Abstrak Latar Belakang: Neuropati diabetes merupakan komplikasi DM yang paling umum dengan prevalensi sebesar 50%. Peningkatan kadar homosistein dapat menginduksi respon inflamasi pada sel endotel yang dapat menyebabkan terjadinya aterosklerosis sehingga dapat timbul komplikasi berupa neuropati diabetes. sampai saat ini penelitian yang menyentuh ranah penurunan kadar homositein dalam mengobati dan mencegah komplikasi neuropati diabetes masih terbatas. Tujuan Penelitian: untuk mengetahui pengaruh suplementasi kombinasi asam folat, vitamin B6 dan B12 terhadap kadar homositein dan kadar perbaikan klinis pada penderita neuropati diabetes. metode penelitian: desain eksperimental dengan randomized controlled reial, dengan subyek penelitian penderita neuropati diabetes, penelitian dilakukan di RSUD Tugurejo Semarang. Pada bulan September 2018 sampai maret 2019, dengan jumlah subjek sebanyak 76 orang ( kelompok perlakuan dan kontrol) Hasil Penelitian: Subjek penelitian terdiri dari perempuan 58 orang dan lai- laki 18 orang. karakteristik subjek penelitian pada kelompok perlakuan dan kontrol berdasarkan jenis kelamin, asupan energi, asupan protein, asupan vitamin asam folat, asupan vitamin B6 dan B12 tidak berbeda secara bermakna. Dibandingkan dengan plasebo, suplementasi kombinasi asam folat, vitamin B6 dan Vitamin B12 dapat menurunkan kadar homosistein serum secara signifikan dengan rerata perbedaan -2,7 (CI 95% -4,38, -1,06; p 0,05) Simpulan : Terdapat pengaruh suplementasi kombinasi asam folat , vitamin B6 dan vitamin B12 terhadap kadar homostein dan perbaikan klimis pada penderita neuropati diabetes. katakunci : asam folat, vitamin B6 dan Vitamin B12 kadar homostein , neuropati diabetes.
ABSTRAK Latar Belakang : Operasi Modified Radical Mastectomy (MRM) diketahui dapat menyebabkan rasa sakit derajat sedang hingga berat, terutama saat batuk dan napas dalam dan dapat menjadi nyeri kronik dengan gejala yang dikenal dengan Post Mastectomy Pain Syndrome (PMPS). Hingga saat ini morfin intravena masih merupakan obat analgetik yang sering digunakan operasimeskipun efek samping yang ditimbulkannya cukup tinggi. Beberapa analgetik lain mulai digunakan untuk menggantikan morfin, salah satu diantaranya yaitu orycodone, meskipun penelitian dan penggunaan obat ini masih sangat jarang di Indonesia khususnya di RSUP dr Kariadi Semarang untuk nyeri pasca Tujuan: Mengetahui perbandingan efektivitas dan efek samping antara penggunaan morfin dan arycodone intravena sebagai analgetik pasca operasi MRM. Metode:Sebanyak 42 pasien yang menjalani operasi MRM dimasukan dalam penelitian randomized, prospectif, double-blind, controlled trial ini. Pasien dibagi menjadi dua grup grup I Oxycodone intravena diberikan dengan alat syring pump dengan loading dose 0,05 mg/kg, dilanjutkan dengan pemberian dosis maintanance 0,02 mg/kgbb/jam selama 24 jam; dan grup II mendapatkan morfin intravena diberikan dengan alat syring pump dengan loading dose 0,05 mg/kg, dilanjutkan dengan pemberian dosis maintanance 0,03 mg/kgbb/jam selama 24 jam. Dilakukan pencatatan Skor NRS, tekanan darah sistolik diastolik laju nadi dan laju napas, efek samping serta kebutuhan rescue analgetik Hasil: Terdapat perbedaaan bermakna dalam hal skala NRS, efek samping, dan kebutuhan rescue analgetik, dimana oxycodone intravena lebih baik dibandingkan morfin intravena. Simpulan: Efektivitas analgetik oxycodone intravena terbukti lebih baik dibandingkan morfin intravena pada pasca operasi MRM. Sama halnya juea dengan skala nveri dan efek samping oxycodone intravena yang lebih rendah dibandingkan morfin intravena. Kata Kunci: MRM, axycodone, morfin, syringpump, NRS
PERBANDINGAN TEKNIK ANESTESI INHALASI SEVOFLURAN DAN ANESTESI INTRAVENA DALAM OPERASI LAPAROSKOPI; KAJIAN EFISIENSI BIAYA Damar Tejokusumo*. Taufik Eko Nugroho** PPDS-I Anestesiologi dan Terapi Intensif FK UNDIP Staff Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FK UNDIP/RSUP Dr.Kariadi Semarang ABSTRAK Latar Belakang : Laparoskopi adalah tindakan minimal invasif untuk berbagai jenis pembedahan dengan banyak keuntungan. Pembedahan laparaskopi di RSUP Dr. Kariadi biasanya menggunakan general anestesi yang dipertahankan dengan inhalasi sevofluran dibandingkan anestesi intravena propofol. Efisiensi pembiayaan terkait penggunaan propofol dan sevofluran merupakan pertimbangan dokter dan pasien. Tujuan : Membandingkan biaya pernggunaan obat, waktu pulih sadar, nyeri pasca operasi, dan kejadian PONV antara pasien yang menjalani operasi laparoskopi menggunakan inhalasi sevofluran dibandingkan anestesi propotol. Metode Experimental comparative study pada pasien yang menjalani operasi laparoskopi dengan anestesi intravena propofol dan inhalasi sevofluran 4 Ipm di RS dr. Kariadi Semarang Sampel didapatkan secara consecutive random sampling sebanyak 44 pasien, dibagi 2 kelompok: kelompok A dengan sevofluran dan kelompok B dengan propofol. Biaya penggunaan obat per pasien dalam rupiah, waktu pulih sadar dihitung dalam menit, nyeri pasca operasi dalam skor numerik, serta ada tidaknya kejadian PONV. Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney dan Fisher. Hasil Pada kelompok dengan sevofluran didapatkan biaya penggunaan obat yang lebih mahal yaitu Rp 514.132,59 Rp 32.281.35 dibandingkan kelompok propofol yaitu Rp 190.740.18+ Rp. 4.165.05, rerata waktu pulih sadar 14,18 1,01 menit dibandingkan propofol 6.68 0,99 menit, dan kejadian PONV yang lebih tinggi namun tidak bermakna (p-0.607 dengan CI 95% ) . Rerata dan standar deviasi nyeri pasca operasi pada kelompok Sevofluran sama dengan kelompok Propofol yaitu 1.32 + 0,57. Simpulan : Pasien yang menjalani laparoskopi dengan inhalasi Sevofluran memiliki biaya pengunaan obat yang lebih mahal, waktu pulih sadar yang lebih panjang, dan kejadian PONV yang lebih tinggi dibanding pasien dengan anestesi propofol. Pasien yang menjalani laparoskopi dengan inhalasi Sevofluran mengalami nyeri pasca operasi yang tidak menunjukan perhedaan yang bermakna dibandingkan pasien dengan anestesi propofol. Kata Kunci: laparoskopi, sevofluran, propofol, efisiensi pembiayaan
ABSTRAK Pendahuluan Glaukoma merupakan penyebab kebutaan tertinggi ke-2 setelah katarak yang ditandai dengan kematian Retinal Ganglion Cell (RGC) dan defek lapang pandang yang khas. Salah satu faktor risiko yang dapat dikenda.likan adalah peningkatan tekanan intraokuler (TIO) melalui farmakoterapi atau operasi. Mirtogenol adalah suplement yang bermanfaat dibidang oftalmologi. Penelitian ini berujuan untuk mengamati pengaruh pemberian mirtogenol terhadap tekanan intraokuler dan indeks apoptosis RGC tikus Wistar model glaukoma Metode Penelitian eksperimental dengan pre post test untuk TIO dan post-test only randomized controlled group design untuk indeks apoptosis ini dilakukan di Laboratorium Hewan Coba Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang selama bulan Maret-Mei 2019. Dua Belas tikus Wistar model glaukoma yang memenuhi kriteria penelitian dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok perlakuan mendapat terapi Mirtogenol 12.3mg tiap 12 jam selama 2 minggu sedangkan kelompok kontrol, mendapat placebo dengan dosis dan waktu pemberian yang sama. Pemeriksaan TIO dilakukan sebelum dan setelah intervesi sedangkan pemeriksaan indeks apoptosis dilakukan setelah intervensi Hasil Rerata indeks apoptosis RGC didapatkan lebih rendah secara signifikan pada kelompok perlakuan dibandingkan dengan kontrol (p
Abstrak Latar Belakang : Obesitas adalah masalah kesehatan masyarakat utama saat ini. ketidakseimbangan kronis antara asupan ernergi dan energi pengeluaran pada akhirnya menyebabkan obesitas. Obesitas sentral terbukti lebih berisiko pada masalah kesehatan. beberapa mikronutrien ditemukan terlibat dalam perkembangan obesitas. magnesium ditemukan memiliki peran dalam perkembangan obesitas. tujuan: menganalisis hubungan serum magnesium dengan berbagai parameter obesitas sentral seperti lingkar perut (LP) risiko pinggang- pinggul (RLPP) dan jumlah lemak viseral pada WUS obesitas sentral berdasaekan hipotesis bahwa subjek obesitas dengan hipomagnesemia lebih rentan jatuh dalam komplikasi sindrom metabolik. Metode Penelitian: Penelitian korelasi ini melinatkan subyek WUS obesitas sentral sebnyak 52 subyek di kota semarang dari bullam April- Mei 2019 yang memenuhi kriteria inklusi dan eklusi . dilakukan pengukuran lingkar perut dan RLPP, lemak viseral menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) dan kadar serum magnesium dari darah vena. Uji hipotesis menggunakan korelasi sederhana dan analisis regresi linier sederhana untuk nilai prediksi. hasil: terdapat korelasi negatif bermakna antara lingkar perut (r=-0,473; p=0,000), RLPP(r=-0,476;p=0,000) dan lemakviseral (r=-0,628; p=0,000) dengan kadar serum magnesium. Simpulan: terdapar korelasi bermakna antara besarnya lingkar perut, RLPP dan lemak viseral (Obesitas sentral) terhadap penurunan ladar serum magnesium. kata kinci: lingkar perut, RLPP, Lemak viseral, obesitas sentral, WUS, serum magnesium.
ABSTRAK Pendahuluan : Glaukoma adalah sindroma yang ditandai dengan kerusakan saraf optik yang disertai gangguan lapang pandang yang khas dan merupakan penyebab kebutaan permanen kedua terbanyak di seluruh dunia. Glaukoma erat hubungannya dengan peningkatan TIO (tekanan intra okuler) akibat resistensi aliran humor aquos melewati trabecular meshwork (TM) Mirtogenol dapat menjadi agen preventif glaukoma dengan cara menurunkan TIO dan memperbaiki alirah darah okular Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian mirtogenol terhadap tekanan intraokuler dan indeks apoptosis TM tikus Wistar model glaukoma Metode : Penelitian eksperimental dengan pre-post test controlled group design untuk TIO dan post-test only randomized controlled group design untuk indeks apoptosis ini dilakukan di Laboratorium Hewan Coba Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang selama bulan Maret-Mei 2019. Empat belas tikus Wistar model glaukoma yang memenuhi kriteria penelitian dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok perlakuan mendapat terapi Mirtogenol 12.3 mg kgBB tiap 12 jam selama 2 minggu sedangkan kelompok kontrol, mendapat placebo dengan cara pemberian yang sama. Pemeriksaan TIO dilakukan sebelum dan setelah intervensi, sedangkan pemeriksaan indeks apoptosis TM dilakukan setelah intervensi Hasil : Penurunan Signifikan TIO didapatkan Pada Kelompok perlakuan dibandingkan kontrol (rerata selisih: -12.48 +- 3.59 mmHg vs-0.8 +- 4.45 mmHg, secara berurutan , p=0.001). indeks apoptosis TM didapatkan lebih rendah secara signifikan pada kelompok perlakuan dibandingkan dengan kontrol (p
Abstrak Latar Belakang : Prevalensi depresi meningkat pada anak obesitas. Jaringan adiposa merupakan sumber faktor inflamasi TNF alpha yang memegang peran penting dalam patofisiologi depresi. Seng memiliki efek seperti antidepresan yang berperan dalam regulasi sistem imunitas dan inflamasi. Tujuan : Menganalisis pengaruh suplementasi seng terhadap kadar TNF alpha dan skor depresi pada anak obesitas usia 6-12 tahun. Metode Penelitian : Penelitian acak buta ganda, dilakukan September 2018 selama 3 bulan di 6 SD kecamatan Tembalang dan Banyumanik Semarang terhadap 40 anak obesitas usia 6-12 tahun yang diberi suplementasi seng 20 mg atau 5 mg (kontrol) setiap hari. Seng serum, TNF alpha, skor depresi, antropometri, food recall dan aktivitas fisik diperiksa pada awal dan akhir penelitian. Akseptabilitas sirup dan sisa sirup diamati setiap 3 minggu Pemeriksaan seng serum memakai teknik atomic absorption spectophotometer, TNF alpha serum dengan teknik ELISA, skor depresi dengan kuesioner Children Depression Inventory. Analisis data dengan uji t independen, uji t berpasangan, dan regresi linier. Hasil: Setelah suplementasi, terjadi peningkatan kadar serum pada kelompok perlakuan (12,7 1,09 menjadi 12,8 0,82, p-0,74), penurunan kadar TNF alpha kelompok perlakuan (5,7 4,72 menjadi 2,7 2,67, p 0,015) dan penurunan skor depresi kelompok perlakuan (9,4 4,13 menjadi 7,8 3,7 p 0,001). Uji multivariat didapatkan bahwa perubahan kadar zinc tidak berhubungan dengan perubahan kadar TNF alpha (p 0,97), namun berhubungan dengan perubahan skor depresi, dimana perubahan kadar zinc sebesar 0,8 umol/L menyebabkan perubahan 1 nilai pada skor depresi, dengan p = 0,04 Kesimpulan: Suplementasi seng menurunkan kadar TNF alpha serum, dan mempengaruhi skor depresi pada anak obesitas. Kata kunci : seng, TNF alpha, skor depresi, obesitas
ABSTRAK PENGARUH SUPLEMENTASI NIGELLA SATIVA TERHDAP KADAR SERUM IL-8 PADA PENDERITA AKNE VULGARIS Studi pada Penderita Akne Vulgaris yang Mendapat Terapi Tretinoin Latar Belakang : Akne vulgaris (AV) merupakan penyakit inflamasi kronis bari unit pilosebasea, ditandai dengan peningkatan produksi sebum, pembentukan komeo, papul, pustul eritematosa,nodul, dan pustul. Interleukin-8(IL-8) berperan sebagai salah satu mediator inflamasi pada patogenesis AV . Dimana suplementasi Nigella sativa dapat menurunkan kadar serum iL-8 dengan menghambat transkripsi nuclearfactor-kB (NF-kB), sehingga menekan pelepasan sitokin proinflamasi seperti IL-8 Tujuan : Membuktikan pengaruh suplementasi nigella stavina terhadap kadar serum IL- 8 pada penderita AV yang mendapat terapi tretinoin. Metode : desain penelitian menggunakan Randomized Clinical Trial dengan pre an post test design pada penderita akne vulgaris sebelum dan sesudah mendapatkan nigella stavia. Besar sampel sebanyak 30 orang. Hasil Penelitian dan Kesimpulan : Terjadi penurunan kadar serum IL -8 sesuah terapi pada kelompok perlakuan, namun penurunan tersebut tidak bermakna (p+0,9). Delta serum IL-8 pada kelompok perlakuan yaitu -73,67_+510,144 pg/mL, lebih rendah secarabermakna dibanding delta serum IL-8 kelompok kontrol yaitu 314,60_+517,341(p+0,04). Kata kunci : Akne vulgaris, Nigella stivia, IL-8
EFEK PEMBERIAN DAUNORUBISIN TERHADAP KEJADIAN DISFUNGSI VENTRIKEL KIRI ONSET CEPAT PADA PASIEN LEKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT YANG DITERAPI DENGAN PROTOKOL INDONESIA 2016 Kornelia Ranti, Yetty Movieta Nency, Anindita Soetadji, Bambang Sudarmanto ABSTRAK Latar Belakang: Lekemia limfoblastik akut merupakan keganasan sel darah yang berasal dari sumsum tulang yang ditandai dengan proliferasi sel darah putih. Kemoterapi merupakan tatalaksana dalam lekemia dan salah satu obat yang digunakan berupa golongan sitostatika golongan antrasiklin, daunorubisin. Obat antrasiklin memiliki efek kardiotoksik yang menyebabkan kardiomiopati berupa disfungsi ventrikel kiri. Metode: Penelitian dilakukan menggunakan metode the one group pretest and posttest. Subjek penelitian didapatkan secara consecutive sampling di bangsal rawat inap RSUP dr. Kariadi Semarang. Subjek penelitian yang baru terdiagnosis lekemia limfoblastik akut dilakukan pemeriksaan ekokardiografi sebelum dan sesudah pemberian daunorubisin. Analisis bivariat menggunakan uji Paired Ttest dan dosis kumulatif dianalisis dengan ROC untuk mengetahui cut of point Hasil: Penurunan ejection fraction (EF) dan fractional shortening (FS) pretest dan posttest akibat pemberian daunorubisin (p 0.014 dan p 0.049) menunjukkan gangguan fungsi sistolik jantung. Penurunan rasio E/A pretest dan posttest akibat pemberian daunorubisin (p 0.904) tidak menunjukkan terdapat gangguan fungsi diastolik jantung. Dosis kumulatif daunorubisin yang menyebabkan penurunan EF adalah 77.05 mg/m2 dan penurunan FS sebesar 71.83mg/m2 Kesimpulan: Pemberian daunorubisin sesuai dengan Protokol Indonesia 2016 dapat menyebabkan disfungsi ventrikel kiri berupa gangguan fungsi sistolik iantune namun tidak pada fungsi diastolik jantung pada anak lekemia akut limfoblastik akut Kata Kunci: Lekemia limfoblastik akut, daunorubisin, difungsi ventrikel kiri
Abstrak Latar Belakang: periodonitis adalah peradangan yang bersifat ireversibel melibatkan ginfivia, jaringan periodontal, sementum dan tulang alveolar. kondisi ini dapat secara progresif merusak alveolar sekitar gigi karena merusakan jaringan periodontium. proses ini berakibat pada inlamasi sistemik yang dapat menyebabkan gangguan kognitif. kadar vitamin D juga mempengaruhi gangguan kognitif. tujuan: mengetahu hubungan derajat periodonititis dengan gangguan kognitif pada tikus wistar dan menilai kadar vitamin D dapat berpengaruh pada fungsi kognitif dan periodontitis. metode: penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. subyek adalah tikus wistar yang mengalami periodontitis dengan pemakaian ligature selama 2minggu dan 4minggu. Dievaluasi fungsi kognitif dengan alat morris water maze (detik). dinilai kadar vitamin D, dan sel hipokampus (CAI) dihitung jumlahnya setelah pengecatan hematoxylin eosin. dilakukan korelasi bivariate spearman dankorelasi parsial. Hasil Penelitian: Penelitian ini dengan 27 tikus wistar. didapatkan korelasi positif kuat antara derajat keparahan periodontitis dengan fungsi kognitif (r: 0.845, p: 0,000), setelah dikontrol kadar vitamin d masih tetap kuat (r: 0.727, p:0,000), Kesimpulan: Peningkatn derajat keparahan periodontitis akan memperberat fungsi kognitif pada tikus. kata kunci: Tikus wistar, periodontitis kronis, fungsi kognitif, morris water mazee, hipokampus, ligature, Vitamin D