INTEGRATED LIBRARY

Universitas Diponegoro

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Masuk
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}

Ditapis dengan

  • Tahun Penerbitan
  • Lokasi
    Lihat Lebih Banyak
Ditemukan 10000 dari pencarian Anda melalui kata kunci: author="SOKOLNIKOFF"
Hal. Awal Sebelumnya 236 237 238 239 240 Berikutnya Hal. Akhir
cover
PROFIL KADAR TESTOSTERON TOTAL SERUM PADA PASIEN DIABETES MELITUS DENGAN OBESITAS (STUDI BELAH LINTANG PASIEN DI RSUP DR. KARIADI)
By Ika Kartiyani ; Tjokorda Gde Dalem Pemayun
-- Semarang : FK Undip, 2018

Latar belakang : Prevalensi diabetes melitus saat ini semakin tinggi. Obesitas merupakan salah satu faktor utama yang berperan terhadap terjadinya DM tipe 2 dan penyakit kardiovaskuler. DM dan sindroma metabolik menjadi faktor risiko rendahnya kadar testosteron dan hipogonadisme. Metode : Penelitian belah lintang dilakukan melibatkan pengukuran IMT (kg/m2), lingkar pinggang (cm) dan kadar testosteron total serum (ng/ml). Data onset DM dan usia didapatkan melalui wawancara dan data rekam medik. Hasil : Subjek penenlitian 39 responden DM dengan obesitas, didaptkan hasil 35 responden (89,7%) kadar testosteron total rendah (

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
HUBUNGAN ANTARA KADAR YODIUM AIR TANAH DENGAN VOLUME TIROID (STUDI PADA WANITA USIA SUBUR DI DESA SENGI KECAMATAN DUKUN KABUPATEN MAGELANG JAWA TENGAH PASCA ERUPSI MERAPI 2010)
By Enrico Morley ; Heri-Nugroho
-- Semarang : FK Undip, 2018

Latar belakang : Yodium dalam air dan garam beryodium adalah sumber pememnuhan kebutuhan yodium tubuh. Penenlitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar iodium air yang dikonsumsi rumah tangga dengan kejadian gondok pada wanita usia subur di Desa Sengi Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang pasca erupsi Merapi 2010. Metode : Penenlitian observasional cross sectional ini dilakukan pada 140 wanita usia subur dari 8 dusun di Desa Sengi Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang dipilih secara proportional random sampling sebagai sampel. Kadar yodium air tanah diperiksa dengan menggunakan spektrofotometer dilaboratorium GAKY Undip Semarang, kadar iodium garam diukur dengan iodometri. EYU diukur dengan metode Ammonium Persulphate Digestion Microplate (APDM). Asupan yodium diukur menggunakan metode wawancara konsumsi bahan makanan menggunakan FFQ lalu dikonversi kandungan yodiumnya dengan menggunakan NutriSurvey 2007 ditambah jumlah yodium dalam garam yang dikonsumsi dubjek penelitian dalam 1 hari. Kejadian gondok diukur dengan menggunakan USG tiroid dilakukan oleh seorang dokter ahli radiologi dan dengan melakukan palpasi yang dilakukan oleh dokter ahli ilmu penyakit dalam. Analisis data dilakukan dengan bantuan komputer dan alat perangkat analisis statistik. Analisis untuk mengetahui kenormalan data di uji dengan Shapiro-Wilk dan dilanjutkan dengan uji korelasi Spearman. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan angka TGR dengan USG tiroid sebesar 4%. Kadar yodium air tanah rata-rata 2,03 ugr/l. Sebagian besar rumah tangga menggunakan kadar yodium dalam garam yang rendah

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Karakteristik pasien HIV/AIDS yang mengalami gejala neuropsikiatri akibat terapi efavirenz (Studi kasus di RSUP Dr. Kariadi Semarang)
By Jeprin Ruru ; Muchlis Achsan Udji Sofro ; Alifiati Fitrikasari
-- Semarang : FK Undip, 2018

Latar belakang: Saat ini efavirenz direkomendasikan sebagai NNRTI lini pertama. Efavirenz seringkali menyebabkan gejala neuropsikiatri, meskipun tidak pada semua pasien. Adanya efek samping ini akan menurunkan kepatuhan minum obat pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien HIV/AIDS yang mengalami gejala neuropsikiatri akibat terapi efavirenz dan faktor-faktor yang berhubungan dengan hal tersebut. Metode: Penelitian cross sectional dilakukan menggunakan kuesioner, wawancara terstruktur dan rekam medik pasien HIV/AIDS yang mendapatkan efavirenz. Sampel dikelompokkan dua: dengan dan tanpa gejala neuropsikiatri, kemudian dinilai faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gejala neuropsikiatri dan dianalisis menggunakan uji chi square. Hasil: Sampel penelitian berjumlah 141, laki-laki 97 (68,8%) dan perempuan 44 (31,2%). Dari 141 sampel, 67 (47,5%) mengalami gejala neuropsikiatri, terdiri atas dizziness 64 (95,52%), mimpi buruk 12 (17,91%), insomnia 8 (11,94%), halusinasi 3 (4,5%), dan mudah lupa 1 (1,5%). Hanya variabel umur < 30 tahun yang berhubungan bermakna dengan kejadian gejala neuropsikiatri, p = 0,043 (OR 2,189; 95% CI 1,083 – 4,424), variabel lain seperti jenis kelamin, IMT, jumlah CD4 awal, koinfeksi TB Paru, Hepatitis B dan Hepatitis C tidak berhubungan bermakna. Kesimpulan: Karakteristik pasien HIV/AIDS di RSUP Dr. Kariadi kurang lebih sama dengan beberapa penelitian sebelumnya. Usia muda merupakan faktor yang berhubungan bermakna dengan kejadian gejala neuropsikiatri pada pasien HIV/AIDS yang mendapatkan terapi efavirenz. Perlu dilakukan penilaian kondisi psikologis pasien terutama yang berusia muda sebelum diberikan terapi efavirenz. Kata Kunci: Efavirenz, gejala neuropsikiatri, HIV/AIDS

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
GAMBARAN KLINIS DAN RADIOLOGIS PADA PASIEN TB-HIV (STUDI KASUS DI RSUP DR. KARIADI)
By Titi Mutiara ; Banteng Hanang Wibisono ; Muchlis Achsan Udji Sofro ; Bambang Satoto
-- Semarang : FK Undip, 2018

Latar belakang : HIV/AIDS-TB merupakan kegawatan kesehatan masyarakat global saat ini. Indonesia menduduki peringkat kedua dunia berdasarkan insidensi jumlah kasus TBC. Prevalensi koinfeksi TB-HIV cukup tinggi di Indonesia, namun diagnosisnya masih cukup sulit karena gambaran klinis radiologis yang tidak khas. Metode : Penelitian deskriptif berdasarkan data sekunder dari rekam medis penderita TB-HIV di instalasi Rawat Inap dan Rawat Jalan RSDK selama periode 1 Januari 2015 sampai dengan 30 Juni 2018. Hasil : Subjek penelitian 43 pasien, TB-HIV 17 BTA (+), 26 BTA (-), CD4+

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
PENGARUH PENAMBAHAN KINESIO TAPING PADA LATIHAN MC KENZIE TERHADAP BACK PERFORMANCE SCALE PENDERITA NYERI PUNGGUNG BAWAH MEKANIK KRONIK
By Havina Hari Suko ; Lanny Indriastuti ; Suhartono
-- Semarang : FK Undip, 2017

Tujuan : Mengetahui pengaruh penambahan kinesio taping pada latihan MC kenzie terhadap skor Back Performance Scale penderita nyeri punggung bawah mekanik kronik. Rancangan : Penelitian simple randomized controlled pre dan post experimental design. Subjek : Tigapuluh penderita nyeri punggung bawah mekanik kronik berusia 25-40 tahun. Tempat : Instalasi Murai Gedung Rehabilitasi Medik RSUP Dr. Kariadi. Waktu : Agustus-September 2017. Intervensi : Latihan McKenzie sebanyak 12 kali selama 4 minggu dengan frekuensi 3 kali per minggu pada kelompok perlakuan dan kontrol, penambahan kinesio taping sebanyak 7 kali selama 4 minggu pada kelompok perlakuan. Hasil Pengukuran Utama : Performa fungsional punggung yang diukur dengan Back Performance Scale (BPS) pada awal penelitian dan akhir minggu keempat. BPS terdiri dari sock test, pick up test, finger tip to floor test, lift test dan roll up test. Hasil: Terdapat peningkatan rerata skor BPS yang bermakna pada kelompok-kelompok perlakuan dengan penambahan kinesiotaping dibandingkan kelompok kontrol setelah intervensi (pada akhir minggu keempat). Kesimpulan : Penambahan kinesiotaping berpengaruh terhadap skor Back performance scale. Kata kunci : kinesio taping, latihan Mc Kenzie, Back performance scale, nyeri punggung bawah mekanik kronik

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
PENGARUH PEMBERIAN INSOLE MEDIAL WEDGE TERHADAP KESEIMBANGAN STATIS DAN DINAMIS PADA REMAJA USIA 16-18 TAHUN DENGAN FLEKSIBLE FLAT FOOT
By Megah Mariana ; Rudy Handoyo ; Suhartono
-- Semarang : FK Undip, 2018

Latar Belakang : Flat foot merupakan patologi kaki yang umum dijumpai dalam kehidupan sehari-hari pada populasi remaja dan dapat mempengaruhi fungsi kaki normal untuk menumpu berat badan, sehingga beban akan ditransfer ke area lebih proksimal seperti lutu, panggul dan punggung bawah. Lebih lanjut, dapat mempengaruhi biomekanika kaki dan mengganggu distribusi penekanan dan keseimbangan selama berjalan. Tatalaksana berupa ortosis kaki paling sering diberikan pada pasien flat foot. Insole medial wedge secara klinis diberikan untuk memperbaiki keseimbangan dan mengoreksi kaki pronasi. Namun, masih terdapat kontradiksi mengenai perlunya tatalaksana ortosis kaki terhadap gangguan keseimbangan pada pasien flat foot terutama pada pasien remaja, dimana maturitas tulang kaki terjadi pada kisaran umur 12 tahun pada wanita dan usia 14 tahun pada laki-laki. Tujuan : Mengetahui efek dari insole medial wedge terhadap kesembangan statis dan dinamis pada remaja usia 16-18 tahun dengan flexible flat foot setelah 4 minggu. Material dan Metode : Suatu simple randomized experimental pre and post test controlled group design study dilakukan pada tiga puluh empat pelajar di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 8 Semarang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Semua pasien dievaluasi dengan single limb stance mata terbuka dan tertutup untuk keseimbangan statis dan tandem walk test untuk keseimbangan dinamis pada awal, minggu kedua dan akhir penelitian. Intervensi : Kelompok perlakuan diinstruksikan menggunakan insole medial wedge selama minimal 6 jam/hari selama 4 minggu. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan pada delta skor SLS mata terbuka antara kelompok perlakuan dan kontrol sesudah perlakuan (p=0,000). Terdapat perbedaan yang signifikan pada delta skor SLS mata tertutup antara kelompok perlakuan dan kontrol sesudah perlakuan (p=0,000). Terdapat perbedaan yang signifikan pada delta skor TWT antara kelompok perlakuan dan kontrol sesudah perlakuan (p=0,001). Kesimpulan : Semua pasien menunjukkan peningkatan signifikan pada rerata nilai skor single limb stance untuk keseimbangan statis dan rerata nilai skor tandem walk test untuk keseimbangan dinamis pada akhir penelitian. Penggunaan insole medial wedge jangka pendek secara signifikan meningkatkan keseimbangan statis dan dinamis pada remaja usia 16-18 tahun dengan flexible flat foot. Kata kunci : insole medial wedge, keseimbangan statis, keseimbangan dinamis, remaja, fleksibel flatfoot

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
PENGARUH PROGRAM BERJALAN 10.000 LANGKAH TERHADAP KEBUGARAN KARDIORESPIRASI REMAJA OBESITAS
By William Jakatama S ; Sri Wahyudati ; Suhartono
-- Semarang : FK Undip, 2018

Tujuan : Membuktikan pengaruh program berjalan 10.000 langkah terhadap kebugaran kardioresirasi remaja obesitas. Rancangan : Randomized controlled pre dan post experimental group design. Subjek : 24 Siswa SMA usia 15-17 tahun dengan obesitas. Tempat : SMA Nusa Putera dan SMAN 11 Semarang. Waktu : Februari-Maret 2018. Perlakuan : Program berjalan 10.000 langkah 5 hari dalam seminggu selama 6 minggu pada kelompok perlakuan. Kelompok kontrol hanya mendapatkan pedometer dan mencatat jumlah langkah tanpa diberikan target harian selama 6 minggu. Hasil Pengukuran Utama : Kebugaran kardiorespirasi (VO2 maks) yang diukur dengan 6 minute walking test ( 6mwt). Penilaian dilakukan sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan terakhir. Hasil: Pada awal penelitian, tidak didapatkan adanya perbedaan yang bermakna skor VO2 maks antara kelompok kontrol (12,45 (11,71-16,92)) dan kelompok perlakuan (12,44 (11,18-17,03)) dengan p=0,954. Pada akhir penelitian pada kelompok kontrol tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara nilai VO2 maks awal (14,45 (11,71-16,92)) dengan VO2 maks akhir (12,38 (11,31-17,18)) dengan p=0,582. Sedangkan pada kelompok perlakuan pada akhir penelitian didapatkan adanya perbedaan yang bermakna (p=0,002) antara nilai VO2 maks awal (12,44 (11,18-17,03)) dengan VO2 maks akhir (17,06 (14,89-19,78)). Terdapat perbedaan yang sangat signifikan (p=0,000) selisih skor VO2 maks antara kelompok kontrol (0,035 (-0,71-0,26)) dengan kelompok program berjalan 10.000 langkah (3,79 (2,54-5,74)). Kesimpulan : Program berjalan 10.000 langkah berpengaruh terhadap kebugaran kardiorespirasi remaja obesitas. Kata kunci : program berjalan 10.000 langkah, remaja obesitas, VO2 maks

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
PENGARUH PEMBERIAN INSOLE MEDIAL WEDGE TERHADAP JARAK TEMPUH BERJALAN PADA REMAJA USIA 16-18 TAHUN DENGAN FLEKSIBLE FLAT FOOT
By Nandra Hermanto ; I Made Widagda ; Suhartono
-- Semarang : FK Undip, 2018

Tujuan : Untuk membuktikan efek penggunaan insole medial wedge terhadap jarak tempuh berjalan to prove the effect of insole medial wedge on walking distance. Design : Penelitian randomized pre dan post controlled group design. Partisipan : 34 remaja usia 16-18 tahun. Tempat : SMK Negeri 8. Waktu : Februari-Maret 2018. Intervensi : Subjek secara acak dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Kelompok perlakuan mendapatkan sepatu dan insole medial wedge sedangkan kelompok kontrol mendapatkan sepatu dengan insole datar. Sepatu dan insole digunakan minimal enam jam sehari, selama empat minggu. Jarak tempuh dinilai dengan menggunakan 6 minute walking test (6MWT). Jarak tempuh kelompok perlakuan dan kontrol dinilai pada awal penelitian minggu 0 (pre), akhir minggu kedua dan akhir minggu keempat penggunaan. Hasil: Pada kelompok perlakuan didapatkan perubahan signifikan terhadap jarak tempuh, dari minggu 0 (pre) 430,22 ± 32,96 meter hingga minggu ke empat 525,16 ± 24,01 (P=0,000). Pada kelompok kontrol tidak didapatkan adanya perubahan yang signifikan dari minggu 0 (pre) 442,13 ± 46,45 meter hingga 447,53 ± 40,9 meter pada minggu 4 (p=0,268). Untuk perbandingan antar kelompok juga didapatkan adanya perbedaan yang signifikan pada minggu ke empat dengan p=0,000. Kesimpulan : Penggunaan insole medial wedge dapat memperbaiki jarak tempuh berjalan pada remaja dengan fleksibel flatfoot. Kata kunci : insole medial wedge, jarak tempuh berjalan, fleksibel flatfoot

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
HUBUNGAN ANTARA KADAR GALECTIN 3 DENGAN KADAR KREATININ DAN ASAM URAT SERUM : STUDI PADA PENDERITA PENYAKIT GINJAL KRONIK DENGAN HEMODIALISIS
By Guruh Adi Indrawan ; Indranila KS ; Meita Hendrianingtyas
-- Semarang : FK Undip, 2018

Latar belakang : Fibrosis berperan penting dalam proses penyakit ginjal kronik. Inflamasi sebagai awitan terjadinya fibrosis pada glomerolus dan tubulus ginjal merupakan patofisiologi yang mendasari terjadinya penyakit ginjal kronik dan umumnya diakhiri dengan dialisis sebagai terapi pengganti ginjal. Kreatinin di filtrasi oleh glomerulus sedangkan asam urat diabsorbsi dan sebagian di sekresi oleh tubulus. Galectin 3 merupakan mediator inflamasi pro fibrosis pada penyakit ginjal kronik. Komponen darah seperti galectin 3, kreatinin dan asam urat berperan sebagai petanda fibrosis ginjal serta menilai fungsi glomerulus dan tubulus pada penderita penyakit ginjal kronik (PGK) dengan hemodialisis. Tujuan : Membuktikan hubungan antara kadar galectin 3 dengan kreatinin dan asam urat serum pada penderita PGK dengan hemodialisis. Metode : Penelitian belah lintang ini melibatkan 33 orang yang didiagnosis PGK dengan hemodialisis di RSUP dr. Kariadi Semarang selama periode April – Juni 2018. Kadar galectin 3 diperiksa menggunakan metode ELISA. Kadar kreatinin dan asam urat diperiksa menggunakan alat kimia otomatis. Analisa statistik menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil Penelitian : Hasil uji hubungan antara kadar galectin 3 dengan kreatinin serum menunjukkan : r = 0,381 p=0,029 dan kadar galectin 3 dengan asam urat serum menunjukkan r=0,347 p=0,048. Kesimpulan : Kadar galectin 3 berhubungan positif lemah dengan kadar kreatinin dan asam urat serum pada PGK dengan hemodialisis. Kata kunci : galectin 3, kreatinin, asam urat, PGK, hemodialisis

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
EKSPRESI WT 1 DAN P 16 PADA KARSINOMA SEROSUM DERAJAT TINGGI DAN KARSINOMA ENDOMETRIOID DERAJAT TINGGI PADA OVARIUM : DI RS DR. KARIADI SEMARANG, PERIODE 2015-2017
By Djamila Zakaria ; Udadi Sadhana ; Devia Eka Listiana
-- Semarang : FK Undip, 2018

Latar belakang : Karsinoma serosum derajat tinggi dan karsinoma endometrioid derajat tinggi pada ovarium adalah keganasan epithelial terbanyak dan yang kedua terbanyak pada ovarium. Keganasan ini sering terdeteksi pada tahap lanjut dan mempunyai prognosis yang buruk. Secara histopatologi sulit untuk membedakan kedua keganasan ini. Ekspresi WT1 dan p16 dapat digunakan untuk membedakan kedua keganasan ini. Tujuan : Untuk membuktikan perbedaan ekspresi WT1 dan p16 pada karsinoma serosum derajat tinggi dan karsinoma endometrioid derajat tinggi pada ovarium. Metode : penelitian analitik deskriptif dengan desain belah lintang. Sampel sebanyak 30 blok paraffin yang telah didiagnosis dan dilihat ulang sebagai karsinoma ovarium tahun 2015-2017 di laboratorium Patologi Anatomi RSUP dr. Kariadi yang dibagi menjadi 2 kelompok endometrioid derajat tinggi sebanyak 12 sampel, dan dilakukan pengecatan imunohistokimia antibodi monoklonal WT1 dan p16, kemudian dianalisis dengan uji Mann-Whitney. Hasil Penelitian : Secara statistik dengan menggunakan uji mann-whitney nilai p ekspresi WT1 dan p16 pada karsinoma serosum derajat tinggi dan karsinoma endometrioid derajat tinggi pada ovarium adalah 0,698 dan 0,183 dengan ekspresi WT1 dan p16 pada karsinoma serosum derajat tinggi lebih tinggi dibandingkan karsinoma endometrioid derajat tinggi. Kesimpulan : Terdapat pebedaan yang tidak bermakna antara ekspresi WT1 dan p16 pada karsinoma serosum derajat tinggi dan karsinoma endometrioid deraat tinggi pada ovarium. Kata kunci : karsinoma serosum derajat tinggi, karsionoma endometrioid derajat tinggi, ovarium, WT1, p16

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
Hal. Awal Sebelumnya 236 237 238 239 240 Berikutnya Hal. Akhir
INTEGRATED LIBRARY
Universitas Diponegoro
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?