Latar belakang : Asidosis metabolik berkaitan dengan penyakit ginjal kronik (PGK). Sebagian besar penelitian observasional pada pasien PGK yang belum dilakukan dianalisa, maupun pasien PGK stage V menunjukan bahwa asidosis metabolik secara signifikan berhubungan dengan mortalitas yang tinggi. Mortalitas yang paling rendah pada pasien PGK stadium V predialisasi berhubungan dengan kadar HCO3 17-23 mEq/L, sedangkan kadar bikarbonat serum > 23 mEq/L berhubungan dengan progresifitas yang lebih tinggi semua penyebab kematian. Pada penelitian ini dicoba untuk menggunakan pendekatan melihat pH arteri untuk pengaruh asidosis metabolik (pH7,2, 19.8% (n=16) mati dan 80.2% (n=65) hidup. Didapatkan secara statistik terdapat hubungan bermakna antara pH
Latar belakang : Pendekatan komprehensif sangat penting dilakukan dalam mengelola orang dengan HIV-AIDS (ODHA). Terapi nutrisi sebagai tambahan terapi ARV sangat diperlukan. Defisiensi kadar selenium (Se) didapatkan pada ODHA, bahkan yang sudah mendapatkan terapi ARV. Infeksi HIV-AIDS menyebabkan inflamasi kronik terutama pada Gut Associated Lymphoid Tissued (GALT) yang menyebabkan peningkatan stress oksidatif (peningkatan radikal bebas (ROS) dan penurunan antioksidan), memicu apoptosis sel limfosit T (CD4) dan menurunkan sistem imun. Gluthation Peroxidase (GPx) adalah enzim esensial yang berperan sebagai antioksidan (mengeliminir ROS), antiapoptosis dan menjaga kestabilan integritas epitel mukosa intestinal. Efektivitas kerja GPx dipengaruhi oleh adequasi kadar Se dalam tubuh. Metode : Penelitian eksperimental dengan desain randomized placebo controlled trial, yaitu memberikan perlakuan suplementasi Se selama 6 bulan dengan kontrol placebo pada ODHA yang berobat di klinik Voluntary Counseling and testing (VCT) RSUP Dr. Kariadi Semarang periode Oktober 2012 sampai dengan MAret 2013. HAsil : Pada akhir penelitian, terdapat 58 ODHA yang dapat dianalisis, 29 responden mendapat suplementasi Se dan 29 kontrol yang mendapat placebo. Karakteristik subjek penelitian ini adalah terdiri dari 34 laki-laki dan 24 perempuan, terbanyak pada usia 35-44 tahun, lulusan SMA/SMK, pekerjaan wiraswasta/pedagang, dengan IMT terbanyak normoweight, konsumsi ARV kurang dari 2 tahun dan tidak mengkonsumsi alkohol maupun rokok, serta penularan terbanyak terjadi melalui hubungan heteroseksual. Koinfeksi TB lebih banyak terdapat pada kelompok perlakuan dan stadium klinis terbanyak adalah stadium satu. Terdapat peningkatan bermakna kadar Se setelah mendapat suplementasi Se selama 6 bulan (p=0,001), namun masih dibawah nilai normal (
OSCE dapat digunakan untuk memeriksa berbagai keterampilan klinis. OSCE (Objective Structured Clinical Examinination) dibagi menjadi klinis, praktik dan Interpretasi data: 1. Staser Klinis, terdiri dari berbagai aspek komunikasi atau pemeriksaan: Mendapatkan dan mempresentasikan riwayat medis Melakukan pemeriksaan fisik Keterampilan komunikasi Stase ini biasanya melibatkan interaksi dengan pasien sesungguhnya atau pasien simulasi. 2. Stase praktik Keterampilan klinis Keterampilan prosedural Boneka peraga biasanya digunakan untuk menggantikan pasien. 3. Stase interpretasi data, terdiri dari diskusi tertulis atau verbal mengenai berbagai hasil pemeriksaan. Pertanyaan lisan terstruktur yang diberikan penguji Stase tertulis Topik pembahasan dalam buku ini disajikan secara ringkas dan sederhana serta dilengkapi dengan ilustrasi.
Latar Belakang : Prevalensi Sindrom nefrotik di Indonesia mencapai 6 tiap 100.000 anak pertahun. Sindrom nefrotik memiliki hubungan dengan komplikasi kardiovaskular pada anak dikemudian hari. Ankle-Brachial Index (ABI) merupakan salah satu metode skrining non invasif yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya aterosklerosis. Tujuan penelitian : Mengetahui hubungan antara profil lipid dan IMT dengan ABI pada pasien anak dengan sindrom nefrotik. Metode : Metode penelitian adalah observasional dengan desain potong lintang. Pemeriksaan dilakukan pada 24 anak sindrom nefrotik yang memenuhi criteria inklusi dan eksklusi. Profil lipid berupa kolesterol total, LDL, HDL, dan Trigliserida diperiksa melalui darah vena. IMT didapatkan dengan membandingkan berat badan dan tinggi badan dalam meter kuadrat. ABI didapatkan dengan membandingkan tekanan sistolik kaki dan lengan, kemudian diambil rasio yang paling rendah. Data yang didapat kemudian dianalisis dengan menggunakan korelasi Pearson. Hasil : Kolesterol total, LDL, HDL, dan IMT mempunyai hubungan yang sangat lemah terhadap ABI (r=
Pendahuluan Produksi Hepatocyte Growth Factor (HGF) meningkat sebagai respon terhadap infeksi dan merupakan salah satu marker beratnya kerusakan jaringan. Tujuan Membuktikan kadar HGF dapat digunakan sebagai prediktor luaran sepsis pada anak. Material dan Metode Penelitian kohort prospektif, dilakukan di RSUP Dr. Kariadi Semarang dari September 2014 sampai Februari 2015. Sepsis didefinisikan menurut Konsensus Konferensi Sepsis pada Anak tahun 2005. Subyek dikelompokkan sebagai luaran perbaikan dan perburukan. Perbedaan kadar HGF serum antara kedua kelompok diukur dengan metode ELISA dan dianalisis dengan uji Mann-Whitney U. Cut-off point kadar HGF serum untuk prediktor luaran sepsis ditentukan dengan menggunakan ROC. Hasil Penelitian Sejumlah 31 anak sepsis diikutkan dalam penelitian. Terdapat 8 pasien dengan luaran perburukan dan 23 pasien dengan luaran perbaikan. Median kadar HGF pada luaran perburukan 4723,1 (927,5 - 7435,2) ng/mL dan pada luaran perbaikan 1492,8 (765,16 - 6459,2) ng/mL (p
Latar belakang:Asfiksia perinatal pada bayi baru lahir merupakan suatu keadaantantangan metabolik yang dapat mengakibatkan peningkatan pembentukan radikal bebas /spesies oksigen reaktif (SOR), yang berkontribusi terhadap kerusakan jaringan. Superoksida dismutase (SOD) adalah antioksidan endogen utama pada sel-sel tubuh dan berperan dalam pertahanan sistem sel-sel dan organ terhadapstress oksidatif Tujuan penelitian: Menganalisa korelasi antara derajat asfiksia perinatal dengan kadar superoksida dismutase (SOD) serum bayi dengan asfiksia perinatal Metode: Penelitian ini merupakan studicross sectional dengan subyek penelitian bayi asfiksia ringan, sedang, dan berat dirawat di RSUP Dr. Kariadi Semarang dan RSUD Kota Semarang sejak bulan Maret-Juli 2016. Penilaian derajat asfiksia menggunakan APGAR skor, dan pengukuran kadar SOD serum pada hari ke-1 dan ke-3 dengan ELISA. Data dianalisis dengan uji korelasi regresi spearman’s dan uji beda wilcoxon (p
Latar belakang: Anak dengan leukemia akut sering mendapatkan transfusi PRC dan berisiko mengalami reaksi transfusi yang disebabkan oleh kandungan leukosit dalam komponen darah. Leukoreduksi merupakan salah satu metode untuk mengurangi jumlah leukosit. Leukoreduksi bedside merupakan prosedur sederhana yang dapat dilakukan. Tujuan: Untuk menilai kejadian reaksi transfusi dan rerata kenaikan kadar Hb pada anak leukemia akut yang mendapat transfusi PRC dengan leukoreduksi Metode: Penelitian uji acak terkontrol dilakukan dengan membandingkan kejadian reaksi transfusi (demam, ruam, urtika, sesak napas, hemolisis) pada pasien leukemia akut yang mendapat transfusi PRC dengan dan tanpa leukoreduksi pada September 2014 hingga Juni 2015 di Bangsal Hemato Onkologi RSUP Dr. Kariadi. Kenaikan kadar Hb kemudian diukur dan dibandingkan pada dua kelompok. Analisis statistik menggunakan Chi square dan uji t. Hasil: Sejumlah 52 subyek diikutkan, dengan 26 subyek dengan leukoreduksi, dan 26 subyek sebagai kontrol. Hasil signifikan didapatkan pada kejadian demam paska transfusi pada 1 (3,8%) dibanding 5 subyek (19,2%) (p = 0,039), dan kenaikan Hb didapatkan 2.69 ± 0.77 g/dl dibanding 2.11 ± 1.16 g/dl (p = 0.037) pada kelompok perlakuan dan kontrol secara berturut-turut. Kesimpulan: Transfusi PRC dengan leukoreduksi bedside dapat menurunkan kejadian demam paska tranfusi dan meningkatkan selisih kenaikan kadar Hb yang lebih tinggi pada pasien leukemia akut Kata kunci: leukoreduksi, reaksi transfusi, demam, peningkatan Hb, leukemia akut
Latar belakang: Hipotermia pada neonatus disebabkan oleh berbagai keadaan. Keterbatasan alat untuk merawat bayi berat lahir rendah (BBLR) yang dapat meningkatkan angka morbiditas pada BBLR, penggunaan kantong plastik merupakan upaya untuk mencegah hipotermi pada BBLR. Tujuan penelitian: Menganalisa perbedaan suhu aksila dan gula darah sewaktu (GDS) antara BBLR yang menggunakan kantong plastik (kelompok kasus) dan yang tidak menggunakan kantong plastik (kelompok kontrol). Metode: Penelitian ini merupakan studi randomized control trial dengan subyek penelitian BBLR yang dirawat di RSUP Dr. Kariadi Semarang sejak bulan Januari-Juni 2016. Penelitian derajat hipotermi menggunakan termometer, dan pengukuran kadar GDS dengan glukotest. Analisis dengan Chi-square, Mann-whitney, dan t tidak berpasangan. Hasil: Subyek penelitian 106 BBLR, terdiri dari masing-masing 53 BBLR dalam kelompok kasus dan kontrol, preterm 64 (60,2%), dan aterm 36 (38,8%). Didapatkan perbedaan bermakna antara suhu aksila pada kelompok kasus kontrol (p0,005). Terdapat peningkatan bermakna antara suhu aksila 1 jam pertama dan 24 jam pertama setelah lahir pada kelompok kasus (p