Latar belakang : Sirosis hepatis merupakan hasil akhir dari kerusakan kronis hepar akibat berbagai etiologi, ditandai dengan kerusakan parenkim mengarah kepada fibrosis yang luas dan regresi nodular. Fibrosis hepar berlangsung secara perlahan-lahan dan bertahap menuju sirosis hepatis dekompensata. Derajat sirosis hepatis akan sangat membantu jika dapat ditentukan baik secara klinis maupun dengan pencitraan non-invasif. Derajat sirosis hepatis secara klinis dikaitkan dengan klasifikasi Child-Pugh sedangkan CT scan merupakan modalitas utama yang digunakan pada pasien dengan sirosis hepatis karena dapat menilai dengan baik serta akurat perubahan intra hepatik yang terjadi. Tujuan : Mengetahui kesesuaian derajat sirosis hepatis berdasarkan morfologi hepar secara CT scan dengan klasifikasi Child-Pugh. Metode : Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional dan menggunakan data rekam medik 26 sampel penderita sirosis hepatis yang memenuhi kriteria inklusi. Data dianalisis dengan uji hipotesis menggunakan Rank Spearman. Hasil : Terdapat kesesuaian derajat sirosis hepatis yang memiliki korelasi tinggi antara total volume hepar secara CT scan dengan klasifikasi child-pugh (r=-0,719; p
Latar belakang : Karsinoma Hepatoseluler (KHS) adalah keganasan primer hepar yang menduduki peringkat kelima dari seluruh keganasan dan peringkat ketiga kanker penyebab kematian di dunia. Computed Tomography (CT) scan 4 fase dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) merupakan modalitas radiologi yang digunakan untuk menegakkan diagnosis KHS. MRI dengan media kontras spesifik hepatosit gadoxetic acid disodium atau Gd-EOB-DTPA, merupakan modalitas radiologi alternatif yang mempunyai kemampuan mendeteksi KHS lebih tinggi dibandingkan dengan CT scan 4 fase, terutama untuk KHS dengan pola penyangatan tidak memnuhi karakteristik KHS pada CT scan 4 fase dan KHS berukuran kurang dari 3 cm. Metode : Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan rancangan cross sectional yang dilakukan pada 10 penderita KHS. Analisis statistik menggunakan uji Kappa. Hasil : Pada uji Kappa hasil pemeriksaan CT scan 4 fase terhadap MRI dengan kontras Gd-EOB-DPTA dalam mendeteksi pola penyangatan KHS didapatkan nilai k = 0.118 yang menunjukkan ketidaksesuaian CT scan 4 fase terhadap MRI dengan kontras Gd-EOB-DTPA dalam mendeteksi pola penyangatan KHS. Pada uji Kappa hasil pemeriksaan CT scan 4 fase terhadap MRI dengan kontras Gd-EOB-DTPA dalam mendeteksi ukuran dan jumlah nodul KHS didapatkan nilia k=1.000 yang menunjukkan kesesuaian CT scan 4 fase terhadap MRI dengan kontras Gd-EOB-DTPA dalam mendeteksi ukuran dan jumlah nodul KHS. Simpulan : Terdapat ketidaksesuaian hasil pemeriksaan anatara CT scan 4 fase terhadap MRI dengan kontras gadoxetic acid disodium dalam mendeteksi pola penyangatan KHS. Terdapat kesesuaian hasil pemeriksaan antara CT scan 4 fase terhadap MRI dengan kontras gadoxetic acid disodium dalam mendeteksi ukuran dan jumlah nodul KHS. Kata kunci : karsinoma hepatoseluler, CT scan, MRI, gadoxetic acid disodium
Latar belakang : Stroke hemoragik menjadi salah satu masalah kesehatan utama dan merupakan penyebab kematian yang ketiga terbanyak di negara-negara maju. Modified Rankin Scale (mRS) merupakan penilaian secara umum yang paling sering digunakan untuk menilai hasil akhir yang ditimbulkan paska stroke. Besar kecilnya volume hematoma, volume edema perihematoma (absolut dan relatif) dapat memprediksi outcome pasien paska stroke hemoragik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara outcome pasien paska stroke dengan besarnya volume hematoma, volume edema perihematoma (absolut dan relatif) pada pasien stroke hemoragik. Metode : Desain penelitian adalah observasional analitik dengan rancangan belah lintang yang diambil dari catatan medik. Jumlah sampel 50 penderita stroke hemoragik yang memnuhi kriteria inklusi dan eksklusi di RS dr. Kariadi Semarang. Hasil : Uji korelasi dengan rank spearman's didapatkan nilai koefisiensi korelasi (0,283) dan p-value 0,046 menunjukkan korelasi antara dua variabel lemah, sedangkan arah hubungannya positif, yang berarti bahwa semakin tinggi nilai volume edema perihepatoma relatif maka semakin tinggi nilai mRS pada pasien stroke hemoragik, serta tidak ada korelasi yang bermakna antara mRS dengan volume hematoma dan volume edema perihematoma absolut maupun variabel lainnya, didapatkan p>0,05. Simpulan : Terdapat korelasi lemah antara mRS dengan volume edema perihematoma relatif pada pasien stroke hemoragik. Kata kunci : stroke hemoragik, mRS, volume hematoma, volume edema perihematoma
Latar belakang : Keganasan kepala leher (KKL) merupakan keganasan yang paling sering dijumpai di negara berkembang. Penatalaksanaan KKL meliputi pembedahan, terapi radiasi dan kemoterapi maupun kombinasi diantara ketiga metode tersebut. PAsca terapi radiasi timbul efek samping antara lain periodontitis dan radiation caries. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran radiation caries dan periodontitis berdasarkan foto panoramik pada pasien keganasan kepala leher pasca terapi inhalasi. Metode : Desain penelitian adalah deskriptif. Jumlah sampel 26 penderita KKL yang memenuhi kriteria inklusi di RSUP dr. Kariadi Semarang. HAsil : Jumlah sampel 26 orang, terdiri dari laki-laki 19 orang dan perempuan 7 orang dengan rentang usia antara 23-64 tahun dan total dosis radiasi antara 40 Gy-80Gy. keganasan yang paling banyak dijumpai adalah karsinoma nasofaring (KNF) sebanyak 24 orang. Pada 5 sampel tidak dijumpai karies, 3 orang dengan karies anterior, 11 orang dengan karies posterior serta 7 orang dengan karies anterior dan posterior. Periodontitis didapatkan pada 26 sampel (100%). Simpulan : Terdapat gambaran radiation caries berupa karies anterior pada 9 sampel (34,6%) yang terdiri dari 3 orang dengan karies anterior saja dan 6 orang dengan karies anterior-posterior dan terdapat gambaran periodontitis pada 26 sampel (100%) dengan gambaran berupan crestal irregularities 2 orang (7,7%), pelebaran ligamentum periodontal space 20 orang (76,9%), bone sclerosis 9 orang (42,3%) dan bone loss pada 26 orang (100%) sedangkan gambaran interseptal bone changes tidak ditemukan pada keseluruhan sampel. Kata kunci : keganasan kepala leher, periodontitis, radiation caries