Buku ini terdiri dari 12 bab dan dibagi menjadi dua bagian. Pembahasan yang disajikan pada bagian pertama antara lain; dasar riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan klinis; tes dasar dan metode evaluasi kesehatan sistemik; potensi perdarahan; potensi untuk infeksi; potensi penyembuhan luka yang buruk. Bagian kedua disajikan pedoman untuk diagnosis kondisi orofasial.
Latar Belakang : Rivaroxaban, inhibitor direk Faktor Xa (FXa), telah disetujui di banyak negara untuk pengelolaan kasus tromboemboli. Rivaroxaban tidak memerlukan pemantauan atau penyesuaian dosis yang sering karena profil farmakokinetik dan farmakodinamik yang dapat diprediksi. Namun, penilaian jumlah rivaroxaban yang ada pada pasien mungkin diperlukan pada situasi klinis tertentu seperti saat terjadi perdarahan mayor atau pada saat akan dilakukan prosedur invasif yang mendesak. Meskipun tes anti-FXa kuantitatif dapat digunakan untuk mengukur kadar rivaroxaban dalam plasma, banyak laboratorium tidak menyediakan uji tersebut. Tujuan : Meneliti efek rivaroxaban pada dua tes laboratorium yang tersedia, partial prothrombin time (PPT) dan partial thromboplastin time with kaolin (PTTK) pada pasien trombosis vena dalam (TVD). Metode : Penelitian dengan kohort yang mengikutsertakan 40 pasien TVD dalam terapi rivaroxaban sebagai variabel bebas dan variabel dependen adalah uji PPT dan PTTK. Sebagai variabel perancu antara lain jenis kelamin, usia, dan diagnosis. Rivaroxaban 20 mg diberikan pada pasien TVD. Kemudian, sampel darah pada 2 jam, 12 jam, dan 24 jam setelah rivaroxaban diuji dengan PT dan PTTK. Hasil : Berdasarkan uji Friedman diperoleh bahwa ada efek yang signifikan pada pemanjangan PPT (p =
Pendahuluan : Vitamin D adalah vitamin larut dalam lemak, terdiri dari 2 bentuk yaitu vitamin D2 dalam makanan dan vitamin D3 disintesis di kulit oleh sinar matahari. Bentuk vitamin D dalam tubuh manusia adalah D 25 (OH) yang dimetabolisme di hepar, merupakan bentuk tidak aktif dan D 1,25 (OH)2 yang dimetabolisme di ginjal, merupakan bentuk aktif. Pengukuran kadar vitamin D adalah dengan mengukur kadar D 25 (OH). Defisiensi vitamin D disebabkan banyak faktor, antara lain ibu hamil, anak – anak, kurangnya paparan sinar matahari, kurangnya intake vitamin D, penggunaan tabir surya, jenis kelamin perempuan, mengenakan jilbab dan abaya, dan lain lain. Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan terjadinya peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler, penurunan kognitif, depresi, komplikasi kehamilan, penyakit autoimun, alergi, dan bahkan frailty. Masyarakat yang tinggal di negara tropis seperti di Indonesia sering dianggap memiliki kadar vitamin D yang cukup, namun masih sedikit data mengenai hal itu. Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara paparan sinar matahari dengan kadar vitamin D25(OH) serum. Material dan Metode : Penelitian ini dilakukan secara Cross-sectional. Responden adalah pegawai di lingkungan instansi kesehatan di Semarang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data diambil pada bulan April 2017 dengan metode consecutive sampling dengan pengisian kuisioner dan pengukuran kadar vitamin D 25 (OH). Subyek dikategorikan memiliki vitamin D normal jika vitamin D 25 (OH) serum lebih dari 30 ng/ml, insufisiensi jika kadar 21-29 ng/ml dan defisiensi jika kadar kurang dari 20 ng/dl. Analisis statistik dengan metode chi-square untuk bivariat, regresi linier berganda untuk multivariat. Hasil Penelitian : Didapatkan 81 sampel yang memenuhi kriteria inklusi, kadar vitamin D defisiensi didapatkan sebesar 60 responden (74,1%), insufisiensi 16 responden (19,7%) dan normal 5 responden (6,2 %). Berdasarkan uji Chi-square didapatkan hubungan bermakna antara kadar vitamin D25(OH) dengan lama terpapar sinar matahari (p=0,004), jenis kelamin (p=0,000), pemakaian jilbab (p=0,005). Sedangkan umur, makanan mengandung vitamin D, sunblock, pakaian pelindung matahari, bagian tubuh yang terpapar matahari dan frekuensi terpapar matahari tidak didapatkan hubungan bermakna. Kesimpulan : Defisiensi vitamin D25(OH) didapatkan cukup tinggi, meskipun responden bekerja di lingkungan kesehatan, dan sinar matahari di negara Indonesia yang cukup. Terdapat hubungan antara paparan sinar matahari dengan kadar vitamin D25(OH). Kata Kunci : Sinar matahari, vitamin D
Latar Belakang : Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) merupakan mediator terjadinya angiogenesis yang memiliki peranan penting dalam mitosis sel, perubahan bentuk sel dan meningkatkan permeabilitas vaskuler. VEGF dianggap sebagai faktor angiogen penting dalam pertumbuhan dan perkembangan kanker kolorektal. Sel kanker tumbuh dan berkembang membutuhkan vaskularisasi untuk memenuhi suplai makanan. Tumor memerlukan angiogenesis untuk melampaui ukuran 1-2 mm. Kadar VEGF serum yang lebih tinggi juga dikaitkan dengan prognosis yang lebih buruk. Tujuan : untuk menilai bagaimana hubungan kadar VEGF serum dengan besar tumor kanker kolorektal. Metode : Penelitian ini secara belah lintang melibatkan 17 orang yang menderita kanker kolorektal stadium I,II,III. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan. Diagnosis kanker kolorektal berdasarkan gambaran histopatologi. Semua responden menderita kanker kolorektal yang sudah menjalani operasi dan belum menjalani kemoterapi. Variabel bebas adalah kadar VEGF serum dan variabel terikat adalah besar tumor kanker kolorektal. Penelitian ini menggunakan analisis uji korelasi kadar VEGF serum terhadap besar tumor kanker kolorektal Hasil : Pada analisis uji korelasi didapatkan hubungan yang signifikan antara kadar Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) serum dengan besar tumor kanker kolorektal secara bermakna (p = 0,001) dengan keeratan kuat (rho >0,7) Simpulan : Pada penelitian ini menunjukkan adanya hubungan kadar VEGF serum dengan besar tumor kanker kolorektal Kata Kunci : VEGF, Besar tumor, Kanker kolorektal
Latar Belakang: Artritis reumatoid (AR) merupakan penyakit autoimun yang menyerang sendi tangan Vitamin D mempunyai efek imunoregulator erat kaitannya dalam patogenesis AR. Perangakat penilaian aktifitas penyakit AR seperti DAS28 CRP dan pemantauan gradasi sinovitis dengan USG Doppler juga dirancang untuk mendeteksi inflamasi synovial. Tujuan: menganalisis korelasi antara kadar vitamin D 25(OH)D3 serum dengan aktifitas penyakit (DAS28 CRP) dan gradasi sinovitis pada pasien AR. Metode : Penelitian dilakukan dengan metode belah lintang pada pasien AR yang mengunjungi poliklinik reumatologi Departemen IPD RSUP Dr. Kariadi Semarang. Data penelitian termasuk data primer dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan langsung pada responden yang termasuk dalam kriteria inklusi serta bersedia diikutkan dalam penelitian. Pemeriksaan immunoassay vitamin D dilakukan dengan pemeriksaan ELISA. Terapi AR ditetapkan sebagai variable perancu hasil penelitian. Hasil: Penelitian melibatkan 24 responden pasien AR. 91,7% wanita dan 8,3% pria. Usia rerata responden 43,58± 11,81 tahun. Menurut aktifitas penyakit, 2 responden(8,3%) memenuhi kriteria aktifitas penyakit remisi (DAS28 CRP0,05). Tidak terdapat korelasi bermakna antara kadar vitamin D 25(OH)D3 serum dengan gradasi sinovitis (rho= 0,282, p>0,05). Terdapat korelasi positif kuat antara aktifitas penyakit DAS28CRP dengan gradasi sinovitis (rho= 0,698, p=0,000). Terapi DMARD mempengaruhi aktifitas penyakit DAS28 CRP. Kesimpulan: Kadar vitamin D 25(OH) 3 serum tidak berkorelasi dengan aktifitas penyakit dan gradasi sinovitis. Semakin meningkat aktifitas penyakit maka gradasi sinovitis semakin berat. Kata kunci: artritis reumatoid, vitamin D 25(OH)D3, aktifitas penyakit, sinovitis.
LatarBelakang :Di Negara-negara Asia, kejadian batu saluran kemih mencapai 1-5%, di Indonesia angka kejadian batu saluran kemih yang sesunnguhnya masih belum bisa diketahui, tetapi diperkirakan terdapat 170.000 kasus pertahunnya. Diketahui bahwa batu saluran kemih dapat menyebabkan acute kidney injury (AKI) post renal melalui obstruksi outflow kemih, sering pula dikaitkan dengan penurunan cepat dalam fungsi ginjal. Kerusakan ginjal ireversibel dapat terjadi jika drainase kemih tidak diperbaiki secara tepat waktu. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa pasien dengan batu saluran kemih lebih mungkin untuk berkembang menjadi penyakit ginjal kronis (CKD).Kejadian end-stage renal disease berkembang antara 0,2-3,2 %. Intervensi bedah dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan obstruksi sehingga diharapkan dapat mencegah perburukan pada kerusakan ginjal. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervesi bedah terhadap fungsi ginjal pada kasus batu saluran kemih dengan penurunan eGFR. Tujuan penelitian : Mengetahui perbaikan eGFR dan factor yang mempengaruhi pada pasien batu saluran kemih yang menjalani intervensi bedah. Metode : Penelian secara crosssectional retrospektif data berasal daru data sekunder yaotu rekam medis dari 87 pasien batu saluran kemih yang mengalami penurunan eGFR dan dilakukan intervensi bedah di RSUP Dr. Kariadi Semarang, RS Roemani Semarang dan RSI Sultan Agung Semarang pada Januari 2016- Desember 2016. Hasil :Uji T-Test berpasangan untuk melihat pengaruh intervensi bedah terhadap perubahan eGFR pada monitoring bulan pertama dan bulan ketiga pada mesing-masing didapatkan terdapat hubungan yang bermakna pada monitoring bulan pertama (p= 0,000) dan bulan ketiga (p=0,000). Komorbid Diabetes, hipertensi, jenis intervensi bedah, lokasi batu tidak secara signifikan mempengaruhi eGFR, riwayat asam urat secara signifikan mempengaruhi perbaikan eGFR pada monitoring 1 bulan (p = 0,018) Simpulan : Intervensi bedah pada pasien batu saluran kemih tebukti berpengaruh terhadap perbaikan eGFR, factor yang mempengaruhi adalah riwayat asam urat. Kata kunci :Batu saluran kemih, eGFR, intervensi bedah
Latar Belakang : Data dari Badan Pusat Statistik Indonesia, penduduk daerah urban yang mengidap diabates melitus tipe 2 mencapai 14,7 % sedangkan daerah rural mencapai 7,2 %, dengan perkiraan jumlah penduduk berusia lebih dari 20 tahun pada tahun 2030 mencapai 194 juta jiwa.Modifikasi gaya hidup dan atau farmakologi mampu menurunkan insiden diabetes. DLBS3233 merupakan obat kombinasi ekstrak herbal yang terdiri dari Lagerstroemia speciosa yang diperoleh dari Cianjur, Jawa Barat dan Cinnamomum burmannii yang diperoleh dari Kerinci,Jambi,Indonesia yang dipercaya mempunyai efek anti diabetik. Vaspin (visceral adipose tissue – derived serpin; visceral adipose tissue – derived serine protease inhibitor) merupakan salah satu adipokin baru yang memiliki hubungan dengan obesitas dan sensivitas insulin pada manusia ,namun peran fisiologisnya masih belom jelas diketahui Tujuan penelitian : Mengetahui manfaat DLBS3233 100 mg/hari terhadap penderita DM tipe 2 baru melalui kadar vaspin serum. Metode : Penelian secara Randomized Controlled Group Pre-test dan Post-test Design dengan waktu perlakuan 12 minggu melibatkan 32 orang responden dengan variabel bebas DLBS 3233 dan variabel terikat adalah konsentrasi vaspin serum pada pasien diabetes melitus tipe 2 baru. Sebagai variabel perancu jenis kelamin, usia, status diit, sindrom metabolik dan status olahraga. Hasil : Uji Maan - Whitney untuk perbedaan sebelum dan setelah perlakuan pada masing - masing kelompok didapatkan tidak ada perbedaan bermakna pada kelompok perlakuan ( p = 0,669 ), dan (p = 0,535) setelah perlakuan. Tidak ada hubungan bermakna antara kadar vaspin serum dengan variabel perancu pada kelompok perlakuan. Simpulan : Pemberian DLBS3233 pada pasien DM tipe 2 baru selama 12 minggu dalam studi kasus di Desa ambokembang tidak terbukti dalam menurunkan kadar Vaspin serum. Kata kunci : DLBS3233, kadar vaspin serum, pasien DM tipe 2 baru.
Latar belakang: Prevalensi pasien Diabetes Melitus di Indonesia melebihi 1,5 penduduk, di mana pasien yang terdiagnosis sebagai ‘new onset diabetic’ sudah menderita komplikasi dari diabetes. Patogenesis diabetes melitus tipe 2 meliputi kegagalan sekresi insulin, resistensi insulin dan abnormalitas glucose uptake. Pengaturan pola hidup dengan peningkatan aktivitas fisik dan pengaturan diit dan intervensi farmakologis dengan obat hipoglikemik oral (OHO) seperti golongan insulin sensitizer fitofarmaka DLBS3233 merupakan tatalaksana pasien diabetes. Tujuan penelitian: Mengetahui efek DLBS3233 terhadap kadar hs-CRP serum pasien diabetes melitus tipe 2 baru Metode: Rancangan eksperimental, double blind, randomized control group pre and post test design. Subyek penelitian 34 pasien diabetes melitus tipe 2 baru Desa Ambokembang sesuai kriteria inklusi-eksklusi. Subyek terbagi dalam dua kelompok : kelompok kontrol mendapat edukasi mengenai diit dan olahraga serta plasebo, kelompok perlakuan mendapat edukasi mengenai diit dan olahraga serta DLBS3233 100mg/hari. Waktu perlakuan 12 minggu. Hasil: Uji statistik sebelum dan setelah perlakuan didapatkan tidak ada perbedaan bermakna kadar hs-CRP serum pada kelompok perlakuan (p=0.218) maupun kelompok kontrol (p=0,492) setelah pemberian DLBS3233 100mg/hari. Pembahasan: Kadar hs-CRP serum dengan pemberian DLBS3233 100 mg/hari tidak menurun bermakna secara statistik. Hal ini terjadi karena penelitian ini merupakan clinical trial berbasis populasi, beberapa kondisi seperti kepatuhan minum obat, aktivitas fisik, pola diit dan olahraga serta beberapa variabel perancu tidak sepenuhnya bisa dikendalikan, hal ini mungkin mempengaruhi hasil penelitian. Simpulan: Pemberian DLBS3233 pada pasien DM tipe 2 baru tidak terbukti menurunkan kadar hs-CRP serum. Kata kunci: DLBS3233, DM tipe 2 baru, hs-CRP serum
Latar belakang: Kamar operasi di sebuah rumah sakit merupakan fasilitas yang sangat penting. Salah satu tolok ukur apakah kamar operasi berfungsi dengan baik adalah utilisasi yang didefinisikan sebagai hasil bagi dari waktu yang benar-benar digunakan selama jam efektif dan jumlah dari jam efektif yang tersedia untuk digunakan. Utilisasi optimal bisa dicapai dengan catatan toleransi keterlambatan operasi masing-masing tidak lebih dari 15 menit dan waktu turn over dijaga seminimal mungkin. Dalam waktu turn over terdapat peran pelayanan anestesi berupa persiapan pembiusan, pelaksanaan pembiusan dan pasca operasi sebelum pasien ditransfer ke ruang post anesteshia care unit (PACU) atau ruang pemulihan. Sehingga dengan mengoptimalkan waktu pelayanan anestesi diharapkan dapat meminimalkan waktu turn over dan memaksimalkan utilisasi. Tujuan: Mengetahui pengaruh waktu pelayanan anestesi terhadap tingkat utilisasi di IBS RSUP Dr. Kariadi Semarang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional. Dengan mengambil data retrospektif berupa pencatatan waktu pelaksanaaan operasi elektif selain operasi dengan lokal anestesi, bedah jantung, dan bedah sehari selama tiga bulan periode Januari – Maret 2017 di Instalasi Bedah Sentral RSUP Dr. Kariadi Semarang pada hari kerja efektif Senin – Jumat, tidak termasuk hari libur tanggal merah. Data yang diambil adalah waktu aktual pelaksanaan operasi dan waktu turn over selama 24 jam. Dari data tersebut akan dihitung angka utilisasi dan waktu pelayanan anestesi kemudian dengan uji beda statistik akan dibandingkan antara dua periode waktu yang berbeda yaitu pukul 08.00 – 18.00 dan 18.00 – 07.00. Hasil akhir akan dianalisis pengaruh waktu pelayanan anestesi terhadap utilisasi kamar operasi di IBS RSUP Dr. Kariadi Semarang. Hasil: Utilisasi di Instalasi Bedah Sentral RSUP Dr. Kariadi Semarang dalam waktu 24 jam berada pada kategori rata-rata dengan nilai 56,73%. Namun, dalam dua periode waktu (08.00 – 18.00 dan 18.00 – 07.00) menjadi berbeda bermakna (p 15 menit. Kata kunci: waktu pelayanan anestesi, waktu turn over, utilisasi.