Latar belakang : Artritis reumatoid (AR) merupakan penyakit autoimun yang menyerang sendi tangan dan kaki. Patogenesis sinovitis reumatoid erat kaitannya dengan overekspresi IL-6. Perangkat penilaian aktivitas penyakit seperti DAS28 dan penentuan gradasi sinovitas dengan USG Doppler juga dirancang untuk mendeteksi inflamasi sinovial yang secara teori diperantarai oleh IL-6. Tujuan : Menganalisis korelasi antara kadar IL-6 serum dengan aktivitas penyakit (DAS28) dan gradasi sinovitis pada pasien AR. Metode : Penelitian dilakukan dengan metode belah lintang pada pasien AR yang mengunjungi poliklinik reumatologi Dept. IPD RSUP Dr. KAriadi Semarang. Data penelitian termasuk data primer dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan langsung pada responden yang termasuk kriteria inklusi serta bersedia diikutkan dalam penelitian. Pemeriksaan immunoassay IL-6 dilakukan dengan pemeriksaan ELISA. Terapi rutin AR ditetapkan sebagai variabel perancu hasil penelitian. Hasil : Terdapat 24 responden dengan AR ikut serta pada penelitian. 91,7% wanita dan 8.3% pria. Usia rerata responden 44+12 tahun. Menurut aktivitas penyakit, dua responden (8.3%) memenuhi kriteria aktivitas penyakit remisi (DAS28
Latar belakang : NAFLD Fibrosis Score (NFS) adalah salah satu metode klinis yang tidak invasif dan tervalidasi, untuk mengidentifikasi perkembangan fibrosis hati pada penderita NAFLD. Mortalitas terkait kardiovaskuler merupakan penyebab utama pada pasien NAFLD. Peningkatan indeks massa ventrikel kiri (IMVK) merupakan petanda awal (subklinis) terjadinya komplikasi kardiovaskuler pada penderita NAFLD. Tujuan : Menganalisis korelasi antara NAFLD fibrosis score dengan indek massa ventrikel kiri pada penderita NAFLD. Metode : Penelitian dilakukan dengan metode cross sectional pada pasien NAFLD yang datang ke Poliklinik Gastroenterohepatologi bagian penyakit dalam RSUP Dr. AKriadi Semarang. Pemeriksaan NFS menggunakan perhitungan rumus yang telah ditetapkan berdasarkan parameter klinis dan biokimia darah, sedangkan pengukuran IMVK menggunakan ekokardiografi. Evaluasi variabel perancu meliputi jenis kelamin dan hipertensi. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji korelasi Person's, Mann-Whitney dan regresi logistik. Hasil : Terdapat 64 responden dengan NAFLD primer, 58.1% pria, 41.9% wanita. Usia rerata responden 52.8+10.5 tahun (rentang: 30-77 tahun). Berdasarkan kriteria NFS, distribusi terbesar terdapat pada kelompok high probability of advanced fibrosis (50%), diikuti intermediate probability of advanced fibrosis (34.4%) dan low probability of advanced fibrosis (15.6%). Peningkatan IVMK didapatkan terbanyak bertutur-turut pada kelompok dengan NFS high probability of advanced fibrosis (93.8%), intermediate probability of advanced fibrosis (59.1%) dan low probability of advanced fibrosis (10%). Didapatkan korelasi positif antara NFS dengan IVMK (P 0,002). Dilakukan uji regresi logistik (metode enter) antara NFS dan variebl perancu (jenis kelamin) terhadap IVMK, didapatkan hubungan yang lebih bermakna antara NFS terhadap IVMK pada NAFLD (P=0,002). Kesimpulan : Terdapat korelasi positif antara NAFLD fibrosis score dengan indek massa ventrikel kiri pada penderita NAFLD. Kata kunci : NAFLD, NAFLD fibrosis score (NFS), indek massa ventrikel kiri (IVMK).