Latar belakang: Nefropati diabetik (ND) merupakan komplikasi mikrovaskular diabetes melitus (DM) ditandai dengan albumin urin persisten (>300 mg/g). Urinary liver-type fatty acid binding protein (uLFABP) merupakan protein pengikat asam lemak hati, terdapat di tubulus ginjal dan peka terhadap hipoksia. Cedera tubulus akan menyebabkan peningkatan lipid peroksida yang akan diikat LFABP, selanjutnya terjadi penumpukan, dan diekskresikan kedalam urin. Asam urat merupakan senyawa hasil katabolisme purin yang terjadi di hepar, didapatkan dari makanan atau melalui sintesis endogen. Peningkatan asam urat berhubungan dengan disfungsi endotel, resistensi insulin, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular. Tujuan: Membuktikan perbedaan kadar uLFABP dan asam urat serum pada pasien DM dengan dan tanpa ND dini. Metode: Penelitian observasional analitik pendekatan belah lintang pada 71 pasien terdiri dari 37 pasien DM dengan ND dini dan 34 pasien tanpa ND di Prolanis puskesmas Lebdosari Semarang yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Kadar uLFABP diukur dengan metode ELISA dan asam urat serum dengan metode enzimatik. Analisa statistik menggunakan independent t test, p
LatarBelakang : Kanker kolorektal merupakan salah satu kanker tersering ditemui. Menurut data dari WHO GLOBOCAN pada tahun 2018, kanker kolorektal menempati urutan ke-3 kanker teringgi di dunia dengan didapatkan 1.8 juta kasus karsinoma kolorektal dengan mortalitas 861.000. Pada gambaran histopatologi didapatkan 90% kanker kolorektal merupakan adenokarsinoma kolorektal dan lebih sering ditemukan pada pria dibandingkan wanita. Beberapa protein yang diduga berperan dalam perkembangan tumor adalah HER2 dan Galectin-3. Adanya hubungan antara ekspresi HER2 dan Galectin-3 dengan gambaran klinikopatologi tumor diharapkan membantu memberikan pilihan terapi dan prognosis. Tujuan : Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan ekspresi HER2 dan Galectin-3 pada klinikopatologi pasien adenokarsinoma kolorektal. Metode : Penelitian observatif analitik dengan desain cross-sectional menggunakan 40 blok histopatologi laboraturium Patologi Anatomi RSUP dr. Kariadi, dengan diagnosis adenokarsinoma kolorektal pada tahun 2018 kemudian dilakukan pengecatan imunohistokimia menggunakan antibodi HER2 dan Galectin-3. Hasil yang diperoleh berupa ekspresi HER2 dan Galectin-3 serta data klinikopatologis seperti jenis kelamin, usia, lokasi tumor, kedalaman invasi, metastasis pada kelenjar getah bening, metastasis jauh dan stadium. Analisa hasil menggunakan uji Chi Square dan uji korelasi Spearmans. Hasil : Sebanyak 10% pasien memiliki ekspresi HER-2 ekuifokal dan 5% pasien HER-2 positif. Pada 60% pasien memiliki ekspresi Galectin-3 lemah, 2.5% pasien dengan eskpresi Galectin-3 sedang dan 12.5% pasien dengan ekspresi Galectin-3 yang kuat. Tidak ditemukan hubungan bermakna antara ekspresi HER-2 dan Galectin-3 dengan parameter klinikopatologi pasien. Kata kunci : HER2, Galectin-3, Adenokarsinoma Kolorektal, klinikopatologi
Penyakit infeksi coronavirus yang disebut SARS-CoV-2 atau Covid 19 berasal dari Wuhan, Cina Dilaporkan pada akhir tahun 2019. Penyakit ini menyebar keseluruh dunia menjadi pandemi yang menimbulkan persoalan besar. Adapun topik yang dibahas dalam buku ini adalah: COVID-19; Epidemiologi Menanggulangi Kejadian Luar Biasa dan Wabah; Aspek Dasar Virologi Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus (SARS-CoV-2) Patogenesis COVID-19 COVID-19 Perbedaan Anak dan Dewasa COVID-19 Perjalanan Penyakit COVID-19 dengan sindrom Multisistem Inflamasi Pemeriksaan Penunjang COVID-19 Terapi COVID-19 Pencegahan dan Pengendalian Infeksi pada COVID-19 Pelajaran yang Dipetik dalam Upaya Pencecgahan dan Pengendalian Transmisi Infeksi SARS-Co-V-2 Imunisasi untuk COVID-19 Kandidat Vaksin COVID-19 Proporsi anak yang terinfeksi COVID-19 relatif sedikit. Publikasi internasional tidak terlalu banyak bercerita mengenai penderita anak.
Latar belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronik merupakan penyebab kematian ketiga di dunia pada tahun 2020. Rokok dan zat kimia iritan sebagai faktor risiko PPOK menyebabkan hambatan aliran udara dikarenakan kelainan saluran napas dan atau alveoli. Rehabilitasi paru berupa latihan pernapasan sebagai salah satu tatalaksana PPOK. Latihan pernapasan dengan PLB berperan pada pola pernapasan dengan memperpanjang ekspirasi, mengurangi kapasitas residu fungsional dan meningkatkan efisiensi ventilasi. Namun latihan pursed lip breathing tidak meningkatkan kekuatan otot napas secara signifikan sehingga membutuhkan terapi tambahan. Latihan otot inspirasi dengan threshold inspiratory muscle training dapat meningkatkan kekuatan otot napas sehingga menurunkan kejadian sesak napas dan meningkatkan six-minute walking distance. Tujuan : Membuktikan penambahan Threshold IMT meningkatkan 6 MWD penderita PPOK yang mendapat latihan PLB. Metoda: Penelitian ini merupakan true experimental randomized pre and post test group design. Sampel adalah 20 pasien PPOK yang berobat di poliklinik paru RSUD Tugurejo, Semarang dibagi menjadi 2 kelompok secara acak. Kelompok control (n=10) dan kelompok perlakuan (n=10) masing-masing melakukan latihan PLB, 2 kali sehari tiap sesi berlangsung 2 menit, dilakukan 5 hari seminggu selama 6 minggu. Pada kelompok perlakuan mendapatkan penambahan latihan Threshold IMT 2 kali sehari, tiap sesi berlaku 15 menit dilakukan 5 hari seminggu selama 6 minggu. Six-minute walking distance diukur sebelum dan setelah perlakuan. Hasil: Perbedaan selisih 6 MWD antar kelompok perlakuan dan kelompok control menunjukkan perbedaan yang bermakna (p
Latar belakang: Palsi serebral merupakan penyebab disabilitas tertinggi pada anak-anak. Fleksi wrist, fleksi jari-jari dan ibu jari pada telapak tangan merupakan bentuk deformitas tangan yang paling sering ditemukan pada palsi serebral tipe spastic. Keadaan ini akan menurunkan lingkup gerak sendi ekstensi wrist yang dapat mempengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari. Penambahan Kinesio Taping pada latihan motorik tangan merupakan metode baru yang digunakan untuk meningkatkan lingkup gerak sendi ekstensi wrist sehingga memperbaiki kualitas keterampilan dan fungsi tangan anak palsi serebral. Tujuan : Membuktikan pengaruh penambahan wrist Kinesio Taping pada latihan motorik tangan terhadap peningkatan lingkup gerak sensi ekstensi wrist anak palsi serebral. Metoda: Penelitian ini merupakan simple randomized controlled pre and post experimental design. Sampel adalah 20 anak palsi serebral spastic yang bersekolah di YPAC, Semarang dibagi menjadi 2 kelompok secara acak. Kelompok intervensi (n=10, dropout 1) mendapatkan Kinesio Taping dan latihan motorik tangan sebanyak 3 kali seminggu selama 4 minggu. Kelompok control (n=10. Dropout 1) hanya mendapatkan latihan motorik tangan saj. Lingkup gerak sendi ekstensi wrist diukur dengan geniometer sebelum perlakuan dan akhir minggu ke-4 intravensi. Hasil: Terdapat peningkatan lingkup gerak sendi ekstensi wrist anak palsi serebral pada kelompok perlakuan dan kelompok control, namun terdapat perbedaan yang tidak signifikan secara statistic pada perubahan rerata (delta) di antara kedua kelompok. Kesimpulan : Tidak terdapat perubahan yang signifikan pada penambahan Kinesio Taping terhadap peningkatan lingkup gerak sendi ekstensi wrist anak palsi serebral tipe spastic yang mendapatkan latihan motorik tangan. Kata kunci: Kinesio Taping, palsi serebral, lingkup gerak sendi ekstensi wrist
Latar belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) menurunkan kualitas hidup pasien yang dapat dinilai dengan penilaian skor Saint George Respiratory Questionnaire (SGRQ). Pursed lip breathing (PLB) merupakan latihan pernapasan kespirasi yang rutin digunakan pada PPOK. Threshold Inspiratory Muscle Training (Threshold IMT) merupakan latihan otot inspiratorik yang dapat meingkatkan kualitas hidup. Belum ada penelitian yang mepelajari efek penambahan Threshold IMT terhadap penilaian skor SGRQ penderita PPOK yang menerima latihan PLB. Tujuan : Mengetahui perbedaan penambahan Thresold IMT terhadap penilaian skor SGRQ (skor gejala, skor aktivitas, skor dampak) penderita PPOK yang menerima latihan PLB. Metoda: Penelitian ini merupakan penelitian true eskperimental randomized controlled trial dengan pendekatan pretest dan posttest design (Threshold IMT+PLB dan PLB). Sampel penelitian adalah 20 pasien PPOK yang berobat di poliklinik paru RSUD Tugurejo Provinsi Jawa Tengah Semarang pada bulan Agustus-September 2019. Kualitas hidup pasien dinilai dengan penilaian skor SGRQ (skor gejala, skor aktivitas dan skor dampak). Hasil: Terdapat penurunan yang signifikan untuk skor gejala, skor aktivitas dan skor dampak pada kelmpok control (p
Latar belakang: CTS terjadi akibat kompresi local pada nervus medianus dengan manifestasi berupa neuropati yang banyak terjadi pada populasi pekerja maupun populasi umum. Latihan gliding nervus medianus dengan kombinasi terapi konservatif lain diamati mampu menurunkan derajat nyeri dan kualitas hidup pada pasien CTS. Aplikasi kinesio taping memiliki efek mengurangi kompresi nervus medianus, memfasilitasi perbaikan jaringan dan mengurangi nyeri. Tujuan : Membuktikan pengaruh penambahan kinesio taping pada latihan gliding nervus medianus terhadap perbaikan derajat nyeri dan peningkatan kualitas hidup pada penderita CTS. Metoda: Penelitian ini merupakan penelitian eskperimental randomized pre and post test group design, dengan sampel 24 pasien poliklinik Rehabilitasi Medik RSUP Dr. Kariadi yang dibagi menjadi 2 kelompok secara acak. Kelompok intervensi (n=12, dropout 1) mendapatkan aplikasi kinesio taping 7 kali dan latihan gliding nervus medianus. Kelompok control (n=12, dropout 1) melakukan latihan gliding nervus medianus. Kelompok control (n=12, dropout1) melakukan latihan gliding nervus medianus 3 kali sehari setiap hari selama 4 minggu. Derajat nyeri diukur dengan algometer manual dan kualitas hidup diukur dengan SF-36. Hasil: Derajat nyeri penderita CTS pada kelompok perlakuan lebih baik dan berbeda bermakna dibandingkan dengan kelompok control. Skor SF-36 kelmpok perlakuan berbeda bermakna pada skor fungsi fisik, pernanan fisik, nyeri dan fungsi social dibandingkan dengan kelompok control. Namun, rata-rata skor total SF-36 tidak berbeda bermakna antar kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok control. Kesimpulan : Terdapat pengaruh penambahan kinesio taping terhadap perbaikan derajat nyeri pada penderita CTS. Tidak terdapat pengaruh penambahan kinesio taping terhadap kualitas hidup penderita CTS yang mendapatkan latihan gliding nervus medianus. Kata kunci: carpal tunnel syndrome, kinesio taping