INTEGRATED LIBRARY

Universitas Diponegoro

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Masuk
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}

Ditapis dengan

  • Tahun Penerbitan
  • Lokasi
    Lihat Lebih Banyak
Ditemukan 10000 dari pencarian Anda melalui kata kunci: author="Reitz, John R."
Hal. Awal Sebelumnya 201 202 203 204 205 Berikutnya Hal. Akhir
cover
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS ANTARA OKSIKODON DENGAN MORFIN SEBAGAI ADJUVAN BUPIVAKAIN EPIDURAL UNTUK ANALGETIK PASCA OPERASI GINEKOLOGI ONKOLOGI
By Erdi Efendi ; Doso Sutiyono
-- Semarang : FK Undip, 2019

Latar Belakang: Operasi ginekologi onkologi menimbulkan nyeri pasca operasi yang berat dengan nilai VAS 7-8 sehingga diperlukan manajemen nyeri yang adekuat, salah satunya dengan injeksi analgesia epidural kontinyu menggunakan anestesi lokal bupivacain dengan adjuvan opioid oksikodon atau morfin. Tujuan: Membandingkan efektivitas dan efek samping antara oksikodon dengan morfin sebagai adjuvan bupivakain epidural untuk analgetik pada pasca operasi laparotomi ginekologi onkologi. Metode: Sebanyak 42 pasien yang menjalani operasi ginekologi onkologi dimasukkan dalam penelitian randomized, double-blind, controlled trial ini. Pasien dibagi menjadi dua grup : grup O mendapatkan aduvan oksikodon melalui infus epidural sebesar 0,07 mg/jam setelah operasi, selama 48 jam; dan grup M mendapatkan morfin melaui infus epidural sebesar 0,1 mg/jam, selama 48 jam. Dilakukan pencatatan Skor NRS, tekanan darah sistol diastol, laju nadi dan laju napas, efek samping serta kebutuhan rescue analgetik Hasil: Kedua grup sebanding dalam hal skor NRS, tekanan darah sistol diastol, laju nadi dan laju napas, efek samping serta kebutuhan rescue analgetik. Terjadi efek samping mual, pruritus, mengantuk dan pusing namun secara statistik tidak ada perbedaan yang bermakna. Kesimpulan: Penggunaan epidural oksikodon sama efektifnya dibandingkan penggunaan morfin epidural. Skala nyeri NRS pada kelompok oksikodon epidural tidak berbeda dibandingkan dengan kelompok morfin epidural. Efek samping pada kelompok pasien morfin epidural tidak terbukti lebih banyak dibandingkan dengan kelompok pasien oksikodon epidural. Kata Kunci : epidural, oksikodon, morfin, bupivakain, adjuvan

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
EFEKTIVITAS KLONIDIN DAN DEXMEDETOMIDINE UNTUK MENCEGAH AGITASI PASCA ANESTESI SEVOFLURAN PADA PASIEN PEDIATRI
By Muhammad Arif Nur Syahid ; Jati Listiyanto Pujo
-- Semarang : FK Undip, 2019

Latar Belakang: Anestesi terpillih pada prosedur operasi pasien pediatri adalah general anestesi dengan agen inhalasi sevofluran. Efek samping sevoflurane yang sering muncul adalah agitasi pasca anestesi.. Beberapa obat sering digunakan untuk mengurangi agitasi pasca anestesi dengan agen inhalasi sevoflurane, diantaranya klonidin dan dexmedetomidine. Tujuan: Membandingkan pengaruh pemberian klonidin dan dexmedetomidin intravena dosis tunggal sebelum ekstubasi terhadap insiden agitasi dan nyeri saat pulih sadar dari anestesi umum pada pasien pediatrik yang menjalani prosedur pembedahan dengan anestesi umum dengan gas inhalasi sevofluran. Metode: Dilakukan penelitian eksperimental dengan rancangan randomized, double-blind, controlled trial pada 48 pasien pediatri sebagai subjek penelitian yang dibagi menjadi 2 kelompok secara acak masing-masing kelompok terdiri dari 24 anak yang menjalani operasi labioplasti dengan anestesi umum inhalasi menggunakan agen inhalasi sevoflurane. Kelompok I mendapat perlakuan injeksi klonidin 2 mg/kgbb 15 menit sebelum agen inhalasi dimatikan. Kelompok II mendapat dexmedetomidin 0,3 mcq/kgbb 15 menit sebelum agen inhalasi dimatikan. Dievaluasi kejadian agitasi dengan membandingkan skor PAEDS pre operasi, 1 menit post ekstubasi, saat mulai pulih sadar, dan 15 menit post ekstubasi serta skor FLACC saat mulai pulih sadar dan 15 menit post ekstuubasi. Selain itu juga menilai waktu mulai pulih sadar, waktu tercapainya Stewart Score ≥5 tanpa nilai 0 dan PAEDS ≤10, Stewart score saat pasien kembali ke ruangan. Hasil: Skor PAEDS 1 menit post ekstubasi kelompok I 8,21 ± 0,83 kelompok II 7,96 ± 0,75 (p=0,827). Skor PAED pulih sadar kelompok I 8,96 ± 1,78 kelompok II 8,46 ± 1,25 (p=0,306). Skor PAED 15 menit post ekstubasi kelompok I 8,42 ± 0,78 kelompok II 8,00 ± 0,66 (p=0,065). Skor FLACC sadar kelompok I 2,75 ± 1,11 kelompok II 2,21 ± 0,88 (p=0,024). Skor FLACC 15’ post ekstubasi kelompok I 2,29 ± 0,55 kelompok II 2,00 ± 0,42 (p=0,041). Kesimpulan: Pemberian dexmedetomidin intravena sama efektif dengan klonidin dalam menurunkan angka kejadian agitasi, emergence delirium dan nyeri paska anestesi umum dengan agen sevofluran tetapi hanya berbeda bermakna pada perbedaan nyeri. Kata Kunci : Sevoflurane, Agitasi, PAEDS Score, FLACC Score, klonidin, Dexmedetomidine

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN INHALASI HEPARIN TERHADAP PERBAIKAN NILAI PaO2/FiO2 PADA PASIEN DENGAN VENTILATOR DI ICU RSUP Dr.KARIADI
By Jarot Wahyu Ardhi ; Danu Soesilowati ; M. Sofyan Harahap
-- Semarang : FK Undip, 2019

Latar Belakang: Pasien yang mendapatkan bantuan pernafasan dengan mesin ventilator sebagian besar disebabkan oleh keadaan cidera paru akut (Acute Lungs Injury / ALI) maupun karena sindrom gangguan pernafasan akut (Acute Respiratory Distress Syndrome / ARDS) yang memiliki angka insiden 20-75 kasus/100.000 orang/tahun dengan angka mortalitas 30-75%. Hal ini disebabkan oleh karena terjadinya penurunan fungsi oksigenasi paru yang disebabkan oleh terjadinya gangguan hemostatik yang bersifat lokal pada paru yakni berupa peningkatan proses koagulasi dan penurunan fibrinolisis sehingga akan terjadi penumpukan fibrin dalam parenkim paru. Tujuan: Melihat efektivitas dari penggunaa inhalasi heparin terhadap fungsi oksigenasi paru yang tercermin dari nilai rasio PaO2/FiO2 pada pasien dengan bantuan mesin ventilator di ruang perawatan intensif. Metode: Dilakukan penelitian eksperimental dengan rancangan randomized, single-blind, controlled trial pada 16 pasien dewasa dengan bantuan mesin ventilator dan nilai rasio PaO2/FiO2 kurang dari 300 sebagai subjek penelitian yang dibagi menjadi 2 kelompok secara acak masing-masing kelompok terdiri dari 8 pasien. Kelompok K mendapat terapi standar. Kelompok P mendapat terapi standar ditambahkan dengan 1 kali pemberian inhalasi heparin 5000 IU. Dievaluasi perubahan nilai PaO2/FiO2 setelah 2 jam pemberian inhalasi heparin 5000 IU. Selain itu juga dinilai perubahan terhadap nilai PTT dan aPTT setelah 2 jam pemberian inhalasi heparin 5000 IU. Hasil: Nilai rasio PaO2/FiO2 awal dan akhir untuk kelompok K 172,19 ± 39,87 dan 183,70 ± 34,42 (p=0,052). Nilai rasio PaO2/FiO2 awal dan akhir pada kelompok K 215,59 ± 42,17 dan 234,71 ± 50,93 (p=0,501). Nilai PTT awal dan akhir kelompok K 10,95 ± 0,33 dan 10,95 ± 0,33 (p=1,000). Nilai PTT awal dan akhir kelompok P 13,38 ± 1,54 dan 13,99 ± 1,19 (p=0,109). Nilai aPTT awal dan akhir kelompok K 32,11 ± 0,61 dan 31,99 ± 0,65 (p=0,409). Nilai aPTT awal dan akhir kelompok P 34,24 ± 5,48 dan 34,98 ± 5,19 (p=0,348). Kesimpulan: Pemberian inhalasi heparin 5000 IU dapat membuat perubahan terhadap nilai rasio PaO2/FiO2 namun tidak berbeda secara bermakna. Pemberian inhalasi heparin tidak menyebabkan perubahan yang bermakna terhadap nilai PTT dan aPTT. Kata Kunci : ARDS, ALI Inhalasi, Heparin, PaO2/FiO2, PTT, aPTT

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
EFEKTIVITAS PEMBERIAN DEKSAMETASON UNTUK MENGURANGI REAKSI INFLAMASI DENGAN PENGUKURAN JUMLAH NEUTROFIL PADA PASIEN BEDAH JANTUNG
By Robby ; Heru Dwi Djatmiko
-- Semarang : FK Undip, 2019

Latar belakang: Bedah jantung terbuka merupakan salah satu jenis operasi dengan trauma yang cukup besar, dalam pelaksanaannya menggunakan mesin jantung paru. Penggunaan mesin jantung paru menyebabkan respon inflamasi yang besar dan ditandai dengan leukositosis (neutrophil). Salah satu cara untuk menekan produksi neutrofil ini dengan menggunakan deksametason. Dosis deksametason dengan teknik pemberian premedikasi yang sering digunakan yaitu 1 mg/kgbb dan 2 mg/kgbb. Tujuan: Membandingkan deksametason dengan dosis 1 mg/kgbb dan dosis 2 mg/kgbb sebagai premedikasi terhadap jumlah neutrofil (batang dan segmen) post CPB pada operasi jantung Metode: Penelitian ini merupakan percobaan klinik secara acak yang mengikut sertakan 18 pasien bedah jantung ganti katup dengan general anestesi dan menggunakan mesin jantung paru. Sampel dibagi 2, antara pemberian deksametason dengan dosis 1 mg/kgbb dengan dosis 2 mg/kgbb menggunakan teknik premedikasi (obat tersebut dimasukkan setelah induksi). Dengan membandingkan jumlah neutrophil (batang dan segmen) pada masing-masing dosis deksametason antara preoperasi dan postoperasi. Hasil: Pada penelitian ini jumlah neutrofil batang post operasi pada pemberian deksametason 1 mg/kgBB didapatkan peningkatan yang bermakna (p = 0,048),. Sedangkan pada pemeriksaan post operasi untuk pemberian deksametason 2 mg/kgBB mengalami peningkatan yang tidak bermakna (p = 0,257). Untuk neutrofil segmen terjadi peningkatan bermakna baik pada premedikasi 1 mg/kgbb (p = 0,001) maupun pada premedikasi 2 mg/kgBB (p =

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
PERBANDINGAN TEKNIK ANESTESI LOW FLOW DAN HIGH FLOW TERHADAP END TIDAL CO2 PADA OPERASI LAPARATOMI SALPINGO-OOFOREKTOMI
By Dwipura Bagastowo ; Johan Arifin
-- Semarang : FK Undip, 2019

Latar Belakang: Metode anestesi umum dengan obat anestesi inhalasi saat ini banyak menggunakan teknik low flow dan teknik high flow. Masih banyak perdebatan tentang kelebihan dan kekurangan dari kedua teknik anestesi ini dari, sehingga banyak penelitian dilakukan untuk menilai kelebihan dan kekurangannya dari berbagai segi. Monitor end tidal CO2 dipakai dalam memprediksi tekanan arterial C02 untuk menggambarkan gas darah. Pengukuran konsentrasi ETC02 membantu mengendalikan penyerapan CO2 dan keseimbangan eliminasi. Tujuan: Mengetahui perbandingan kadar ETC02 pada teknik anestesi low flow dan anestesi high flow pada operasi laparatomi salfingo-ooforektomi. Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis acak pada 40 pasien, usia 18-60 tahun, status ASA I-II yang menjalani operasi laparotomi salpingo-ooforektomi dengan anestesi umum di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok I mendapat teknik anestesi low flow dan kelompok II mendapat teknik anestesi high flow. ETCO2 dinilai pada menit 30 setelah intubasi, dan diulang setiap 30 menit berikutnya, serta 10 menit sebelum ekstubasi. Uji statistik menggunakan Uji Mann-Whitney dan independent t test pada perangkat lunak SPSS v24.00. Hasil: Penggunaan teknik anestesi low flow dibandingkan high flow terhadap kadar ETCO2 secara statistik tidak berbeda bermakna (p> 0,05). Kata Kunci : end tidal CO2, ETC02, low flow, high flow, laparatomi, salfingo ooforektomi

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Pengaruh Derajat Sirkulasi Kolateral Koroner Terhadap Kejadian Reverse Remodeling Ventrikel Kiri Paska Operasi Bedah Pintas Arteri Koroner
By Ignatius Faizal Yuwono ; Susi Herminingsih ; M. Arif Nugroho
-- Semarang : FK Undip, 2019

Latar Belakang: Peran protektif Sirkulasi Kolateral Koroner (SKK) pada pasien penyakit jantung iskemik (PJI) telah terbukti. Reverse Remodeling (RR), yang berhubungan dengan prognosis jangka panjang yang lebih baik, dapat dijumpai pada pasien PJI yang menjalani operasi Bedah Pintas Arteri Koroner (BPAK). Sayangnya periode tunggu operasi yang lama berhubungan dengan cardiac event dan mortalitas. Angka mortalitas 1 tahun paska BPAK juga belum menurun secara signifikan. Benefit terapi gagal jantung yang menarget efek sekunder sistem neurohormonal tampaknya telah mencapai batas maksimal. Dibutuhkan strategi terapi baru yang dapat menarget jantung secara direk. Penelitian ini ingin mengkaji apakah derajat SKK berpengaruh terhadap kejadian RR paska operasi BPAK. Metode Penelitian: Penelitian analitik observasional dengan desain kohort prospektif melibatkan 24 pasien gagal jantung kronik akibat PJI. Penilaian derajat SKK menggunakan skor Rentrop, pemeriksaan ekokardiografi 3 dimensi (3D) dilakukan sebelum operasi BPAK. Pemeriksaan ekokardiografi 3D ulang untuk mengetahui ada tidaknya kejadian RR (Δ Left Ventricular End Systolic Volume (LVESV) ≥ 10%) dilakukan 1,5 bulan setelah operasi. Hasil Penelitian: 50% pasien mengalami kejadian RR ventrikel kiri. Analisis bivariat menunjukkan kelompok dengan kejadian RR secara signifikan memiliki derajat SKK yang lebih tinggi (p=0,008). Analisis multivariat regresi logistik untuk mengontrol pengaruh variabel perancu menunjukkan didapatkannya hubungan yang bermakna antara derajat SKK dan kejadian RR ventrikel kiri paska BPAK, p=0,009; Odds Ratio (OR)=26,67 (IK 95% 2,31-308), Relative Risk pasien dengan derajat SKK tinggi=7,0. Kesimpulan: Derajat SKK berpengaruh terhadap kejadian RR ventrikel kiri paska operasi BPAK pada pasien gagal jantung kronik akibat PJI. Pasien dengan derajat SKK yang lebih tinggi mengalami kejadian RR ventrikel kiri paska operasi BPAK yang lebih tinggi. Kata Kunci: Sirkulasi Kolateral Koroner, Reverse Remodeling, Bedah Pintas Arteri Koroner, Ekokardiografi 3 dimensi

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Faktor Risiko Kolonisasi Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus Pada Pasien Baru Studi di Bangsal Rajawali RSUP Dr Kariadi Semarang
By Ufi Dewintera ; Hendro Wahjono ; Desvita Sari
-- Semarang : FK Undip, 2019

Latar Belakang : Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) merupakan Emerging Infectious Pathogen.,2 Prevalensi MRSA diberbagai rumah sakit di dunia berkisar antara 2-70% dengan angka rata-rata 20% MRSA Carrier yang asimtomatik. Infeksi oleh MRSA bisa menimbulkan masalah kesehatan yang serius dan dapat meningkatkan angka kesakitan (morbiditas) dan Kematian (mortalitas), dapat memperlama perawatan pasien dirumah sakit dan biaya perawatan akan lebih mahal. Metode penelitian : Desain Cross Sectional Prospektif periode September-November 2018. Analisis bivariat dengan Chi square test, Prevalen Risk, dan analisis multivariat dilakukan dengan regresi logistik multipel. Nilai p dianggap bermakna jika < 0,05. Hasil : Total sampel pada penelitian ini sebanyak 121 pasien yang dilakukan swab hidung dan tenggorok. MRSA yang didapatkan pada penelitian ini paling banyak terdapat di hidung sebanyak 21 (58,3%), tenggorok 9 (25%), dan keduanya baik hidung dan tenggorok 6 (16,7%). Faktor risiko yang mempunyai hubungan diantaranya riwayat pemakaian antibiotik, riwayat rawat inap dalam 1 tahun dan infeksi dengan nilai p < 0,05. Kesimpulan : Carrier rate Kolonisasi MRSA pada penelitian ini adalah sebesar 29,7%. Usia, Jenis Kelamin, Dan Infeksi Bukan Faktor Risiko Terjadinya Kolonisasi MRSA pada pasien Baru di Bangsal Rajawali RSUP Dr Kariadi. Kata kunci : Faktor Risiko, Kolonisasi MRSA, Cross Sectional.

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Pengaruh kenaikan kadar Zinc serum terhadap luaran diare akut pada anak usia 6-24 bulan
By Bintang Kusumaningtyas ; Ninung RD Kusumawati
-- Semarang : FK Undip, 2019

Latar belakang : Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia 2016 diare masih merupakan penyakit menular endemis di Indonesia dan potensial menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Beberapa penelitian mengemukakan tingginya angka kejadian defisiensi zinc pada anak di negara berkembang. Suplementasi zinc mengurangi angka kejadian diare dan memperbaiki defisiensi zinc. Indonesia telah merekomendasi pemberian zinc sebagai salah satu dari lima pilar tatalaksana diare tanpa memandang status zinc dalam tubuh. Belum ada penelitian di Indonesia menilai kadar zinc serum sebelum dan sesudah suplementasi pada kelompok usia 6-24 bulan dengan diare. Tujuan : Untuk menganalisis perubahan kadar zinc serum terhadap luaran diare akut anak usia 6-24 bulan. Metode : Penelitian deskriptif analitik dengan desain “a group interupted time series” mengikutsertakan 25 anak usia 6-24 bulan dengan diare akut periode Desember 2017 –Juli 2018. Hasil Penelitian : Sejumlah 25 pasien diikutkan, terdiri dari 14 (56%) anak laki-laki dan 11 (44%) anak perempuan dengan diare akut. Semua subjek tidak menunjukkan defisiensi zinc serum, dengan rerata kadar zinc serum awal 15,8±1,87 μmol/L dan pada hari perawatan ketiga-kelima 17,1±1,8 μmol/L. Perubahan kadar zinc serum berkorelasi dengan luaran diare baik durasi (r=-0,544; p=0,005), lama perubahan frekuensi BAB (r=-0,393; p=0,052) dan lama perubahan konsistensi feses (r=0,319; p=0,12). Kesimpulan : Terdapat korelasi antara perubahan kadar zinc serum dengan luaran diare akut anak usia 6-24 bulan dengan gizi baik. Kata kunci : diare akut, zinc serum

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
KORELASI PERUBAHAN KADAR BILIRUBIN TERHADAP CHOLANGITIS DAN SEPSIS PADA PASIEN PASCA PTBD
By Carla Husein ; A. Gunawan Santoso
-- Semarang : FK Undip, 2019

Pendahuluan Percutaneous transhepatic biliary drainage (PTBD) telah menjadi salah satu terapi pilihan dalam menangani pasien ikterus terutama pada saluran bilier yang disebabkan oleh keganasan. PTBD tidak hanya menurunkan kadar bilirubin, tetapi juga memperbaiki fungsi hepar, meningkatkan angka harapan hidup, dan sebagai persiapan preoperatif. Infeksi merupakan salah satu komplikasi utama pasca PTBD. Bilirubin merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri sehingga meningkatkan risiko terjadinya cholangitis dan sepsis. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis korelasi antara perubahan kadar bilirubin dengan cholangitis dan sepsis setelah PTBD menggunakan Tokyo Guidelines 13 (TG 13) dan Sequential (Sepsis-related) Organ Function Assessment Score (SOFA). Tujuan Menilai korelasi antara perubahan kadar bilirubin terhadap skor cholangitis dan skor sepsis pada pasien pasca PTBD. Metode Penelitian dilakukan secara retrospektif terhadap rekam medis 26 pasien dengan ikterus obstruksi yang dilakukan PTBD pada Januari 2015 hingga Desember 2017. Penelitian mengevaluasi perubahan kadar bilirubin sebelum dan setelah PTBD dengan tanda cholangitis seperti inflamasi, cholestasis, hasil pencitraan (berdasarkan TG 13) dan tanda sepsis seperti sistem pernafasan, pembekuan darah, bilirubin, sistem jantung pembuluh darah, Glasgow Coma Scale, fungsi ginjal (berdasarkan SOFA). Penelitian telah mendapatkan izin dari komite etik rumah sakit. Hasil Penelitian Terdapat korelasi antara penurunan kadar bilirubin direk terhadap kejadian cholangitis dan sepsis setelah PTBD (p= 0.030), tetapi tidak pada bilirubin total (p=0.111). Kesimpulan Semakin besar penurunan kadar bilirubin direk setelah PTBD maka risiko terjadinya cholangitis dan sepsis semakin rendah. Kata kunci: PTBD, bilirubin, cholangitis, sepsis.

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
cover
Korelasi Derajat Stenosis Foramina Neuralis Servikal Metode Sujin dengan Skor Klinis Radikulopati Servikal : Studi pada Penyakit Degeneratif dengan Pemeriksaan MRI
By Linggawati Tanujaya ; Nasirun Zulqarnain ; Hermina Sukmaningtyas
-- Semarang : FK Undip, 2019

Pendahuluan : Spondilosis servikal yang menggambarkan proses degeneratif yang meliputi perubahan pada diskus intervertebralis, corpus vertebra, dan facet joint, menyebabkan terjadinya stenosis foramina neuralis servikal dan gejala radikulopati servikal. Sujin Kim, dkk (2015), dalam penelitiannya tentang derajat stenosis foramina neuralis servikal berdasarkan citra T2-weighted. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui korelasi antara derajat stenosis foramina neuralis servikal pada MRI berdasarkan Sujin dengan skor klinis radikulopati servikal. Metode : Penelitian ini dilakukan secara prospektif dengan metode belah lintang terhadap 26 pasien spondilosis servikal yang menjalani pemeriksaan MRI Servikal di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Skor klinis radikulopati servikal spondilotik dinilai dengan skor Neck Disability Index (NDI). Derajat Stenosis Foramina Neuralis Servikal pada citra aksial MRI T2-weigthed yang dinilai berdasarkan metode Sujin. Penelitian telah mendapatkan ijin dari komite etik rumah sakit. Hasil Penelitian : Terdapat korelasi yang bermakna antara derajat stenosis foramina neuralis servikal pada citra aksial MRI T2-weighted berdasarkan metode Sujin dengan skor klinis radikulopati servikal spondilotik berdasarkan skor NDI. Kesimpulan : Terdapat korelasi yang bermakna antara derajat stenosis foramina neuralis servikal pada citra aksial MRI T2-weighted berdasarkan metode Sujin dengan skor klinis radikulopati servikal spondilotik berdasarkan skor NDI. Kata Kunci : Stenosis Foramina Servikal, Metode Sujin, Radikulopati Servikal, Neck Disability Index

Ketersediaan1
Tambahkan ke dalam keranjang
Unduh MARCSitasi
Hal. Awal Sebelumnya 201 202 203 204 205 Berikutnya Hal. Akhir
INTEGRATED LIBRARY
Universitas Diponegoro
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?