Latar belakang. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) merupakan masalah kesehatan yang penting di Indonesia. Program penanggulangan GAKY saat ini masih menitikberatkan pada penggunaan garam beryodium. Wanita Usia Subur (WUS) merupakan salah satu populasi yang rawan mengalami GAKY. Total Goiter Rate dapat digunakan untuk menentukan endemisitas GAKY di suatu daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola konsumsi yodium dengan volume kelenjar tiroid pada wanita usia subur di Desa Sengi Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang pasca erupsi Merapi 2010. Metode. Penelitian observasional cross-sectional ini dilakukan pada 140 wanita usia subur, berusia 18-45 tahun di Desa Sengi Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang. Kadar yodium garam rumah tangga, kadar yodium dalam air tanah, asupan yodium dari makanan, asupan yodium dari garam, serta konsumsi zat goitrogenik diperiksa untuk masing-masing pasien. Kejadian gondok diukur dengan menggunakan USG Tiroid. Data dianalisis dengan uji Kolmogorov Smirnov dan dilanjutkan dengan uji korelasi Spearman. Hasil. Angka TGR dengan USG Tiroid sebesar 7,8%. Rata-rata kadar yodium dalam garam rumah tangga sebesar 28,6 ppm. Cakupan penggunaan garam beryodium sesuai standar (30- 80 ppm) sebesar 36,4%. Jumlah WUS dengan total konsumsi yodium harian
Latar belakang: Penyakit tulang mieloma (myeloma bone disease, MBD) merupakan morbiditas tertinggi pada mieloma multipel (MM). C-terminal telopeptide kolagen tipe-1 (CTX-1) merupakan biomarker yang baik digunakan untuk evaluasi sistem perombakan tulang pada MBD. Kadar CTX-1 yang tinggi ditemukan pada MBD baru, remisi, dan relaps dan menurun pada saat pengobatan. MM merupakan gangguan pada sel plasma yang dicirikan dengan adanya infiltrasi sumsum tulang oleh sel plasma klonal yang mensekresi imunoglobulin monoklonal yang dapat dideteksi di serum dan/atau urine. Melfalan prednison (MP) merupakan regimen standar pengobatan MM yang tidak memenuhi syarat cangkok sumsum tulang. Kurkumin memiliki efek anti inflamasi, antiangiogenesis, antikarsinogenik dan inhibitor osteoklastogenesis. Tujuan penelitian : Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penambahan kurkumin terhadap kadar CTX-1 pada pasien MM yang mendapat regimen MP. Metode penelitian : Penelitian dilakukan di RSUP. Dr. Kariadi Semarang pada Februari 2016 – Mei 2017. Metode penelitian adalah eksperimental, Randomized Pre-test Post-test Control Group Design, mono blinding terhadap 33 pasien MM yang dibagi menjadi kelompok perlakuan dan kontrol. Kelompok perlakuan mendapat melfalan 4 mg/m2, prednison 40mg/m2 selama 7 hari dan kurkumin 8 gram/hari selama 28 hari. Kelompok kontrol mendapatkan MP dan plasebo. Uji normalitas menggunakan Saphiro-Wilk dengan hasil distribusi normal sehingga dilakukan uji beda antara dua kelompok menggunakan Paired Samples T-test dan dilakukan uji korelasi dengan Chi-square test. Hasil : Selama penelitian dari 17 kelompok perlakuan, 4 meninggal, 1 hilang kontak sedangkan dari 16 kontrol, 3 diantaranya meninggal dan 1 keluar. Rasio laki-laki dengan perempuan 1,3 : 1. Rerata umur subyek penelitian 54,92 tahun pada kelompok perlakuan dan 58,33 kontrol. Lesi litik hampir ditemukan pada semua subyek yaitu 83,3% perlakuan dan 100% kontrol. Hiperkalsemia ditemukan 33,3% pada kelompok perlakuan dan 16,7% kontrol. Subyek pada kedua kelompok mengalami gangguan fungsi ginjal yaitu 58,3% pada kelompok perlakuan dan 83,3 % kontrol. Tidak terdapat perbedaan signifikan pada penambahan kurkumin terhadap penurunan kadar CTX-1 pada kedua kelompok. Simpulan : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara penambahan kurkumin dengan penurunan kadar CTX-1. Kata kunci : mieloma multipel, myeloma bone disease, kurkumin, CTX-1
Latar Belakang : Infeksi virus hepatitis B (HBV) masih merupakan masalah kesehatan dunia dengan morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Sejak diperkenalkannya pilihan terapi yaitu nuckleos(t)ida analalog (NA) dan peginterferon, hepatitis B menjadi penyakit yang bisa diterapi namun belum dapat disembuhkan. Salah satu tujuan terapi pada penderita hepatitis B adalah tercapainya respon virologi dan histologi Metode: Desain penelitian ini adalah kohort. Subyek penelitian adalah penderita yang menjalani terapi hepatitis B di poliklinik RSUP Dr. Kariadi Semarang. Sampel dibagi menjadi 3 kelompok yang mendapatkan peginterferon, tenofovir disoproxil fumarate dan telbivudin. Penilaian respon histologi dan virologi dilakukan pada 1 tahun terapi pada ketiga kelompok dan penilaian respon virologi pada 3 tahun terapi pada kelompok tenofovir disoproxil fumarate dan telbivudin. Hasil: Sebanyak 229 penderita hepatitis B yang mendapatkan terapi terdiri dari 60 subjek mendapat peginterferon, 62 subjek mendapatkan tenofovir disoproxil fumarate dan 107 subjek mendapatkan telbivudin. Penurunan nilai delta fibroscan tertinggi didapatkan pada kelompok tenofovir disoproxil fumarate 8.5±1.4; 4.1; -12.3-47.3, dari analisis tidak terdapat perbedaan yang bermakna penurunan rata rata nilai delta fibroscan pada ketiga kelompok (p=0.105), namun terdapat perbedaan yang bermakna penurunan rata rata nilai fibroscan pada kelompok tenofovir disoproxil fumarate dan telbivudin (p=0.049). Muatan virus HBV DNA 1 tahun terapi didapatkan paling baik pada kelompok tenofovir disoproxil fumarate yaitu 0.6±1.1; 0,0; 0-7, terdapat perbedaan yang bermakna muatan virus HBV DNA 1 tahun terapi pada kelompok nukleos(t)ida analaog baik tenofovir disoproxil fumarate maupun telbivudin terhadap peg interferon (p
Latar Belakang: Karsinoma ovarium epitelial merupakan penyebab utama kematian karena kanker ginekologi, yang menyumbang 90% dari semua keganasan ovarium. Sekitar 70% pasien karsinoma ovarium epitelial dapat berkembang menjadi residif. Kadar glukosa darah yang tinggi merupakan salah satu faktor prognosis yang buruk pada pasien kanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan kadar glukosa darah sewaktu yang tinggi sebagai faktor risiko kejadian residif pada pasien karsinoma ovarium epitelial di RSUP dr. Kariadi. Metode: 60 pasien yang telah didiagnosis sebagai karsinoma ovarium epitelial di RSUP dr. Kariadi dibagi menjadi 2 kelompok: 30 pasien pada kelompok residif dan 30 pasien pada kelompok non-residif berdasarkan evaluasi setelah menyelesaikan siklus kemoterapi. Data yang dianalisis meliputi usia saat terdiagnosis, lokasi tumor, kadar Ca-125, subtipe histologi, kadar gula darah sewaktu (GDS) sebelum operasi dan hubungannya dengan kejadian residif. Hasil: Tidak terdapat perbedaan yang bermakna dalam usia saat diagnosis, lokasi tumor dan subtipe histologis diantara kedua kelompok. Namun, kelompok pasien residif memiliki kadar Ca-125 yang lebih tinggi secara bermakna dibandingkan kelompok pasien non-residif (327,8 ± 250,5 vs 183,5 ± 212,1; p = 0,01). Rerata kadar GDS pada kelompok pasien residif juga lebih tinggi secara bermakna daripada kelompok non-residif (150,5 ± 79 vs 110,8 ± 31,1; p = 0,006). Pasien dengan kadar GDS > 110 mg/dl memiliki resiko 3 kali lipat untuk menjadi residif secara bermakna dengan tingkat kepercayaan 95%. Kesimpulan: Rerata kadar GDS pada kelompok pasien residif lebih tinggi secara bermakna dibanding kelompok pasien non-residif. Pasien dengan kadar GDS > 110 mg/dl memiliki resiko 3 kali lipat untuk menjadi residif Kata Kunci: Kadar GDS, Residif, Karsinoma Ovarium Epitelial
Pendahuluan Spondylitis TB (Pott's disease) adalah salah satu penyebab Tuberculosis ekstrapulmonal tersering pada negara berkembang. Meskipun cukup sering ditemukan dan memiliki frekuansi morbiditas jangka panjang yang tinggi, terkadang tuberculosis spinal cukup sulit didiagnosis karena sering menyerupai penyakit lain. Pada banyak kasus, perbedaan klinis antara Spondylitis TB( Pott's disease) dengan tumor extradural tidak jelas. Biopsi adalah Gold standar untuk penegakkan diagnosis akhir. Salah satu modalitas lain yang dapat digunakan dalam menegakan diagnosis spondylitis TB dan Tumor adalah dengan MRI. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan gambaran antara Spondylitis TB dengan Tumor extradural Metode Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif, dengan kriteria inklusi penelitian pasien yang didiagnosis kelainan extradural berdasarkan MRI, dilakukan tindakan operasi, tercatat secara lengkap dalam buku catatan tindakan operasi di Bagian Bedah Saraf RSUP Dr Kariadi Semarang periode September 2015-Agustus 2016. Hasil Penelitian Terdapat 12 kasus kelainan ekstradura di RSUP Dr. Kariadi Semarang-Jawa Tengah dalam dalam periode september 2015-agustus 2016. Dengan 3 (25%) pasien didiagnosis spondylitis TB dan 9(75%) adalah tumor extradural. Kelainan vertebra pada pasien dengan spondylitis TB terdapat pada diskus dan segmen anterior vertebra, sedangkan pada tumor extradural kelainan ditemukan pada segment anteroposterior. Kesimpulan : MRI adalah salah satu modalitas yang dapat digunakan untuk membedakan kelainan vertebra merupakan kasus spondylitis atau kelainan extradural Kata kunci : Spondylitis TB , tumor ekstradura, Magnetic Resonance Imaging
Latar belakang : Salah satu modalitas terapi luka bakar adalah dengan silver sulfadiazine (SSD) topikal. Saat ini, upaya untuk menambahkan komponen SSD dengan obat topikal herbal mulai berkembang. Moringa oleifera (MO) merupakan tanaman herbal yang memiliki efek antimikroba dan antiinflamasi, sehingga diharapkan dapat mempercepat penyembuhan luka bakar. Tujuan : Membuktikan efektifitas ekstrak etanolik daun Moringa oleifera terhadap tingkat transudasi dan jumlah sel inflamasi pada luka bakar tikus wistar. Metode : Desain penelitian ini adalah “Randomized post test with control group”. Populasi studi menggunakan 24 ekor tikus wistar jantan yang diinduksi luka bakar dan dibagi secara acak dalam empat kelompok dengan diberi obat topikal 1x sehari selama 10 hari. Kelompok perlakuan meliputi : I (ekstrak daun MO 10%), II (SSD + ekstrak daun MO 10%), III (SSD) dan IB (vehiculum murni). Transudasi dinilai secara makroskopis, sedangkan sebukan PMN dan makrofag dinilai secara mikroskopis dengan pengecatan Hematoxylin-Eosin. Data dianalisis dan diolah menggunakan uji hipotesis One way Anova-Post Hoc Bonferoni, Kruskal Wallis-Mann Whitney, dan uji korelasi Spearman dan Pearson dengan program SPSS 25.0. Hasil : Transudasi pada kelompok I, II dan II mengalami penurunan yang bermakna dibandingkan kelompok IV (P=0,031; 0,011; 0,031). Penurunan sebukan PMN yang bermakna didapatkan pada kelompok I dibandingkan kelompok IV (p=0,028). Perbedaan bermakna juga didapatkan pada sebukan makrofag antara kelompok II dibandingkan kelompok IV (p=0,000). Transudasi dan sebukan PMN, serta sebukan PMN dan sebukan makrofag pada penelitian ini memiliki korelasi positif yang kuat (p=0,001). Kesimpulan : Ekstrak etanolik daun Moringa oleifera terbukti efektif dalam menurunkan tingkat transudasi dan jumlah sel inflamasi pada luka bakar tikus wistar. Kata kunci : Moringa oleifera, silver sulfadiazine, luka bakar, transudasi, sebukan polimorfonuklear, sebukan makrofag
Latar belakang : Luka bakar banyak menyebabkan kecacatan. Silver sulfadiazine (SSD) sering digunakan untuk pengobatan luka bakar. Moringa oleifera (MO) merupakan tanaman herbal yang dapat mempercepta penyembuhan luka. Tujuan : Membuktikan efektifitas ekstrak etanolik daun Moringa oleifera terhadap angiogenesis dan persentase epitelisasi pada luka bakar tikus wistar. Metode : Desain penelitian ini adalah “Randomized post test with control group”. Populasi studi menggunakan 24 ekor tikus wistar jantan yang diinduksi luka bakar dan dibagi secara acak dalam empat kelompok dengan diberi obat topikal 1x sehari selama 10 hari. Kelompok perlakuan meliputi : I (ekstrak daun MO 10%), II (SSD + ekstrak daun MO 10%), III (SSD) dan IV (kontrol negatif). Ekspresi VEGF dinilai dengan Allred score dan Kruskal Wallis . Jumlah kapiler pembuluh darah baru dinilai dengan pengecatan Hematoxylin-Eosin dan uji One Way ANOVA. Persentase epitelisasi dinilai makroskopis dan uji KruskaWallis. Hubungan antar variabel dinilai dengan uji Spearman. Hasil : Ekspresi VEGF pada semua kelompok tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p=0,550). Peningkatan jumlah kapiler pembuluh darah baru yang bermakna didapatkan pada kelompok I dibandingkan dengan III dan IV (p=0,001; 0,000) dan kelompok II dibandingkan kelompok III dan IV (p=0,000; 0,000). Peningkatan bermakna juga didapatkan pada persentase epitalisasi antara kelompok I dengan III dan IV (p=0,042; 0,011) dan kelompok II dengan IV (p=0,014). Terdapat hubungan positif antar jumlah kapiler pembuluh darah baru dan persentase epitelisasi (p=0,001) dengan korelasi kuat (rho=0,662). Kesimpulan : Ekstrak etanolik daun Moringa oleifera terbukti efektif dalam meningkatkan jumlah kapiler pembuluh darah baru dan persentase epitelisasi luka bakar tikus wistar. Kata kunci : Moringa oleifera, silver sulfadiazine, ekspresi VEGF, angiogenesis
Latar Belakang: Operasi ginekologi onkologi merupakan prosedur operasi yang menimbulkan nyeri pascaoperasi dengan nilai VAS 7-8 sehingga diperlukan manejemen nyeri yang adekuat. Analgetik epidural merupakan analgetik pilihan yang dipakai hingga saat ini Belum ada penelitian yang mengevaluasi perbandingan efektivitas oksikodon dan fentanyl sebagai adjuvan bupivakain epidural pada pascaoperasi ginekologi onkologi di Indonesia dan khususnya di RSUP dr Kariadi Semarang. Tujuan: Membandingkan efektivitas dan efek samping antara oksikodon dengan fentanyl sebagai adjuvan bupivakain epidural untuk analgetik pada pascaoperasi laparotomi ginekologi onkologi. Metode: Sebanyak 42 pasien yang menjalani operasi ginekologi onkologi dimasukkan dalam penelitian randomized, prospectif, double-blind, controlled trial ini. Pasien dibagi menjadi dua grup : grup O mendapatkan aduvan oksikodon melalui infus epidural sebesar 0,07mg/jam setelah operasi, selama 48 jam; dan grup F mendapatkan Fentanyl melaui infus epidural sebesar 1mcg/jam, selama 48 jam. Dilakukan pencatatan Skor NRS, tekanan darah sistolik diastolik, laju nadi dan laju napas, efek samping serta kebutuhan rescue analgetik Hasil: Kedua grup sebanding dalam hal skor NRS, tekanan darah sistol diastol, laju nadi dan laju napas, efek samping serta kebutuhan rescue analgetik. Terjadi efek samping mengantuk dan pusing namun secara statistik tidak ada perbedaan yang bermakna. Simpulan: Penggunaan epidural oksikodon sama efektifnya dibandingkan penggunaan fentanyl epidural. Skala nyeri NRS pada kelompok oksikodon epidural tidak berbeda bermakna dibandingkan dengan kelompok fentanyl epidural. Efek samping pada kelompok pasien fentanyl epidural tidak terbukti lebih banyak dibandingkan dengan kelompok pasien oksikodon epidural. Kata Kunci : epidural, oksikodon, fentanyl, bupivakain, adjuvan