Tujuan: Membuktikan pengaruh penambahan kinesio taping terhadap kekuatan otot kuadrisep femoris pada pasien osteoarthritis genu grade II dan III yang mendapatkan latihan weight-pulley system. Rancangan: simple randomized controlled pre and post experimental design. Subyek: 27 subjek penderita osteoarthritis genu grade II dan III yang berusia antara 40-65 tahun. Tempat: Instalasi Murai Gedung Rehabilitasi Medik RSUP dr. Kariadi Semarang. Waktu: April 2019- Mei 2019. Perlakuan: Subyek dibagi menjadi 2 kelompok secara acak, kelompok perlakuan (n=13) mendapatkan intervensi latihan weight-pulley system dan Kinesio Taping sedangkan kelompok kontrol (n=14) hanya mendapatkan latihan weight-pulley system saja. Latihan weight-pulley system pada kelompok kontrol dan perlakuan dilakukan 3 kali seminggu selama 3 minggu. Hasil pengukuran utama: Kekuatan otot kuadrisep femoris dinilai dengan menggungakan push-pull dynamometer pada sebelum perlakuan dan akhir minggu ke-3 intervensi. Hasil: Terdapat peningkatan bermakna nilai kekuatan otot pada akhir minggu ke- 3 intervensi pada masing-masing kelompok dibandingkan dengan sebelum intervensi. Terdapat perbedaan delta nilai kekuatan otot antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol pada sesudah intervensi. Simpulan: Penambahan kinesio taping berpengaruh terhadap peningkatan kekuatan otot kuadrisep femoris pada pasien osteoarthritis genu grade II-III yang mendapatkan latihan weight-pulley system. Kata kunci: Osteoarthritis genu; Latihan weight-pulley system; Kinesio Taping; Kekuatan otot; Push-pull dynamometer
Tujuan : Membandingkan efek High Intensity dan Low Level Laser Therapy terhadap rerata parameter elektrofisiologis sensorik dan motorik pada pasien dengan CTS derajat sedang. Rancangan : true experimental randomized pre and post test group design. Subyek : 16 orang subyek penelitian (15 perempuan dan 1 laki-laki) dengan CTS derajat sedang. Tempat : Poliklinik Rawat Jalan Rehabilitasi Medik RSUD Tugurejo Semarang. Waktu : September 2018. Perlakuan : Subyek dibagi secara acak ke dalam dua kelompok. Kelompok HILT mendapatkan HILT dengan dosis analgesik 10J/cm2 dan biostimulasi 120 J/cm2 selama 10 sesi dalam 2 minggu. Kelompok LLLT mendapatkan LLLT dengan dosis 6J/cm2 selama 10 sesi dalam 2 minggu. Hasil pengukuran utama : Combined Sensory Index, kecepatan konduksi sensorik dan latensi motorik distal. Pengukuran EMG dilakukan sebelum perlakuan dan 3 hari pasca perlakuan. Hasil : Rerata penurunan CSI pada kelompok HILT lebih tinggi dari LLLT (p = 0,03). Tidak terdapat perbedaan bermakna pada rerata peningkatan kecepatan konduksi sensorik dan penurunan latensi motorik distal antara kedua kelompok (p = 0,73 dan 0,52). Simpulan : HILT hanya lebih baik dari LLLT dalam memperbaiki nilai CSI pada pasien CTS derajat sedang. Kata kunci : CTS, HILT, LLLT, CSI, kecepatan konduksi sensorik, latensi motorik distal
Latar belakang : Lansia mengalami perubahan fisiologis yang dapat menyebabkan atau memperparah gangguan paru restriktif. Prevalensi gangguan paru restriktif pada lansia meningkat menjadi 175 per 100.000 kasus. Meningkatnya jumlah lansia dari tahun ke tahun di Indonesia merupakan tantangan khusus di dunia kesehatan, terutama dalam hal menjaga kebugaran kardiovaskular yang dapat dinilai melalui VO2 Max. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan latihan penumpukan udara pada VO2 max lansia dengan kelainan paru restriktif yang telah melakukan pelatihan pernapasan dalam. Metode : Penelitian ini adalah eksperimen kelompok pre-dan post-test acak eksperimental yang benar pada lansia dengan kelainan paru restriktif. Tiga puluh subjek lansia dengan kelainan paru restriktif yang melakukan pelatihan pernapasan dalam dan memenuhi syarat kriteria inklusi dan eksklusi, secara acak dibagi menjadi kelompok eksperimen yang menerima latihan penumpukan udara tambahan dan kelompok kontrol. Setiap kelompok melakukan pelatihan 5 kali seminggu selama 4 minggu. Tes jalan kaki 6 menit dilakukan sebelum dan sesudah perawatan untuk mendapatkan nilai VO2 max. Hasil : Perbedaan nilai maks VO2 antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, sebelum dan setelah perawatan, menunjukkan perbedaan yang signifikan (p
Pendahuluan:Pada proses penuaan, terjadi perubahan anatomi dan fisiologi dari saluran pernapasan sehingga dapat berdampak pada penurunan kapasitas fungsional paru sehingga menyebabkan terjadinya gangguan paru restriktif. Latihan pernapasan air stacking merupakan latihan pernapasan dengan menggunakan alat ambu bag untuk membantu inhalasi, yang dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas fungsional paru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek penambahan latihan air stacking terhadap kapasitas fungsional paru pada lansia dengan gangguan paru restriktif yang mendapat latihan deep breathing. Metode: Penelitian ini merupakan true experimental randomized pre and post test group design pada lansia dengan kelainan paru restriktif. 30 subjek lansia dengan gangguan paru restriktif yang mendapat latihan pernapasan air stacking dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dibagi secara acak menjadi kelompok eksperimental yang mendapat latihan deep breathing ditambah latihan air stacking, dan kelompok kontrol yang hanya mendapat latihan deep breathing. Setiap kelompok mendapat latihan 5 kali seminggu selama 4 minggu. Pemeriksaan kapasitas fungsional paru dilakukan melalui pemeriksaan spirometri yang dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil:Rerata peningkatan kapasitas fungsional paru pada kelompok eksperimental dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kesimpulan:Penambahan latihan pernapasan air stacking pada lansia dengan gangguan paru restriktif yang mendapat latihan deep breathing dapat meningkatkan kapasitas fungsional paru. Kata kunci:Latihan pernapasan air stacking, gangguan paru restriktif, kapasitas fungsional paru.
Buku ini ditujukan untuk membantu mahasiswa kedokteran dan residen dalam membentuk pengetahuan dasar yang solid tentang penyakit jantung dan sirkulasinya. Adapun pembahasan dalam buku ini terbagi dalam 17 Bab. Bab 1. Struktur dan Fungsi Jantung Normal Bab 2. Siklus Jantung: Mekanisme Bunyi dan Bising Jantung Bab 3. Pencitraan dan Kateterisasi Jantung Bab 4. Elektrokardiogram Bab 5. Aterosklerosis Bab 6. Penyakit Jantung Iskemik Bab 7. Sindrom Koroner Akut Bab 8. Penyakit katup Jantung Bab 9. Gagal Jantung Bab 10. Kardiomiopati Bab 11. Mekanisme Aritmia Jantung Bab 12. Aspek Klinis Aritmia Jantung Bab 13. Hipertensi Bab 14. Penyakit pada Perikardium Bab 15. Penyakit Pembuluh Darah Perifer Bab 16. Penyakit Jantung Bawaan Bab 17. Obat-Obat Kardiovaskular Bab pengenalan buku ini membahas anatomi dan fisiologi jantung dan memberikan dasar yang dibutuhkan untuk mengerti aspek klinis dari bahan yang akan diberikan selanjutnya. Bab terakhir menjelaskan obat-obat kardiovaskular dan rasional fisiologis penggunaannya.
Buku ini berisi beberapa karya ilmiah yang memberikan informasi penting tentang Sindrom Down. Adapun Karya ilmiah yang dimaksud: Anak Saya Sindrom Down dan Memiliki Penyakit Jantung Bawaan Sindrom Down: Apakah Penyakit Menurun? Sindrom Down pada Anak Problem Nutrisi dan Pertumbuhan Anak Sindrom Down Perkembangan Anak Sindrom Down Mengenal Penyakit dan Kegawatdaruratan pada Anak dengan Sindrom Down Rehabilitasi pada Anak dengan Sindrom Down Tema ini penting, mengapa? Karena Sindrom Down merupakan penyakit akibat kelainan kromosom yang tinggi kejadiannya di masyarakat. Kelainan kromosom tersebut berdampak pada berbagai struktur dan fungsi organ yang dapat mengganggu kesehatannya. Anak dengan Sindrom Down terlahir berbeda. Perhatian, kasih sayang, ketelatenan dan kesabaran dalam melatih, mendidik dan membimbing, lingkungan yang memadai, kemudahan akses ke sarana kesehatan, didukung dengan pengetahuan orang tua yang cukup, sangat membantu dalam mengupayakan pertumbuhan dan perkembangan yang optimal bagi anak.