Buku Kimia pangan: Analisis laboratorium memaparkan materi; evaluasi makanan; metode objektif; metode sensorik; catatan laboratorium; panduan penulisan laporan penelitian; proyek individu; laboratorium: evaluasi sensorik makanan; laboratorium: evaluasi objektif makanan; laboratorium: karakter fisik makanan; laboratorium: dispersi zat; laboratorium lipid; laboratorium: asam amino, protein & maillard browning; Laboratorium gelatin; laboratorium: karbohidrat; laboratorium: campuran tepung; laboratorium: pigmen; laboratorium: pektin; laboratorium: GOM karbohidrat sintesis, panduan peralatan.
Memahami Pemeriksaan Klinis Jantung : Risalah bagi Pemeriksaan Klinis
Buku ini menyajikan materi yang dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama menyajikan bakteriologi I - pewarnaan dengan pembahasan: mikroskop, sediaan tetes gantung, pewarnaan sederhana, pewarnaan gram, pewarnaan negatif, pewarnaan spora, pewarnaan kapsul, pewarnaan bakteri tahan asam, sterilisasi alat & bahan/reagensia. Bagian kedua Bakteriologi II - identifikasi bakteri, membahas: fase pertumbuhan bakteri, faktor fisik pada pertumbuhan bakteri, media bakteriologi, uji biokimia untuk identifikasi kuman, escherichia coli, klebsiella sp, proteus sp, pseudomonas sp, salmonella sp, shigella sp, vibrio cholerae, staphylococcus sp. Bagian ketiga Bakteriologi III - mikrobiologi pangan, mikrobiologi udara, kualitas susus, uji antibiotik & koefisien fenol, membahas: mikrobiologi pangan, pemeriksaan most probable number, uji sensitivitas antibiotik, pengujian susu dengan indikator methylene blue, pemeriksaan sampel bakteriologis udara, koefisien fenol.
Buku ini merupakan edisi 13 vol. 2 menawarkan tampilan konten mengenai gangguan homeostatis. Adapun tema yang dibahas terdiri dari 11 Bab, terdiri dari: Bab. 19 Sistem Kardiovaskular: Darah Bab. 20 Sistem Kardiovaskular: Jantung Bab. 21 Sistem Kardiovaskular: Pembuluh Darah Dan Hemodinamika Bab. 22 Sistem Limfe Dan Imunitas Bab. 23 Sistem Pernapasan Bab. 24 Sistem Pencernaan Bab. 25 Metabolisme Dan Nutrisi Bab. 26 Sistem Kemih Bab. 27 Homeostasis Cairan, Elektrolit, Dan Asam Basa Bab. 28 Sistem Reproduksi Bab. 29 Perkembangan Dan Pewarisan Anatomi dan Fisiologi adalah ilmu visual, buku ini mempelajari gambar-gambar yang sama pentingnya dengan membaca teks narasi. Dengan harapan dapat membantu mahasiswa dalam memahami konsep yang dijelaskan.
Buku yang berjudul Anatomi fungsional: Anatomi muskuloskeletal, kinesiologi dan palpasi untuk fioterapi diharapkan dapat membantu mengungkapkan hal baru dan menakjubkan tentang tubuh manusia, terdiri dari sembilan bab dengan menyajikan materi: pengantar tubuh manusia, osteologi dan artrologi; miologi; bahu; siku, lengan bawah, pergelangan tangan dan tangan; kepala, leher dan wajah; trunkus; panggul, paha dan lutut; tungkai, pergelangan kaki dan kaki.
Latar Belakang : Benign Prostate Hyperplasia (BPH) adalah pembesaran kelenjar prostat jinak pada laki-laki usia tua yang dapat mempengaruhi kualitas hidup dengan adanya Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS). Transurethral Resection of Prostate (TURP) merupakan tindakan operatif paling umum yang dilakukan untuk menghilangkan gejala LUTS, namun komplikasi perdarahan selama dan pasca operasi akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Perkembangan BPH dipengaruhi oleh angiogenesis yang dapat dilihat dari ekspresi microvessel density (MVD). Dutasteride dapat menurunkan jumlah MVD sehingga aliran darah berkurang yang mengakibatkan kelenjar prostat mengecil dan menginduksi apoptosis. Lycopene merupakan pigmen pemberi warna merah pada buah tomat yang terbukti berperan penting pada penyakit BPH dan gejala LUTS. Tujuan : Membuktikan kombinasi dutasteride dan lycopene yang diberikan preoperatif dapat menurunkan angiogenesis dan perdarahan pada pasien BPH yang akan dilakukan TURP. Metode : Penelitian ini menggunakan desain “double blind randomized controled trial post test only design” terhadap 20 subyek penderita BPH yang akan dilakukan TURP dan dibagi menjadi 2 kelompok secara random alokasi. Kelompok K adalah kontrol, diberikan kapsul dutasteride 0,5 mg dan plasebo. Kelompok P diberikan kapsul dutasteride 0,5 mg dan lycopene 30 mg. Penilaian jumlah MVD dilakukan setelah pengecatan imunohistokimia, sedangkan selisih eritrosit didapat dengan membandingkan jumlah eritrosit pre dan post TURP. Hasil : Nilai mean jumlah MVD kelompok K dan P adalah 28,20±12,33 dan 18,30±7,62. Nilai mean selisih eritrosi kelompok K dan P adalah -0,34±0,18 dan -0,17±0,12. Analisa statistik jumlah MVD didapatkan perbedaan yang bermakna dengan nilai p = 0,044 dan pada selisih eritrosit dengan nilai p = 0,048. Analisa korelasi antara jumlah MVD dan selisih eritrosit didapatkan korelasi bermakna (p = 0,032 dan r = 0,480). xvi Simpulan : Pemberian kombinasi dutasteride 0,5 mg dan lycopene 30 mg setiap 24 jam selama 30 hari pre operasi TURP dapat menurunkan angiogenesis dan perdarahan pada pasien BPH yang menjalani operasi TURP. Kata kunci : Lycopene, BPH, TURP, angiogenesis, perdarahan, jumlah microvessel density (MVD), selisih eritrosit
Latar belakang. DSD kromosom seks mosaik merupakan kondisi atipikal genetalia eksterna yang tidak sesuai dengan hasil kromosom seks. Anak yang dilahirkan dengan DSD kromosom seks mosaik, khususnya yang memiliki kromosom Y, menyebabkan kebingungan bagi orangtua dalam membuat keputusan terkait dengan gender assignment. Tujuan. Menggali strategi coping dan pengalaman orangtua yang mempunyai anak dengan DSD kromosom seks mosaik Metode. Penelitian ini menggunakan penelitian campuran dengan pendekatan metode sekuensial eksplanasi. Total responden terdiri dari 14 orang ibu dan 12 orang bapak dari 14 orang anak dengan DSD kromosom seks mosaik. Orangtua mengisi tiga kuesioner yaitu kuesioner data demografi, kuesioner Brief COPE versi Indonesia, dan Parental Acceptance-Rejection Questionnaire). Pengumpulan data kualitatif melalui wawancara mendalam dengan orangtua untuk menggali pengalaman orangtua yang mempunyai anak dengan DSD kromosom seks mosaik. Hasil. Penelitian ini mengidentifikasi empat strategi coping yang banyak digunakan oleh orangtua yaitu religi, positive reframing, acceptance dan active coping. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada penggunaan strategi coping antara ibu dan bapak. Penerimaan ibu terhadap anak lebih besar dibandingkan dengan bapak. Berdasarkan hasil wawancara mendalam didapatkan beberapa tema yaitu (1) reaksi awal orangtua, (2) pengalaman selama perawatan medis, (3) dukungan sosial, (4) coping terhadap diagnosis anak, dan (5) penerimaan orangtua terhadap anak Kesimpulan. Dengan mengetahui strategi coping yang digunakan oleh orangtua dapat membantu mempercepat penerimaan orangtua. Untuk membantu orangtua yang mempunyai anak dengan DSD kromosom seks mosaik untuk bisa menerima kondisi anak, tenaga kesehatan dapat meggunakan pendekatan coping religi atau positive reframing. Kata kunci : strategi coping, penerimaan orangtua, DSD kromosom seks mosaik