nekrosis stereocillia yang berada di atas sel rambut sensorik pada telinga bagian dalam sehingga menyebabkan kerusakan yang menetap. Lama paparan, frekuensi bising, umur, kadar gula darah dan kebiasaan merokok ditengarai mempengaruhi drajat noise induced hearing loss. Metode : Desain penelitian menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan kohort prospektif. Subyek merupakan instruktur dan siswa penerbang yang melakukan latihan terbang minimal 50 jam terbang. Subyek pengamatan diperiksa audiometric pada awal pendidikan, kemudian subyek melakukan latihan terbang dalam 6 bulan dengan durasi minimal 50 jam terbang. Pada kahir pendidikan dilakukan pemeriksaan audiometric ulang. Data yang diambil meliputi umur, lama jam terbang awal dan akhir, kadar gula darah sewaktu, kebiasaan merokok serta audiometric awal dan akhir. Hasil : Subyek yang diperoleh sebanyak 80 dilakukan random alokasi dalam 4 kelompok pengamatan. Didapatkan hubungan bermakna antara umur dengan selisih derajat NIHL telinga kanan dan kiri (p
Latar belakang: Osteoarthritis genu merupakan salah satu penyakit degeneratif yang dapat menimbulkan nyeri kronis dan dapat menghambat aktifitas sehari hari. Pemberian latihan dapat meningkatkan kekuatan otot sekitar lutut dan dapat mengurangi nyeri kronis pada penderita osteoarthritis genu. Tujuan: Membuktikan pengaruh penambahan kinesio taping terhadap intensitas nyeri dan skor fungsional pada pasien osteoarthritis genu grade II dan III yang mendapatkan latihan weight-pulley system. Metode: Penelitian simple randomized controlled pre and post experimental design. 27 subjek penderita osteoarthritis genu grade II dan III (40-65 tahun) dibagi menjadi 2 kelompok secara acak, kelompok perlakuan mendapatkan intervensi latihan weight-pulley system dan Kinesio Taping sedangkan kelompok kontrol mendapatkan latihan weight-pulley system saja. Latihan dilakukan 3 kali seminggu selama 3 minggu di Instalasi Murai Gedung Rehabilitasi Medik RSUP dr. Kariadi pada April 2019- Mei 2019. Intensitas nyeri dinilai menggunakan algometer dan skor fungsional dinilai dengan WOMAC Hasil : Terdapat penurunan nilai intensitas nyeri dan peningkatan skor fungsional yang bermakna pada akhir minggu ke-3 intervensi pada masing-masing kelompok dibandingkan dengan sebelum intervensi. Terdapat perbedaan delta nilai intensitas nyeri dan skor fungsional antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol pada sesudah intervensi. Simpulan: Penambahan kinesio taping berpengaruh terhadap intensitas nyeri dan skor fungsional pada pasien osteoarthritis genu grade II-III yang mendapatkan latihan weight-pulley system. Kata kunci: Osteoarthritis genu; weight-pulley system; Kinesio Taping; Intensitas nyeri, Skor fungsional; algometer, WOMAC.